Tiba di rumah hari sudah petang
menjelang maghrib. Dengan malas aku
segera mandi dan makan. Selera makanku
hilang sama sekali, tak ada satu pun
masakan yang mampu membangkitkan
selera makanku. Saat adzan magrib
berkumandang seperti biasa aku segera
pergi ke mesjid.
Ke mesjid pun sebenarnya aku malas, aku
enggan bertemu orang-orang. Di Mesjid
aku berusaha menenangkan pikiran,
meredam dan mengendalikan suasana
hati yang tak menentu dengan membaca
Al-qur’an, berdzikir dan berdo`a. Saat
orang lain pulang, aku masih duduk di
mesjid, meneruskan berdo`a dan
berdzikir, mencurahkan isi hati di
hadapan-Nya, menumpahkan beban berat
yang menggelayuti pikiran.
Tak terasa air mata meleleh membasahi
wajahku, tak jarang diiringi isak tangis
yang tertahan karena aku tak ingin orang
lain tahu keadaanku, kelainan jiwaku. Saat
berdo`a dan berdzikir aku merasa ada
yang mau mendengar keluh-kesahku, ada
yang bisa memahamiku, ada tempat
berpegang dan yang terpenting ada
harapan. Aku selalu berharap Tuhan akan
menolongku, membebaskanku dari derita
jiwa yang terasa semakin berat,
mengembalikan kesadaran dan akal
sehatku, mengembalikan kepercayaan
diriku dan mengembalikan kebahagiaanku.
Sepulang dari Mesjid, kalau tidak nonton
tv biasanya aku mengurung diri di kamar.
Aku berusaha memejamkan mata untuk
melupakan segala pikiran dan perasaan
tak menentu yang berkecamuk di
benakku. Saat tidur aku bisa melupakan
sejenak gejolak perasaan dan segala
keruwetan pikiran. Namun, dalam tidur
pun aku sebenarnya tidak bisa tenang,
karena mimpi-mimpi buruk selalu datang
dalam tidurku. Aku tak pernah bisa benar-
benar tidur pulas. Dalam semalam aku
sering terbangun beberapa kali. Namun
gelapnya malam tak segelap dan sepekat
suasana hatiku. Sering aku berharap—
setengah berkhayal—malam tak segera
berlalu dan pagi hari tak cepat datang,
karena aku ingin melanjutkan tidurku. Aku
berharap jarum jam akan berhenti
berputar dan baru berputar kembali
setelah kondisi jiwaku pulih.
Aku tak ingin melakukan apa pun, aku tak
ingin pergi kemana pun, aku tak ingin
bertemu dan berbicara dengan siapa pun,
aku tak ingin orang-orang tahu aku sakit.
Dan aku tak ingin orang-orang, teman,
sahabat dan keluargaku sendiri
memandang aneh padaku, karena aku tak
mampu lagi menyembunyikan gejolak
perasaanku. Aku tak mampu lagi menata
dan mengendalikan suasana hatiku
sendiri, tak mampu lagi mengendalikan
sikap dan tindakanku sendiri.
Namun waktu tak pernah dan tak akan
pernah mau kompromi dengan siapa pun.
Jarum jam tak akan pernah mau berhenti
barang sedetik pun! Kehidupan akan terus
berjalan bagaimanapun dan seperti apa
pun keadaanku. Aku sadar, aku tak bisa
hanya berbaring di atas tempat tidur,
menyesali diri, meratapi nasib,
mempersalahkan Tuhan dan mengharap
keajaiban datang. Dengan segala
kepedihan dan derita jiwa yang terasa
semakin berat, membenamkan diriku
semakin dalam, aku harus tetap
melangkah dan terus melangkah,
melanjutkan perjalanan hidupku.
Walaupun harapan mulai meredup, masa
depan tampak semakin kabur, dengan
semangat yang tersisa, dengan akal sehat
yang masih ada , aku bangun untuk
memulai aktivitas sehari-hariku,
melaksanakan tugas utamaku yaitu belajar
dan bekerja. Pagi-pagi aku harus sudah
berangkat ke sawah atau kebun untuk
membantu meringankan beban pekerjaan
orang tuaku yang bekerja membanting
tulang untuk memenuhi kebutuhan
keluarga dan untuk biaya sekolahku dan
adikku. Agak siang setelah bekerja di
sawah atau ladang, aku pergi menyabit
rumput untuk makanan domba-dombaku.
Sebelum jam sebelas aku sudah harus
pulang, lalu mandi dan mempersiapkan
diri untuk berangkat ke sekolah
menjelang tengah hari. Aku biasanya
berangkat ke sekolah bersama teman-
teman sekampung yang kebetulan sekolah
di tempat yang sama. Kami jalan kaki
sampai ke jalan raya, dari sana kami naik
angkutan umum sampai ke sekolah.
Begitulah, dalam suasana depresi berat
aku menjalani aktivitas sehari-hariku di
rumah maupun di sekolah.
Kamis, 12 September 2013
AKU HAMPIR GILA (19)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar