oleh: Tarjum
Kisah Pengembaraan Batin Seorang Penderita
Gangguan jiwa.
Mungkin banyak orang beranggapan bahwa
penderitaan hanya dialami oleh anak-anak yang
berada di lingkungan keras dan kumuh di
sudut-sudut kota besar. Anak-anak jalanan
yang harus bergulat dengan kerasnya
kehidupan kota yang tak kenal kompromi.
Mungkin banyak orang tidak mengira bahwa
seorang anak petani yang tinggal di sebuah
desa yang sunyi, tenang dan jauh dari
keramaian kota, juga mengalami penderitaan!
Derita yang dialami anak desa ini bukan derita
fisik, karena secara fisik dia tampak sehat,
tidak memiliki kelainan bahkan tergolong anak
yang cerdas. Kebutuhan sandang dan
pangannya pun, walaupun tidak berlebihan,
cukup terpenuhi. Lalu apa gerangan yang ia
derita? Dia menderita gangguan jiwa!
Lagi-lagi mungkin banyak orang yang tidak
mengira bahkan mungkin tidak percaya, mana
mungkin seorang anak yang tinggal di desa
yang tenang dan jauh dari hingar-bingar
persaingan dan kerasnya kehidupan kota serta
diasuh dengan penuh kasih sayang oleh kedua
orang tuanya bisa menderita gangguan jiwa?
Tapi itulah kenyataannya, anak desa yang
pemalu dan pendiam itu memang benar-benar
menderita gangguan jiwa jenis gangguan
bipolar atau manic depressive.
Seorang anak desa yang sepulang sekolah
pekerjaanya hanya menggembala domba dan
menyabit rumput—yang bahkan belum kenal
istilah psikologi—tiba-tiba harus menghadapi
kenyataan pahit, menderita gangguan bipolar
kronis. Penyakit jiwa yang sama sekali tidak
dipahaminya, tidak diketahui apa penyebabnya,
tidak tahu cara mengatasinya, bahkan tidak
tahu harus berbuat apa. Kian hari penyakit itu
kian ganas mengoyak-ngoyak pikiran dan
perasaannya. Saat gejolak batinnya makin tak
terkendali, yang mampu dilakukannya hanya
menangis. Ia tak berani menceritakan derita
jiwanya kepada orang lain, termasuk kepada
teman dan sahabat dekatnya. Bahkan kepada
orang tuanya sendiri pun ia tak berani
bercerita.
Derita batin yang menyiksa itu mulai ia rasakan
sejak duduk di bangku SMP. Awalnya hanya
merupakan gangguan jiwa ringan (depresi
terselubung), namun seiring berjalannya waktu
kondisi mentalnya bukannya membaik malah
semakin memburuk. Ia semakin kesulitan
mengontrol dan mengendalikan gejolak
perasaannya. Penampilan fisiknya yang
(menurutnya penilaiannya sendiri) kurang
menarik, ditambah karakternya yang pendiam,
tertutup dan pemalu semakin membuatnya
merasa rendah diri berada di antara teman-
teman sekolahnya. Ketidakmampuannya
bergaul dengan teman-teman sekolahnya
maupun dengan guru, membuatnya semakin
merasa tesisih dan tertekan.
Meski demikian, sampai lulus SMP ia masih
bisa mempertahankan prestasi belajarnya yang
cukup baik. Itulah satu-satunya prestasi yang
mampu membuatnya sedikit merasa percaya
diri. Lulus SMP dengan prestasi terbaik di
sekolahnya, ia melanjutkan ke SMA Negeri yang
lokasinya tak jauh dari desa tempat tinggalnya.
Mulailah tahapan baru kehidupannya,
kehidupan remaja. Sekarang ia bukan lagi anak-
anak tapi sudah beranjak remaja.
Namun justru itulah masalahnya. Pergaulan
remaja menuntut kemampuan bergaul dan
berkomunikasi yang lebih tinggi dan tantangan
yang semakin berat. Di masa transisi, disaat
seorang remaja sedang mencari jati dirinya, ia
justru masih berkutat dengan perasaan rendah
diri yang membelenggunya. Bukan hanya itu,
gejala depresi yang sebelumnya masih samar-
samar sekarang sudah menampakkan wujudnya
yang semakin jelas.
Siklus manic depressive mulai ia rasakan
dengan interval waktu yang teratur dan makin
lama makin cepat. Situasi ini membuatnya
semakin merasa kesulitan untuk bisa
beradaptasi di lingkungan pergaulan barunya
yang memang penuh tantangan dan
membutuhkan tingkat kepercayaan diri yang
tinggi.
Semester pertama di SMA ia masih bisa
menunjukkan sisa-sisa kemampuan
akademisnya yang cukup baik. Memasuki
semester kedua gejala kemunduran prestasi
mulai nampak. Ia pun semakin merasa
kesulitan bergaul diantara teman-teman
sekelasnya, terutama teman perempuan.
Bahkan dengan teman-teman sekampung yang
tadinya cukup akrab pun mulai merenggang. Ia
semakin menutup diri dan menarik diri dari
lingkungan pergaulan teman-teman sekolahnya.
Saat berada di kelas maupun di luar kelas ia
lebih suka menyendiri dan berdiam diri. Saat
istirahat ia lebih suka bersembunyi di belakang
sekolah atau di ruang perpustakaan ketimbang
bercanda dan bersenda-gurau dengan teman-
temannya. Semakin hari kondisi kejiwaanya
semakin memburuk. Alam pemikirannya sudah
berbeda dengan alam pemikiran orang-orang
yang normal. Keyakinan-keyakinan aneh dan
tak wajar semakin merasuki pikiran dan
perasaannya. Ia pun semakin tak mampu
menyembunyikan gejolak perasaannya yang
semakin tak menentu.
Dengan kondisi jiwanya yang semakin hari
semakin memburuk, di ruang kelas ia hampir
tak mampu lagi mencerna materi pelajaran
yang disampaikan para guru. Nilai-nilai mata
pelajarannya hancur-hancuran. Puncaknya saat
pembagian raport semester 3, rankingnya
terpuruk ke perangkat 34 dari 39 siswa.
Prestasi terburuk yang bahkan tak pernah ia
bayangkan sebelumnya. Itu berarti ia menjadi
siswa paling bodoh ke-6 di kelas. Saat-saat
indah kehidupan remaja di SMA hampir tak
pernah ia rasakan. Di puncak kegalauan dan
keputusasaan ia sempat berpikir, “Jika kondisi
jiwaku terus-menerus seperti ini, aku bisa
benar-benar gila!”
Dengan kesadaran dan akal sehatnya yang
masih tersisa, ia berusaha mencari tahu, apa
sebenarnya yang terjadi pada dirinya? Penyakit
macam apa yang ia derita dan bagaimana cara
menanggulanginya? Dalam kondisi mental yang
sangat labil dan rapuh seperti itu, hanya ada
satu orang yang bisa mengerti dan memahami
keadaannya—walaupun tidak sepenuhnya—
yaitu ayahnya.
Ayahnya menjadi teman dekatnya, sahabatnya,
tempatnya berbagi, tempatnya curhat dan
mengadu. Kepadanyalah biasanya ia
mencurahkan isi hati dan bercerita tentang
segala hal yang membebani pikiran dan
perasaanya. Kalau sudah ngobrol, mereka
berdua bisa sampai berjam-jam, bahkan sering
sampai larut malam. Ayahnya suka
menceritakan pengalamannya sendiri dan
pengalaman orang lain sebagai bahan
perbandingan.
Buku, majalah, surat kabar dan bacaan-bacaan
lainya menjadi teman dan sahabatnya yang
paling setia saat hatinya sedang galau. Bacaan-
bacaan itu sedikit bisa memberinya
penghiburan walaupun tak mampu mengobati
kecemasan dan kepedihan hatinya. Dari
bacaan-bacaan itu pula ia banyak mendapatkan
pengetahuan dan informasi berharga tentang
segala hal, terutama tentang problem-problem
kejiwaan yang selama ini dialaminya. Informasi
yang lebih jelas dan rinci mengenai jenis,
gejala dan cara penanggulangan gangguan
kejiwaan yang ia derita, ia peroleh dari sebuah
majalah lama yang sudah kusam dan berdebu.
Majalah itu ia temukan di lemari buku
pamannya yang seorang guru SD. Dari
informasi-informasi seadannya yang ia peroleh
berkat hobinya membaca, ia mulai bisa
mengidentifikasi derita jiwanya.
Selain itu, dengan banyak membaca, wawasan
dan pengetahuannya semakin bertambah luas.
Sudut pandangnya terhadap kehidupan pun
lebih terbuka dan realistis. Ia tidak lagi
memandang kehidupan hanya sebagai hitam
dan putih. Pemahamannya terhadap realitas
kehidupan dengan segala kompleksitas
permasalahannya yang semakin baik,
membuatnya bisa menerima diri sendiri apa
adanya. Menerima segala kelebihan dan
kekurangan dirinya dan tidak lagi memandang
rendah diri sendiri. Perlahan tapi pasti
kepercayaan dirinya mulai tumbuh dan
bersemi. Saat ia mulai bisa menerima diri apa
adanya, ia pun mulai bisa menerima dan
membuka diri terhadap orang lain dan
lingkungannya. Ia mulai membaurkan diri ke
dalam lingkungan pergaulan teman-teman
sebayanya di sekolah maupun di desanya.
Selanjutnya saat duduk di bangku kelas 3 SMA,
ia mulai menekuni kegiatan olahraga yang
sebenarnya sejak lama ia sukai yaitu bola voli.
Orang tuanya pun memberinya ruang gerak dan
kebebasan untuk lebih aktif mengikuti
kegiatan-kegiatan olah raga dan kegiatan
sosial-keagamaan di sekolah maupun di rumah.
Semakin lama ia semakin menyukai olah raga
bola voli. Dan ternyata ia punya potensi untuk
menjadi pemain yang baik. Dengan kondisi
psikisnya yang berangsur pulih, prestasi
akademisnya mulai menunjukkan perbaikan.
Saat kelulusan ia mendapat nilai-nilai dan
ranking yang cukup bagus, bahkan di luar
perkiraannya. Setamat SMA, ia seperti terlepas
dari beban mental yang teramat berat.
Sekarang ia punya lebih banyak waktu luang
untuk menekuni hobi volinya. Jadilah ia
seorang pemain voli yang cukup disegani
kawan maupun lawan di berbagai event voli di
daerahnya.
Sebenarnya ia ingin melanjutkan pendidikan ke
perguruan tinggi, tapi karena dua kali gagal
mengikuti UMPTN (Ujian Masuk Perguruan
Tinggi Negeri) dan terutama karena
keterbatasan biaya ia pun mengurungkan
niatnya. Aktivitas olah raga yang dijalani
dengan sungguh-sungguh ternyata bukan hanya
berpengaruh positif terhadap kondisi fisik
tetapi berpengaruh positif terhadap kondisi
psikis. Selain itu, aktivitas olah raga juga
semakin memperluas ruang lingkup
pergaulannya. Ia punya banyak teman dan
kenalan sesama pemain maupun penggemar
voli. Seiring dengan peningkatan kemampuan
dan prestasinya di bidang olah raga,
kepercayaan dirinya pun meningkat pesat.
Sebaliknya perasaan rendah dirinya semakin
terkikis. Akhirnya ia pun terbebas dari
kungkungan manic depressive yang telah
membelenggunya selama bertahun-tahun.
Berakhirkah derita jiwanya? Belum sepenuhnya
ternyata. Walaupun sudah sembuh, ia merasa
kepercayaan dirinya belum sepenuhnya pulih.
Perasaan rendah diri masih membayangi setiap
sikap dan tindakannya. Di akhir kisah, ia
mencoba merajut serpihan-serpihan
pengalaman batinya dan menyusunnya menjadi
sebuah metode terapi sederhana
penanggulangan gangguan kejiwaan khususnya
depresi dan manic depressive. Metode
terapi yang mengandalkan kemampuan dan
potensi diri si penderitanya itu, ia namai Terapi
Inner Self (TIS).
Rekan-rekan Wikimu, anak desa itu bernama
TARJUM, Penulis kisah ini. Kalau Wikimu
menginjinkan dan rekan-rekan mendukung,
saya akan menyajikan kisah ini secara seri.
Kisah ini pernah saya susun secara lengkap
sebagai naskah buku sekitar 100 halaman lebih
dan pernah saya kirim ke salah satu penerbit
namun ditolak. Semoga kisah ini tak ditolak di
Wikimu. Saya tunggu tanggapan Wikimu dan
rekan-rekan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar