Jumat, 14 Februari 2014
Sang Kyai
Ada terbersit keinginan untuk mengetes para murid TQNS, sampai sejauh mana ilmu yang mereka terima dariku, agar setidaknya aku tak ragu jika melepas mereka di masyarakat, lalu mengetesnya dengan apa, dan bagaimana? Setiap hari lalu ku sodorkan untuk menghadapi tamu dan bagaimana mengatasi solusi mereka, dengan membiarkan mereka interaksi dengan tamuku, jika tak mampu baru aku yang maju.
Ee kok rasanya masih belum puas, ada terlintas ku ajak saja mereka turun ke lapangan, sebab nanti yang akan dihadapi para muridku sangat banyak, kalau tak turun gunung, merambah lembah nanti kalau muridku lantas tak kenal medan dan keder medan yang baru, wah bisa berabe, harus di-tes mulai sekarang.
Lalu terbersit ke laut utara saja, soale ke laut selatan kan sudah.
Sebenarnya sebelum ke laut utara ada rencana sebelumnya ke sungai KLETAK, sebuah sungai yang angker, dan banyak sekali korban orang hilang hanyut, tempatnya sih sebuah bendungan. Tapi baru rencana, saat itu ada tamu, seorang pemuda Pekalongan yang menceritakan kalau di dalam rumahnya ada gangguan jin fasik yang banyak.
Salah satu jin fasik ku mediumisasi dan ternyata malah menantangku untuk adu ilmu, dan ku islamkan tak mau, maka ku keluarkan cakra dan ku arahkan ke rumah yang banyak jinnya, katanya entah berapa trilyun, semua ku babat habis tak tersisa.
Lalu jin penghuni rumah sebelahnya juga langsung datang minta ampun, jangan dimusnahkan seperti mereka.
“Siapa kamu?” tanyaku.
“Ampuuun…, saya raja di raja jin fasik daerah A.” jawabnya. “Saya yang membawahi beberapa kawasan yang isinya lelembut jin peri prayangan.”
“Bagaimana mau adu ilmu atau mau ku islamkan?” tanyaku langsung ke poin.
“Saya ingin diislamkan.”
“Semua mau masuk Islam?”
“Tidak, ada 10 ribu jin yang tak mau masuk Islam.”
Lalu yang 10 ribu, ku tangkap dalam genggamanku dan ku remas hancur semua.
“Ampuuun… saya jangan diremas sebagaimana lainnya.”
“Ya tak ku apa-apakan, kalau masuk Islam.”
Lalu jin itu bersama trilyunan anak buahnya ku Islamkan, ku ajari membaca dua kalimat sahadat.
Setelah proses mengislamkan selesai,
“Kyai ada raja jin dari sungai Kletak mau menghadap?” kata jin yang baru ku islamkan.
“Ya kalau begitu, kamu keluar dulu biar dia masuk ke tubuh mediator.” jawabku, dan jin itu keluar berganti dengan jin penguasa Kletak.
Dia mengucap salam, lalu menangis sesenggukan, rupanya dia juga muslim.
“Saya penguasa Kletak menghadap pada kyai, huu hhuuu… kyai… kyai… tolong kami kyai… tempat kami dijadikan tempat maksiat… kyai ini juga salam dari wali Ali yang dikuburkan di sana, kyai kami minta kyai sudi mendoakan tempat kami agar tidak dijadikan ajang maksiat.”
“Jadi kamu sudah muslim?”
“Benar kyai, kami semua muslim…”
“Lalu kenapa di Kletak malah sering terjadi korban banyak orang hilang yang terseret arus?” tanyaku.
“Kyai, kami melakukan itu karena mereka melakukan kemaksiatan di tempat kami, tempat kami dijadikan ajang judi dan dijadikan ajang perzinahan.”
Memang kabar terakhir yang ku dengar, Kletak yang awalnya angker itu sering dijadikan tempat perjudian, dan di seberang sungai yang ada pohon tebunya, tengahnya sering dibabat, dan dipakai tempat perzinahan. Jadi tak terlihat dari luar, anehnya mereka sama sekali tak takut.
“Ooo jadi ceritanya seperti itu, lalu bagaimana solusinya…?”
“Makanya itu kami minta pendapat kyai, kyai… kyai… sudah apa saja kami usahakan untuk menakut-nakuti mereka agar tak berbuat asusila di tempat kami, tapi sungguh nafsu kotor sudah merasuki manusia, kami menampakkan diri sebagai pocong, kuntilanak, dan apa saja yang kami usahakan sia-sia, tak membuat mereka takut… ampun kyai… Wali Ali yang juga dimakamkan di sana juga menangis, beliau berpesan padaku untuk minta saja solusi pada kyai… bagaimana ini kyai…?”
Aku mumet juga… lalu bagaimana caranya?
Lantas ada terpikirkan di benakku.
“Kyai…” kata jin raja Kletak, “Bolehkah sungai Kletak kami jadikan banjir saja?”
“Banjir?”
“Ya kyai… biar orang pada kebanjiran semua, biar kapok, kami sudah pegel…”
Wah jin juga pegel atinya ngadepi manusia, batinku.
“La kalau banjir nanti sampai kesini gak?” tanyaku.
“Ya sampai kyai…”
“Wah itu ya gak ada manfaatnya, malah nambah masalah saja…”
“Lalu bagaimana kyai…? Jan kami pegel dan hanya bisa nangis menghadapi mereka.”
“Apa ndak berusaha menjadikan mereka yang berbuat mesum di sana jadi kerasukan?”
“Wah sudah kyai, ndak mempan sama sekali.”lalu terbersit di pikiranku.
“Dijadikan saja yang berzina di sana, kalau berzina kemaluannya lengket.”
“Lengket bagaimana kyai?”
“Ya lengket dan tak bisa lepas…”
“Apa bisa kyai…”
“Ya bisa kayaknya, aku sering mendengar cerita itu, kayaknya sering terjadi.”
“Lalu bagaimana caranya?”
“Ya mungkin kemaluannya diberi lem super glue atau lem alteco, heheheh…”
“Wah kami ndak punya lemnya kyai…”
“Wah itu bagaimana ya caranya… wes gini saja sementara ku doakan saja…”
“Ya kyai mohon dimintakan pada Allah, agar tempat kami tak dijadikan ajang berbuat maksiat.”
_________________________________________________________________________________________
Jin Kletak pergi, dan acaraku ke bendungan Kletak dibatalkan… lama setelah itu kok lupa mau ngajak murid tes lapangan.
Setelah sholat dzuhur kok ingin ke laut utara… lalu ku panggil Dewi Lanjar menghadapku. Setelah salam dia terbatuk-batuk…
“Kenapa nyai Dewi?” tanyaku.
“Saya kena sakit batuk kyai…”
“Coba sini ku obati…” lalu ku obati tenggorokannya, dan dia sembuh.
“Wah kok sudah sembuh ya, sudah lama sakitnya kyai, ku obati apa saja ndak sembuh, kok disentuh kyai sembuh…?”
“Itu Allah yang memberikan kesembuhan nyai… sudah enakan kan? Kalau sudah lama sakitnya kenapa tak kesini minta obat padaku?”
“Kyai mana berani saya ini menghadap ke kyai kalau tak dipanggil.”
“Kenapa tak berani.”
“Ya tak beranilah kyai, kyai penguasa jin sejagad, sedang saya hanya penguasa kawasan laut utara saja…”
“Tak usah begitu nyai, siapa saja ku anggap sama saja, kita mahluk ciptaan Allah, kita sama-sama mahluk ciptaan, jadi sama saja, seharusnya saling menyayangi saling menjaga ekosistem dunia, agar dunia ini tentram, apalagi nyai muridku, sudah pasti saya menyayangi nyai dan semua jin laut utara.”
“Tapi kenapa kemaren kyai ke Parangtritis sedang di utara kan dekat ada laut juga.”
“Itu karena saat itu saya mau diberi merah delima, oleh nyai ratu selatan.”
“Lalu kyai dapat.”
“Ya yang benar-benar asli saya harus masuk laut.”
“Kyai kyai…. mereka itu ingin kyai jadi raja mereka selamanya, kalau kyai masuk laut ya kyai akan mati dan ruhnya jadi raja jin di sana, lalu bagaimana dengan thoreqoh dan majlis kyai?”
“Iya benar juga.”
“Kyai… sebenarnya besar rasa inginku menjadi manusia… ingin sekali, tapi keadaan tak memungkinkan.”
“Jadi jin juga kan sama saja to nyai, yang penting memperjuangkan agama Islam, dan nyai juga sekarang sudah menjadi muslimah yang taat, dan menjalankan ajaran Islam.”
“Iya kyai… sebenarnya ingin sekali saya itu membantu kyai dengan maksimal, membantu dengan sepenuh daya saya, kalau perlu semua dana saya, saya berikan ke kyai, tapi proses dunia gaib dengan dunia manusia berbeda, di dunia kami 1 jam, di dunia manusia sudah 4 tahun, sungguh kami tak bisa berbuat banyak, padahal saya ingin sekali membantu kyai…”
“Sudah tak papa… yang penting nyai sudah mempunyai niat yang suci itu sudah bagus.”
“Ya kyai… sungguh kami sangat senang mempunyai guru kyai… kyai jangan lupakan kami, walau murid kyai sudah banyak bahkan sampai ke kayangan langit dan kayangan bumi semua sudah menjadi murid kyai.”
“InsaAllah tak saya lupakan nyai.”
“Rasanya ingin kembali ke manusia dan menjadi pelayan kyai, bisa melayani kyai tiap hari, sungguh sangat menyenangkan bagiku, kadang iri melihat murid manusia kyai bisa melayani kyai dan dekat sama kyai… sementara saya tidak, tapi saya tidak bisa kembali lagi jadi manusia.”
“Lo memangnya nyai itu dulu manusia?” tanyaku heran.
“Iya kyai…. saya dulu manusia.”
“La kok kyaiku pernah bilang kalau nyai bentuknya asli adalah ular?”
“Ya itu bentuk jin ku kyai…”
“Wah aku jadi bingung, sebenarnya kisahnya bagaimana to… nyai ini jin, apa manusia, apa siluman?”
“Saya itu bisa dikatakan siluman kyai… juga bisa dikatakan jin.”
“Sudah diceritakan saja bagaimana sebenarnya ceritanya…?”
“Awalnya saya itu orang yang tak punya tujuan hidup… sampai saya di pasar Banyu Urip, saya diajak sama orang yang menguasai Pekalongan di jaman itu, itu sudah lama sekali sudah ribuan tahun silam di jaman manusia, saya dimanja dan dijadikan putri kerajaan Pekalongan…, sampai saya kemudian menikah dengan lelaki yang baik, tapi pada suatu hari suami saya pergi ke laut dan tak pernah kembali, akhirnya saya pergi ke laut untuk menunggu kedatangan suami saya yang pergi, saya duduk di pantai, sambil nunggu dan tanpa sadar saya tertidur, dan tanpa saya sadari air laut mulai tinggi, dan tubuh saya lama kelamaan tertelan pasir laut, saya tidak tau lantas saya kemudian kok sudah ada di alam lain, bukan alam manusia lagi, saya lantas bertemu dengan prajurit jin laut, mereka banyak, karena saya cantik, lantas saya dijadikan ratu mereka. Dan sejak saat itu jasad saya juga tak ditemukan entah kemana dan di mana, sungguh saya tak berdaya akhirnya menjadi begini kyai, ingin rasanya saya menjadi manusia lagi, dan kalau diijinkan saya ingin menjadi pelayan kyai saja…”
“Ini kan sama to nyai Dewi, nyai sudah jadi pelayanku…, jadi dulu pas saya raga sukma, lalu saya pas terbang di atas pohon pisang, di sebuah rumah, saat itu nyai memanggilku, dan berpesan padaku kalau misalkan aku kirim fatekhah nyai minta dikirimi fatekhah juga, saat itu nyai ku tanya bernama Dewi, juga saat pernah nyai ngajak aku masuk ke kerajaan nyai aku melihat ada ikan berkepala manusia, dan manusia berkepala ikan, dan banyak orang disiksa yang menjadi jembatan, apa itu benar?”
“Ya benar sekali kyai, dulu saya tak tau kalau kyai itu keturunan Rosululloh dan keturunan kayangan, juga darah dari silsilah raja-raja di tanah Jawa, sungguh jarang ada yang seperti kyai, percampuran darah yang sangat aneh di dunia, dan kenyataannya ada, yaitu kyai ini, saya saja sampai tak habis pikir, makanya semua jin takluk dan tunduk pada kyai, kyai nanti akan naik turun kayangan dan bumi hal yang biasa, saya saja jadi murid kyai rasanya bangga sekali, apalagi jadi orang yang kyai anggap…, wah rasanya banggaaa sekali, ingin rasanya selalu di dekat kyai, kyai memiliki ilmu dari kayangan dari alam dewa, dari tuju bintang, dari Rosululloh semua diberikan secara langsung, kami dari bangsa jin, sangat taat dan tunduk pada kyai, tapi ingat kyai bangsa jin juga banyak yang suka hianat, jadi kyai juga harus hati-hati, tapi juga jika taat maka akan taat sampai kapanpun, kemanapun kyai pergi akan tercium darah kayangan di darah kyai, sehingga dengan sendirinya kemana saja kyai pergi akan banyak jin yang mengikuti, entah menyerang, entah mau menjadi pengikut kyai, saya harap kyai selalu berhati-hati.”
“InsaAllah kalau saya kemana saja, akan berusaha berhati-hati, insaAllah jin mana saja tak akan bisa mengapa-apakan saya, kalau saya bertawakal kepada Allah…”
“Iya saya sendiri merasa ilmu kyai dari kayangan dan dari warisan raja-raja, dari warisan para wali, juga nabi, semua sangat tinggi, mungkin kyai sendiri juga bingung menggunakannya karena banyaknya ilmu, bagaimana menggunakannya juga belum tau, kami para jin mengharap dapat luberan ilmu dari kyai…”
“Wah nyai jangan melebihkan, saya sendiri malah tak tau, juga baru tau keturunan dari siapa dan dari mana juga baru tau, saya sendiri selama ini juga tak pernah memikirkan soal keturunan, bagi saya bisa menjalankan amaliyah dengan bisa istiqomah sudah cukup, malah saya masih belum yakin seratus persen soal keturunan saya ini nyai…”
“Kyai memang kenyataan begitu, dulu Rosululloh juga diutus Allah, juga mengalami kebingungan soal apa yang dialaminya…”
“Ya saya kan beda dengan Rosululloh yang terjaga dari melakukan maksiat nyai, kalau saya malah tukang maksiat.”
“Jadi cerita nyai itu sebenarnya dari manusia itu benar adanya?”
“Ya benar sekali kyai… malah saya sering datang di pasar Banyu Urip.”
“Untuk apa nyai?”
“Untuk jalan-jalan, biasanya saya ke pasar waktu hari jum’at kliwon…, ya memang tak setiap orang akan melihatku kyai, hanya orang yang ku kehendaki melihatku yang akan melihatku… saya suka beli kembang melati, dan jeruk…”
“Ooo begitu rupanya, kenapa nanti gak ketemuan sama istri saya saja… biar istri saya juga melihat langsung…” kataku sambil melihat istriku yang duduk di sampingku.
“Ya boleh nyai saya nanti akan senang bertemu nyai…” sambung istriku.
“Boleh bu nyai, saya menghormati bu nyai sebagaimana saya menghormati kyai, tapi kalau bertemu denganku, jamnya harus pas bu nyai… jam…..” Dewi Lanjar membisiki istriku.
“Janji ya nyai…”
“Ya janji… aku kan muridnya kyai to bu nyai gak akan lah insaAllah ingkar janji, jangan lupa jamnya bu nyai.”
“Terus di pasar ngapain saja nyai?”
“Saya keliling-keliling kyai, ya seringnya beli jeruk, tapi dengan uang daun.”
“Kok uangnya daun?”
“Ya kyai, tapi setelah ku datangi dia akan laris kyai, karena kami doakan.”
“Oh ya bagaimana kok dulu nyai minta ku fatekhahi?”
“Iya maaf kyai, saya kira dahulu kyai hanya orang biasa, hanya orang yang kebanyakan, jika saya tau kyai itu keturunan Rosululloh dan keturunan kayangan, ya sejak dulu saya paling pertama menjadi pengikut kyai.”
“Kenapa dari dulu, sampai sekarang, kayak nyai kan lama juga masa hidupnya, nyai hidup di jaman para wali songo kan.”
“Wah saya ya sebelum wali songo kyai…”
“Lalu kenapa mereka atau dari dulu kenapa tak ada yang mengislamkan nyai?”
“Ya itu rahasia Allah kyai… mungkin itu bagian kyai, nyatanya semua jin seluruh dunia masuk Islamnya di tangan kyai, dan setiap mereka itu punya bagian dan ketentuan Allah sendiri, dan memang baru kali ini ada orang yang mengislamkan jin seluruh dunia, dan juga mengislamkan kayangan langit juga kayangan bumi, juga mengislamkan para dewa…”
“Apa ini apa ndak hal yang aneh nyai, la wong saya itu ndak orang yang punya kelebihan apa-apa, la kok ya pada nakluknya pada saya, apa gak mengherankan itu.”
“Itu kan sudah kehendak Allah kyai, kyai punya kisah sendiri, yang tak sama juga dengan kisah siapapun, dijalani saja kyai…”
“Ya memang benar nyai Dewi… saya juga pasrah saja, la wong selama ini ya saya jalani saja, ndak begitu memikirkan.”
“Jadi ini kyai nanti malam mau ke laut utara?”
“Ya jadilah nyai…” sahut istriku.
“Bu nyai… bu nyai jangan gelo hatinya, kalau pak kyai ini nanti salah satu istrinya adalah bidadari kayangan langit dan bidadari kayangan bumi, soale itu sudah taqdire kyai bu nyai…”
“Apa bidadari itu nanti akan nampak?” tanya istriku.
“Ya nampak lah aslinya bu nyai, tapi nampak bidadari hanya di depan kyai saja, kalau di pandangan orang umum ya tetap kelihatan manusia biasa, karena ditutupi sama Allah…”
“Wah kok kayak hayalan saja, hahahahah…” candaku, karena memang kayak hayal, heheheh.
“Nanti kyai itu naik ke kayangan dan turun ke kayangan itu bebas… sekarang juga sudah ada ilmunya, cuma kyai belum boleh memakainya.”
“Apa nampak tiap hari…?” tanya istriku.
“Ya nampak lah bu nyai… cuma kadang pergi hilang, hanya pak yai yang tau kemana perginya.” jawab Dewi Lanjar.
“Bu nyai ndak usah risau, itu sudah taqdirnya pak kyai begitu…”
“Nyai Dewi… apa gak pernah diserang kerajaannya oleh jin lain?” tanyaku.
“Pernah, sekali baru-baru ini, ada serangan dari jin laut Batam, tapi ketika mereka dari jauh melihat bendera kami yang bergambar foto pak kyai, mereka malah menyerah dan tak berani, dan mereka minta maaf karena menyerang… aneh kyai … kyai memang ditakuti di bangsa jin di manapun.”
“Wah kok saya malah gak merasa sama sekali lo nyai…”
“Kyai orangnya selalu merendah…”
“La aku malah bilang beneran kok nyai, kok malah dibilang merendah, saya itu malah sama sekali tak tau kalau jin itu takut padaku, taunya juga setelah aku menghadapi banyak kejadian.”
Kayak kemaren, ceritaku… aku kan lagi narik ruhnya Empu Gandring yang sedang bertapa di Sangiran itu, karena kerisnya sudah jadi milikku, juga keris setan kober, naga sukma, naga runting, kyai sengkelat, kyai plered, semua kan sudah ada di tanganku, maka aku tarik ruh nya empu gandring, ya hanya bilang saja kerisnya sudah ada jadi milikku, jadi aku mau memberitahu dia , ee kok yang keluar terus saja jin.
Waktu itu karena di majlis adanya pak Herman, maka yang ku pakai mediumisasi pak Herman.
Pertama masuk malah ruh…
“Siapa ini?” tanyaku.
“Saya ruh…”
“Ruh siapa?”
“Ruh orang yang meninggal karena dijadikan tumbal.”
“Siapa namamu?”
“Aku tak tau namaku, aku ini sudah lama mati jadi tumbal, sejak jaman aku sekolah SMP, sampai sekarang aku sudah tua, selama ini di alam sana aku dijadikan tukang narik gerobak… aduh lelah sudah aku dijadikan tukang narik gerobak… mbok saya ditolong gus…”
“Ya sudah akan aku tolong… ku kembalikan ke alam barzah ya…”
“Terima kasih sekali gus… terimakasih…”
Maka ku keluarkan ruh itu dari tubuh kang Herman.
Gantian ku tarik lagi ruh Empu Gandring. Sekarang yang masuk lain lagi, seorang jin dari jembatan Pekalongan.
“Siapa kamu?” tanyaku.
“Saya ini jin kyai…. alhamdulillah sampai juga kesini…”
“Laa kamu kok bisanya masuk ke tubuh ini, padahal kamu kan gak ku tarik?”
“Waktu pak kyai narik kan saya lagi ada di bawah jembatan, eee kok kesedot kekuatan yang menarik saya, dan saya masuk ke tubuh ini… eee kok malah ketemu sama kyai… padahal saya ingin sekali ketemu sama pak kyai.”
“Mau ketemu denganku, mau apa…”
“Saya ingin diislamkan kyai…”
“Kalau kamu di jembatan Pekalongan, berarti sering melihat aku lewat….”
“Wah tiap hari kyai lewat, kami semua pada sembunyi, jika kyai lewat, akan diiring ratusan trilyun jin, yang di depan pada bilang, minggir… minggir kyai Nur mau lewat…. mereka berbaris rapi, dan pedangnya terhunus sangat tajam, dan dengan pakaian yang indah-indah… wah saya ya lari sembunyi, sembunyi di bawah jembatan, mobil pak kyai penuh dengan cahaya, kami semua silau melihatnya.”
“Kenapa pada sembunyi…?”
“Ya takutlah kyai, kyai raja segala raja jin…, saya kan hanya jin penghuni jembatan, mana kami berani melihat kyai, la kok sekarang saya sampai di sini, dan berhadapan langsung sama kyai, dan ternyata kyai itu orangnya biasa saja, tak galak, juga tak menakutkan, tapi saya tak kuat melihat kyai, kyai silau sekali.”
“Kamu mau masuk Islam?”
“Mau… ayo cepat kyai… saya sudah tak tahan.”
Setelah memasukkan Islam, jin itu ku tarik lagi ternyata yang masuk masih saja jin lain dari Semarang, dari gunung tidar. Sudahlah akhirnya penarikan ruh empu Gandring ku sudahi.
———————————————————————————————————————————————————
“Jadi nanti malam kyai ke tempat saya?” tanya Dewi Lanjar. “Kalau jadi saya akan mempersiapkan penyambutan.”
“Wah gak usah pakai disambut segala…”
“Kenapa kyai… itu kan hormat kami pada kyai… apalagi sebagai guru pembimbing spiritual kami.”
“Apa mau disambut dengan hujan lebat?”
“Ya kyai… itu kan taburan bunga melati dari air laut.”
“Walah ya aku yang basah kuyup nyai, malah kesusahan sendiri.”
“Lalu bagaimana seharusnya…”
“Sudah biasa saja, tak usah berlebihan…”
“Tapi kyai pantai penuh dengan sampah dan bau busuk.”
“Ooo begitu ya…”
“Ya itulah kyai, kami prihatin, manusia sama sekali tak ada kesadaran sama sekali kebersihan pantainya.”
“Ya memang pernah saya lihat, pantainya sangat kotor…”
“Mau bagaimana lagi, kami juga tak bisa membersihkan yang terlihat, kami di alam gaib, hanya bisa prihatin saja.
Sudah kyai saya mohon diri, akan mempersiapkan diri menunggu kedatangan kyai di tempat kami, nanti akan saya jaga, bagaimana nanti kalau ada yang kerasukan kyai?”
“Ya tak apa-apa kalau ada kerasukan.”
“Kyai ini kok aneh, masak murid dibiarkan kerasukan?”
“Ya maksudnya kan juga menempa diri, jadi ndak papa itu, kalau ada yang mau merasuk ya biarkan saja.”
“Ya nanti saja biar saya jaga, boleh kan kyai misal saya suruh masuk prajurit saya yang sakti untuk mengetes murid kyai?”
“Boleh saja, silahkan saja, malah lebih bagus jadi bisa adu kesaktian, jadi murid saya ada lawan tandingnya.”
“Baik kyai, kalau begitu nanti akan saya suruh anak buah saya yang paling sakti untuk masuk ke salah satu murid kyai, biar dia nanti ngajak adu kesaktian dengan murid kyai…”
“Ya…”
“Kalau begitu saya mohon diri, biar saya persiapkan segalanya.”
“Silahkan nyai dewi.”
Setelah mengucapkan salam, nyai Dewi Lanjar pun pergi.
______________________________________________________________________________________
Setelah sholat isya, ku ajak muridku berangkat ke laut utara, hanya ada pak Herman saja, ya tak apa-apa tak ada yang lain, hanya mas Agus, pak Herman, aku, istriku, Yaya, dan mbak Nur Fitriana, sampai di tepi laut, ya sepi dan kotor sekali, kami mencari tempat yang cocok, dan ternyata adalah pas di pintu gerbang kerajaan Dewi Lanjar, kami segera berjalan ke pantai, bau busuk sampai, mungkin juga kotoran manusia, gak taulah, asal jalan saja, memang memprihatinkan melihat keadaan laut Pekalongan, ini menunjukkan kesemrawutan para perangkat pemangku jabatan yang ada di Pekalongan, seakan Pekalongan itu tak pernah punya laut saja, sehingga sama sekali tak diurus, diomongkan juga apa perlunya, aku mulai mendekati gulungan ombak, ombak yang asalnya besar perlahan mulai mengecil dan datar, seperti lapangan sepak bola saja, dan anehnya laut pasirnya juga datar, sehingga kami berjalan agak ke tengah juga tak merasa takut, karena rasa air tetap sebatas mata kaki.
Mbak Nur Fitriana yang pertama mulai kerasukan seorang anak kecil, yang mengaku anaknya Dewi Lanjar, yang segera senang karena kedatangan kami, dia jingkrak-jingkrak gak karuan karena senangnya atas kedatanganku di pantainya, dia selalu mengajak berulang kali masuk ke laut, tapi ya hanya mengajak sambil lari-larian di atas air pantai, sambil ngoceh ini itu, seakan lagak lagunya seperti anakku sendiri.
Aku yang jarang tertawa, sampai tertawa terpingkal-pingkal karena melihat tingkah mbak Nur yang kayak anak kecil mungkin seumuran anak umur 6 tahun yang ceria sekali. Aku tetap mengawasi, anak kecil yang masuk ke tubuh mbak Nur selalu menjelaskan kalau ibunya melihat kami dan melambaikan tangan, sayang aku sudah tak boleh melihat hal gaib, jadi tak melihat apa yang dijelaskan anak kecil itu.
Sampai hampir setengah jam jejingkrakan, lalu ganti masuk jin lain ke dalam tubuh mbak Nur, kali ini mungkin yang dijanjikan Dewi Lanjar untuk mengetes muridku, kali ini masuk langsung jejingkrakan mengajak bertarung.
“Maaf pak kyai… aku diperintah Dewi Lanjar untuk mengetes murid pak kyai… ayo siapa-siapa yang akan bertanding denganku…” katanya sambil memainkan jurus-jurus silat, gayanya sangat lucu. Sampai aku terpingkal-pingkal dibuatnya, ya bagaimana gak lucu mbak Nur Fitriana yang tak pernah main silat, lantas main silat dengan jurus-jurus aneh, bukannya menakutkan malah lucu sekali.
Yang mulai diserang malah pak Herman, pak Herman anteng saja diserang, ee pas mendekati pak Herman jin yang ada di tubuhnya mbak Nur Fitriana malah jerit.
“Hooo… kyai di dadanya murid kyai ada kuntilanaknya… ambil kyai aku ngeri..!!” jeritnya sambil lari menjauhi pak Herman.
“Hehehehe kalian kok sesama jin kok takut ini bagaimana?” kataku. Karena jinnya bersembunyi di belakangku. Lalu ku tarik jin kunti yang di dalam dadanya pak Herman dan ku remas.
“Walah bentuknya jelek amat kyai… hiii…” suaranya dengan nada jijik,
“Sudah-sudah dilanjutkan pertarungannya…” kataku.
Dan jin yang di tubuhnya mbak Nur maju lagi, kali ini mulai mengeluarkan jurus-jurusnya yang memang kalau ku perhatikan bagus, walau aku sendiri tak tau ilmu silat sama sekali.
Dan mbak Nur mulai maju menyerang pak Herman, pak Herman tenang saja… anteng saja… dan ketika jurus serangan sudah mulai mendekat maka pak Herman meniup dengan mulutnya.
Mbak Nur yang kerasukan jin itu melompat mundur, dan uek-uek…
“Ampun kyai… murid kyai mengeluarkan jurus kentuk sakti…, uampuun baunya…”
Aku sampai ketawa terpingkal-pingkal… untung gak pingsan membaui bau mulut pak Herman.
Kembali mbak Nur yang sudah dikuasai jin itu menyerang pada mas Agus, lagi-lagi mas Agus meniupnya dengan mulutnya, mbak Nur sampai terjengkang ke air, karena menerima terjangan bau mulut mas Agus.
Benar-benar sampai kaku ketawa melihat perang tanding yang lucu, lalu gantian Yaya yang diserang, lagi-lagi Yaya meniup dengan mulutnya, kali ini mbak Nur yang ada jinnya, sampai menyumpat hidungnya sampai terbatuk-batuk karena mencium bau yang mungkin gak enak, ya namanya pada puasa, mungkin juga belum sikat gigi soale habis buka puasa dan setelah sholat isya’ langsung berangkat. Pastilah baunya mengalahkan kentut.
“Ampun kyai…. ampuuun… kyai, aku gak sanggup melawan murid kyai, mereka sakti-sakti, bau kentutnya saja sedasyad itu… aku kalah kyai…”
Padahal itu bau mulut, masih saja dibilang bau kentut. Jan jin gak bisa bedakan bau mulut sama bau kentut.
Tapi tanpa sepengetahuanku, apa yang dilakukan oleh para muridku itu rupanya dilihat oleh banyak jin fasik yang sebenarnya telah mengepung akan menyerang kami, melihat para muridku dengan hanya meniup saja sudah membuat pontang panting jin yang dianggap sakti di kawasan laut utara, maka mereka memilih pergi tak berani menyerangku, mungkin pikirnya, hanya dengan tiupan saja bisa membuat kalang kabut jin yang sakti, apalagi kalau sampai menggerakkan tangan, padahal sebenarnya memang nafasnya pada bau… rupanya punya nafas bau juga ada gunanya.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Cerita yang mbulet, terlalu panjang. Intisari cerita tak karuan arah.
BalasHapus