Obrolan di Gubug Sawah Sore itu cuaca
mendung, sepertinya tidak lama lagi akan
turun hujan lebat. Hamparan padi yang mulai
menguning tampak bergoyang-goyang ditiup
angin. Musim tanam sekarang sepertinya padi
tidak sebagus seperti musim tanam yang lalu.
Walaupun setahun lebih aku tidak pernah
melihat sawah orang tuaku yang tidak seberapa
luas, tapi suasananya tampak tidak banyak
berubah, bahkan hampir sama seperti saat 14
tahun yang lalu, saat aku sedang menderita
depresi berat. Gubuk tempatku berteduh
sekarang masih tetap ditempatnya seperti dulu.
Bedannya kalau dulu bertiang bambu dan
beratap ilalang, sekarang bertiang kayu dan
beratap genting. Namun tampak sudah tua,
setua ayahku yang setiap hari berteduh,
melepas lelah sehabis bekerja di sawah.
Dulu aku sering tidur dengan ayah di gubuk ini,
menunggui padi yang baru dipanen. Selain
menanam padi, di pematang sawah ayah juga
menanam bermacam-macam jenis sayuran,
sekedar untuk dimasak sendiri. Ayah juga
memelihara beberapa ekor itik di kolam kecil
di bagian atas petakan sawah yang tidak
ditanami padi. Sore itu aku sengaja menemui
ayah di sawah, sekedar untuk ngobrol. Hari itu
aku ambil cuti jadi aku bisa leluasa ngobrol
tentang segala hal dengan ayah. “Kalau melihat
suasana di pesawahan ini, ada rasa getir,”
kataku seraya melihat sekeliling sejauh batas
pandangan mata. “Aku suka ingat masa lalu,
saat aku menderita gangguan jiwa dulu, pak!”
Ayah hanya diam mendengar gumamanku,
namun aku yakin ayahku ingat keadaanku 14
tahun yang lalu.
“Setelah aku banyak membaca buku, surat
kabar dan majalah, sekarang aku tahu nama
penyakit itu,” kataku melanjutkan tanpa
menunggu tanggapan ayah. “Penyebabnya
sampai sekarang memang tidak jelas, tapi salah
satu kemungkinan penyebabnya adalah faktor
keturunan.”“Memang, bapak juga dulu pernah
mengalami walaupun tidak separah kamu,” kata
ayah, ”Mendengar sedikit saja omongan orang
yang tidak enak, ayah selalu
memikirkannya.”“Dari buku-buku, majalah dan
surat kabar yang aku kumpulkan dan aku
pelajari, sekarang aku sudah tahu penyakit apa
yang aku derita itu. Namanya Gangguan
Bipolar, disebut juga manic depressive,” kataku
menjelaskan.
“Syukurlah sekarang kamu sudah sembuh,” kata
ayah singkat. Lalu kami berdua sama- sama
diam. Obrolan kami berlanjut kepada
pembicaraan mengenai pekerjaanku dan
seputar masalah-masalah keluarga. Mengobrol
seperti inilah yang sering kami lakukan saat-
saat aku sakit dulu. Kami sering melakukannya
berjam-jam bahkan sampai larut malam. Aku
merasakan dialog-dialog seperti ini bisa
mengurangi beban pikiranku. Dalam melalui
saat-saat getir seperti itu, ayahku telah
menjadi penasihat, konselor, motivator,
sekaligus sahabat dan teman curhatku. Saat itu
mungkin hanya ayahku yang bisa memahami
keadaanku, memahami gejolak jiwaku,
walaupun tidak sepenuhnya. Aku bersyukur
punya seorang ayah yang bijaksana. Kesabaran
dan perhatiannya saat aku menghadapi masa-
masa sulit, luar biasa. Tanpa perhatian, nasihat
dan bimbingannya yang penuh kasih sayang,
aku tidak tahu akan seperti apa kondisi jiwaku
saat itu. Terima kasih ayah!
Hari sudah semakin sore, mendung tampak
semakin tebal menggulung, sepertinya hujan
akan segera turun. Aku pamit pulang pada
ayah. Aku melewati jalan setapak yang dulu
sering aku lewati pergi-pulang ke sawah.
Ingatanku kembali ke masa 25 tahun silam,
masa kecil yang indah dan menyenangkan. Lalu
datanglah masa-masa yang penuh kesedihan
dan kegetiran. Masa-masa kelam dalam
perjalanan hidupku. Merenung Sejenak Di
sebuah desa yang sunyi dan tenang, dengan
hijaunya hamparan padi di pesawahan. Daun-
daun padi itu bergoyang searah hembusan
angin yang terasa sejuk.
Di seberang sawah sebelah sana, beberapa ekor
domba yang tampak montok dan sehat sedang
merumput dengan lahapnya di pematang-
pematang pinggir sawah. Di bawah pohon
rambutan yang rindang, duduk seorang remaja
tanggung memperhatikan domba-domba
gembalaanya, tangannya memegang sebuah
buku. Lihatlah lebih dekat lagi, ternyata si
gembala domba ini tidak sedang mengawasi
domba-dombanya, dan buku yang dipegangnya
sama sekali tidak dibacanya. Raut mukanya
murung, tatapan matanya kosong, air matanya
meleleh membasahi pipinya yang agak kotor
terkena debu. Bibirnya bergetar
menggumamkan sesuatu, lirih hampir tak
terdengar, “Ya Tuhan, betapa berat cobaan
yang Engkau berikan ini.” Suara alunan musik
dangdut yang mendayu-dayu dari radio
transistor kecil yang selalu dibawanya
mengembala, sama sekali tidak mampu
menghiburnya. Tak ada yang mampu
menghiburnya, meredakan gejolak batinnya
yang makin tak terkendali.
Selasa, 29 Oktober 2013
Aku Hampir Gila ( 3 )
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar