Senin, 02 Desember 2013

Dibawa Hantu Keranda Mayat

Selama seminggu dia tak sadarkan diri setelah tubuhnya ditemukan di atas kuburan. Pengalaman bertemu hantu itu membuatnya
kembali ke jalan Allah.... Banyak orang yang tidak percaya adanya
makhluk halus seperti Genderuwo, Kuntilanak, Jin dan sejenisnya. Tapi banyak pula orang yang percaya dan yakin bahwa mereka itu ada. Dan salah satu orang yang percaya adanya makhluk halus itu adalah aku (Penulis)). Dulunya, aku tidak percaya sama sekali tentang
kisah-kisah berbau hantu. Namun hal itu berubah setelah aku sendiri mengalami sebuah peristiwa yang sangat menyeramkan, sekaligus mengerikan. Pengalaman ini pula yang sekaligus memberiku hidayah untuk kembali menjalankan segala perintah Allah SWT. Ya, sejak peristiwa ini aku kembali rajin menjalankan sholat baik wajib
maupun sunnat, padahal sebelumnya aku termasuk pemuda yang berandalan. Karena
pengalaman ini pula setiap malam aku kian rajin membaca Al Qur'an.
Kisah mistisku ini terjadi di bulan Mei tiga tahun silam. Tepatnya malam Minggu Kliwon, tanggal 23 Mei 2004 yang lalu. Dan sampai sekarang kejadian ini masih membekas jelas di ingatanku.
Mungkin ini akan menjadi sebuah pengalaman mistis yang menakutkan sepanjang hidupku. Sebagai pemuda yang masih lajang, setiap malam Minggu, aku paling suka menonton hiburan dangdutan, yang ditanggap orang yang sedang mengadakan pesta hajatan. Baik itu di kampungku ataupun di kampung-kampung tetangga. Selain sekedar mencari hiburan, siapa tahu ada gadis yang mau denganku untuk kujadikan pacar. Biasanya kami selalu pergi
berombongan dengan mengendarai sepeda motor. Ceritanya, malam itu terpaksa aku pulang sendirian dari menonton acara dangdutan di kampung seberang. Jarak kampungku dengan
kampung seberang kurang lebih 2 Km. Jalan penghubung satu-satunya dari kampungku kekampung seberang harus melalui perkebunan
karet. Entah mengapa kampung itu disebut kampung seberang. Menurut orang-orang tua, di
kampungku karena letaknya di seberang sungailah, maka disebut kampung seberang. Semua teman-temanku malam itu sudah pulang
duluan. Sebenarnya salahku sendiri, karena sebelumnya kami sudah sekapat, jam setengah
dua belas malam harus sudah berkumpul di satu tempat yang sudah disepakati untuk pulang
bersama-sama. Karena keasyikan menonton acara dangdutan, hingga aku lupa pada kesepakatan itu. Mungkin, karena ditunggu-
tunggu sampai pukul dua belas aku belum muncul juga, akhirnya teman-temanku memutuskan untuk pulang saja. Semua teman-
temanku mengira, aku sudah pulang duluan. Sialnya, malam itu aku tidak membawa kendaraan sendiri. Sewaktu pergi tadi, aku
dibonceng sepeda motor temanku.
Dengan perasaan jengkel, kuputuskan pulang
sendirian saja dengan berjalan kaki. Apalagi jarak kampungku tidak begitu jauh. Perasaan takut tak jadi masalah bagiku. Dari kecil aku tak pernah kenal dengan yang namanya takut. Apalagi dengan hantu, aku sama sekali tidak
mempercayainya. Suara jangkrik mengiringi langkahku menyusuri
jalanan yang sunyi. Sesekali suara burung hantu terdengar di kejauhan. Pohon-pohon karet
berdiri membisu berjajar di kiri-kanan jalan. Untung saat itu bulan sedang purnama, hingga keadaan jalan tidak begitu gelap. Untuk mengusir kesunyian, sengaja aku bersiul-siul menyanyikan lagu kegemeranku. Anehnya,begitu sampai di tengah-tengah perkebunankaret, entah mengapa tiba-tiba saja badanku merinding. Kulihat jam di tanganku menunjukkan pukull satu malam.
Tiba-tiba sebatang cabang kayu yang cukup besar jatuh tepat di depanku. Suaranya mengejutkanku
hingga jantungku hampir copot.
"Satu langkah lagi, habislah aku," batinku. Karena menghalangi jalan, kucoba untuk menyingkirkan cabang kayu itu kesamping. Belum lagi cabang kayu itu berhasil
kusingkirkan, tiba-tiba terdengar suara tawa cekikikan. Nyaring sekali. Hati kecilku berkata,
"jangan-jangan ini Kuntilanak!"
Kuperhatikan sekelilingku tetapi tidak ada apa-apa. Kembali suara tawa cekikikan itu terdengar.
Kuperhatikan kembali sekelilingku. Tapi tetap tidak ada apa-apa. Hanya pepohonan karet yang
berdiri mematung tertimpa cahaya bulan. Lagi-lagi suara tawa cekikikan itu terdengar. Kali
ini malah lebih keras dan berulang-ulang. "Benar ini pasti Kuntilanak!" kataku dalam hati. Karena suara tawa itu terus saja terdengar,
bukanya takut malah timbul rasa jengkelku. Dengan penuh emosi, aku berteriak menantang. "Heiii. .Kuntilanak! Jangan ganggu aku. Kalau berani jangan sembunyi-sembunyi, tunjukkan
wujudmu. Kau pikir aku takut, dasar setan. Keluar kau!"
Begitu aku selesai berteriak, suara tawa itu pun berhenti. Karena dari kecil aku dikenal sebagai anak yang pemberani menghadapi keadaan seperti ini, tidak ada setitik pun rasa takut di benaku. Malah timbul rasa penasaranku. Seperti apa sih Kuntilanak itu. Kutunggu beberapa saat, tapi suara tawa itu tidak terdengar lagi.
Dengan perasaan jengkel kembali aku bermaksud melangkahkan kakiku. Tapi belum sempat kakiku
melangkah, tiba-tiba bahuku ada yang menepuk dari belakang, diiringi sapaan suara perempuan.
"Baaang!" Dengan terkejut, buru-buru kuputar badanku menghadap kebelakang.
Seorang perempuan dengan wajah tertunduk berdiri tepat di belakangku. Entah darimana
datangnya. Buru-buru aku mundur beberapa langkah ke belakang, sambil terus memperhatikan perempuan itu. Kulihat baju
putih panjangnya menutupi kaki dan tangannya. Dan tiba-tiba saja tercium bau bunga kantil. Belum sempat aku bertanya pada perempuan itu, tiba-tiba dengan berlahan-lahan perempuan itu
menengadahkan mukanya. Di keremangan malam, kulihat wajah perempuan itu pucat sekali. Kedua matanya bolong. Dan dari kedua
lubang matanya, memancar sinar merah. Rambutnya acak-acakan.
Spontan rasa takut menyergapku. Baru kali ini aku merasakan ketakutan. Jantungku berdebar
kencang manakala secara tiba-tiba perempuan itu tertawa cekikikan sambil memperlihatkan taringnya. Lalu kedua tangannya diacungkan
padaku, seolah ingin mencekikku. Kembali aku dibuat terkejut. Ternyata jari-jari tangannya
tinggal tulang semua.
"Kun...Kun...Kuntilanak!!" teriakku dengan tergagap. Tanpa pikir panjang lagi kuambil langkah seribu. Melihat aku lari, Kuntilanak itupun ikut berlari mengejarku. Sekilas dapat kulihat tubuhnya
melayang-layang terbang, dengan suara cekikikannya yang mengerikan. Dengan sekuat tenaga kupercepat lariku. Tapi Kuntilanak itu terus saja mengejarku dengan
disertai suara tawanya yang menakutkan. Sementara rasa takut yang kurasakan, semakin
menjadi-jadi. Baru kali ini aku merasakan takut yang teramat sangat. Di saat genting itu, tiba-tiba ada cahaya lampu dari depanku. Begitu ada cahaya lampu, suara tawa Kuntilanak itupun hilang. Dengan terengah engah kuhentikan lariku. Kulihat ke belakang ternyata benar Kuntilanak itu sudah  menghilang.
Mungkin karena takut dengan cahaya lampu itu, pikirku.
Sambil mengatur nafas, kutunggu cahaya lampu yang kukira lampu sepeda motor itu mendekat.
Kupikir mungkin salah seorang temanku yang ingin menjemputku. Tapi semakin dekat cahaya
lampu itu ke arahku, ternyata bukan suara sepeda motor yang terdengar. Justru bau kemenyan dan bunga kantil yang menusuk
hidung. Kembali rasa takut mulai menjalariku. Begitu cahaya lampu itu tiba di depanku, aku pun nyaris pingsan dibuatnya. Astaga! Ternyata cahaya itu adalah rombongan hantu pengusung
keranda mayat. Mereka berjalan tanpa menginjak tanah. Badanku seolah tidak berdarah lagi. Jantungku berdegup kencang.
