Jumat, 14 Februari 2014
Sang Kyai 77
Ternyata mimpi di Jogya berlanjut, aneh juga mimpi kok kemana-mana, namanya juga mimpi, jadi kadang kejadiannya di luar kendali. Kembali pada mimpi lanjutan dari Parangtritis, mimpi berurutan juga aneh memang, kami kembali melanjutkan perjalanan pulang, tapi karena sebelumnya sudah mengabari mau ketemu dengan muridku yang ada di internet, rombonganku segera menuju ke rumah murid yang bernama Agoezt Trie, kayaknya pernah bertemu orang ini waktu ada talkin di Jepara, tapi beda gak orang aslinya dan dalam mimpi, aku juga tak tau, kami disuruh menunggu di dekat lampu merah, setelah mobil menepi beberapa saat jemputan datang, dan ada yang menjemput di mimpiku itu adalah muridku bernama Asenk, boncengan dengan temannya, lalu kami dipandu ke rumahnya Agoezt Trie, lumayan jauh ke dalam rumahnya.
Setelah sampai, biasa orang desa itu basa-basi ngobrol ini itu, namanya juga dalam mimpi, yang dibahas harus langsung ke masalah utama, karena waktu dalam mimpi itu kan lebih pendek dari waktu di kenyataan, atau tidur sebentar itu bisa saja banyak mimpi yang dilakukan banyak di dalamnya, sementara waktunya pendek sekali terasa, mungkin para muridku itu belum terbiasa mengalami mimpi yang ku lakukan, malah bahasnya banyakan yang tak penting.
Aku segera melakukan pembersihan jin di tubuh Agoezt Trie, yang ku keluarkan pertama jin dalam tubuhnya, yang mengakunya adalah jin penunggu rumah, setelah ku Islamkan lalu ku perintah untuk tak masuk lagi ke dalam tubuh Agoest Trie, setelah ku ambil jinnya, lalu ku beri khodam malaikat.
Satu dua orang juga ingin dibersihkan dari jin dalam tubuhnya, soal bersih membersihkan jin sebenarnya sangat mudah bagiku, karena aku raja mereka, jadi mereka akan takluk dan tunduk padaku, jika tau aku yang menyuruh pergi mereka, malah mereka akan cenderung bangga, karena raja mereka yang menyuruh pergi, hal itu akan dijadikan cerita rumpian di kamus mereka.
Kalau bagiku, raja jin atau bukan raja jin sama sajalah, karena tetap saja makanku ya nasi, kalau gak makan aku lapar, tak beda sama sekali dengan aku sebelum jadi raja jin, jadinya ya tetap saja sama sebagaimana aku sebelumnya. Kadang aku sendiri saja masih tak percaya dengan mimpi yang ku alami, apalagi orang lain, kalau tak percaya sama sekali itu baik, gak usah dipercaya karena ini kisah mimpi.
Setelah makan-makan, karena beberapa muridku itu masih menjalankan puasa, jadi harus saur, jadi makan sebelum masa imsak habis, habis makan lalu pembicaraan dilanjutkan. Mungkin karena mimpi jadi aku banyakan lupa kisahnya, tak detail.
Yang jelas mengislamkan daerah itu, dan mengislamkan jin yang dalam tubuh manusia, tak heran di Jogya itu banyak orang yang memasang sesaji terus, jadi jin di sana pada kerasan, karena bisa makan sesaji dengan gratis tanpa bayar.
Mengislamkan jin dialognya ya hampir sama dengan dialog yang sudah sudah ku tulis, kalau ku tulis rasanya kok membosankan, ada beberapa dialog dengan jin yang aku anggap perlu ditulis ketika aku mimpi main ke rumahnya mas Agoezt Trie, salah satunya dialog dengan jin yang bernama Sun Go Kong, ketika mas Agoezt Trie menceritakan soal Sun Go Kong, raja kera dari kahyangan, yang dalam cerita itu, memang ada, cuma memang kisah seperti itu simpang siur kebenarannya, ya kita juga tak bisa percaya 100% pada jin dan omongan mereka, tapi tak ada salahnya menyimak.
“Benar kamu Sun Go Kong?” tanyaku setelah memasukkan jin Sun Go Kong ke dalam tubuh mas Agoezt Trie.
“Benar kyai…” jawabnya dengan menunduk.
“Kamu kenal aku kan?”
“Ya kami bangsa jin tau siapa kyai, raja jin semua jin alam raya.”
“Apa kamu yang dalam cerita itu… kera sakti?”
“Benar, aku kera sakti dari kayangan.”
“Berarti kamu sakti, yang ceritanya mengambil tongkat sakti penyangga kerajaan kayangan.”
“Ya benar kyai…, tapi setelah masuk Islam, kesaktianku dilucuti semua sama raja Daud.”
“Siapa raja Daud?”
“Raja Daud itu raja jin di kayangan kyai…” jelas Sun Go Kong.
“Tinggian mana kedudukannya dengan raja Arif?”
“Tinggian raja Arif kyai, raja Arif raja semua kayangan, dan raja Daud adalah raja kayangan paling bawah.”
“Raja Arif di bawahku, jadi raja Daud akan tunduk pada perintahku, kalau mau aku akan mengembalikan kesaktianmu yang diambil raja Daud, kamu mau?”
“Ah tidak kyai, saya sudah menjadi murid ulama’ di Iraq, dan saya tak butuh kesaktian itu lagi.”
“Siapa ulama’ di Iraq?”
“Dia seperti kyai… saya diislamkan sama dia, kesini juga atas petunjuk dia, untuk mencari kyai, tapi waktu ke tempat kyai banyak malaikatnya jadi saya ke murid kyai, Agoezt Trie ini.”
“Maksudmu sepertiku, orang thoreqoh begitu…?”
“Benar sekali kyai…”
“Ya sudah, kamu membantu perjuangan mas Agoezt Trie ini, tapi ingat jangan masuk ke tubuhnya.”
“Terimakasih kyai, saya akan taat dan membantu perjuangan kyai, lewat murid kyai, iya kok kyai selama ini juga saya tak pernah memasuki tubuh Agoezt Trie.”
“Ya sudah setelah ku islamkan lagi nanti keluar.”
“Baik kyai…”
__________________________________________________________________________________________
Dalam dialog di rumah mas Agoezt Trie ada salah satu tamu yang menceritakan ceritanya, kalau dia selama ini membantu orang yang mengobati orang dengan ilmu pengobatan, dalam ceritanya itu katanya orang yang bisa mengobati itu katanya dibantu ruh anaknya orang yang bisa mengobati itu, katanya ruh dari anaknya yang meninggal, dan sering difatekhahi, juga jika mau dipanggil maka difatekhahi dulu, dengan memanggilnya sebagai pak Kemis.
Setelah aku diceritai, aku tak akan menjelaskan dengan penjelasan lisan, orang juga tak akan percaya kalau ku jelaskan secara lisan. Maka ku tarik siapa saja yang mengaku sebagai PAK KEMIS yang biasa dipanggil dengan kiriman fatekhah. Ku mediumisasi ke tubuhnya mas Agoezt Trie .
“Siapa ini?” tanyaku setelah memasukkan yang mengaku pak Kemis ke dalam tubuh mediator.
“Aku pak Kemis… siapa yang menarikku kesini, berani-beraninya…”
“Aku yang menarikmu… coba lihat aku..” jawabku.
“Wah aku silau…, ya aku kenal denganmu, ampunnn… ampun,”
“Kenapa ampun?”
“Maaf kyai, aku sudah mengaku-aku ruh… maaf ampunkan saya kyai. Jangan dibunuh saya, saya kan banyak menolong orang.”
“Menolong bagaimana?, itu bukannya malah menyesatkan manusia, sehingga manusia percaya kalau kamu punya kekuatan yang bisa dijadikan bersandar, sehingga orang tidak bersandar pada Allah lagi.”
“Kyai… ampunkan saya kyai..”
“Ya tak papa… kamu mau masuk Islam tidak?”
“Mau sekali kyai,”
“Kamu dari mana…?”
“Saya dari gunung kidul kyai…”
“Apa temanmu banyak dari gunung kidul…?”
“Banyak sekali kyai.”
“Panggil kesini semua, tanya apa mereka semua mau masuk Islam?”
“Ya kyai semua mau masuk Islam.”
Setelah ku masukkan Islam jin itu, maka yang bercerita masih saja tak percaya kalau jin yang sudah ku masukkan Islam itu yang dia anggap sebagai ruh, kalau aku sendiri karena banyak melihat jin yang mengaku malaikat dan mengaku wali dan lain-lain, maka kejadian kayak begitu sudah sangat biasa sekali, tipu daya setan itu banyak sekali, sebaiknya kita jangan asal percaya dengan fenomena apa yang terjadi.
Seperti di Pekalongan sendiri sering terjadi, misal fenomena kejadian yang dipercaya kalau di malam rabu wekasan, atau di malam jum’at kliwon ada salah satu sumur yang mengeluarkan air panasnya dari dasar sumur, sehingga diyakini itu sumur wali, dan diyakini punya khasiat, sehingga sampai sekarang sumur itu didatangi banyak orang karena diyakini ada khasiatnya. Suatu hari ku tarik jin penunggu sumur ku masukkan ke mediumisasi.
“Siapa ini…?” tanyaku setelah jin penunggu sumur yang dikeramatkan itu ku masukkan ke dalam mediator.
“Saya jin penunggu sumur Wonoyoso kyai.”
“Sumur yang dikeramatkan yang katanya setiap malam rebo wekasan dan malam jum’at kliwon itu keluar air panasnya ya?”
“Benar sekali kyai…”
“Apa benar kepercayaan yang beredar itu?”
“Sama sekali tak benar kyai, itu hal yang bohong.”
“Tapi setiap malam rebo wekasan itu air menjadi hangat dan keluar air panasnya,” kata seorang tamu.
“Apa kamu melihatnya, atau pernah melihatnya sendiri?”
“Tidak… tak pernah melihatnya…”
“Nah itu namanya dibohongi.., apa ada yang pernah melihatnya langsung?”
“Tidak ada..” jawab yang hadir.
“Nah itu namanya dibohongi, memang kyai banyak jin fasik yang menebar-nebarkan cerita bohong, agar manusia jadi sesat dan syirik.”
“Lalu kamu bagaimana?” tanyaku pada jin.
“Saya muslim kyai, saya di situ sudah lama sekali, dan saya ini yang membersihkan masjid di dekat sumur.”
“Ooo begitu rupanya…”
“Ya kyai…”
“Ya sudah kamu kembali ke tempatmu saja…”
“Terimakasih sekali kyai, sudah mengijinkan saya menghadap, silahkan kyai datang ke masjid kami, agar masjid kami mendapatkan kebaikan.”
“Wah aku tak pernah bepergian ke mana-mana, sholatku saja juga di masjid sini saja.”
________________________________________________________________________________________
Di antara kejadian kebiasaan yang selalu mengiringi mimpiku adalah acara memanggil ruh para orang tua yang sudah meninggal, ini juga terjadi ketika aku mimpi di rumah muridku mas Agoezt Trie, banyak yang ingin mempertanyakan keberadaan para kakek atau ayah mereka yang sudah meninggal, dan ingin bertemu dengan kakek mereka yang sudah meninggal, bagaimana keadaan mereka di sana, dan apa doa mereka sampai di sana, saya kebagian mendatangkan ruh para orang yang sudah mati (namanya juga mimpi, sampai mendatangkan ruh juga bisa dilakukan ).
Ada salah satu orang yang ingin tau keberadaan kakeknya yang sudah meninggal, ingin tau nasib kakek yang selama ini ilmunya diwarisi, ilmu kejawen. Ku berdoa agar ruh orang yang sudah meninggal itu didatangkan Allah dan masuk ke tubuh mediumisasi.
“Siapa ini?” tanyaku pada ruh yang sudah masuk ke medium.
“Aku kakek Rejo… aduuuh… aduuh…” jawabnya sampai tubuhnya memelintir-memelintir menahan sakit.
“Kenapa kek? Bagaimana keberadaanmu di sana?” tanya orang yang ingin kakeknya dipanggilkan.
“Aku disiksa… disiksa di sana karena ilmu bersekutu dengan jin yang ku amalkan.”
“La terus aku bagaimana kek, ilmu kakek kan sudah ku amalkan sekian lama…”
“Wah sudah buang-buang…, minta pak kyai untuk mengambilnya, nanti kamu akan celaka seperti diriku sekarang, sudah biar aku saja yang celaka, buang ilmu itu…”
“Jadi aku buang ilmu yang ada di dalam tubuhku ini kek?”
“Buang… buang sudah…., ikuti saja ilmu pak kyai… Ikuti dia kamu akan beruntung.”
Sepertinya orang yang meminta dipanggilkan ruh kakeknya itu agak keberatan jika ilmu yang sudah dimilikinya itu dibuang, maklum dia sudah menjalankan lelaku puasa bertahun-tahun, ya aku sendiri tak yakin memaksa, itu hak dia.
“Ya bapak sendiri, terserah, mau tetap memiliki ilmu yang diwarisi itu ya silahkan, saya yang penting sudah menunjukkan kenyataan itu nyata lo, bukan rekayasa saya…” jelasku.
Setelah itu ku kembalikan ruh kakek Rejo kembali ke alamnya, sebelumnya mendoakannya agar dosa dia diampuni.
Apa yang terjadi walau terjadi dalam mimpi sekalipun, bisa dijadikan pelajaran, agar kita melangkah dengan kehati-hatian, apa juga yang terjadi dan kita alami itu kenyataannya belum tentu baik. jadi alangkah baiknya jika kita tahu sebelumnya, sehingga apa yang kita lakukan itu nanti tak sudah sekian lama kita ini sudah jauh dan amat lama ternyata melakukan hal yang sangat merugikan, dan sia-sia, sehingga kita tak jauh-jauh amat menyesal akan apa yang sudah dilakukan, waktu dan lelaku yang dilakukan ternyata yang selama ini diyakini, dan diamalkan dengan tekun ternyata adalah sia-sia belaka. Malah merugikan kita di akhirat nanti jika kita tetap teguh melakukannya.
Dalam mimpi, soal panggil memanggil ruh, kemudian merembet pada yang lain, semua minta dipanggilkan ruh orang tuanya yang sudah meninggal atau memanggil kakek neneknya yang sudah meninggal, untung juga cuma mimpi.
____________________________________________________________________________________________
Aku jadi ingat dengan Sun Go Kong, jika memang dia benar adanya dan benar wujudnya, berarti kayak Dewi Kwan Im, yang disembah-sembah orang China itu ada… ee baru saja rasan-rasan mau tidur, kok ya dalam tidur bertemu dengan Dewi Kwan Im, aku heran dengan bentuk perempuan yang berdiri di depanku.
“Siapa kamu?” tanyaku.
“Aku Dewi Kwan Im…” jawabnya dengan tersenyum.
“Asli?” tanyaku.
“Ya asli, memang Dewi Kwan Im, pak kyai kan memanggilku, jadi aku menghadap, sebenarnya ingin menghadap langsung, tapi saya malu, jadi menunggu pak kyai membatinku, lalu baru aku menghadap kyai.”
“Kamu yang disembah orang-orang Cina itu?”
“Ya benar sekali…”
“Kamu ini termasuk apa? Dewa, atau apa?”
“Aku jin kyai…”
“Jadi kamu hanya membuat tipu daya saja pada orang-orang yang menyembahmu?”
“Iya benar, kalau di depan pak kyai Nur, penguasa semua jin sejagad, dan penguasa alam kayangan, saya tak berani berdusta, saya berbicara apa adanya kyai, saya ini jin, dari kayangan, sebagaimana Sun Go Kong tinggal di bawah raja Daud.”
“Ooo begitu rupanya…”
“Ya benar, tapi saya baik kok kyai, saya ini tak pernah mencelakakan orang.”
“Menurutmu tak pernah mencelakakan orang tapi malah menurutku mencelakakan.”
“Mencelakakannya di mana kyai, saya kan memberi apa saja yang mereka minta, jika meminta rizqi, saya beri rizqi, jika minta kesehatan maka saya beri kesehatan, bukankah itu tak mencelakakan?”
“Ya mereka jadi menyembahmu, dan mengagungkanmu, lalu nanti mereka masuk neraka selamanya setelah meninggal.”
“Wah kyai sangat teliti.”
“Itu jelas dan gamblang, dan sangat mudah kamu memperdaya kalau orang yang kamu perdaya itu tak percaya adanya kehidupan di akherat nanti, ada kehidupan setelah mati, atau kamu sesatkan dengan memasukkan kepahaman yang salah tentang kejadian setelah kematian, aku tau para jin itu sangat teliti juga ketika membuat orang suatu bangsa dijadikan sesat semua, cara membuatnya sangat komplek sehingga orang yang akan menunjukkan benar akan kesulitan mencari celah untuk memasukkan keadaran petunjuk yang benar, sebab setiap celah sudah kamu tutup, dan mata hati mereka kamu kusamkan.”
“Aku tau, kemaren dulu… kyai mengislamkan semua kayangan… juga raja Daud, raja kayangan di mana aku tinggal juga ikut Islam, kami tak berani melawan kyai, jadi kami semua ikut dan taat, saya waktu kyai mengislamkan kayangan, saya sedang di bumi, sehingga saya tak ikut Islam, saya sebenarnya juga ingin masuk Islam, agar nanti saya tak celaka di akherat,”
“Benar kamu mau masuk Islam?” tanyaku tak percaya mengingat Dewi Kwan Im itu sudah sangat melegenda sekali.
“Iya kyai…”
“Siapa raja di raja jin di China?”
“Ya saya ini rajanya…” kata Dewi Kwan Im.
“Lalu apa cerita tentang Sun Go Kong itu ada?, dan juga cerita tentang biksu Tong?”
“Heheheh kyai masak tak tau, kalau kera Sun Go Kong, memang ada, kan sudah menjadi khodam murid kyai, tapi kalau cerita biksu Sam Cong itu, heheheh itu hanya cerita rekaan kami kyai, bukan bener ada.”
“Begitu rupanya, ya sudah ikuti aku membaca dua kalimat sahadat.”
Maka Dewi Kwan Im membaca dua kalimat sahadat. Setelah membaca dua kalimat sahadat, dia lalu melanjutkan pembicaraan denganku.
“Apa soal dewa-dewa itu juga ada benar, bukan hanya cerita?”
“Iya benar dewa-dewa itu ada, mereka semua menyembah tuhannya dewa.” jelas Dewi Kwan Im.
“Apa mereka tak ikut masuk Islam ketika aku mengislamkan kayangannya raja Arif?”
“Kyai…. mereka itu alam kayangannya beda kyai,”
“Beda bagaimana?”
“Ya beda dengan raja Arif, seperti bumi dan planet lain, jadi mereka itu sama-sama kayangannya tapi beda sekali.”
“Tapi mereka itu para dewa Siwa, dewa Wisnu dan lain-lain itu ada semua wujud nyatanya.”
“Ya wujudnya ada… cuma kayangan mereka beda dengan kayangannya raja Arif, kyai kan jadi penguasa kayangannya raja Arif, tapi bukan di kerajaan kayangan yang di planet lain.”
“Wah ternyata alam ini luas sekali ya..?”
“Ya begitulah kyai..”
“Hai Dewi Kwan Im…”
“Ya kyai…”
“Aku memerintahkan kamu untuk mengislamkan orang China, nanti aku juga perintahkanmu untuk merusak patung-patungmu sendiri, apa kamu mau…?”
Dewi Kwan Im terdiam, lamaa sekali dia terdiam.
“Bagaimana? Ya aku tau kamu itu akan merasa berat karena kamu itu dimulyakan di bumi sudah ratusan ribu tahun, tentu kamu akan merasa berat melepas atribut kemulyaanmu itu, nah aku memberi perintah kepadamu, kamu harus merusak patungmu sendiri, untuk menunjukkan keseriusanmu jadi muridku. Bagaimana?”
“Ya ya… saya siap sedia.”
“Nah sekarang silahkan kamu pulang ke tempat tinggalmu, dan lakukan apa yang ku perintahkan,”
Maka Dewi Kwan Im pergi, masih dalam mimpi…. malaikat Jibril datang,
“Assalamualaikum kyai… Dewi Kwan Im itu tak akan melakukan yang kyai perintahkan.” kata malaikat Jibril.
“Waalaikum salam ya Jibril…, kenapa begitu?”
“Ya karena dia sudah sekian lama disembah, akan sangat berat meninggalkan kehormatannya selama ini, apalagi harus merusak arcanya, siapa saja itu akan bangga jika dibuatkan monumen keagungannya dibuat.”
“Ooo begitu ya… apa saya panggil dia kembali ya Jibril…”
“Sudah biarkan saja… biarkan saja begitu adanya, nanti dilihat saja bagaimana perkembangannya.”
Ku lihat Jibril tersenyum-senyum…. biasanya dia selalu serius,
“Ya Jibril…, kok kamu tertawa-tawa begitu, ada apa?”
“Heheheh saya selama ini selalu serius, dan jarang tersenyum, tapi hm… hm… hayo hayo kyai mau nikah lagi dengan puteri kayangan…, saya jadi ikut senang.”
“Apa benar seperti itu kabar yang kamu dengar?”
“Ya kyai… yang baju hijau kan bidadari yang kyai pilih…”
“Wah tau semua ternyata kamu Jibril.”
“Heheeh… saya sangat senang sekali, kyai mau nikah sama bidadari kayangan.”
“Eh boleh kasih tau bocorannya ya Jibril, itu bagaimana saya menjalani pernikahan itu.”
“Ya hanya dalam mimpi, hahahahah…” Jibril tertawa sampai kelihatan giginya.
“Wah kamu jangan mengolok-olokku lah Jibril.”
“Tidak-tidak, soal itu aku tak boleh mencampuri urusan raja Arif, Dewi Nawang Wulan, sama Syaidina Khusain, itu katanya urusan mereka, aku tak boleh mencampurinya sama sekali, jadi aku tak bisa memberitahu kyai apa rencana mereka sebenarnya, yang jelas Allah sudah mengijinkan, itu juga kalau kyai tak mengalir darah kayangan juga kyai tak bisalah menikahi bidadari di dunia, juga kyai tau sendiri apa yang kyai alami selama ini, kejadiannya beda dengan siapa saja manusia di dunia, mana ada manusia bisa menjadi raja di raja penguasa jin, sekaligus raja jin alam raya, nabi Sulaiman saja kawasannya hanya di kerajaan yang dia pimpin, tapi kalau kyai semua jin lapis bumi tujuh, dan lapis langit tuju, dan jin segenap penjuru kutub, laut, dan daratan…. itu saja kalau ditelisik akan ditemukan keanehan, karena darah kayangan di tubuh kyai tercium oleh semua jin, walau kyai tak dikenal di kalangan manusia, makanya kenapa jin begitu antusias kyai Islamkan, tanpa diundang saja berduyun-duyun datang, apalagi kalau diundang.”
“Ya Jibril… kebetulan kamu di sini, aku mau nanya, kemaren kamu kan melihat kejadian aku mau masuk laut selatan… itu bagaimana menurutmu, apa yang ku lakukan itu benar, aku mengambil keputusan tak jadi masuk ke laut itu apa benar?”
“Kyai mengambil keputusan yang tepat sekali, seandainya kyai masuk ke laut, hmm…”
“Kenapa? Apa aku akan mati tenggelam?” tanyaku.
“Mati tenggelam sih tidak, kan kyai sudah punya ilmunya.”
“Punya ilmu apa, aku malah tak punya ilmu sama sekali untuk masuk ke dalam laut.”
“Kyai… kyai… ilmu di diri kyai itu sangat banyak, cuma kyai tak tau, malah ilmu kyai itu lober-lober, karena para kakek-kakek kyai sampai Rosululloh saw itu memberikan ilmunya pada kyai semua, sampai sangking banyaknya, sampai kyai sendiri tak tau seberapa banyak ilmu yang kyai punya…”
“Enggak kok Jibril, aku sama sekali tak punya ilmu, aku malah cenderung mengarang kalau mengeluarkan ilmu, apa juga hanya ku hayalkan.”
“Ya itu bedanya kyai, karena teramat banyaknya ilmu, kyai tinggal hayalkan saja, ilmu langsung keluar, tak perlu mantra atau kata, kyai sudah penuh ilmu di dalam diri.”
“Malah aku cenderung ngawur, misal ngarang pedang naga sukma ku padukan dengan pedang nabi Ilyas, ku padukan dengan keris setan kober, ku hayalkan ee kok ya ku pakai ampuh.”
“Itulah kyai bedanya dengan orang lain kyai, darah kyai itu berpadu aneka darah keturunan raja-raja, keturunan kayangan, dan keturunan Rosululloh dari berbagai arah dan paduan, sehingga menjadi kyai, yang bisa mencampur berbagai keilmuan, meramunya menjadi ilmu baru yang ampuh, itu juga yang ditakuti oleh para dukun dan para jin fasik, kyai itu tak bisa diduga kesaktiannya sampai di mana… apalagi kyai sama sekali tak kelihatan sama sekali sebagai orang sakti, ya tetap sebagai orang biasa, karena ilmunya memang semua titisan.”
“Jadi kalau waktu itu sebenarnya aku masuk laut tak akan apa-apa…”
“Tak apa-apa kyai, semua khodam kan melindungi, sebab mereka diperintah Allah melindungi… aku juga kan juga menjaga kyai… atas perintah Allah, makanya kenapa aku menjadi khodam kyai.”
“Cuma jika kyai waktu itu kok masuk laut, kyai akan menjadi bagian dari mereka, kyai akan menjadi raja laut selatan…, jadi kyai tak jadi masuk, kyai tetap jadi kyai Nur… heheheh yang akan menikah dengan bidadari, heheheh.”
“Wah Jibril, kamu jadi muda begitu…”
“Ya karena jadi khodamnya kyai, aku jadi muda dan gaul, heheheh…, sudah kyai, saya pamit dulu mau melanjutkan tugasku…. jangan takut aku akan menunjukkan ke kyai terus apa yang harus kyai ketahui, sebagaimana biasa aku bisikkan di hati kyai. Assalamualaikum kyai.”
“Waalaikum salam wr. wb.”
____________________________________________________________________________________________
Aku masih merenungi apa yang diucapkan jibril, tentunya sambil tidur ngorok, namanya juga mimpi, tiba-tiba ku dengar suara perempuan.
“Pak kyai… pak kyai memanggilku?” tanya perempuan itu.
“Siapa ini?” tanyaku.
“Saya Suci kyai, dayangnya ibunda kyai, Dewi Nawang Wulan…”
Wah kebetulan aku bisa tanya ini itu pada Dewi Nawang Wulan, untuk menelusuri kok bisa-bisanya keturunanku sampai ke kahyangan. Bagaimana kisahnya kok sampai padaku lantas dari siapa sebenarnya.
“Suci….!”
“Ya kyai…” suaranya centil.
“Suci kan dulu dayangnya Dewi Nawang Wulan waktu di kayangan?”
“Ya benar kyai…”
“Lalu Dewi Nawang Wulan kan di waktu menikah dengan Jaka Tarub, Dewi Nawang Wulan kan kembali ke kayangan… lalu bagaimana dengan anak Dewi Nawang Wulan?”
“Anak Dewi Nawang Wulan, juga pergi ke kayangan.” jawab Suci.
“Lhoh… lalu bagaimana kok darahnya sampai padaku, wah makin muskil.”
“Ya kan setelah itu anaknya kan turun ke bumi…”
“Siapa anaknya?”
“Mas Karebet, atau Jaka Tingkir… masak kyai tak tau dengan kakeknya kyai…”
“Ya sudah tau, tapi ndak tau pasti kalau Jaka Tingkir itu anaknya langsung Jaka Tarub, lalu Jaka Tingkir itu bagaimana ceritanya?”
“Kalau itu saya tak tau ceritanya kyai, saya kan hanya dayangnya Dewi Nawang Wulan, kenapa tak tanya langsung kepada dayangnya Jaka Tingkir, atau tanya langsung pada kakek kyai sendiri, Jaka Tingkir.”
“Ooo ada to dayang dari kayangannya Jaka Tingkir?”
“Ada dayang dari Jaka Tingkir, namanya Sri Anjasmara… itu dia datang ingin menghadap sama kyai.”
“Assalamualaikum wr. wb. kyai saya Anjasmara menghadap kyai… apa yang saya bisa bantu?”
“Waalaikum salam wr. wb.” jawabku.
“Kyai saya permisi dulu, saya akan melanjutkan tugas di dapur.”
“Silahkan Suci…” kataku.
Setelah Suci pergi… “Sri Anjasmara, benar dulu adalah dayang kakek Jaka Tingkir?”
“Benar sekali kyai… senang bisa menghadap kyai, kyai walau keturunan keraton kayangan tapi kyai tidak sombong, memperhatikan saya yang hanya dayang, dan tak canggung berbicara dengan saya yang cuma dayang.”
“Wah saya ya tetap manusia biasa, tak akan membedakan siapa juga…”
“Apa yang bisa saya bantu kyai…?”
“Aku ingin bertanya, kakek Jaka Tingkir itu apa keturunan kayangan yang turun ke dunia, lalu darahnya yang menyambung sampai darahku ini?”
“Benar sekali kyai, beliau turun dari kayangan waktu itu dan saya sendiri yang mengiringnya, beliau sempat dititipkan kepada Sunan Giri, ki Ageng Pengging, dan ki Ageng Tingkir, jadi sebenarnya beliau bukan anak mereka, ini hanya kyai yang tau aslinya, Jaka Tingkir itu anak Jaka Tarub, Jaka Tarub itu aslinya Syayidina Khusain bin Ali bin Abi Tholib, suami Fatimah azzahro’ itulah darah yang sampai pada kyai…”
Aku jadi ingat tahun 2011, guruku membahas soal habib yang berdebat denganku, dan aku cenderung mengalah, lalu kyai tau, kamu jangan takut sama habib segala, memang mereka saja yang keturunan nabi, kamu juga keturunan nabi, malah keturunan lebih kuat, cuma saja pura-pura jadi orang Jawa, ku sangka kyai saat itu bercanda, dan aku kira maksudnya aku keturunan nabi Adam as, ee ternyata ini.
Ini juga hanya kejadian mimpi, soal kebenarannya perlu diteliti dengan alat peneliti, atau sudah biarkan saja sebagai mimpi.
“Kyai… Jaka Tingkir datang… kakeknya kyai…” kata Anjasmara.
“Ayo… ayo nak mas, adu kelincahan kanuragan kita…” kata kakek Jaka Tingkir dengan wajah masih mudanya.
“Ini kakek Jaka Tingkir asli, ruh idhofi?” tanyaku.
“Benar aku Jaka Tingkir, ah jangan panggil kakek begitu lah nak mas, kesannya aku tua sekali, heheheh.”
“La aku panggil siapa kek, kan kakek adalah kakekku…”
“Ya nak mas kyai panggil lainnya kakek…”
“Bagaimana kalau ku panggil guru?”
“Boleh…”
“Eit guru beri ilmu dulu padaku….baru ku panggil guru…”
“Ilmu apa? Ilmumu kan sudah banyak sekali, kita latih tanding saja ilmu kanuragan, wah semangat mudaku jadi membara ini karena melihatmu…”
“Aku ndak bisa ilmu kanuragan, aku tak pernah belajar.”
“Ya sudah ku beri ilmu… ilmu apa yang kamu inginkan…?”
“Ilmu terbang di atas awan…”
“Wah kok kamu tau kalau aku punya ilmu itu…?”
“Ya kakek bagaimana bisa turun dari kayangan kalau tak punya ilmu terbang di atas awan?”
“Wah cerdas juga… tapi itu kan ilmu kayangan tak bisa sembarangan aku memberikannya, aku harus minta ijin.”
“Ijin sama siapa? Ijin sama Jaka Tarub?”
“Ya kamu kok tau…”
“Kan aku cucumu, bagaimana tak tau…”
“Iya benar aku mencium darah kayangan dari darahku mengalir dari diriku pada nak mas kyai, pantesan aku kok bisa kesini ya… dan merasa akrab sekali. Tapi… ayahanda Joko Tarub malah menyuruhku memberikan ilmu terbang di atas awan padamu… bilangnya, sudah berikan ilmu itu, daripada ada padamu tak kepakai mubadzir saja…”
“Nah tuh kan, kakek Jaka Tarub sudah mengijinkan… bagaimana mau diberikan?”
“Iya… bersiap saja, biar ilmunya ku masukkan ke dalam tubuhmu.”
Aku segera bersiap, dan ilmu dimasukkan ke dadaku, hanya ada rasa panas yang masuk ke dada.
“Sudah.” kata Jaka Tingkir.
“Kok cepat amat guru…”
“Ya begitu saja…”
“Kok aku ndak merasakan apa-apa…?”
“Ya kalau orang lain akan terjengkang, karena ilmu itu amat berat, tapi lafadz Allah di dadamu berlapis-lapis, bahkan di seluruh uratmu ada, belum pernah aku bertemu pemuda seperti dirimu… aneh… sungguh aneh, ilmuku seperti masuk ke samudera, lafadz Allah di tubuhmu seperti samudera tanpa tepi… hm… benar-benar orang yang aneh…”
“Guru….”
“Kok memanggilku guru…”
“Katanya gak mau dipanggil kakek, kelihatan tua…”
“Ya ya…”
“Ada maksudnya lo…”
“Apa maksudnya?” tanya Jaka Tingkir.
“Ya biar ilmu guru diberikan padaku semua.”
“Mau semuanya? Ya sudah pasti ku berikan semua lah… nak mas kyai kan cucuku… Tapi ada maksudnya juga tak ku berikan sekaligus semua..”
“Apa maksudnya?”
“Maksudnya agar aku sering bertemu dengan nak mas kyai… heheheh.”
“Eh guru, ruh guru ini tinggalnya di kayangan apa di alam barzah?”
“Aku di alam barzah…”
“Kemaren kan kakek Jaka Tarub, sama nenek Dewi Nawang Wulan itu ku satukan di kayangan.”
“Memang bisa?”
“Ya nyatanya bisa…”
“Ayo kalau begitu ke kayangan bareng denganku…”
“Kenapa kakek guru tak kesana sendiri, kan punya ilmu terbang di atas awan.”
“Wah nak mas, aku dulu di dunia tingkatan langitku rendah, jauh jauuuh sekali dengan tingkatanmu sekarang, jadi aku tak punya pilihan dengan kedudukanku sekarang,”
“Apa guru mau sama dengan tingkatanku sekarang?”
“Apa bisa?”
“Ya ku mintakan pada Allah…” aku segera berdoa.
“Ha… kok cepat sekali tingkatanku sama denganmu, wah aku jadi malu… dulu aku malas sekali dzikir dan beramal, sehingga aku rendah tingkatan langitnya… aku malu sekali, kamu sebagai cucuku malah sangat unggul, pantas ayahanda Jaka Tarub selalu menyebutmu… aku bangga padamu anakku… sudah ah… jangan cengeng…” memang pembawaan Jaka Tingkir sebentar-sebentar berubah, dan selalu penuh canda atau sangat pinter membawa suasana.
“Guru… dulu guru di bunuh Senopati apa benar guru sedang tidur?”
Jaka Tingkir menerawang.. “Iya ngger… hm saat itu aku sedang waktu apes… sehingga kena ditikam keris. Sudah lah jangan mengingat masa itu, lupakan saja…, eeh eh… mau nikah sama bidadari kayangan nih… hayo… hayo… aku jadi iri…”
“Kok guru tau?”
“Taulah kan sudah tersebar di seantero alam arwah dan alam kayangan…”
“Bagaimana menurut guru…?”
“Sepertinya hanya kakek Jaka Tarub dan dirimu orang di dunia ini yang menikah dengan bidadari kayangan, sudah selamat dulu deh, heheheh… jadi ikut senang… tapi Allah memang menghendaki seperti itu, makanya angger kyai menerima cobaan yang begitu berat, kalau ku lihat dari atas saja, tak ada orang setangguh angger kyai… dikeroyok jutaan dukun hanya anteng saja, malah dikeroyok jin yang trilyunan, hanya dihadapi sendirian, wah darah Bandung Bondowoso benar-benar nyatu… darah keteguhannya menyatu di tubuhmu…”
“Saya sebenarnya ndak punya apa-apa guru, dan saya itu tak melawan, sebenarnya ndak tau mau melawan dengan apa….”
“Walah merendahnya pinter banget… udah kakek ucapkan selamat, semoga bahagia…, kakek pamit dulu, assalamualaikum….”
“Waalaikum salam…”
Aku terbangun dari mimpi, mimpi yang aneh… lelah juga kalau mimpinya panjang-panjang.
__________________________________________________________________________________________
Kembali aku berpikir kalau memang kayak Dewi Kwan Im itu benar, tentu seperti kisah Mahabarata juga benar… mau tidur membayangkan hal seperti itu la kok dalam tidurku malah kok bener-bener mimpi ada datang orang dari langit duduk di hadapanku.
Dia bersikap menyembah dengan merapatkan kedua tapak tangan di dadanya.
“Siapa ini, kalau boleh tau…?” tanyaku.
“Saya Batara Indra….” jawabnya dengan lemah lembut.
Wah aku masuk alam pewayangan ini jadinya.
“Apa dewa?”
“Ya aku dewa indra…” jawabnya masih dengan duduk bersila dan tapak tangan ditapukkan di dada.
“Apa Batara Indra itu raja para dewa?”
“Bukan, raja para dewa namanya raja Krisna.”
“Maaf mungkin sebaiknya dia saja yang datang, apa bisa….?”
Dari atas langit sudah turun seorang gagah dengan wajah bersih dan memang seperti wajah dalam pewayangan yang tampan.
“Saya yang bernama dewa Krisna…., apa kyai Nur ingin aku menghadap?” katanya, yang lalu duduk di depanku dengan sikap sama tapak tangan disatukan di dada.
“Silahkan…!”
“Ada apa gerangan kyai memanggilku menghadap?” katanya.
“Saya hanya ingin tau dan menawarkan sesuatu…”
“Apa yang kyai mau kyai ingin tau dan apa yang mau kyai tawarkan?”
“Apa benar kisah Mahabarata itu, perang Barata Yudha? dan boleh saya tau siapa yang raja dewa Krisna sembah?”
“Kisah perang itu benar, dan aku ini raja para dewa, dan yang ku sembah ya tuhannya dewa.”
“Siapa tuhannya dewa itu?”
“Sang yang maha dewa.”
“Dia berupa apa?”
“Dia sepertiku tapi punya kesaktian dan yang memberi kekuatan. Dia bertempat di tempat yang lebih tinggi. Saya tau kyai dari dan kami melihat sepak terjang kyai, terus terang aku dewa Krisna merasa kagum, dan saya sangat senang kyai mau bersahabat denganku, kalau boleh saya tau apa yang mau kyai tawarkan pada saya?”
“Saya ingin menawarkan islam…,”
“Apa maksudnya Islam?”
“Islam itu keselamatan.”
“Keselamatan yang bagaimana, ajaranku juga keselamatan, kebijaksanaan, dan welas asih.”
“Raja Krisna, coba lihat kalau raja Krisna mengamalkan yang raja Krisna anut, raja Krisna akan ada di sini…” ku tunjukkan neraka di tangan kiriku.
“Dan jika raja Krisna mengikuti Islam maka raja Krisna akan ada di sini nanti…” ku tunjukkan gambar surga di tangan kananku.
“Hm… saya masih tak mengerti bagaimana saya bisa ada di sana nanti.”
“Ya kan raja Krisna nanti akan mati, sewaktu dunia dan langit ini musnah, dan raja Krisna setelah itu akan tinggal di neraka itu untuk selamanya.”
“Bagaimana saya bisa di sana, sedang saya menjalankan bakti, menjalankan hidup yang benar.”
“Ya karena raja Krisna bukan menyembah yang benar, raja Krisna menyembah tuhan yang salah…”
“Bagaimana saya tau itu benar atau salah?”
“Raja Krisna itu pasti tau kalau kebenaran itu kekal… dan kebenaran itu amat kuat.”
“Ya saya tau….”
“Coba sentuh tulisan di dada saya, saya ini hanya orang biasa, dari manusia, bukan dari dewa, bukan dari peri atau manusia kayangan, tentu raja Krisna sudah tau kalau semua jin pada takluk padaku dan kayangan miliknya raja Arif ada di bawahku.”
“Ya raja Arif itu dulu di bawah kekausaanku…”
“Nah aku yang manusia biasa ini, coba raja Krisna sentuh tulisan di dadaku.”
“Boleh ku sentuh?”
“Boleh, silahkan saja…”
Raja Krisna mulai mendekatkan tangannya ke dadaku…
“Hai aku kesedot ke dalam kekuatan besar.” dan dia buru-buru menarik tapak tangannya padahal masih 30 cm dari dadaku.
“Kalau mau raja Krisna boleh memanggil semua dewa yang ada, dan menempelkan semua kekuatan mereka pada tubuh raja Krisna, dan coba menyerangku dengan sepenuh kekuatan, saya akan diam saja, nanti dilihat bagaimana hasilnya…”
“Ah tidak… tidak kyai… saya tak akan menyerang, kalau saya tak diserang.”
“Apa saya yang harus menyerang raja Krisna?”
“Kyai bercanda, di wajah kyai sama sekali tak ada angkara murka, bagaimana akan menyerang saya, jelas tak mungkin.”
“Oh ya kalau begitu, tuhannya dewa itu bisa tidak dia datang padaku?”
“Dia tak mau… dia mengirim pesan padaku, jangan melawan kyai, ikuti saja ajaran kyai, katanya kyai orang yang sakti sekali, dan aku jangan sampai melawan kyai karena akan merugikan segala alam kayangan dewa.”
“Raja Krisna, sama sekali aku bukan orang yang sakti, aku hanya orang biasa yang hanya punya tuhan Allah, dan berserah padaNya, coba lihat ini siapa yang ku ambil…?” ku acungkan tangan ke langit dan ku tangkap yang mengaku tuhan para dewa di tapak tanganku, lalu ku sodorkan padanya.
“Coba lihat ini…”
“Itu tuhan para dewa… dia sedang duduk bersila di tapak tangan kyai.”
“Nah bagaimana mungkin tuhan para dewa itu bisa ku tangkap, apa itu tak aneh, bagaimana raja Krisna menyembah tuhan yang lemah seperti itu, jika tanganku ku tepukkan dia akan hancur menjadi debu?”
“Aku tau kyai Nur bukan orang kebanyakan, dan tak mungkin orang kebanyakan seorang manusia biasa itu bisa menangkap tuhan para dewa… sungguh tak masuk akal.”
“Ya karena dia memang bukan tuhan, tapi hanya mengaku-aku saja sebagai tuhan…, raja Krisna hanya ditipunya selama ini.”
Raja Krisna diam, dan kebingungan.
“Lalu tuhan yang benar yang bagaimana?”
“Tuhan itu harusnya maha perkasa, tak terkalahkan… dan sifatnya harus maha segala-galanya.”
“Apakah tuhan kyai itu seperti itu?”
“Bukankah tadi saya sudah menyuruh raja Krisna menyentuh hanya tulisan di dada saya saja tulisan nama tuhan saya, raja Krisna saja sudah tak mampu, dan saya sudah meminta agar semua dewa kayangan bersatu untuk mengadu kekuatan dengan saya, artinya saya bukan main-main.”
“Tapi tuhan kyai itu tak kelihatan.”
“Ya karena Dia tak kelihatan itulah menunjukkan kesaktiannya karena kalau kelihatan berarti bisa diserupai oleh siapa saja, karena tak kelihatan itulah menunjukkan kalau Dia itu maha perkasa dan tak bisa diserupai siapa saja, termasuk raja Krisna tak bisa membentuk dan tak bisa mengaku-aku dirinya, karena dia tak bisa dilihat dalam bentuk tertentu yang bisa ditiru, jika gelas itu saja bisa ditiru maka gelas itu bisa dihancurkan, itu kan suatu teori yang sepele, apa saja yang tak bisa diserupai, maka akan paling kekal sendiri, karena tak ada siapapun bisa menyerupainya dan merebut atau mencuri kekusaannya, ini misal saja raja Krisna ada wujud, kan bisa saja raja Krisna pas waktu pergi ada yang menyerupai raja Krisna dan menguasai kerajaan, rakyat taunya itu raja Krisna karena serupa sekali, tapi sebenarnya palsu, yang dengan ilmunya dia menyerupai raja Krisna, dan ketika raja Krisna kembali, raja malah bisa saja dianggap yang palsu. Nah itu kan menunjukkan kelemahan seorang penguasa, jika tuhan itu kekausaannya bisa direbut maka tuhan itu akan mudah juga dibunuh.”
“Lalu Allah yang menjadi tuhan mas kyai itu siapa?”
“Dia yang maha tunggal, tak ada yang sebanding dengannya maka tak bisa dia dibentuk jadi satu bentuk tertentu, atau dikira-kira bentuknya, kalau bias dikira-kira bentuknya maka berarti dia lemah karena bisa dikira-kira, dia yang menciptakan aku, juga langit bumi, planet, kayangan, juga menciptakan para dewa.”
“Aku sedikit paham, tapi juga sedikit mengalami kebingungan, tapi terus terang aku tertarik dengan ajaran kyai Nur, maaf bisakah saya berguru pada kyai… bolehkan?”
“Boleh saja… silahkan… belajar apa yang saya ajarkan juga tak ada salahnya.”
“Apa yang bisa saya lakukan untuk memulai?”
“Ikuti saya membaca ini….” kataku mau mengajarkan dua kalimat sahadat.
Dia menirukan sampai selesai.
“Bagaimana rasanya?”
“Damai sekali, damai dari dalam sangat sejuk tapi dari dalam… selama ini kedamaian kami saya usahakan.”
“Ini ku beri ilmu, dan masukkan ke dada…” kataku, dan raja Krisna lalu menerima ilmu yang ku berikan dan lalu memasukkannya ke dada.
“Hm sungguh ketentraman yang abadi… abadi…”
“Ingat raja Krisna jika yang ku ajarkan itu adalah angkara murka, maka pasti tak akan terasa seperti itu…”
“Iya benar… bolehkan saya kembali ke kayangan dan mempraktekkan apa yang kyai ajarkan?”
“Silahkan saja…. kalau tak dipraktekkan nanti tak tau nilai kebenaran di dalamnya…”
“Assalamualaikum wr. wb.” kata raja Krisna dengan sendirinya karena ilmuku sudah merasuk ke dalam tubuhnya.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar