Rabu, 12 Februari 2014

Sang Kyai 76



Mimpi makin berlanjut, kenapa aku begitu banyak bermimpi?, ya memang karena hobbyku paling ku sukai adalah tidur, jika disuruh memilih, memilih mana antara tidur dengan diajak jalan-jalan ke tempat-tempat yang indah, aku akan memilih tidur dan bermimpi, karena berjalan-jalan ke tempat yang indah hanya melelahkan saja.
Kali ini mimpiku keluargaku diserang banyak santet dari segala penjuru, di sekujur tubuh anakku, dikeroyok dukun yang menyerang anakku, dari segala penjuru, kadang jengkel dan ingin marah, dan kadang aku marah tak terkendali menghadapi hal itu, masa anak kecil dikeroyok ratusan dukun santet, ah sungguh tak jantan, untungnya kok cuma mimpi, tapi dalam mimpi pun aku tangkap ruh dukunnya, ku tangkap dan ku mediumisasi.
“Siapa kamu?” tanyaku pelan pada ruh yang ada di mediator.
“Ampuuun kyai, ampun aku hanya suruhan.”
“Suruhan siapa?”
“Suruhan murid kyai yang perempuan.”
“Lagi-lagi dia si Rin itu?”
“Iya kyai…”
“Kamu yang mengirim paku di tenggorokannya?”
“Iya kyai, aku yang mengirim paku di tenggorokannya… dan mengirim jin untuk menggaruk tenggorokannya…”
“Apa yang ku pegang?”
“Pedang kyai…, ampun jangan bunuh aku.”
“Lalu siapa yang menusuk dada anakku itu?” tanyaku.
“Itu dukun lain, dari Jember.”
“Yang menusukkan bambu ada pakunya itu di punggung anakku, itu siapa?”
“Itu dukun dari Bandung.”
“Yang menancapkan paku payung ke kepalanya banyak sekali itu siapa?”
“Itu dukun dari Lasem.”
“Berapa yang menyerang sekarang ini dukunnya?”
“Banyak kyai, banyak sekali…”
“Kenapa tak menyerangku langsung? Kenapa ke anakku?”
“Kami tak berani menyerang kyai, walau kami bersatu…. kami tak berani…”
“Lalu anakku yang diarah begitu…?”
“Ampun kyai… ampun saya tobat… jangan bunuh saya…”
“Baik, kamu akan ku cabut semua ilmumu… bagaimana?”
“Silahkan saja kyai… silahkan saya pasrah saja… asal saya tak dibunuh.”
Maka ku cabut semua ilmunya tanpa tersisa.
“Ampun kyai, tubuh saya sudah tak punya ilmu, saya sudah tak berdaya… ampun kyai…”
“Ya sudah kamu masuk Islam dan taubat…”
“Baik kyai…” lalu dukun itu ku taubatkan, dan ku kembalikan ke tubuh raganya.
Lalu ku tarik ruh dukun yang menyerang perut anakku, dan ku masukkan mediator.
“Siapa kamu?”
“Hmm, grrr, aku benci, aku benci kamu…”
“Kamu yang menyantet anakku memasukkan sesuatu ke dalam perutnya?”
“Ggrrr, ya… aku akan bikin anakmu mati.”
“Wah kalau begitu kamu harus dimusnahkan ilmunya…”
“Mana kamu mampu, ha ha ha ha… aku ini sakti, ilmumu tak sebanding denganku, aku ini dukun pilih tanding.”
“Baik, coba ini…”
“Ampuun… ampuun apa ini, apa ini? Ini kekuatan dari mana banyak sekali, dari Sunan Ampel, dari Sunan Giri, dari Bandung Bondowoso, dari Jaka Tarub, dari kahyangan… ampun, ampun aku tak berani, taubat, aku nyerah…”
“Bagaimana?”
“Iya… iya, aku nyerah, aku nyerah…”
“Sekarang ambil santet yang kamu kirim ke dalam tubuh anakku itu.”
“Ya… ya akan ku ambil.”
Lalu dia mengambil beberapa kali, setiap dia mengambil ke arah perut anakku, maka anakku ku tanya, masih sakit apa tidak, kalau anakku masih bilang sakit, ku suruh lagi dukun itu untuk mengambil kiriman yang dikirimnya ke perut anakku untuk diambil. Sampai anakku bilang kalau sudah tak sakit lagi.
“Bagaimana kamu mau taubat atau milih ku bunuh?”
“Aku memilih taubat kyai… aku mau jadi masuk Islam.”
“Sungguh-sungguh, tak akan berhianat.”
“Tidak aku tak akan berhianat.”
“Baik aku akan mengambil ilmu dari tubuhmu.”
“Silahkan saja kyai, apa memang kyai bisa?”
“Bisa…” maka ku ambil semua ilmunya.
“Aduuuh aku lemes kyai, aku lemes sekali.”
“Sekarang ikuti aku baca sahadat…” perintahku. Lalu ku ajari dia baca sahadat, selesai membaca dua kalimat sahadat,
“Kyai berarti jalan yang ku tempuh selama ini sesat ya kyai…?” tanyanya.
“Ya… sekarang kamu kembali ke jalan yang benar, sudah kembali ke ragamu…”
“Ya kyai saya dikirim kembali.”
Akhirnya ruh dukun itu ku kirim kembali ke raganya.
Masih ada santet yang menancap di kepala anakku, kembali ku tarik ruh dukun yang mengirim santet ke kepala anakku.
“Sialan, hm… aku sebel, aku muak, aku marah…!!!” kata ruh dukun yang menyantet anakku yang sudah ada di tubuh mediator.
“Hm… kamu siapa? Apa dukun yang menyantet anakku…?”
“Heh, heh… aku akan habiskan anakmu…”
Dia membuat gerakan ingin mencekik anakku… tapi tak kuasa mendekat dengan jarak setengah meteran, anakku diam saja memperhatikan tingkah dukun yang ada di dalam mediator.
“Kamu mau apa…?” tanyaku.
“Aku akan membunuh keluargamu semua, akan aku bunuh.”
“Jadi kamu tak mau diajak jadi bener?”
“Pokoknya kamu akan aku bunuh, keluargamu semua akan ku habisi.”
“Kalau begitu kamu tak bisa diajak jadi baik… malaikat maut silahkan saja nyawanya dicabut dan bawa kepada malaikat Malik, agar direndam di neraka jahanam.”
Mediator terjengkang, dan ruh dukun dibawa ke neraka jahanam.
___
Ini hanya sekelumit mimpi… dan mimpi ini berulang berkali-kali…. rasanya tak ingin tidur, jika mimpi selalu buruk, tapi Allah yang menganugerahkan mimpi, dan menjadikanku untuk menjalani ini. Maka aku harus ridho atas apa yang terjadi.
______________________________________________
Hari masih sore, masih mimpi, dan tidur dengan para santriku di majlis, datang jin yang menghadapku dari laut selatan. Tapi aku merasakan energi buruk yang meliputi para jin itu.
“Ada apa?” tanyaku.
“Hormat saya kyai….” kata jin yang sudah masuk ke mediator.
“Saya adalah dari laut selatan, para anak buah dari nyai Blorong…”
“Ada keperluan apa?” tanyaku.
“Kyai, saya adalah utusan teman-teman dari para anak buah nyai Blorong, dan kami ingin minta ke kyai membebaskan nyai Blorong dari neraka, ijinkanlah nyai Blorong keluar dari neraka, karena nyai Blorong sudah ditunggu penggemarnya, kyai…”
“Membebaskan dari neraka bagaimana? Ya tak bisa, kecuali dia bertaubat untuk menjadi baik, wong diajak bener kok gak mau… kan yang enak juga dia sendiri…”
“Tapi kyai…. para penggemar nyai Blorong semua mengharap kyai membebaskannya…”
“Ya tak bisa.”
“Kami kan juga menolong manusia yang kesusahan…”
“Menolong manusia bagaimana? Maksudmu melakukan pesugihan itu dan menyerahkan tumbal.”
“Ya kyai…, menolong manusia yang membutuhkan pertolongan.”
“Dilihat dari sudut mana, mengorbankan orang lain, dan menyekutukan Allah dikatakan menolong manusia, itu ya menjerumuskan manusia.”
“Jadi tak bisa ya, nyai Blorong kyai bebaskan?”
“Tidak, kamu sendiri yang jadi anak buahnya nyai Blorong, mau Islam apa tidak, nanti akan ku hancurkan semua kalau tak mau Islam.”
“Iya kyai, saya mau sekali….”
“Nah begitu baru benar…”
“Tapi kami takut karena kami di bawah nyai Blorong.”
“Kan dia ada di neraka, kan tak bisa berbuat apa-apa…, sudah ikuti aku membaca dua kalimah sahadat.”
“Baik kyai…”
Lalu jin anak buahnya nyai Blorong itu masuk Islam, dan dia ku perintahkan mengajari yang lain untuk masuk Islam.
_______________________________________________
Mimpi masih berlanjut, banyak mimpi yang tak ku ceritakan, dan ada yang melarangku menceritakan jadi tak ku ceritakan karena juga tak penting diketahui, karena hanya mimpi.
Kali ini aku didatangi oleh raja kayangan, tak tau bener tidaknya, dia menghadapku, mengaku sebagai raja kayangan.
“Aku raja kayangan.” katanya memperkenalkan diri.
“Kayangan itu bagaimana to sebenarnya? Dan di mana tempatnya?”
“Kayangan di langit, jadi di antara langit dan langit, dan banyak, rakyatnya juga beraneka sebagaimana di bumi, cuma di langit ada banyak kerajaan kayangan.”
“Oo begitu rupanya?”
“Ya…”
“Terus anda ini termasuk raja kayangan mana?”
“Saya raja semua raja kayangan, semua raja kayangan adalah di bawahku.”
“Lalu ibuku, Dewi Nawang Wulan itu apa termasuk rakyatmu?”
“Benar sekali.”
“Jadi aku ini benar ada darah kayangan yang mengalir di darahku?”
“Makanya kenapa paduka kyai bisa menjadi raja dari segala raja jin, darah kyai mengalir darah dari kayangan, bercampur dengan darah raja di bumi, bercampur dengan darah nabi Muhammad SAW.”
“Kalian Islam ya?”
“Ya kami muslim tapi Islam dari ikut kakek nenek kami, bukan Islam sebagaimana kyai.”
“Ooo begitu, apa mau ikut Islamku?”
“Mau sekali kyai… karena itulah tujuan menghadap pada kyai, kami para raja kayangan, dan para ruh para wali, semalam telah mengadakan pertemuan besar-besaran, untuk mendukung perjuangan kyai, dan kami mencapai kesepakatan, bahwa kami akan mendukung pada perjuangan kyai.”
Lalu ku ajari dia membaca dua kalimat sahadat.
“Ini mimpi ya?”
“Kyai tau sendiri ini mimpi atau bukan.”
“Maaf, karena di pendapatku sebagai manusia itu kayangan adalah hanya cerita dongeng, juga soal cerita kakek Jaka Tarub, sama, aku juga masih menganggapnya dongeng.”
“Tidak kyai, itu semua benar, dan kyai adalah keturunan kayangan. Kami bangga memiliki kyai.”
“Oh ya, boleh kan aku sering-sering memanggil ibuku Nawang Wulan.”
“Silahkan saja kyai, saya sebagai raja kayangan adalah murid kyai, jadi kayangan sekarang adalah bawahan kyai, kyai kami anggap sebagai raja kayangan, jadi kyai perintahkan, maka kami akan siap di bawah perintah kyai.”
Aku bengong, walau mimpi, mungkin ini mimpi di dalam mimpi.
“Boleh saya meminta ilmu raja,,, siapa? Lupa saya menanyakan.”
“Saya raja Arif kyai…, baik saya akan kembali ke kayangan, dan mengajak semua raja kayangan dan beserta para rakyat untuk menjadi pengikut kyai.”
“Apa boleh saya meminta raja Arif?”
“Kyai…. kyai… ilmu kyai sudah jauh sekali di atasku, para malaikat saja banyak yang berguru pada kyai, juga para jin, saya tidak ada apa-apanya, kyai bisa meminta ke kakek kyai, Jaka Tarub, beliau ilmunya sangat tinggi, oh ya sekarang malah beliau sudah datang, saya pamit dulu kyai.”
“Ya ya… silahkan… silahkan.”
Kali ini aku didatangi oleh Jaka Tarub lagi, beliau banyak memberi pesan dan sangat bangga padaku karena telah mengislamkan banyak jin dari penjuru bumi, sehingga kemudian menjadikanku raja diraja segala jin, dan alam gaib.
Lalu dia juga memberi silsilah padaku yang ternyata menyambung dengan Rosululloh SAW, tak banyak orang yang tau dan mengerti, tapi ini ku ketahui dari beliau sendiri, soal benar tidaknya juga aku tak tau, namanya juga mimpi.
“Maaf ramanda Jaka Tarub, saya boleh bertanya?” kataku di antara percakapan kami.
“Ada apa ngger… anakku yang aku sayang…” jawab Jaka Tarub sambil membelai kepalaku.
“Bolehkah ananda tau siapa ayahanda ramanda itu?” tanyaku berhati-hati.
“Baik ngger, ini hanya kamu yang tau, tak ada siapapun tau, kecuali dirimu, karena di dalam tubuhmu mengalir darahku, maka kamu berhak tau, mungkin orang tak akan percaya akan kisah ini.”
“Ya tak apa-apa ayahanda, biar orang tak percaya juga… aku percaya pada ramanda.”
“Kebenaran akan ketahuan juga… aku ini anak dari Ali bin Abi Tholib.”
“Apa ayahanda?”
“Ya… aku anak Ali bin Abi Tholib, anakku.” kata Jaka Tarub dengan tegas dan pelan.
“Jadi… jadi ayahanda itu adalah…. adalah…. Syayid Khasan, atau Syayid Khusain?” tanyaku kaget amat.
“Aku Khusain anakku…., Khasan yang meninggal di Padang Karbala, sedang aku diperintahkan menyebarkan Islam di tanah Jawa.”
Aku masih menatap tak percaya, “Subhanallah…”
“Lalu kemarin Syaikh Jabar pernah menerangkan padaku, kalau ayahanda Jaka Tarub ini adalah anak dari Imam Ahmad bin Hambal…”
“Tak ada yang tau kebenarannya anandaku, selama ini juga tersembunyikan, hanya kamu yang ku beritahu… dan keturunanku yang tau lagi ya cucuku Jaka Tingkir.”
“Lalu saudara ayahanda siapa saja?”
“Saudaraku ada lima, sebagai anak Ali bin Abi Tholib, ada Khasan, aku… Khusain, lalu Muhsin, Zainab, dan Umi Kulsum…”
“Jadi yang terbunuh di Padang Karbala bukan ayahanda?”
“Bukan, itu bukan aku nanda… itu kakakku sementara aku diperintahkan berdakwah di Jawa, dan mengganti nama menjadi Jaka Tarub.”
“Wah lama sekali kalau begitu ya ayahanda…”
“Ya anakku…”
“Nanda, nanda… aku sangat bangga padamu nanda… bangga sekali… bangga sekali, dari sekian banyak keturunanku, kamu yang sangat ku banggakan, yang mampu menjadi raja segala jin, dan raja di kayangan…”
Entah mengapa, aku tak kuasa membendung air mata. Air mataku tumpah ruah, dan menangis sesenggukan.
“Ayahanda, nanda tak punya kekuatan apa-apa, ananda sangat miskin ilmu….”
“Sabar ngger, ayahanda tau dan melihatmu dari atas, dan betapa berat perjuanganmu, dan betapa sangat berat, insaAllah ngger aku akan memberikan semua ilmu yang ku miliki padamu, jangan risau ngger….”
“Terimakasih ayahanda…”
Dan dia memberikan semua ilmunya, alhamdulillah dapat anugerah yang sangat besar.
Setelah Jaka Tarub pergi, selang malam dan paginya, Dewi Nawang Wulan datang.
“Anakku… ibu rindu nanda…”
“Oh bunda Nawang Wulan, bagaimana kabar bunda, sehatkah?”
“Alhamdulillah sehat nanda, bagaimana kabar nandaku tersayang?”
“Sehat bunda atas rahmad Allah.”
“Oh ya nanda, kamu sekarang jadi pembicaraan di kayangan, semua tak ada yang tak membicarakanmu.”
“Ah bunda ada-ada saja… saya kan orang yang tak punya apa-apa bunda…”
“Waduh, kalau soal merendah, pinternya anakku ini… bunda jadi gemes… nanti kapan-kapan ikut bunda ke kayangan.”
“Wah memang saya bisa bunda ke kayangan?”
“Ya bisalah nak… kamu kan anak bunda, jadi ya pasti bisa…”
“Dengan jasad apa hanya sukmaku…”
“Hayo… kan Rosululloh telah memberikan ilmu itu padamu… kamu bisa kemana saja dengan jasad dan ruhmu.”
“Tapi saya hanya boleh memakai saat kepepet bunda…”
“Bisa kok…, bunda lihat kamu bisa ke kayangan.”
“Wah pengen tau tempat di sana bunda, pasti indah… eh bunda… boleh tidak, nanda minta satu bidadari, untuk menjadi istri nanda?”
“Bunda tunggu dari tadi kata itu meluncur dari bibir nanda…”
“Maksudnya saya boleh mengambil istri dari bidadari?”
“Boleh… sangat boleh, malah bunda senang mendengarnya, semua rakyat kayangan sedang menunggu kabar ini.”
“Apa bener bunda…?”
“Ya benar…”
“Bunda… bunda… terus siapa yang mau sama nanda yang jelek ini…”
“Ee semua sudah antri, mau nanda pilih… nanda tinggal pilih yang mana…? Semuanya cantik-cantik.”
“Bagaimana ya, bingung jadinya…, kalau minta beberapa boleh gak…”
“Hayo hayo… jangan rakus begitu, gak boleh banyak-banyak, hanya boleh satu saja.”
“Kalau dua saja bagaimana…”
“Nanda… nanda, satu saja belum dipilih kok maunya dua… waduh nanda…”
“Iya deh… yang paliiing cantik ada berapa bunda?”
“Ada 7 nanda, nanda boleh memilih salah satu dari tuju, baginda raja Arif juga memperbolehkan, agar keturunan kayangan yang bercampur dengan keturunan Rosul tidah putus.”
“Nanti nanda lihat dulu…, tapi bagaimana nanda bisa melihatnya?”
“Nanda bisa pergi ke kayangan sekarang dengan bunda, atau bunda bisa masukkan mereka di mimpi nanda, bagaimana…”
“Kalau ku panggil langsung bagaimana bunda?”
“Ya kan mereka gaib, tidak nampak kalau tidak dengan mata batin.”
“Lhah, terus bagaimana nanti aku nikahnya dengan mereka kalau mereka tak nampak begitu, bukankah dulu bunda nikah sama Jaka Tarub, bunda kelihatan?”
“Ya bunda kelihatan.”
“Hayo… bunda kangen ya dengan ayah Jaka Tarub?”
“Jangan godain bunda ah…”
“Kalau bunda kangen nanti ku panggilkan ayahanda Jaka Tarub…”
“Bener?”
“Hayo ketahuan kan kalau bunda kangen dengan ayahanda… hehehe…”
“Ah nanda sukanya nyandain bunda…”
“Bener nanti ku panggilkan ayahanda kok bunda.”
“Ya… kapan?”
“Besok saja kalau ada mediumnya.”
“Ah kirain sekarang.”
“Sekarang kan gak ada mediumnya bunda.”
“Ya gak papa… janji lo…”
“Iya insaAllah, bunda bidadarinya bagaimana itu.”
“Hayo… hayo… dah pengen nikah sama bidadari ya…, ya kapan saja kan nanda mau, kan nanda sekarang jadi penguasanya kayangan.”
“Lhoh kapan diangkatnya.”
“Kemarin… semua rakyat kayangan semua, dan raja kayangan semua sudah sepakat nanda jadi raja kayangan atas usul raja Arif.”
“Kok aku ndak diberi tahu?”
“Ya kayak nanda jadi raja segala jin saja, nanda kan ndak dikasih tau… udah nanda jalani saja sebagai raja kayangan dan raja segala jin, kami semua tunduk dan taat kepada nanda…”
“Wah nanda jadi merasa malu, karena nanda tak bisa apa-apa, tak punya kelebihan apa-apa, tapi nanda kok malah diangkat jadi raja kayangan segala, untung cuma dalam mimpi.”
“Ee ini beneran lo nanda…”
“Ya doakan saja nanda ya bundaku, agar nanda bisa memegang amanah ini.”
“InsaAllah anakku, bunda bangga punya anak turun sepertimu, apa ada lagi yang mau dibicarakan sama bunda, kalau sudah tak ada bunda akan kembali.”
“Wah bunda gak betah ya sama nanda.”
“Gak betah bagaimana, kalau boleh bunda ingin selalu bersama nanda di sini.”
“Yang benar bunda?”
“Ya benarlah…”
“Kalau begitu bunda di sini saja menemani nanda.”
“Lalu yang mengurus perkawinanmu siapa?”
“Iya… ya… silahkan bunda kembali kalau begitu.”
“Waduh bunda diusir, nanti kalau sudah punya istri bidadari bunda malah dilupakan.”
“Bunda jangan begitu, ananda masak lupa sama bundanya, ya gaklah bunda, ananda kan anaknya bunda, insaAllah tak akan lupa sama bunda.”
“Bener, bunda tak dilupakan…?”
“Bener…”
“Ya sudah bunda kembali dahulu… assalamualaikum wr. wb.”
“Silahkan bunda, waalaikum salam wr.wb.”
_________________________________________________
Mimpi lagi, walau hanya mimpi, ku tulis saja….
Ada seorang tetanggaku dari Tuban, meminta bantuan padaku katanya rasanya di dalam tubuhnya banyak sekali jinnya. Lalu ku tarik salah satu jin di dalam tubuhnya untuk ku mediumisasi.
“Siapa ini?” tanyaku pada jin yang dimediumisasi.
“Saya kok di sini?” tanyanya balik. “Siapa yang menarikku?”
“Aku yang menarikmu…” dia berusaha melihatku.
“Wah silau sekali… ini pasti kyai Nur, raja segala jin…”
“Ya benar.”
“Ampun kyai… ampuuun…”
“Tak usah takut…, kenapa kamu di dalam tubuhnya pemuda itu?” tanyaku.
“Ampuun kyai, saya hanya masuk saja, saya suka di dalam tubuhnya, dia enak dimasuki, dia mengamalkan hizib ghozali…”
“Kok mudah dimasuki?”
“Iya dia mengamalkan wirid ingin mempunyai kekuatan atau kesaktian tertentu, tidak ikhlas.”
“Ooo begitu rupanya…., lalu di tubuh anak itu apa banyak jinnya?”
“Banyak sekali kyai, banyak sekali…”
“Berapa?”
“Ada 2 juta kyai.”
“Coba panggil semua kesini, mau tidak mereka masuk Islam?”
“Semua mau masuk Islam.”
Lalu jin yang ada di tubuh pemuda itu dipanggil sama jin yang ku mediumisasi, dan semua ku Islamkan.
Setelah membaca dua kalimat sahadat selesai,
“Kyai… ada temanku mau ke sini…, minta bertemu kyai.”
“Temanmu dari mana?”
“Dari lumpur yang keluar dari bumi itu kyai.”
“Maksudmu lumpur Lapindo?”
“Iya kyai… dia mau menghadap kyai, dia minta ijin menghadap, karena tak pernah dipanggil jadi dia ingin menghadap kyai.”
“Boleh, kamu keluar dari mediator ya, biar dia menghadapku.”
“Baik kyai, saya permisi dulu.”
“Assalamualaikum kyai.”
“Waalaikum salam,”
“Alhamdulillah bisa menghadap raja semua jin di jagad raya.”
“Ya ada keperluan apa?”
“Kyai saya kan dari dalam bumi lumpur Lapindo, Sidoarjo, kami menunggu sejak lama ingin dipanggil kyai, tapi kyai sama sekali tak pernah memanggil kami.”
“Wah dari lumpur yang keluar dari bumi itu?”
“Benar kyai.”
“Berarti lumpur dari bumi itu yang mengeluarkan kalian?”
“Benar kyai… benar sekali, kami banyak sekali di dalam diperintah Allah mengeluarkan lumpur itu.”
“Kenapa tak dihentikan?”
“Wah itu perintah Allah kyai, kami sama sekali tak kuasa, untuk memperingatkan para penguasa negeri ini.”
“Tapi yang kena kan juga orang kecil yang rumahnya terendam lumpur dan tak berdaya apa-apa, juga tak dapat ganti rugi, kasihan sekali.”
“Kyai… kami ingin tunduk di bawah perintah kyai… maksudnya menjadi murid kyai. Bukan hanya itu kyai, kami siap diperintahkan kalau kyai memerintahkan. Tapi kyai harus jadi presiden negara ini.”
“Wah…wah… gak, gak… saya tak mau jadi presiden.”
“Jika kyai jadi presiden, kyai perintahkan kami berhenti mengeluarkan lumpur di bawah, kami akan hentikan seketika.”
“Sudah… sudah, jangan ngaco ah… apa kalian ini sudah Islam?”
“Sudah kyai, makanya kami diperintah untuk mengeluarkan lumpur itu, jadi itu atas perintah Allah.”
“Ya kalau itu perintah Allah dilanjutkan saja, sampai Allah memerintahkan berhenti, tak ada hubungannya dengan aku.”
“Iya kyai… semua jin seluruh dunia ke bumi lapis tuju, dan ke langit lapis tuju kan di bawah kyai semua, jadi kami juga ingin tunduk di bawah perintah kyai, kalau tidak kayaknya kami akan menyesal… itu kesepakatan kami, ini teman-teman saya yang jumlahnya ribuan bilyun akan datang kesini menghadap kyai.”
“Walah walah tak usah kesini, kembali saja.”
“Wah pak kyai perintah kembali mereka langsung kembali semua.”
“Kamu ku ajari masuk Islam caranya pak kyai, nanti kamu ajarkan teman-temanmu untuk masuk Islam, bagaimana?”
“Siap sekali kyai.”
Lalu jin ku ajarkan masuk Islam, dengan membaca dua kalimat sahadat, dan ku suruh kembali ke Sidoarjo, melakukan tugasnya lagi.
_________________________________________________
Kali ini mimpi melakukan perjalanan ke Yogyakarta. Walau mimpi kok ya rasanya kayak beneran… awalnya aku seperti di dalam majlis, membicarakan soal pantai Parangtritis, kekuasaan nyai Ratu Pantai Selatan,
“Bagaimana kalau kita ke Parangtritis, uji nyali, heheheh…” kataku pada mbak Sun dan mbak Nur Fitriana yang lagi makan.
“Wah takut pak kyai, nanti bagaimana kalau kerasukan seperti di tivi-tivi itu acara dua dunia.” kata mbak Nur.
“Kan kyai sudah jadi raja jin, kok takut mbak Nur…” kata mbak Sun.
“Ya kita harus melakukan tes, saya jadi raja segala jin itu hayal apa beneran? Kalau ndak di-tes turun ke lapangan kan ndak tau, kalau di-tes misal ternyata jin takut padaku hanya di sini saja, di majlis, tapi kalau di luar ya enggak, hal itu kan belum diuji coba mendatangi tempat-tempat yang angker, bagaimana?”
“Wah nanti kalau kerasukan bagaimana kyai?” tanya mbak Nur.
Ee baru saja mengatakan hal itu lantas mbak Sun dan mbak Tutik kerasukan bareng.
“Assalamualaikum kyai…” kata mereka berdua, berbarengan.
“Saya penjaga pantai Parangtritis, sangat senang kalau benar kyai mau datang ke tempat kami, silahkan kyai, kami akan menyambut kyai dengan meriah.” kata mbak Nur yang dimasuki jin penjaga pantai.
“Ya kyai saya penjaga samudra selatan, yang bagian menjaga cinderamata, nanti akan saya berikan cendera mata pada kyai… saya senang kalau kyai mau datang, kapan kyai?” kata mbak Sun, yang dimasuki jin penjaga laut.
“Kyai jangan takut, kami akan menjaga kyai, semua jin di sana adalah di bawah kyai, eee malah jin seluruh dunia, heheeh… lupa, kyai kan rajanya segala jin.” kata jin yang ada di dalam tubuhnya mbak Sun.
“Malah belakangan kami dengar kyai sudah menjadi raja kayangan… wah kyai memang hebat, belum ada sejak manusia ada, ada manusia bisa menguasai jin dan para kahyangan.” tambah jin yang ada di dalam tubuhnya mbak Nur.
“Kapan, kapan kyai mau ke tempat kami?”
“Ya kapan-kapan… insaAllah secepatnya.” jawabku.
“Iya lo kyai… kyai jangan bohong, eh maaf kyai gak pernah bohong, heheheh… maaf kyai.”
“Gak papa…”
“Kyai, Ratu Pantai Selatan mau menghadap…, saya keluar dulu,” kata mbak Sun.
“Ya silahkan.”
Jin yang di tubuh mbak Sun sudah keluar dan digantikan oleh nyai Ratu Pantai Selatan.
“Assalamualaikum kyai, apa benar kyai mau ke Parangtritis?” kata nyai Ratu.
“Ya benar nyai Ratu, tapi saya belum tau kapan waktunya.”
“Saya akan menyambut kyai…, aduh betapa senangnya,”
“Semoga saya bisa kesana nyai.”
“Iya kyai saya tunggu, nanti kyai akan kami beri hadiah.”
“Merah delima ya nyai…”
“InsaAllah kyai, nanti merah delima dari soko guru kerajaan akan kami berikan kepada kyai.”
“Ya…”
“Ya sudah kami mohon pamit dulu kyai…”
“Silahkan… silahkan…”
Mereka berdua lantas sadar, dan jin yang masuk sudah keluar.
Baru pagi-pagi bangun tidur, serasa ingin ke pantai selatan, ke Parangtritis membuktikan akan kebenaran yang ada, waktu mendadak, tanpa persiapan sama sekali kami lantas berangkat saja ke Yogyakarta. Untung juga ada mas Agus yang bawa mobil, jadi kami berangkat dengan mobil mas Agus.
Dalam perjalanan lancar-lancar saja, walau kadang sedikit macet, kami berangkat jam habis sholat dzuhur, dan magrib sudah memasuki Ambarawa, maklum banyak hujan jadi jalanan banyak lubangnya, perjalanan jadi kurang lancar, harus menghindari lubang.
Setelah sholat maghrib kami melanjutkan perjalanan, dan hujan amat deras, iseng-iseng aku memanggil nyai Ratu Pantai Selatan menghadapku, masuk ke dalam tubuhnya mbak Nur.
Setelah mengucapkan salam,
“Alhamdulillah, kyai jadi ke Parangtritis, sekarang kami tengah mempersiapkan penyambutan pada kyai, dan kami semua sangat sibuk, juga penguasa jin sekitar laut selatan juga hadir ada di kerajaanku untuk menyambut kyai.”
“Lhoh apa saya harus masuk ke laut?” tanyaku.
“Kalau kyai mau, kami juga dengan senang hati menyambut kyai di dalam kerajaan.” jelas nyai Ratu Pantai Selatan.
“Masuk ke laut? Apa aku tak tenggelam nyai. Kan aku tak makai tabung.”
“Kyai tak perlu itu, ilmu kyai sudah bisa dipakai masuk samudera.”
“Lah… lah… aku malah gak punya ilmu untuk tahan bernafas di air segala.”
“Nanti kami bantu kyai, kyai jangan kawatir, kyai sendiri yang ragu dengan diri sendiri, kalau soal ilmu saya malu kalau bicara dengan kyai, ilmu kyai tak terukur, sementara selalu merendah, dan rasanya lucu kalau saya memberi penjelasan pada kyai.”
“Bener kok nyai aku ini ndak punya ilmu apa-apa, jadi jangan dituduh merendah segala… ya gak punya ilmu, ku bilang saja tak punya ilmu, dari pada bilang berenang, padahal kalau berenang bisanya gaya batu tenggelam.”
“Kyai ini bisa saja… sudah nanti kyai akan ku iringin, masuk ke dalam samudra, saya pamit pulang dulu, untuk menyambut kedatangan kyai.”
“Ya silahkan nyai…”
Setelah kepergian nyai Ratu Pantai Selatan, kami berbicara di dalam mobil, aku ini enaknya nanti nyebur ke samudera, atau tidak. Karena memenuhi jalan buntu yang dapat diambil sebagai keputusan, maka aku memanggil khodamku menghadap.
“Sidqi… bagaimana menurut pendapatmu, aku ini kan mau ke Parangtritis, apa aku menuruti nyai Ratu Pantai Selatan, masuk ke dalam samudera atau tidak?”
“Wah jangan kyai, kyai jangan masuk samudera, bahaya…”
“Bahaya bagaimana?” tanyaku.
“Ya bahaya kyai, kyai kan manusia, kalau masuk laut nanti kyai akan tenggelam.”
“Lhoh kamu kan bisa jaga pak kyai, bagaimana kalau masuk lautnya pakai sukma.”
“Kalau pakai sukma gak papa… nanti kan saya bisa mengiringkan kyai, bersama ratusan juta malaikat.”
“Tapi… aku nanti kalau masuk ke dalam pakai sukma saja, nanti apa saja yang bisa ku ambil dari kerajaan laut, nanti tak bisa dipakai lagi di alam nyata, sebab mengambilnya secara gaib.”
“Iya juga ya kyai… lalu bagaimana? Kenapa kyai tak minta pendapat gurunya kyai?”
“Iya sudah kalau begitu hubungi guru kyai… pakai telepati.”
“Siap kyai, guru kyai bilang JANGAN.”
“Bagaimana ini…?”
“Nanti kyai jangan masuk, bahaya, kalau seandainya masuk ya sebaiknya, nanti pakai sukma saja, jangan dengan raga, saya yakin kyai bisa mengatasi jika sekalipun masuk laut, tapi kalau menurutku, sebaiknya jangan… berhati-hati saja kyai.”
“Ya terimakasih atas nasehatnya.”
“Ya kyai, saya pamit dulu…”
Setelah khodamku pergi, aku mau bertanya lagi pada kakek-kakekku, pada Sunan Giri, Sunan Ampel, Bandung Bondowoso, dan Jaka Tarub. Dan jawaban mereka lewat batinku, adalah aku boleh masuk ke dalam samudera, tapi harus hati-hati, maka ku putuskan untuk masuk ke dalam samudera.
Dan perjalanan ke Jogya, sudah sampai Malioboro, jam menunjukkan pukul 10 lebih, karena sama sekali tak bawa persiapan ke pantai karena perjalanan juga mendadak, jadi juga tak bawa jaket, ingat pasti di pinggir pantai akan dingin rasanya, kami serombongan memutuskan membeli jaket di pasar Malioboro, tapi semua toko atau lapak sudah pada tutup, hanya ada orang yang pada nongkrong dan penjual yang mengemasi barang dagangannya, muter-muter tetep saja ndak menemukan yang jual jaket yang buka, sementara para jin Malioboro pada mengikutiku dari belakang.
“Kenapa kalian mengikutiku berbaris begitu di kiri kanan?” tanyaku.
“Maaf kyai, kami menjaga kyai, agar tidak dijahili jin fasik.” kata salah satu jin.
“Maaf kyai, kenapa kyai muter-muter saja di pasar Malioboro, kami sudah lama menunggu kyai di Parangtritis.” kata salah satu jin.
“Ya aku kan lagi cari jaket, takutnya nanti anginnya nanti besar di tepi laut, dan aku malah jadi masuk angin.” jawabku.
“Kyai ku bawa terbang saja ya… biar cepat ke laut selatan… kami sudah tak sabar menyambut kyai…”
“Gimana terbangnya… aku jatuh malah pada luka-luka…, sudah kalian duluan saja.”
“Tidak kyai… kami mengawal kyai saja…”
Akhirnya ku biarkan saja semua mengiringku, daripada repot dialog sama mereka, aku lanjutkan mencari jaket, tapi tak ketemu juga.
Karena tak dapat jaket, perjalanan pun kami lanjutkan, langsung ke Parangtritis. Perjalanan lancar, dan tanah kering, sampai juga kemudian di tempat wisata Parangtritis, dan kami mencoba tempat parkir, baru mau keluar mobil, malah hujan deras sekali, padahal asalnya juga terang benderang, jadi masuk mobil lagi gak jadi keluar.
Kupanggil jin penjaga pantai Parangtritis menghadapku, masuk mediator.
“Selamat datang kyai… kami semua menyambut kyai.”
“Ini bagaimana kok malah hujan deras begini…?”
“Hujan ini kan menyambut kyai datang.”
“Wah aku malah gak bisa keluar dari mobil, ini bagaimana…. aku kan basah kalau kehujanan.”
“Tapi ini kan bunga air laut kyai, ini sengaja ditaburkan untuk menyambut kyai.”
“Ya aku malah gak bisa ke pantai kalau hujan begini.”
“Lah kok malah begitu?”
“Ya aku kan manusia biasa, kena air ya basah lah.”
“Waduh salah dung… jadi hujan ini ku suruh menghentikan ya?”
“Ya kalau aku ingin ke pantai, sebaiknya dihentikan air hujannya.”
“Ya baiklah kalau begitu, saya permisi dulu…”
“Ee tunggu dulu…”
“Ada apa lagi kyai…”
“Ini apa jalannya sudah bener.”
“Ini masih jauh dari laut kyai.”
“Ya makanya aku kan gak tau jalan, tunjukkan saja jalannya agar mobil langsung ke pantai.”
“Ooo begitu… ya ya… akan saya pandu.”
Lalu jin penjaga pantai memandu kami mencari jalan berhenti mobil yang paling dekat dengan pantai. Lama sampai ombak pantai terlihat.
“Itu pantainya kyai… ini ya rumahku… di sini dulu rumah nyai Ratu Pantai Selatan.” kata jin yang memandu.
“Rumahnya di sini?”
“Iya di pantai ini, sebelum kyai memerintahkan beliau menjadi penguasa laut, kalau sekarang semua pasukan beliau kan sudah pindah ke laut karena perintah kyai.”
“Ooo begitu.”
“Ya kyai…. itu kyai para dayang dan prajurit sudah menyongsong kyai, semua memakai pakaian baru, dan berbaris berderet-deret.”
“Ya…” kataku sambil membuka pintu mobil diikuti rombongan.
“Sudah ya kyai, saya mendahului, saya keluar dulu dari mediator.”
“Ya…”
Aku berjalan menuju pinggir pantai, hujan sudah terang, dan langit pas di atasku tersibak bundar, seperti selebar lapangan sepak bola. Ya mungkin di atas lebih luas lah, dan satu bintang tampak di angkasa.
Aku berjalan terus ke pantai.
Dan mbak Nur menjelaskan kalau aku diminta berjalan saja terus ke pantai, sungguh aneh, pantai di depanku, membentuk seperti jalan raya, air sama sekali tak ada ombaknya, yang ada hanya di sebelah kiri dan kananku, yang ada hanya air tanpa ombak, sungguh aneh fenomena ini, aneh dan tak masuk akal, sama sekali tak ada ombak sekecil pun di depanku, air persis seperti jalan raya yang datar saja, karena malam, sekitar jam 2 malam, maka air laut yang ada ombaknya terlihat bergulung-gulung putih, dan di depanku, air laut terlihat hitam, seperti jalan datar saja.
Rombonganku mengikuti aku maju ke depan, aku paling depan, dan aneh makin aku melangkah maju, air laut makin mundur menyibak, jadi makin aku berjalan ke depan, makin ke tengah air laut menyibak, dan air laut selalu berjarak sejengkal dari kakiku.
Terus terang aku sendiri heran merasakan fenomena ini, lalu ada di bisikanku, agar aku minta dijemput pakai kereta kencana saja, karena bisikan itu, aku lalu menghentikan jalanku, aneh, air laut menyibak ke tengah, dan di depanku, air laut menyibak ke pinggir, dan air tak menyentuh kakiku, walau aku sudah berjalan ke tengah. Aku berdiri diam, melihat air yang tinggi bergulung di samping kiri dan kananku. Rombonganku pada mengucap, maha besar Allah… maha besar Allah.
“Nyai ratu… aku hanya mau masuk laut kalau aku dijemput dengan kereta kencana, jadi tidak jalan kaki begini.” kataku.
“Maaf kyai, kata nyai Ratu, kyai jalan saja, nanti air laut akan menyibak, dan kyai bisa jalan sampai istana.” kata mbak Nur.
“Aku mau dijemput dengan kereta kencana.”
“Kata nyai, kusir keretanya tak ada kyai, kusirnya sekarang sedang pulang ke istana.”
“Ya kalau tak dijemput sama kereta kencana aku kembali saja.”
“Kyai… itu di depan kyai ada gerbang, apa kyai tidak melihat.”
“Tidak aku tak melihat.” jawabku, sambil melangkah kembali. Tiba-tiba air laut seperti bergerak, menyentuh kakiku, dan terus menyentuh kakiku, sampai aku menjauh.
“Bilang sama nyai ratu, agar beliau mewujudkan diri, kalau mau gandeng aku untuk masuk ke istananya.”
“Tak bisa kyai, nyai ratu sedang melakukan penyambutan di dalam, jadi tak bisa hadir.” jelas mbak Nur, “Katanya kyai disuruh memanggil juru kunci pantai Parangtritis.”
“Maksudnya juru kunci manusia.”
“Iya.” jawab mbak Nur. “Itu kata nyai memberi petunjuk, dan nanti juru kunci akan membacakan mantera agar gerbang istana laut selatan terlihat di pandangan kyai, jadi kyai bisa masuk.”
Aku segera menarik ruh juru kunci, ku masukkan pada mbak Nur. Nampaknya juru kunci bingung, mungkin dalam keadaan tidur, dan kaget terbengong-bengong kenapa kok tubuhnya ada di tepi laut. Dia diam melotot mengawasi laut.
“Kamu juru kunci laut selatan?” tanyaku. Dia manggut, masih dengan pandangan bengong.
“Aku kyai Nur dari Pekalongan ingin masuk ke samudera, kamu bisa bantu?”
Dia manggut, sambil menunjukkan mulutnya.
“Kenapa apa kamu bisu?”
Dia menunjuk-nujuk mulutnya dengan mulut seperti terkunci.
“Bicara…” sentakku.
Lalu dia menembangkan gending jawa, lama juga seperti orang nembang. Setelah sekian lama, dia menunjukkan padaku, sama menunjuk-nunjuk arah laut yang tadi mau ku lewati, memberi isyarat agar aku berjalan dengan isyarat dua jarinya diarahkan dadaku dan memberi isyarat dengan dua jari telunjuk dan ibu jari sebagai mana orang berjalan. Maksudnya aku berjalan saja ke arah yang dia tunjukkan. Waduh aku disuruh ke laut berjalan lagi.
“Ah tak mau, nyai Ratu Selatan saja yang suruh keluar.” kataku.
Dia melambaikan tanda tidak, tapi aku yang harus berjalan ke tengah samudera. Bicara dengan orang yang bisu, repot juga…
Tiba-tiba dia memberi isyarat, untuk menggali pasir… ditanya ada apa juga dia hanya menyuruh menggali pasir, dengan isyarat tangannya saja supaya kami menggali pasir, wah lama-lama bisa setres ini kalau nuruti orang begini… tapi rombonganku pun menggali pasir juga.
Malah yang lain disuruh berhenti dan aku sendiri yang disuruh menggali, walah apa maunya, ini jadinya mau mainan pasir atau bagaimana sebenarnya? Masak kyai disuruh mainan pasir.
“Ada apa di pasir ini?” tanyaku karena lama-lama juga jengkel, kalau diajak mainan pasir malam-malam begini, untung gak ada hujan juga aneh angin sama sekali tak ada, jadi daun di tepi pantai itu sama sekali tak bergoyang tanda tak ada angin yang bertiup.
“Ini maksudnya apa, aku disuruh menggali pasir kayak anak kecil begini?” tanyaku.
Dia menjawab dengan isyarat yang tak ku mengerti.
“Apa maksudnya, tangannya menunjuk-nunjuk begitu?” tanyaku yang sudah agak tak sabaran. Kalau disuruh gali pasir begini sepuluh menit, mending aku dzikir semalaman.
“Itu apa maksudnya tangannya telunjuknya berdiri begitu?” tanyaku, kepada ruh juru kunci yang ada di tubuhnya mbak Nur.
Dia memberi isyarat dengan mengambil kayu kecil dan menunjukkanku.
“Apa, aku harus menggalinya dengan kayu sekecil tusuk gigi…?” kataku melihat kayu kecil yang dia pegang sekecil tusuk gigi.
Ee dia menggeleng, lalu dia memberi isyarat seperti mencabut sesuatu dari pinggang, dan mengacungkannya.
“Maksudnya keris?” tanyaku, dan dia manggut-manggut, ealah kok susah banget bicara dengan orang bisu.
“Maksudmu di dalam galian ini ada kerisnya…?” tanyaku dan dijawab dengan anggukan.
“Ealah, ngapain juga aku ngambil keris di dalam, aku ndak butuh keris…”
Dia kaget ku bilang aku ndak butuh keris, lalu menunjuk padaku, dan menunjuk laut. Mungkin maksudnya apa maksudku datang ke laut?
“Aku mau bertemu Ratu Laut Selatan.” kataku.
Dia memberi isyarat 2 jari, ah makin bingung saja aku mengikuti isyaratnya… ku keluarkan saja ruh juru kunci dari tubuh mbak Nur.
“Nyai, kalau kamu tak menemuiku, aku akan kembali pulang…” kataku, sambil mengajak rombonganku menjauhi laut, tiba-tiba laut membesar, aku mengira Ratu Pantai Selatan menantangku, ah siapa takut, kita adu kekuatan bolehlah memangnya aku tak mampu menghancurkan kerajaan laut selatan.
Aku segera berdoa ke langit… meminta malaikat semua turun ke bumi, juga semua jin dan pasukan kerajaan kayangan. Langit tersibak makin lebar, dan berduyun-duyun pasukan malaikat memenuhi angkasa, juga para jin dari segala penjuru bumi, juga para pasukan kayangan. Semua siap siaga menyerang laut, biar tsunami, biar saja tsunami… jika nyai Ratu Pantai Selatan tak datang dan lebih mengutamakan kemulyaannya, siapa yang akan menang akan kelihatan, dan semua angkasa sudah dipenuhi para malaikat dan bala tentara… suasana tegang, aku tinggal mengeluarkan perintah, dan pasukan langit akan meluluh lantakkan peradaban samudera.
Tiba-tiba ku dengar tangisan menyayat dari belakangku. Aku menengok ketika tongkat komando sudah siap ku ayunkan, dan tangisan ku dengar dari mulut mbak Nur yang dalam posisi menyembah padaku.
“Huuu…. hhuuu…, ampunkan aku kyai… ampunkan aku… aku tak akan melawan kyai…”
“Siapa?” tanyaku. “Nyai ratukah?”
Dia manggut…
“Maaf kyai… kyai jangan marah, jangan hancurkan kerajaan dan pasukan kyai…”
“Kenapa nyai tak bisa keluar menyambutku? Apa nyai ingin menjadi murid pembangkang?”
“Sama sekali tidak kyai…. ampunkan kami… sebenarnya saya biasanya tak akan keluar walau orang menangis-nangis memintaku keluar, juga aku tak akan keluar dari laut jika tanpa adanya ritual pembacaan mantra-mantra… dan memberikan persembahan bunga, ampun kyai, itu adalah aturan kami bangsa jin di lautan sini, ini dalam sekejab saya sudah keluar, itu tak pernah sekalipun ku lakukan selama ini… huuu huuu.. kyai ampunkan saya… jangan kyai menghancurkan kerajaan laut selatan, huuu.. kami, saya sangat sayang pada kyai, tak ada seorangpun di dunia ini yang kami sambut sebagaimana kami menyambut kyai, lihat jika kyai tau, semua kerajaan laut memakai pakaian baru, saya juga memakai pakaian baru, dan mahkota baru, lihat kyai… huuu huuu… lihat kyai,, kami sayang sekali ke kyai, saya hormat ke kyai apa juga yang kyai minta saya siap memberikannya, kyai raja di raja dari semua jin di dunia, jika kyai sudi datang ke kerajaan kami, itu suatu kehormatan bagi kami, kyai… ampunkan saya kyai, jika membuat kyai marah, sungguh segalanya menyusahkan bagi saya, kalau mau bertemu saya orang harus membaca mantra, dan saya tau itu sangat bertentangan dengan ajaran kyai, tapi itu sudah berlaku selama ini di sini, tak pernah ada ceritanya, orang tanpa mantra, lalu saya mau keluar menemui, itu hanya kyai seorang, karena sayang saya pada kyai, karena hormat saya pada kyai… huu huuu… kyai… maafkanlah saya kyai, sudilah kyai memberi maaf, saya sungguh dalam kesulitan, karena aturan ini kyai… saya ingin mengabdi pada kyai, selamanya, apalagi kyai sudah menjadi raja kayangan, sungguh saya sangat menghormati kyai, rasanya tak ada orang di dunia ini seperti kyai…. huuu… huu… maafkan saya kyai… kyai lihat di sana kyai sudah kami bangunkan istana yang indah khusus untuk kyai, menyambut kyai… kyai… tinggalah kyai di sini… biar kami selalu bisa dekat sama kyai, kami ingin selalu dekat kyai, ingin mengabdi pada kyai… raja segala jin, dan raja kayangan…”
“Sudah… sudah… jangan menangis lagi… sudah aku maafkan… tak papa…”
“Benar, huk.. huk.. kyai memafkanku… kyai… tak marah padaku…?”
“Sudah kyai tak marah…. sudah jangan menangis…” aku melambaikan tangan memerintah para malaikat untuk pergi, dan para pasukan kayangan pergi, juga jin dari seluruh dunia, yang menghunus pedangnya segera memasukkan pedangnya dan pergi.
“Kyai… sudah tak marah lagi…, kyai… sungguh kami semua sayang dan taat pada kyai… jika kyai ingin kami mengabdi ke Pekalongan, kami akan meninggalkan kerajaan kami, kyai… atau kyai tinggal saja di samudera, biar selalu kami layani…”
“Ah sudah.. sudah tak usah seperti itu… nyai tetap di sini…”
“Tapi kapan lagi kyai mau berkunjung kesini? Benar kyai tak mau masuk ke samudera, kami akan mengiring kyai…”
“Mungkin sekarang belum, nanti saja… kalau ada kesempatan lain, insaAllah aku akan masuk ke dalam samudera.”
“Kapan kyai, jangan lama-lama… aku ingin bersama kyai… ingin memberikan pengabdian pada kyai…”
“Bukankah nyai juga sudah tiap ada pengajian di Pekalongan, nyai datang.”
“Saya tak bisa mendekat ke kyai… kyai sibuk dan dikelilingi para malaikat dan ruh para wali, saya tak bisa mendekat, padahal saya ingin sekali mencium tangan kyai… saya hanya bisa melihat kyai dari jauh.”
“Kan kyai sering memanggilmu menghadap?”
“Ya itu kan hanya ruh saya kyai, atau sukma saya…”
“Tapi kan tetap sama…”
“Ya beda kyai, dengan kami melakukan pelayanan yang sesungguhnya,”
“Aku akan pulang dulu…”
“Kyai… kami sedih, kyai tak bisakah beberapa hari di sini, biar kami bisa bercengkrama dengan kyai…. kami… kami ingin dekat sama kyai… huuuu…”
“Sudah… sudah hayo jangan nangis begitu, masak ratu nangis begitu. Ditertawakan sama rakyatnya nanti.”
“Huu huuuu semua rakyatku menangis, huuu… kami menangis semua, jangan kyai tinggalkan kami, kyai tinggalah di sini kyai….”
“Nyai, nyai… nanti kan bisa ke Pekalongan to… kayak kyai mau kemana?”
“Biar kyai saya antar sampai mobil….” kata nyai ratu berjalan…
Wah kayak perpisahan sekolah saja…
Akhirnya nyai Ratu Pantai Selatan mengantarku sambil melambaikan tangannya…. dan air matanya seperti banjir saja… dan aku terbangun dari mimpi… wah lelah mimpi yang panjang.

7 komentar:

  1. Cerita tentang sayyidina hasan dan sayyidina husain di atas banyak dustanya. Bohong

    BalasHapus
  2. Hati2 saudara. Kalau anda berbicara mengenai Nabi Muhammad dan keluarganya. Jangan banyak dusta. Bertobatlah kepada Allah. Dan hati2 mimpi mimpi dusta dari syetan.

    BalasHapus
  3. Hati2 saudara. Kalau anda berbicara mengenai Nabi Muhammad dan keluarganya. Jangan banyak dusta. Bertobatlah kepada Allah. Dan hati2 mimpi mimpi dusta dari syetan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Siapa yang suruh percaya, kan sudah dijelaskan bahwa itu mimpi, kita sebagai pembaca nda usah terlalu serius , jadikan sebagai bacaan ringan, kalo tidak suka ya tidak usah dibaca

      Hapus
  4. Cerita tentang sayyidina hasan dan sayyidina husain di atas banyak dustanya. Bohong

    BalasHapus