Keberanian yang dulu kubangga-banggakan hilang sudah. Dengan amat jelas kulihat satu orang tanpa kepala dengan leher berlumuran darah, membawa lampu berupa bulatan cahaya
yang sangat terang. Empat orang pengusung keranda mayat,
mukanya hancur semua. Dengan badan dipenuhi bercak-bercak darah di sana-sini. Sementara
orang-orang yang mengiringi di belakang, tubuhnya juga tidak ada yang utuh. Mataku melotot tidak bisa dikedipkan. Sungguh sebuah pemandangan yang sangat mengerikan sekali. Tiba-tiba, rombongan pengusung keranda mayat itu berhenti saat lewat di depanku. Lalu secara serentak makhluk-makhluk mengerikan itu
memalingkan wajahnya dan menatap ke arahku. Rasa takut yang kurasakan semakin menjadi-jadi. Nafasku memburu karena menahan takut. Wajah-wajah makhluk itu sangat mengerikan.
Mereka menatapku dengan tajam. Lalu salah seorang datang mendekatiku. Wajah berlumuran
darah mengerikan. Salah satu matanya menggantung keluar hampir copot. Isi perutnya terburai keluar. Dengan jalannya yang seperti robot, makhluk itu mendekatiku. Ingin rasanya aku lari, tapi kedua kakiku tidak dapat digerakkan. Lalu dengan cepat tangan makhluk itu mencengkeram bahuku. Kucoba
meronta melepaskan cengkeramannya. Tapi tidak
berhasil. Tenaga makhluk itu sangat kuat sekali. Tubuhku diangkatnya dengan mudah. Lalu
dengan cepat tubuhku dilemparkan kearah
keranda mayat. Tubuhku melayang menuju keranda. Dengan
tiba-tiba pula, penutup keranda itu terbuka sendiri. Lalu dengan telak tubuhku jatuh ke dalam keranda itu. Dengan cepat penutup
keranda itupun menutup kembali.
Aku sudah di dalam keranda, meronta-ronta kesana kemari. Dengan sekuat tenaga kucoba
membuka penutup keranda itu. Tapi sungguh sangat sulit.
Aku coba berteriak meminta pertolongan. Tapi tak ada satu katapun yang bisa keluar dari
mulutku. Bagai tikus terkena perangkap, aku terus saja meronta-ronta kesana-kemari. Sambil terus berusaha membuka penutup keranda, tapi usahaku sia-sia.
Lalu dengan bersamaan, makhluk-makhluk itu tertawa mengerikan. Kemudian mereka mulai lagi
berjalan dengan membawaku, yang terus meronta-ronta. Karena dicekam rasa takut yang teramat sangat, ditambah tenagaku yang semakin lemah, akhirnya aku pun jatuh pingsan. Setelah itu aku tak ingat apa-apa lagi.
***
Sayup-sayup kudengar suara orang membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an. Sesekali diiringi suara orang memanggil-manggil namaku. Dengan berlahan-lahan kucoba membuka mataku. Kulihat disamping kananku ada Pak Haji Ismail yang tengah khusuk membaca Al-Qur'an. Sementara di
samping kiriku, kulihat Ibuku yang tengah memandangiku dengan kedua matanya yang sembab, menandakan kalau Ibuku habis
menangis. Begitu melihat aku membuka mata, langsung Ibuku memelukku dan menciumi pipiku sambil terus menangis.
"Alhamdulillah Ya Allah, kau sudah sadarkan diri, Anakku. Terima kasih ya Allah," ratap Ibuku
berkali-kali. Ayahku yang duduk di samping Ibuku, segera menenangkan Ibuku yang terus menangis memelukku. Sementara aku hanya diam. Aku bingung, apa sebenarnya yang telah terjadi
denganku. Pak Haji Ismail yang sedari tadi duduk di sampingku membaca Kalam Illahi, dengan
senyumnya yang teduh menyuruhku meminum
segelas air putih yang sudah disediakan. "Sudah satu minggu kamu pingsan, Mat! Kamu
ditemukan tergeletak pingsan di tengah kuburan." kata Pak Haji menjelaskan. Mendengar kata kuburan, aku teringat kembali
pada kejadian yang menimpaku. Dengan perasaan yang masih diliputi rasa takut, kuceritakan semua kejadian yang kualami dari
awal sampai akhir. Semua orang yang hadir di ruangan itu bergidik ngeri mendengarkan ceritaku.
Sejak kejadian itu hingga sekarang, aku kian rajin mendekatkan diri pada Allah SWT. Kukerjakan
lagi sholat, setelah sekian lama kutinggalkan. Kubuka lagi kitab suci Al-Qur'an, setelah sekian
lama tidak pernah kubaca. Walaupun kejadian itu masih membuatku trauma pada kesunyian, namun aku kian menyadari bahwa memang ada
dimensi kehidupan lain yang diciptakan Allah SWT di samping kehidupan manusia yang nyata
ini. Semoga pembaca semua dapat mengambil hikmah dari peristiwa yang kualami ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar