MASA KECIL
Menurut kedua orang tuaku, sewaktu masih
balita aku sering sakit-sakitan, bahkan pernah
sakit parah sampai hampir meninggal.
Walaupun demikian perkembangan fisikku
cukup baik. Dulu aku pernah melihat foto
keluargaku, aku melihat (diriku) seorang anak
yang montok dan sehat. Aku masih ingat, saat
kecil dulu aku suka membanding-bandingkan
penampilan fisikku dengan penampilan fisik
teman-teman sebayaku.
Aku merasa punya kekurangan dalam
penampilan fisiku, aku selalu merasa orang lain
lebih baik dariku. Sebagai contoh : aku suka
membandingkan bentuk kepalaku yang agak
benjol dan sedikit besar, bentuk hidungku yang
pesek, daun telingaku yang agak lebar dan
kekurangan-kekurangan penampilan fisikku
yang lainnya. Penampilan yang selalu aku
persoalkan itu sebenarnya tergolong normal,
banyak juga anak lain dengan bentuk kepala,
bentuk hidung, bentuk telinga seperti aku,
bahkan lebih 'jelek' dari aku, tapi toh, mereka
tampak begitu percaya diri. Tanpa aku sadari
kekurangan-kekurangan diri yang sebenarnya
wajar itu, telah membuatku merasa rendah
diri.
Aku sering bertanya-tanya kepada diriku
sendiri, “Mengapa aku selalu saja merasa
rendah diri? Mengapa orang lain yang
penampilan fisiknya tidak lebih baik dari aku
tampak sangat percaya diri? Apa yang salah
dengan diriku? Apa penyebab semua ini?” Dari
sini sudah tampak, benih-benih gangguan
mental itu sudah tumbuh, walaupun belum
tampak jelas. Saat itu aku sama sekali tidak
menyadarinya.
Sambil Anda membaca kisah kepedihan
hidupku ini, aku persilahkan Anda mencari
titik-titik lemah dalam diriku. Celah-celah
tempat masuknya bibit depresi. Mungkin Anda
atau orang lain bisa lebih jernih dan cermat
menilai kelemahan diriku. Siapa tahu Anda bisa
menemukan akar penyebab depresi yang
sesungguhnya dalam diriku.
Memasuki Lingkungan Baru
Perasaan rendah diri yang sebelumnya sudah
tumbuh, di lingkungan baru ini (sekolah)
tumbuh semakin subur, bagaikan bibit yang
ditanam di tanah yang gembur, disiram setiap
hari dan diberi pupuk. Seiring bertambahnya
usia, bertambah pula wawasan dan
pengetahuan. Namun disamping itu bertambah
pula tuntutan pada diri sendiri untuk semakin
mampu bertinteraksi dan beradaptasi dengan
baik di lingkungan baru yang lebih luas.
Namun aku merasa kemampuanku dalam
berinteraksi dan beradaptasi kurang memadai.
Aku tergolong anak yang pendiam dan pemalu.
Ketidakmampuanku dalam bergaul inilah yang
membuatku semakin merasa rendah diri. Aku
paling rikuh bila berhadapan dengan guru. Aku
juga paling tidak suka jika disuruh berbicara
atau menyanyi di depan ruang kelas, misalnya.
Seperti kebiasaan sebelumnya aku selalu
membanding-bandingkan diriku dengan teman-
teman sebayaku (sekolahku). Entah mengapa
aku selalu merasa punya kekurangan, merasa
lebih lemah, lebih jelek di banding orang lain.
Aku selalu melihat kelemahan dan kekurangan
diriku.
Satu-satunya yang menjadi kebanggaanku
adalah prestasi belajarku di sekolah yang
tergolong menonjol. Sejak kelas 1 sampai kelas
6 (SD) aku hampir selalu ranking satu di
kelasku. Saat di sekolah dasar, karena prestasi
belajarku tergolong menonjol, siswa dan para
guru memberiku kepercayaan memegang
beberapa jabatan kesiswaan di sekolah. Di kelas
aku dipercaya menjadi ketua murid (KM),
menjadi pengurus perpustakaan sekolah,
menjadi pemimpin regu (Pinru) di
kepramukaan dan menjadi pemandu senam
setiap pagi di halaman sekolah. Dalam acara-
acara keagamaan di sekolah seperti peringatan
hari besar Islam (PHBI) aku hampir selalu
kebagian tugas sebagai panitia.
Namun, semua prestasi belajar dan beberapa
jabatan kesiswaan yang aku pegang, entah
mengapa tidak mampu membuatku tampil
lebih percaya diri, atau paling tidak sedikit
mengangkat rasa percaya diriku. Aku tidak
merasa bangga dengan segala prestasi dan
jabatan tersebut. Sebaliknya aku malah sering
merasa terbebani dengan berbagai tugas dan
jabatan yang aku pegang. Aku tidak merasa
bangga dengan diriku sendiri, aku selalu
menganggap orang lain lebih baik dariku. Aku
seperti biasanya, sebagai anak pendiam dan
pemalu yang selalu merasa rendah diri.
Aneh ya?! Tapi itulah kenyataanya yang aku
rasakan. Kenyataan lainnya, aku tidak pernah
bisa akrab dengan guru. Hal ini ini juga
merupakan salah satu penyebab perasaan
rendah diriku.
Perasaan Rendah Diri
Memepengaruhi Segala Hal Dalam
Diriku
Perasaan rendah diriku bukan hanya soal
penampilan semata, namun—tanpa aku sadari
—telah merasuki hampir segala hal dalam
diriku, mempengaruhi setiap sikap dan
tindakanku. Untuk menjelaskan hal ini akan aku
ceritakan salah satu bagian pengalaman masa
kecilku (masa sekolah).
Sejak kecil bahkan sebelum masuk sekolah, aku
mempunyai hobi dan bakat yang sebenarnya
jarang dimiliki orang lain yaitu hobi dan bakat
menggambar. Aku masih ingat, waktu kecil
(belum sekolah) jika ibuku sedang memasak di
dapur, aku suka memungut arang bekas kayu
bakar untuk menggambar di pintu dapur, di
tiang atau di bilik rumah. Rumahku merupakan
rumah tradisional khas Sunda berupa rumah
panggung berdinding bilik bambu dan papan
kayu, dengan tiang, pintu dan jendela juga
terbuat dari kayu. Bilik, tiang dan pintu rumah
jelek itu dipenuhi gambar-gambar berwarna
hitam arang kayu bakar.
Hobi ini aku jalani begitu saja secara otodidak,
tanpa ada usaha khusus untuk
mengembangkanya lebih jauh. Saat di Sekolah
Dasar (SD), ada seorang teman sekelasku yang
juga punya hobi dan bakat menggambar seperti
aku. Secara teknis kemampuan menggambar
kami bisa dibilang setara, yang berbeda hanya
karakter gambarnya saja. Kami biasanya
menggunakan kertas atau bagian-bagian
halaman buku catatan kami yang kosong
sebagai media gambar.
Coretan-coretan gambarku tipis, halus dan
patah-patah. Sedangkan coretan-coretan
gambar temanku itu tebal, tegas dan terkesan
berani. Dari coretan dan karakter gambarnya
saja sudah kelihatan, bahwa dia sangat percaya
diri dalam menggambar, sedangkan aku
sebaliknya, kurang percaya diri.
Saat itu (lagi-lagi) aku merasa, gambar-gambar
yang dia buat lebih bagus dari gambar
buatanku. Aku juga merasa, teknik dan karakter
gambarnya lebih baik dan menarik dari teknik
dan karakter gambarku. Aku sering meniru
(walaupun sebenarnya aku tidak suka) teknik
dan karakter gambarnya. Bukan itu saja, aku
juga meniru teknik dan karakter tulisannya.
Semua itu aku lakukan hanya karena aku
merasa gambar dan tulisan dia lebih baik dan
menarik dibanding gambar dan tulisanku
sendiri.
Padahal di lubuk hatiku yang terdalam
sebenarnya aku tidak rela dalam hal apapun
jika harus meniru cara dan gaya orang lain. Aku
ingin menunjukkan gayaku sendiri, ciri khas
dan jati diriku. Tapi entah mengapa aku seperti
tidak mempunyai kekuatan untuk
menunjukkannya. Kepercayaan diriku yang
rendah menghalangiku untuk melakukannya. Di
sini tampak jelas, ketidakpercayaan diriku
sangat mempengaruhi cara pandang, sikap dan
tindakanku dalam segala hal. Bahkan dalam
hal-hal yang sepele pun aku tidak percaya diri.
Aku selalu merasa orang lain lebih baik dariku.
Selasa, 29 Oktober 2013
Aku Hampir Gila ( 4 )
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar