"Saya jin..." jawab jin yang masuk ke tubuh kang Herman.
"Apa kamu yang mengaku pendiri desa Pancasan?"
"Benar kyai, heheheh... saya cuma main-main kyai, maaf..."
"Main-main bagaimana, kan itu menyesatkan banyak orang... ya menurut kamu main-main, tapi mereka pada tersesat karena percaya padamu."
"Heheheh, ya salah mereka kyai, kenapa mereka percaya?"
"Lalu kamu jin dari mana?"
"Saya jin dari gunung..."
"Gunung mana?"
"Itu gunung Tugel di sana gunung kidul itu namanya.."
"Siapa namamu?"
"Saya bernama Arjuna..."
"Penguasa gunung itu?"
"Iya kyai.... kyai... bolehkan saya jadi murid kyai, bolehkan saya jadi pengikut kyai...?"
"Boleh saja, asal jangan lagi mengganggu orang, jangan lagi memasuki tubuh orang."
"Siap kyai..."
Lalu ku ajarkan jin itu masuk Islam, dari melihat kejadian itu, sebenarnya kejadian yang sama banyak sekali terjadi di mana tempat di Indonesia, mungkin di setiap daerah ada semua, di mana jin mengaku-ngaku sebagai sesepuh desa, menemui seseorang minta di sajeni, minta diberi makan, padahal mereka yang mengaku-ngaku adalah hanya jin belaka. Sebaiknya berhati-hati dengan kejadian kejadian seperti itu, jangan asal percaya kalau tidak membuktikan, jika ingin bukti, silahkan saja datang ke majlisku, jika ada yang mengaku-aku danyang desa ini itu, atau mengaku ruh leluhur.
"Lalu bagaimana ini kyai, kami kan sudah menuruti perintah jin itu, kami malah sudah lama melakukan banyak ziarah ke banyak tempat yang ditunjukkan oleh jin yang mengaku kakek buyut kami itu?" kata salah satu tamu yang ada di depanku.
"Ya kenyataannya kan itu jin yang mengaku-aku."
"Jadi selama ini yang kami lakukan salah?"
"Ya salah kan sudah jelas.., ini biar ku panggilkan pada ruh asli kakek kalian, ditanya yang jelas, nanti itu asli apa gak asli."
"Ya kyai..."
Lalu aku panggil mbak Nur Fitriana untuk jadi mediator memanggil pada kakek buyut pendiri desa Pancasan. Sebentar masuk ruh idhofi dari kakek pendiri desa pancasan. Dia mengucapkan salam.
"Benar ini kakek kami...?" tanya salah satu tamu.
"Benar aku yang mendirikan desa ini," dan..... dia bercerita panjang lebar kisah masa lalunya mendirikan desa, dan perjuangannya mendirikan desa. Juga siapa saja keturunannya dan istri-istrinya... juga cucunya.
"Apa kakek yang sering kelihatan memakai pakaian putih-putih bertongkat itu yang sering dilihat banyak orang?"
"Ya benar itu aku, karena aku mau memperingatkan akan ketersesatan kalian, kalian mengikuti jin, dan mendoakan jin, bukan aku, aku datang itu karena sering mendengar kalau kyai Nur ini mau datang, sebab hanya dia yang bisa memanggilku, jadi ketika aku merasa dia akan datang, ee kok ku tunggu tak jadi datang, jadi aku kembali lagi, kemudian ku dengar lagi dia mau datang, ee kok ya datang juga, baru kali ini beliau datang, waktu aku dipanggil, aku langsung cepat-cepat masuk, karena sudah menunggu dari tadi, aku ini tak bisa apa-apa, kalau tak ada yang memanggil dan memasukkan ke tubuh manusia, terimakasih kyai... wah ilmunya tinggi sekali, orang masih muda kok ya ilmunya tak ada batasnya begitu, aku yang tua jadi malu berhadapan dengan kyai."
"Wah ilmu apa to kek, saya itu orang muda yang tak ada isinya apa-apa... ndak punya ilmu apa-apa..."
"Ini ikuti kyai Nur, ngaji padanya, biar seperti kyai Nur..."
"Wah saya orang tak terkenal, dan tak punya kelebihan apa-apa.."
"Kyai tak usah merendah, kami semua di alam ruh sama membicarakan kyai, yang tersiksa bisa tertolong, malah yang mati ndak Islam saja bisa diIslamkan, sungguh selama ini kami tak pernah melihat ada ilmu setinggi itu..."
"Wah jangan dilebih-lebihkan kek, itu anugerah Allah, saya sendiri sebenarnya juga ndak tau apa-apa."
"Jadi makam-makam yang kami ziarahi itu bukan makamnya kakek?" tanya salah satu tamu.
"Yang kalian datangi itu tak ada apa-apa... wong kok ya pada bodoh, mau-maunya dan mudahnya ditipu jin, makamku ada di Cirebon."
Lalu kakek itu menjelaskan makamnya dan letaknya selama ini yang tak diketahui para anak cucunya.
Setelah membicarakan banyak hal, lalu kakek itu minta diri kembali ke alam ruh.
Satu masalah terselesaikan, dan segalanya yang samar jadi jelas.
Selanjutnya bergantian masuk jin penunggu gunung dan lembah sekitar minta diislamkan.
Sampai malam makin larut, kami memutuskan untuk sholat isya dan berangkat istirahat,
Paginya setelah sholat subuh, kami duduk di luar rumah sekedar menikmati pagi, dan menikmati suasana pagi dimana terlihat dari depan rumah pemandangan gunung Patah, di mana jin yang bernama Arjuna tinggal di atas, kabut tebal menutup puncak gunung, aneh kok kabut seperti berjalan, dari arah timur, juga pagi gelap dan tiba-tiba ada titik titik debu berjatuhan.
"Lhoh kayak hujan debu ini ya pak Herman..." kataku.
"Iya gus... ini hujan debu." jawab pak Herman melihat pada kursi yang diduduki.
"Apa gunung Kelud jadi meletus ya, kemaren beberapa hari yang lalu kan raja jin penguasa gunung Kelud datang laporan, kalau gunung Kelud minta ijin diletuskan, ku tanya, kenapa diletuskan? jawabnya karena banyak yang berbuat maksiat, lalu ku tanya, apa ndak bisa tidak diletuskan? kan jika diletuskan juga nanti yang kena juga banyak orang susah, juga itu malah dianggep kejadian bencana alam bukan peringatan dari Allah, raja jin penguasa gunung Kelud bilang, kami diperintah Allah, jika banyak yang dzikir tak diletuskan jika tidak ada yang dzikir akan diletuskan."
"Coba buka internet..." kataku pada mas Agus.
"Iya kyai... gunung Kelud meletus." jawab mas Agus
"Kalau begitu ini debu gunung Kelud sampai kesini... wah kalau sampai ke Purwokerto saja sampai, kan Purwokerto itu sebelah baratnya Pekalongan, pasti di Pekalongan akan lebih banyak lagi... biar ku panggil penguasa gunung Kelud menghadap." kataku sambil menyuruh pak Herman mendekat untuk ku jadikan mediator.
Segera ku panggil penguasa gunung Kelud menghadap, lama juga baru ada jin masuk ke tubuh pak Herman.
"Siapa ini?" tanyaku.
"Saya wakil dari penguasa gunung Kelud kyai." jawabnya terburu-buru.
"Kenapa tidak penguasa gunung Kelud sendiri yang menghadapku?"
"Dia sibuk kyai... jadi saya wakilnya yang beliau perintah mewakili."
"Sibuk apa?"
"Sibuk meledakkan gunung kyai, mengkoordinir jin untuk memperbanyak pembakaran kyai..."
"Jadi ini benar, abu dari gunung Kelud?"
"Benar sekali kyai.."
"Wah kalau gitu sampai juga di Pekalongan?"
"Sampai...."
"Lhoh bagaimana to... nanti malah merepotkan aku..."
"Maaf kyai saya tidak tau..."
"Bisa tidak abunya tidak sampai Pekalongan?"
"Bisa-bisa kyai.... saya akan usahakan debunya tidak sampai pekalongan, rumah kyai.."
"Ya..."
"Kalau begitu saya berangkat melaksanakan pesan kyai."
"Ya."
Dan cepat sekali jin itu keluar, dan kang Herman sadar. Segera ku suruh menghubungi ke Pekalongan, menanyakan debu dari gunung Kelud sampai tidak ke Pekalongan, alhamdulillah jawaban dari Pekalongan hanya pagi sampai sebentar, dan cuma setitik-titik saja, dan tidak ada lagi. Padahal di Yogya, Kudus, bahkan Jepara, juga sampai, juga Banyumas, dan Purwokerto juga sampai. Aneh memang kalau dipikir.
Karena di luar banyak debu, kami segera pindah ke dalam rumah, dan warung sebelah juga mengantar makanan, sehingga sambil ngobrol bisa sambil ngemil, sebentar kemudian muridku yang Purwokerto datang, dan menceritakan banyak hal, salah satunya cerita tentang muridku yang bernama mbak Nur Kholifah yang dari Purwokerto katanya diikuti malaikat maut, dan bahkan sudah banyak pasien yang datang ke rumah, pernah dulu aku diceritai soal kisah mbak Nur Kholifah ini, dan aku sendiri walau tau itu hanya jin yang mengaku-aku, ku biarkan saja, dan sekarang baru aku akan selesaikan permasalahannya, ada maksud-maksud yang akan panjang jika ku jabarkan semua.
Ku panggil jin yang mengaku malaikat maut yang masuk ke tubuhnya mbak Nur Kholifah. Ku panggil dan ku suruh masuk ke tubuh pak Herman.
"Siapa kamu...?"
"Maaf kyai... saya jin." jawabnya.
"Jin dari mana...?"
"Saya jin dari sungai, yang tinggal di bawah pohon kelapa yang menjorok ke sungai."
"Lalu apa maksudnya mengaku sebagai malaikat maut?"
"Ya maaf kyai, saya kasihan dengan perempuan itu, karena banyak serangan dari para dukun santet yang menyantetnya, saya hanya ingin menolong..."
"Ya kenapa harus mengaku sebagai malaikat maut?"
"Ya itu hanya mengaku saja kyai, biar saya diterima, soale dia memanggil-manggil malaikat saja.., jadi saya masuk dan mengaku malaikat."
"Hm begitu. Kamu kenal siapa aku..."
"Kyai siapa jin yang tak kenal sama kyai... semua jin di dunia ini tau kyai itu siapa... kyai adalah raja segala jin di jagad ini, saya juga tunduk pada kyai... jika kyai perintahkan apa saja, saya akan siap melaksanakan."
"Ya kamu ku perintah untuk tidak masuk lagi ke tubuh mbak Nur Kholifah itu..."
"Siap kyai, saya tak akan masuk lagi, tapi selain saya banyak jin lain kyai.. ada yang mengaku sebagai kyai, ada yang mengaku sebagai guru kyai..."
"Suruh semua kesini..."
"Ya kyai semua akan saya panggil, mereka semua serentak jika kyai yang memanggil, semua jin tak ada yang tak tunduk pada kyai... semua sudah datang kyai, mereka ada yang dari daerah sekitar, ada yang dari gunung."
"Ajak semua menirukanku, untuk masuk Islam..."
"Ya kyai, kami siap taat dan tunduk pada kyai, akan kami tirukan."
Lalu jin itu semua ku ajari masuk Islam dan ku perintah tekun menjalankan sholat dan rukun Islam yang lain. Memang orang dzikir itu sangat mudah disusupi jin, walau jin itu mau menjadi khodam, sebaiknya tidak memakai khodam jin, karena sebaik-baiknya jin itu masih saja mudah berhianat. Walau jika ada yang bila taat maka akan sangat taat sekali.
Permasalahan mbak Nur Kholifah juga sudah diselesaikan dengan baik, setelah mbak Nur Kholifah dibawa menghadapku, dan ku beri penjelasan.
Makin siang, dan kami rasa bertamu sudah cukup, maka kami pamit pulang. Aneh ketika kami pulang kami tersesat ke jauh ke atas gunung Slamet, dan mobil menembusi jalan berbatu. Dan jin di tepi jalan pada ramai memanggilku, rupanya mereka sengaja menyesatkan mobilku dan ingin ku datangi. Semua jin berbaris di tepi jalan, menghormat.
Namanya juga tersesat, jelas aku tak memperhatikan satu persatu jin. Dan ada jin yang di dalam batu yang jelas aku tak memperhatikan. Repotnya menjadi raja jin, yang tak diperhatikan lantas ingin diperhatikan, ketika aku telah sampai di rumah, maka jin itu datang menghadapku.
"Pak kyai... kenapa pak kyai tak memperhatikanku waktu berkunjung ke gunung Slamet."
"Kamu siapa? " tanyaku pada jin yang menghadapku.
"Aku jin yang di dalam batu di gunung Slamet, karena pak kyai tak memperhatikanku, aku jadi tak mendapat berkah, teman-teman wajahnya jadi tampan dan cantik, karena diperhatikan kyai, aku yang tak kyai perhatikan jadi wajahku jelek, dan jadi hinaan teman-teman, katanya aku ini tak mendapatkan berkah jadi wajahku jadi jelek."
"Ah tidak juga, aku ini kan manusia biasa, tak bisa memberikan berkah apa-apa..."
"Tapi wajahku jelek, karena tak kyai lihat waktu itu, saya malu pada teman-teman..."
"Ya sudah wajahmu jadi cakep... sekarang kembali kesana ya..."
"Iya terimakasih kyai... walau kyai raja, kyai mau juga menerima aku yang rakyat jelata."
"Ya sudah... tak papa... kembali ke gunung Slamet lagi ya..."
"Iya kyai..."
Memang aneh-aneh saja tingkah laku para jin... ada juga kejadian di jalan ada mobil mogok yang menghadang jalan waktu di lereng gunung Slamet, rupanya itu juga ulah jin, agar mobil yang ku tumpangi melambat, dan dua jin langsung masuk ketubuhnya Yaya, dan mbak Nur Fitriana.
"Pak kyai... pak kyai... kami ikut." kata jin yang masuk pada tubuh mbak Nur.
"Siapa kalian, apa kalian jin yang membuat mobil itu mogok di jalan?"
"Iya kyai... hi hi hi... kami sengaja, karena kami menunggu pak kyai lewat."
"Memangnya kalian tau kalau pak kyai mau lewat?"
"Tau pak kyai, kan bau pak kyai tercium dari jarak jauh... jadi kami tau kalau pak kyai mau lewat."
"Lalu kalian mau apa...?"
"Kami ingin jadi pengikutnya pak kyai... kami ingin Islam."
Ku suruh pak Herman mengajari dua kalimat sahadat. Ya begitulah di mana tempat aku pergi , kenapa juga semua jin pada datang minta diislamkan.
Dan setelah diislamkan mereka pergi.
Seperti di Kudus... aku menginap di Kudus.. semalaman tak bisa tidur, karena banyak sekali jin minta diislamkan, satu demi satu menghadapku. Sampai jin perempuan berpakaian ala keraton pakaian putih dari sutera menghadapku, tapi dia malu-malu menghadapku.
Aku tak begitu perduli, ku anggap angin lalu, sepulang dari Kudus, aku merasa selalu saja ada yang mengikutiku, kadang di atas kepalaku, kadang ku rasakan memijit tubuhku, kalau aku lagi lelah, ya aku cuek saja, karena sudah biasa kadang kalau mau tidur dipijiti jin sampai aku tertidur.
Sehari dua hari, ada jin menghadapku, jin perempuan yang di Kudus itu.
"Kyai... kenapa kyai tak memperdulikanku..."
"Lhoh kamu kan jin yang di Kudus itu?"
"Iya... aku jin yang menghadap kyai di Kudus itu. Tapi kenapa kyai cuek padaku."
"Ya ada masalah apa...?"
"Kyai... kyai kan rajanya jin, kami para jin tak terima, kenapa di pori-pori kyai semua malaikat, bukannya jin... padahal kyai adalah rajanya jin."
"Wah aku tak tau kalau di pori-poriku banyak malaikat, soalnya aku sendiri tak boleh melihat gaib sama Allah, mata batinku di tutup sama Allah, agar aku tak diributkan urusan jin."
"Pantesan kyai tak perduli padaku... aku sudah cantik begini tapi kyai seakan tak tertarik.."
"Ya mau tertarik bagaimana, melihatmu saja tidak.."
"Wah aku percuma sudah bersolek cantik.."
"Memangnya ada apa, bersolek cantik segala?"
"Kyai... masak kyai tak mengerti..."
"Mengerti apa?"
"Ah kyai pura-pura... aku jadi malu..."
"Ya ada apa...? bilang saja, jangan muter-muter begitu."
"Kyai... aku cinta, dan sayang sama kyai..."
"La kamu kan jin..."
"Tapi banyak jin yang cinta sama kyai... bahkan bukan hanya jin, juga bidadari dan para malaikat, buktinya di setiap pori-pori kyai ada malaikatnya."
"Untuk apa sebenarnya malaikat pada ada di setiap pori-poriku? Apa ada orang dari dulu sampai sekarang di setiap pori-pori ada malaikatnya?"
"Ya gak ada, makanya aku tak berani menatap langsung, karena tubuh kyai bertaburan cahaya dari cahaya malaikat itu, ya kenapa di tubuh kyai ada malaikat di setiap pori-pori itu ada malaikatnya, sedang orang lain tidak? Karena kyai itu ada darah yang mengalir dari keturunan kayangan dan juga kyai itu titisan kayangan.."
"Titisan itu apa maksudnya, gak mudeng aku...?"
"Titisan itu, ya bayi kayangan dilempar di dunia, lalu bayi itu dimasukkan ke tubuh seseoang, untuk dilahirkan menjadi manusia... bayi kayangan itu biasanya ada sekali lahir 41 orang, dan yang seorang itu di lempar ke dunia, karena yang seorang itu jelek, lalu masuk ke rahim, dan lahir menjadi manusia, tapi ketika menjadi manusia itu wah nakalnya minta ampun... gak ketulungan, kyai waktu kecil nakal kan, sampai orang tua nangis karena kenakalan kyai..."
"Ya benar dari kecil aku nakal, aku sendiri bingung, kenapa aku senakal itu sampai orang tuaku ayah ibuku nangis, kenapa anak kok senakal itu, terus...?"
"Ya kyai itu adalah bayi yang dilempar dari kayangan, tapi kyai beda... kyai itu bukan bayi yang dibuang, kyai itu bayi raja kayangan yang memang sengaja mau dicetak menjadi anak manusia, sehingga didapatkan kyai, perpaduan antara keturunan dan keturunan, itu yang kuat, kyai sendiri kan ndak pernah kan belajar ilmu ini itu, tapi kyai punya ilmu itu ada di dalam tubuh, ya itu ilmu bawaan dari lahir..."
"Wah kayaknya terlalu hayal... malah kemana-mana begitu, ndak logis..."
"Ya saya kan hanya bercerita... masak ada jin yang nakluk ke orang sebagaimana nakluknya jin pada kyai?"
"Ya aku gak tau..."
"Sekarang bagaimana dengan saya.."
"Bagaimana apanya?"
"Ya cinta saya diterima sama kyai.."
"Kamu ini aneh, saya itu gak bisa melihatmu, apa memang kamu bisa mewujud jadi bentuk manusia dengan jasad kasar?"
"Gak bisa.."
"Nah itu, bagaimana nanti aku berhubungan denganmu kalau kamu saja ndak bisa mewujud."
"Berhubungan apa?" tanyanya bego.
"Ya berhubungan suami istri lah.."
"Yang penting saya dinikahi dulu kyai..."
"Heheheh, aneh saya ndak bisa melihatmu, kamu minta di nikahi.."
"Ya gak papa... saya cinta sama kyai... cinta sekali."
Wah jin lagi kasmaran..
"Lalu nikahnya bagaimana?" tanyaku iseng.
"Ya nikahnya dinikahkan ayahku.."
"Memang ayahmu setuju, kamu menikah denganku?"
"Setuju... malah beliau yang menyuruh aku agar cepat, agar tak didahului jin lain."
"Waduh.."
"Kenapa kyai..?"
"Ya memang ada jin lain lagi yang jatuh cinta padaku?"
"Buanyak... semua cantik semua.."
"Kok kamu tau?"
"Ya tau... kan pada bebas membicarakan "
"Siapa saja?"
"Ya banyak kyai, tak bisa ku sebutkan satu demi satu."
"Wah kalau aku nikahi kamu misalkan, jangan-jangan yang lain minta dinikahi semua? Wah bisa terkuras tenagaku melayani jin perempuan.."
"Ya gak papa, kyai kan rajanya jin.. gak papa punya istri seribu juga."
"Walaaah... "
Kami terdiam... bingung juga ngadepi jin yang jatuh cinta.
"Kyai... bangsa jin itu pada ingin punya keturunan dari kyai.."
"Ah yang benar..."
"Ya aku minta dengan secara terang, kyai kan tau kan pernah berhubungan dengan banyak jin, sementara kyai dibuat tak sadar..."
"Iya juga aku memang pernah mengalami..."
"Nah itu... kalau aku kan muslimah yang taat, jadi saya meminta dengan terang, dengan pernikahan yang halal."
"Mumet aku... aneh-aneh saja... la kamu itu sebenarnya bentuk aslimu apa?"
"Aku..." dia diam lama...
"Apa?"
"Ular."
"Hii.. gak kebayang aku berhubungan badan dengan ular."
"Tapi kan aku mengubah bentukku menjadi gadis yang cantik."
"Ya main sulap-sulapan.. tetap saja ular..."
"Jadi bagaimana ini kyai...?"
"Sebaiknya jin itu nikahnya dengan jin, manusia itu dengan manusia.."
"Hayo... kok kyai manusia mau nikah dengan bidadari kayangan..."
"Kok kamu tau?"
"Ya taulah, itu kan di alam jin sudah jadi bahan gosip."
"Ya aku kan katanya titisan kayangan, keturunan kayangan."
"Iya juga memang... hehehe.. tapi kyai kan raja segala jin, kenapa para gadis dari bangsa jin, tidak diberi kesempatan?"
"Sudahlah... kalian kan banyak jodoh dari bangsa jin.."
"Dengar-dengar kyai akhir-akhir ini juga mempunyai kuasa di alam roh... bisa menolong roh orang yang sudah di alam barzah."
"Ah sudah jangan dibicarakan, kamu pulang saja ke Kudus lagi."
"Tapi saya akan berusaha menjadi cantik dan berusaha bisa menjadi manusia sempurna, dan nanti akan datang pada kyai... semoga kyai nanti mau menerimaku.."
Wah jin kok ya nekad... untung dia mau kembali pulang.
dialog dengan jin dari bandung.
selama beberapa hari aku di buat repot karena banyaknya jin yg menyusup, jika aku mau memanggil ruh para wali, maka jin datang, kadang mau memanggil ruh para raja kayangan untuk menghadapku, yang datang ruh orang lain, juga tak jarang yang datang ruh para muridku.....
sebenarnya permasalahannya sendiri begini, jika aku memanggil ruh itu akan terbuka suatu lubang ke dimensi lain, nah lubang itu seperti suatu pusaran kuat yang menghisap ruh siapa saja, yang ketika itu memikirkanku, pernah juga yang masuk ruh seseorang yang tak ku kenal, banyak sebenarnya cerita yang terjadi setiap aku menggunakan ilmu panggil ruh. ini salah satunya...
" siapa? " tanyaku kepada yg masuk ke mediator, karena berhati nati tak ku tanya langsung. dengan pertanyaan , ini si A ya?
tapi tanyaku, ini siapa?
" saya dari madura..?"
" siapa?"
" saya ruh seseorang.... "
" siapa... ?"
" saya bernama ..... tadi sedang duduk di mushola, saya dengar cerita tentang pak kyai dari arifin, begitu inginnya saya bertemu dengan kyai, arifin bercerita, kalau pak kyai itu hebat, orang msih muda, ilmunya sakti sekali, sampai tak bisa di ukur seberapa ilmu kyai, dia murid kyai. kyai pasti tau dia orangnya kecil, dan bicaranya kecil keras... saya tau pak kyai dari dia, banyak juga teman teman saya tertarik ingin jadi murid kyai, tapi kami tak punya dana mau ke bligo sini.. sehingga sampai saya memikirkan bagaimana caranya saya bisa bertemu dengan kyai dan bisa menjadi murid kyai..."
" oo berarti ini kesini karena tertarik dengan kekuatan ya..."
" ya kyai... saya juga heran.. kenapa bisa ketarik, tp saat tertarik itu saya sedang memikirkan kyai.. tiba tiba ada kekuatan besar menarik ruh saya, dan saya dapati saya di depan kyai... wah bahagia tak bisa saya lukiskan, karena saya tau foto kyai dari arifin, saya hampir tak percaya kok saya bisa di depan kyai.... , kyai ijinkan saya menjadi murid kyai.."
" ya.. ya... "
" terimakasih sekali kyai..."
" sudah kamu pulang lagi ya..."
" ya kyai, insaAllah saya akan datang menghadap kyai."
lalu dia ku pulangkan, dan ku coba memanggil ruh lain yang saya harapkan datang menghadap.
kali ini yg masuk seorang yang mengelus elus jenggotnya.
setelah dia mengucap salam. lalu berkata.
" hm benar kata orang, masih muda... tapi ilmunya subhanalloh tinggi sekali... aku saya yang berumur 500 ribu tahun saja masih bukan apa apanya... selama ini saya memikirkan, apa benar ada anak masih muda dari manusia yang ilmunya menhdi pembicaraan para jin dan siluman, yang ilmunha di takuti semua jin, dan juga menjadi raja semua jin di dunia. ternyata benar... kyai nur.."
" kamu siapa.?"
" aku raja jin di danau panas bandung."
" kenapa km masuk pada mediatorku."
" ya aku tak tau, tadi kami para jin di bandung habis melakukan sidang membicarakan soal kyai, lalu aku pulang ke danauku, tempat tinggalku, aku masih duduk memikirkan soal kyai nur, yang menurut para jin itu sakti sekali, dan sekarang ini yang menjadi raja semua jin di seluruh penjuru bumi.... la waktu memikirkan itu, ada kekuatan kuat sekali menarikku, dan aku masuk ke badan ini, dan di hadapanku kyai yang kami para jin perbincangkan,"
" kamu sudah berumur tua, tentu paham dengan ilmu hikmah.?"
" ya tau sekali kyai, aku termasuk jin yang sakti, tapi di bandingkan kyai, ilmuku tak ada apa apanya.."
" wah tdk juga..ilmuku sedikit sekali."
" saya melihat kyai, kyai itu ilmunya banyak sekali... sangaaat banyak, yang saya heran kyai itu masih muda kenapa bisa punya ilmu sebanyak itu, itu yang saya tak habis pikir."
" sebenarnya saya tdk pernah belajar ilmu, "
" itulah yang sangat aneh bagiku, kyai ilmunya instan, kalu cuma instan kayak sulapan sih tak heran aku, ini instan tapi bisa di buktikan, itulah yang aneh sekali, kalau ilmj instan cuma main main saya banyak menemui, ini instan tapi bisa di buktikan, itu yang saya tak habis pikir."
" ilmu itu kan cahaya, dan ilmu itu warosatul ambiya, warisnya nabi, jadi sebenarnya kita itj hanya perlu menjadi waris para nabi, tau kan bagaimana seseorang menjadi waris orang tuanya, yaitu gak perlu kerja hanya siap menjadi waris, nah bagaimana kalau menerima warisan ilmu? ya jelas mempersiapkan diri menjadi pewaria ilmu, menjalankan lelaku, membentuk diri agar menjadi pewaris ilmu itu, beramal dengan ikhlas, ridho dengan qodho qodarnya Allah, tdk merasa sombong pada yang di anugerahkan Allah, dan menjadi orang yang selalu menjaga apa yang di amanahkan Allah."
" ya aku paham, akan semua itu, enteng melakukannya, tapi berat menjalankannya. sudah saya jadi murid kyai saja... pasrah sama kyai mau di apakan."
" ya sudah.. "
bgt dialog dengan jin raja di danau air panas bandung.
"Apa kamu yang mengaku pendiri desa Pancasan?"
"Benar kyai, heheheh... saya cuma main-main kyai, maaf..."
"Main-main bagaimana, kan itu menyesatkan banyak orang... ya menurut kamu main-main, tapi mereka pada tersesat karena percaya padamu."
"Heheheh, ya salah mereka kyai, kenapa mereka percaya?"
"Lalu kamu jin dari mana?"
"Saya jin dari gunung..."
"Gunung mana?"
"Itu gunung Tugel di sana gunung kidul itu namanya.."
"Siapa namamu?"
"Saya bernama Arjuna..."
"Penguasa gunung itu?"
"Iya kyai.... kyai... bolehkan saya jadi murid kyai, bolehkan saya jadi pengikut kyai...?"
"Boleh saja, asal jangan lagi mengganggu orang, jangan lagi memasuki tubuh orang."
"Siap kyai..."
Lalu ku ajarkan jin itu masuk Islam, dari melihat kejadian itu, sebenarnya kejadian yang sama banyak sekali terjadi di mana tempat di Indonesia, mungkin di setiap daerah ada semua, di mana jin mengaku-ngaku sebagai sesepuh desa, menemui seseorang minta di sajeni, minta diberi makan, padahal mereka yang mengaku-ngaku adalah hanya jin belaka. Sebaiknya berhati-hati dengan kejadian kejadian seperti itu, jangan asal percaya kalau tidak membuktikan, jika ingin bukti, silahkan saja datang ke majlisku, jika ada yang mengaku-aku danyang desa ini itu, atau mengaku ruh leluhur.
"Lalu bagaimana ini kyai, kami kan sudah menuruti perintah jin itu, kami malah sudah lama melakukan banyak ziarah ke banyak tempat yang ditunjukkan oleh jin yang mengaku kakek buyut kami itu?" kata salah satu tamu yang ada di depanku.
"Ya kenyataannya kan itu jin yang mengaku-aku."
"Jadi selama ini yang kami lakukan salah?"
"Ya salah kan sudah jelas.., ini biar ku panggilkan pada ruh asli kakek kalian, ditanya yang jelas, nanti itu asli apa gak asli."
"Ya kyai..."
Lalu aku panggil mbak Nur Fitriana untuk jadi mediator memanggil pada kakek buyut pendiri desa Pancasan. Sebentar masuk ruh idhofi dari kakek pendiri desa pancasan. Dia mengucapkan salam.
"Benar ini kakek kami...?" tanya salah satu tamu.
"Benar aku yang mendirikan desa ini," dan..... dia bercerita panjang lebar kisah masa lalunya mendirikan desa, dan perjuangannya mendirikan desa. Juga siapa saja keturunannya dan istri-istrinya... juga cucunya.
"Apa kakek yang sering kelihatan memakai pakaian putih-putih bertongkat itu yang sering dilihat banyak orang?"
"Ya benar itu aku, karena aku mau memperingatkan akan ketersesatan kalian, kalian mengikuti jin, dan mendoakan jin, bukan aku, aku datang itu karena sering mendengar kalau kyai Nur ini mau datang, sebab hanya dia yang bisa memanggilku, jadi ketika aku merasa dia akan datang, ee kok ku tunggu tak jadi datang, jadi aku kembali lagi, kemudian ku dengar lagi dia mau datang, ee kok ya datang juga, baru kali ini beliau datang, waktu aku dipanggil, aku langsung cepat-cepat masuk, karena sudah menunggu dari tadi, aku ini tak bisa apa-apa, kalau tak ada yang memanggil dan memasukkan ke tubuh manusia, terimakasih kyai... wah ilmunya tinggi sekali, orang masih muda kok ya ilmunya tak ada batasnya begitu, aku yang tua jadi malu berhadapan dengan kyai."
"Wah ilmu apa to kek, saya itu orang muda yang tak ada isinya apa-apa... ndak punya ilmu apa-apa..."
"Ini ikuti kyai Nur, ngaji padanya, biar seperti kyai Nur..."
"Wah saya orang tak terkenal, dan tak punya kelebihan apa-apa.."
"Kyai tak usah merendah, kami semua di alam ruh sama membicarakan kyai, yang tersiksa bisa tertolong, malah yang mati ndak Islam saja bisa diIslamkan, sungguh selama ini kami tak pernah melihat ada ilmu setinggi itu..."
"Wah jangan dilebih-lebihkan kek, itu anugerah Allah, saya sendiri sebenarnya juga ndak tau apa-apa."
"Jadi makam-makam yang kami ziarahi itu bukan makamnya kakek?" tanya salah satu tamu.
"Yang kalian datangi itu tak ada apa-apa... wong kok ya pada bodoh, mau-maunya dan mudahnya ditipu jin, makamku ada di Cirebon."
Lalu kakek itu menjelaskan makamnya dan letaknya selama ini yang tak diketahui para anak cucunya.
Setelah membicarakan banyak hal, lalu kakek itu minta diri kembali ke alam ruh.
Satu masalah terselesaikan, dan segalanya yang samar jadi jelas.
Selanjutnya bergantian masuk jin penunggu gunung dan lembah sekitar minta diislamkan.
Sampai malam makin larut, kami memutuskan untuk sholat isya dan berangkat istirahat,
Paginya setelah sholat subuh, kami duduk di luar rumah sekedar menikmati pagi, dan menikmati suasana pagi dimana terlihat dari depan rumah pemandangan gunung Patah, di mana jin yang bernama Arjuna tinggal di atas, kabut tebal menutup puncak gunung, aneh kok kabut seperti berjalan, dari arah timur, juga pagi gelap dan tiba-tiba ada titik titik debu berjatuhan.
"Lhoh kayak hujan debu ini ya pak Herman..." kataku.
"Iya gus... ini hujan debu." jawab pak Herman melihat pada kursi yang diduduki.
"Apa gunung Kelud jadi meletus ya, kemaren beberapa hari yang lalu kan raja jin penguasa gunung Kelud datang laporan, kalau gunung Kelud minta ijin diletuskan, ku tanya, kenapa diletuskan? jawabnya karena banyak yang berbuat maksiat, lalu ku tanya, apa ndak bisa tidak diletuskan? kan jika diletuskan juga nanti yang kena juga banyak orang susah, juga itu malah dianggep kejadian bencana alam bukan peringatan dari Allah, raja jin penguasa gunung Kelud bilang, kami diperintah Allah, jika banyak yang dzikir tak diletuskan jika tidak ada yang dzikir akan diletuskan."
"Coba buka internet..." kataku pada mas Agus.
"Iya kyai... gunung Kelud meletus." jawab mas Agus
"Kalau begitu ini debu gunung Kelud sampai kesini... wah kalau sampai ke Purwokerto saja sampai, kan Purwokerto itu sebelah baratnya Pekalongan, pasti di Pekalongan akan lebih banyak lagi... biar ku panggil penguasa gunung Kelud menghadap." kataku sambil menyuruh pak Herman mendekat untuk ku jadikan mediator.
Segera ku panggil penguasa gunung Kelud menghadap, lama juga baru ada jin masuk ke tubuh pak Herman.
"Siapa ini?" tanyaku.
"Saya wakil dari penguasa gunung Kelud kyai." jawabnya terburu-buru.
"Kenapa tidak penguasa gunung Kelud sendiri yang menghadapku?"
"Dia sibuk kyai... jadi saya wakilnya yang beliau perintah mewakili."
"Sibuk apa?"
"Sibuk meledakkan gunung kyai, mengkoordinir jin untuk memperbanyak pembakaran kyai..."
"Jadi ini benar, abu dari gunung Kelud?"
"Benar sekali kyai.."
"Wah kalau gitu sampai juga di Pekalongan?"
"Sampai...."
"Lhoh bagaimana to... nanti malah merepotkan aku..."
"Maaf kyai saya tidak tau..."
"Bisa tidak abunya tidak sampai Pekalongan?"
"Bisa-bisa kyai.... saya akan usahakan debunya tidak sampai pekalongan, rumah kyai.."
"Ya..."
"Kalau begitu saya berangkat melaksanakan pesan kyai."
"Ya."
Dan cepat sekali jin itu keluar, dan kang Herman sadar. Segera ku suruh menghubungi ke Pekalongan, menanyakan debu dari gunung Kelud sampai tidak ke Pekalongan, alhamdulillah jawaban dari Pekalongan hanya pagi sampai sebentar, dan cuma setitik-titik saja, dan tidak ada lagi. Padahal di Yogya, Kudus, bahkan Jepara, juga sampai, juga Banyumas, dan Purwokerto juga sampai. Aneh memang kalau dipikir.
Karena di luar banyak debu, kami segera pindah ke dalam rumah, dan warung sebelah juga mengantar makanan, sehingga sambil ngobrol bisa sambil ngemil, sebentar kemudian muridku yang Purwokerto datang, dan menceritakan banyak hal, salah satunya cerita tentang muridku yang bernama mbak Nur Kholifah yang dari Purwokerto katanya diikuti malaikat maut, dan bahkan sudah banyak pasien yang datang ke rumah, pernah dulu aku diceritai soal kisah mbak Nur Kholifah ini, dan aku sendiri walau tau itu hanya jin yang mengaku-aku, ku biarkan saja, dan sekarang baru aku akan selesaikan permasalahannya, ada maksud-maksud yang akan panjang jika ku jabarkan semua.
Ku panggil jin yang mengaku malaikat maut yang masuk ke tubuhnya mbak Nur Kholifah. Ku panggil dan ku suruh masuk ke tubuh pak Herman.
"Siapa kamu...?"
"Maaf kyai... saya jin." jawabnya.
"Jin dari mana...?"
"Saya jin dari sungai, yang tinggal di bawah pohon kelapa yang menjorok ke sungai."
"Lalu apa maksudnya mengaku sebagai malaikat maut?"
"Ya maaf kyai, saya kasihan dengan perempuan itu, karena banyak serangan dari para dukun santet yang menyantetnya, saya hanya ingin menolong..."
"Ya kenapa harus mengaku sebagai malaikat maut?"
"Ya itu hanya mengaku saja kyai, biar saya diterima, soale dia memanggil-manggil malaikat saja.., jadi saya masuk dan mengaku malaikat."
"Hm begitu. Kamu kenal siapa aku..."
"Kyai siapa jin yang tak kenal sama kyai... semua jin di dunia ini tau kyai itu siapa... kyai adalah raja segala jin di jagad ini, saya juga tunduk pada kyai... jika kyai perintahkan apa saja, saya akan siap melaksanakan."
"Ya kamu ku perintah untuk tidak masuk lagi ke tubuh mbak Nur Kholifah itu..."
"Siap kyai, saya tak akan masuk lagi, tapi selain saya banyak jin lain kyai.. ada yang mengaku sebagai kyai, ada yang mengaku sebagai guru kyai..."
"Suruh semua kesini..."
"Ya kyai semua akan saya panggil, mereka semua serentak jika kyai yang memanggil, semua jin tak ada yang tak tunduk pada kyai... semua sudah datang kyai, mereka ada yang dari daerah sekitar, ada yang dari gunung."
"Ajak semua menirukanku, untuk masuk Islam..."
"Ya kyai, kami siap taat dan tunduk pada kyai, akan kami tirukan."
Lalu jin itu semua ku ajari masuk Islam dan ku perintah tekun menjalankan sholat dan rukun Islam yang lain. Memang orang dzikir itu sangat mudah disusupi jin, walau jin itu mau menjadi khodam, sebaiknya tidak memakai khodam jin, karena sebaik-baiknya jin itu masih saja mudah berhianat. Walau jika ada yang bila taat maka akan sangat taat sekali.
Permasalahan mbak Nur Kholifah juga sudah diselesaikan dengan baik, setelah mbak Nur Kholifah dibawa menghadapku, dan ku beri penjelasan.
Makin siang, dan kami rasa bertamu sudah cukup, maka kami pamit pulang. Aneh ketika kami pulang kami tersesat ke jauh ke atas gunung Slamet, dan mobil menembusi jalan berbatu. Dan jin di tepi jalan pada ramai memanggilku, rupanya mereka sengaja menyesatkan mobilku dan ingin ku datangi. Semua jin berbaris di tepi jalan, menghormat.
Namanya juga tersesat, jelas aku tak memperhatikan satu persatu jin. Dan ada jin yang di dalam batu yang jelas aku tak memperhatikan. Repotnya menjadi raja jin, yang tak diperhatikan lantas ingin diperhatikan, ketika aku telah sampai di rumah, maka jin itu datang menghadapku.
"Pak kyai... kenapa pak kyai tak memperhatikanku waktu berkunjung ke gunung Slamet."
"Kamu siapa? " tanyaku pada jin yang menghadapku.
"Aku jin yang di dalam batu di gunung Slamet, karena pak kyai tak memperhatikanku, aku jadi tak mendapat berkah, teman-teman wajahnya jadi tampan dan cantik, karena diperhatikan kyai, aku yang tak kyai perhatikan jadi wajahku jelek, dan jadi hinaan teman-teman, katanya aku ini tak mendapatkan berkah jadi wajahku jadi jelek."
"Ah tidak juga, aku ini kan manusia biasa, tak bisa memberikan berkah apa-apa..."
"Tapi wajahku jelek, karena tak kyai lihat waktu itu, saya malu pada teman-teman..."
"Ya sudah wajahmu jadi cakep... sekarang kembali kesana ya..."
"Iya terimakasih kyai... walau kyai raja, kyai mau juga menerima aku yang rakyat jelata."
"Ya sudah... tak papa... kembali ke gunung Slamet lagi ya..."
"Iya kyai..."
Memang aneh-aneh saja tingkah laku para jin... ada juga kejadian di jalan ada mobil mogok yang menghadang jalan waktu di lereng gunung Slamet, rupanya itu juga ulah jin, agar mobil yang ku tumpangi melambat, dan dua jin langsung masuk ketubuhnya Yaya, dan mbak Nur Fitriana.
"Pak kyai... pak kyai... kami ikut." kata jin yang masuk pada tubuh mbak Nur.
"Siapa kalian, apa kalian jin yang membuat mobil itu mogok di jalan?"
"Iya kyai... hi hi hi... kami sengaja, karena kami menunggu pak kyai lewat."
"Memangnya kalian tau kalau pak kyai mau lewat?"
"Tau pak kyai, kan bau pak kyai tercium dari jarak jauh... jadi kami tau kalau pak kyai mau lewat."
"Lalu kalian mau apa...?"
"Kami ingin jadi pengikutnya pak kyai... kami ingin Islam."
Ku suruh pak Herman mengajari dua kalimat sahadat. Ya begitulah di mana tempat aku pergi , kenapa juga semua jin pada datang minta diislamkan.
Dan setelah diislamkan mereka pergi.
Seperti di Kudus... aku menginap di Kudus.. semalaman tak bisa tidur, karena banyak sekali jin minta diislamkan, satu demi satu menghadapku. Sampai jin perempuan berpakaian ala keraton pakaian putih dari sutera menghadapku, tapi dia malu-malu menghadapku.
Aku tak begitu perduli, ku anggap angin lalu, sepulang dari Kudus, aku merasa selalu saja ada yang mengikutiku, kadang di atas kepalaku, kadang ku rasakan memijit tubuhku, kalau aku lagi lelah, ya aku cuek saja, karena sudah biasa kadang kalau mau tidur dipijiti jin sampai aku tertidur.
Sehari dua hari, ada jin menghadapku, jin perempuan yang di Kudus itu.
"Kyai... kenapa kyai tak memperdulikanku..."
"Lhoh kamu kan jin yang di Kudus itu?"
"Iya... aku jin yang menghadap kyai di Kudus itu. Tapi kenapa kyai cuek padaku."
"Ya ada masalah apa...?"
"Kyai... kyai kan rajanya jin, kami para jin tak terima, kenapa di pori-pori kyai semua malaikat, bukannya jin... padahal kyai adalah rajanya jin."
"Wah aku tak tau kalau di pori-poriku banyak malaikat, soalnya aku sendiri tak boleh melihat gaib sama Allah, mata batinku di tutup sama Allah, agar aku tak diributkan urusan jin."
"Pantesan kyai tak perduli padaku... aku sudah cantik begini tapi kyai seakan tak tertarik.."
"Ya mau tertarik bagaimana, melihatmu saja tidak.."
"Wah aku percuma sudah bersolek cantik.."
"Memangnya ada apa, bersolek cantik segala?"
"Kyai... masak kyai tak mengerti..."
"Mengerti apa?"
"Ah kyai pura-pura... aku jadi malu..."
"Ya ada apa...? bilang saja, jangan muter-muter begitu."
"Kyai... aku cinta, dan sayang sama kyai..."
"La kamu kan jin..."
"Tapi banyak jin yang cinta sama kyai... bahkan bukan hanya jin, juga bidadari dan para malaikat, buktinya di setiap pori-pori kyai ada malaikatnya."
"Untuk apa sebenarnya malaikat pada ada di setiap pori-poriku? Apa ada orang dari dulu sampai sekarang di setiap pori-pori ada malaikatnya?"
"Ya gak ada, makanya aku tak berani menatap langsung, karena tubuh kyai bertaburan cahaya dari cahaya malaikat itu, ya kenapa di tubuh kyai ada malaikat di setiap pori-pori itu ada malaikatnya, sedang orang lain tidak? Karena kyai itu ada darah yang mengalir dari keturunan kayangan dan juga kyai itu titisan kayangan.."
"Titisan itu apa maksudnya, gak mudeng aku...?"
"Titisan itu, ya bayi kayangan dilempar di dunia, lalu bayi itu dimasukkan ke tubuh seseoang, untuk dilahirkan menjadi manusia... bayi kayangan itu biasanya ada sekali lahir 41 orang, dan yang seorang itu di lempar ke dunia, karena yang seorang itu jelek, lalu masuk ke rahim, dan lahir menjadi manusia, tapi ketika menjadi manusia itu wah nakalnya minta ampun... gak ketulungan, kyai waktu kecil nakal kan, sampai orang tua nangis karena kenakalan kyai..."
"Ya benar dari kecil aku nakal, aku sendiri bingung, kenapa aku senakal itu sampai orang tuaku ayah ibuku nangis, kenapa anak kok senakal itu, terus...?"
"Ya kyai itu adalah bayi yang dilempar dari kayangan, tapi kyai beda... kyai itu bukan bayi yang dibuang, kyai itu bayi raja kayangan yang memang sengaja mau dicetak menjadi anak manusia, sehingga didapatkan kyai, perpaduan antara keturunan dan keturunan, itu yang kuat, kyai sendiri kan ndak pernah kan belajar ilmu ini itu, tapi kyai punya ilmu itu ada di dalam tubuh, ya itu ilmu bawaan dari lahir..."
"Wah kayaknya terlalu hayal... malah kemana-mana begitu, ndak logis..."
"Ya saya kan hanya bercerita... masak ada jin yang nakluk ke orang sebagaimana nakluknya jin pada kyai?"
"Ya aku gak tau..."
"Sekarang bagaimana dengan saya.."
"Bagaimana apanya?"
"Ya cinta saya diterima sama kyai.."
"Kamu ini aneh, saya itu gak bisa melihatmu, apa memang kamu bisa mewujud jadi bentuk manusia dengan jasad kasar?"
"Gak bisa.."
"Nah itu, bagaimana nanti aku berhubungan denganmu kalau kamu saja ndak bisa mewujud."
"Berhubungan apa?" tanyanya bego.
"Ya berhubungan suami istri lah.."
"Yang penting saya dinikahi dulu kyai..."
"Heheheh, aneh saya ndak bisa melihatmu, kamu minta di nikahi.."
"Ya gak papa... saya cinta sama kyai... cinta sekali."
Wah jin lagi kasmaran..
"Lalu nikahnya bagaimana?" tanyaku iseng.
"Ya nikahnya dinikahkan ayahku.."
"Memang ayahmu setuju, kamu menikah denganku?"
"Setuju... malah beliau yang menyuruh aku agar cepat, agar tak didahului jin lain."
"Waduh.."
"Kenapa kyai..?"
"Ya memang ada jin lain lagi yang jatuh cinta padaku?"
"Buanyak... semua cantik semua.."
"Kok kamu tau?"
"Ya tau... kan pada bebas membicarakan "
"Siapa saja?"
"Ya banyak kyai, tak bisa ku sebutkan satu demi satu."
"Wah kalau aku nikahi kamu misalkan, jangan-jangan yang lain minta dinikahi semua? Wah bisa terkuras tenagaku melayani jin perempuan.."
"Ya gak papa, kyai kan rajanya jin.. gak papa punya istri seribu juga."
"Walaaah... "
Kami terdiam... bingung juga ngadepi jin yang jatuh cinta.
"Kyai... bangsa jin itu pada ingin punya keturunan dari kyai.."
"Ah yang benar..."
"Ya aku minta dengan secara terang, kyai kan tau kan pernah berhubungan dengan banyak jin, sementara kyai dibuat tak sadar..."
"Iya juga aku memang pernah mengalami..."
"Nah itu... kalau aku kan muslimah yang taat, jadi saya meminta dengan terang, dengan pernikahan yang halal."
"Mumet aku... aneh-aneh saja... la kamu itu sebenarnya bentuk aslimu apa?"
"Aku..." dia diam lama...
"Apa?"
"Ular."
"Hii.. gak kebayang aku berhubungan badan dengan ular."
"Tapi kan aku mengubah bentukku menjadi gadis yang cantik."
"Ya main sulap-sulapan.. tetap saja ular..."
"Jadi bagaimana ini kyai...?"
"Sebaiknya jin itu nikahnya dengan jin, manusia itu dengan manusia.."
"Hayo... kok kyai manusia mau nikah dengan bidadari kayangan..."
"Kok kamu tau?"
"Ya taulah, itu kan di alam jin sudah jadi bahan gosip."
"Ya aku kan katanya titisan kayangan, keturunan kayangan."
"Iya juga memang... hehehe.. tapi kyai kan raja segala jin, kenapa para gadis dari bangsa jin, tidak diberi kesempatan?"
"Sudahlah... kalian kan banyak jodoh dari bangsa jin.."
"Dengar-dengar kyai akhir-akhir ini juga mempunyai kuasa di alam roh... bisa menolong roh orang yang sudah di alam barzah."
"Ah sudah jangan dibicarakan, kamu pulang saja ke Kudus lagi."
"Tapi saya akan berusaha menjadi cantik dan berusaha bisa menjadi manusia sempurna, dan nanti akan datang pada kyai... semoga kyai nanti mau menerimaku.."
Wah jin kok ya nekad... untung dia mau kembali pulang.
dialog dengan jin dari bandung.
selama beberapa hari aku di buat repot karena banyaknya jin yg menyusup, jika aku mau memanggil ruh para wali, maka jin datang, kadang mau memanggil ruh para raja kayangan untuk menghadapku, yang datang ruh orang lain, juga tak jarang yang datang ruh para muridku.....
sebenarnya permasalahannya sendiri begini, jika aku memanggil ruh itu akan terbuka suatu lubang ke dimensi lain, nah lubang itu seperti suatu pusaran kuat yang menghisap ruh siapa saja, yang ketika itu memikirkanku, pernah juga yang masuk ruh seseorang yang tak ku kenal, banyak sebenarnya cerita yang terjadi setiap aku menggunakan ilmu panggil ruh. ini salah satunya...
" siapa? " tanyaku kepada yg masuk ke mediator, karena berhati nati tak ku tanya langsung. dengan pertanyaan , ini si A ya?
tapi tanyaku, ini siapa?
" saya dari madura..?"
" siapa?"
" saya ruh seseorang.... "
" siapa... ?"
" saya bernama ..... tadi sedang duduk di mushola, saya dengar cerita tentang pak kyai dari arifin, begitu inginnya saya bertemu dengan kyai, arifin bercerita, kalau pak kyai itu hebat, orang msih muda, ilmunya sakti sekali, sampai tak bisa di ukur seberapa ilmu kyai, dia murid kyai. kyai pasti tau dia orangnya kecil, dan bicaranya kecil keras... saya tau pak kyai dari dia, banyak juga teman teman saya tertarik ingin jadi murid kyai, tapi kami tak punya dana mau ke bligo sini.. sehingga sampai saya memikirkan bagaimana caranya saya bisa bertemu dengan kyai dan bisa menjadi murid kyai..."
" oo berarti ini kesini karena tertarik dengan kekuatan ya..."
" ya kyai... saya juga heran.. kenapa bisa ketarik, tp saat tertarik itu saya sedang memikirkan kyai.. tiba tiba ada kekuatan besar menarik ruh saya, dan saya dapati saya di depan kyai... wah bahagia tak bisa saya lukiskan, karena saya tau foto kyai dari arifin, saya hampir tak percaya kok saya bisa di depan kyai.... , kyai ijinkan saya menjadi murid kyai.."
" ya.. ya... "
" terimakasih sekali kyai..."
" sudah kamu pulang lagi ya..."
" ya kyai, insaAllah saya akan datang menghadap kyai."
lalu dia ku pulangkan, dan ku coba memanggil ruh lain yang saya harapkan datang menghadap.
kali ini yg masuk seorang yang mengelus elus jenggotnya.
setelah dia mengucap salam. lalu berkata.
" hm benar kata orang, masih muda... tapi ilmunya subhanalloh tinggi sekali... aku saya yang berumur 500 ribu tahun saja masih bukan apa apanya... selama ini saya memikirkan, apa benar ada anak masih muda dari manusia yang ilmunya menhdi pembicaraan para jin dan siluman, yang ilmunha di takuti semua jin, dan juga menjadi raja semua jin di dunia. ternyata benar... kyai nur.."
" kamu siapa.?"
" aku raja jin di danau panas bandung."
" kenapa km masuk pada mediatorku."
" ya aku tak tau, tadi kami para jin di bandung habis melakukan sidang membicarakan soal kyai, lalu aku pulang ke danauku, tempat tinggalku, aku masih duduk memikirkan soal kyai nur, yang menurut para jin itu sakti sekali, dan sekarang ini yang menjadi raja semua jin di seluruh penjuru bumi.... la waktu memikirkan itu, ada kekuatan kuat sekali menarikku, dan aku masuk ke badan ini, dan di hadapanku kyai yang kami para jin perbincangkan,"
" kamu sudah berumur tua, tentu paham dengan ilmu hikmah.?"
" ya tau sekali kyai, aku termasuk jin yang sakti, tapi di bandingkan kyai, ilmuku tak ada apa apanya.."
" wah tdk juga..ilmuku sedikit sekali."
" saya melihat kyai, kyai itu ilmunya banyak sekali... sangaaat banyak, yang saya heran kyai itu masih muda kenapa bisa punya ilmu sebanyak itu, itu yang saya tak habis pikir."
" sebenarnya saya tdk pernah belajar ilmu, "
" itulah yang sangat aneh bagiku, kyai ilmunya instan, kalu cuma instan kayak sulapan sih tak heran aku, ini instan tapi bisa di buktikan, itulah yang aneh sekali, kalau ilmj instan cuma main main saya banyak menemui, ini instan tapi bisa di buktikan, itu yang saya tak habis pikir."
" ilmu itu kan cahaya, dan ilmu itu warosatul ambiya, warisnya nabi, jadi sebenarnya kita itj hanya perlu menjadi waris para nabi, tau kan bagaimana seseorang menjadi waris orang tuanya, yaitu gak perlu kerja hanya siap menjadi waris, nah bagaimana kalau menerima warisan ilmu? ya jelas mempersiapkan diri menjadi pewaria ilmu, menjalankan lelaku, membentuk diri agar menjadi pewaris ilmu itu, beramal dengan ikhlas, ridho dengan qodho qodarnya Allah, tdk merasa sombong pada yang di anugerahkan Allah, dan menjadi orang yang selalu menjaga apa yang di amanahkan Allah."
" ya aku paham, akan semua itu, enteng melakukannya, tapi berat menjalankannya. sudah saya jadi murid kyai saja... pasrah sama kyai mau di apakan."
" ya sudah.. "
bgt dialog dengan jin raja di danau air panas bandung.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar