Kamis, 12 September 2013

AKU HAMPIR GILA (18)

Siklus manic depressive terus berulang-
ulang dengan intesitas tekanan yang
semakin kuat, seperti lingkaran setan
yang tak berujung. Kondisi kejiwaanku
yang terus memburuk, sangat
mempengaruhi aktivitas sehari-hariku di
rumah maupun di sekolah. Semester
kedua di SMA prestasi belajarku mulai
menurun, aku hanya meraih rangking 4
dari 46 siswa.
Kondisi kejiwaanku makin memburuk,
suasana hatiku semakin tak terkendali.
Kepercayaan diriku yang rendah serta
ketidak mampuanku bergaul menambah
beban berat pikiranku. Kondisi fisikku pun
mulai terganggu. Aku mulai sering sakit-
sakitan, sakit yang tak jelas sakit apa.
Sakit fisik yang disebabkan oleh kondisi
psikisku yang tak menentu.
Aku berusaha sekuat tenaga mengatasi
dan mengendalikan segala macam gejolak
perasaan yang terus menggerogoti jiwa
dan ragaku. Namun, walaupun sedikitnya
aku sudah tahu apa yang terjadi dengan
diriku dan bagaimana cara mengatasinya,
dalam praktiknya ternyata tidak mudah,
bahkan sangat salit. Kondisi kejiwaanku
tak kunjung membaik.
Siswa Bodoh yang Pemalas dan Suka
Nyontek
Memasuki kelas dua SMA, prestasi
akademisku makin terpuruk, bahkan
hancur-hancuran. Sekarang aku bukan lagi
anak pandai yang selalu juara kelas, tapi
aku sudah berubah drastis menjadi anak
bodoh dan pemalas yang sering
mendapatkan nilai 3 dan 4 saat tes. Saat
belajar di ruang kelas, aku sama sekali
tidak bisa konsentrasi. Aku malah sering
tidur saat guru sedang mengajar. Aku tak
bisa mencerna materi-materi pelajaran
yang disampaikan para guru di ruang
kelas.
Sejak itu aku mulai sering nyontek saat
tes. Aku juga jarang mengerjakan
pekerjaan rumah (PR) karena di rumah
pun aku juga tak bisa konsentrasi belajar.
Ujung-ujungnya ya, nyontek lagi ––
kebiasaan buruk yang sangat aku benci
saat aku di SMP dulu—walaupun
sebenarnya aku sangat malu
melakukannya.
Aku suka sedih jika ingat prestasiku di
SMP dulu. Aku selalu bahagia saat
kenaikan kelas, karena aku selalu menjadi
yang terbaik. Kini masa bahagia itu sudah
berlalu. Aku sudah berubah manjadi siswa
yang bodoh, pemalas, suka nyontek, suka
tidur saat belajar, dan sering datang
terlambat ke sekolah, bahkan pernah
beberapa kali bolos sekolah.
Syarifudin, teman sekelasku (juga teman
beda kelas waktu di SMP) sering nyeletuk
sambil memandang heran padaku, “Dulu
waktu di SMP, setahuku kamu teh pintar
dan selalu juara kelas, bahkan juara
umum. Tapi sekarang mah kamu jadi
seperti ini, mengapa sih?” Aku hanya
tersenyum getir menanggapi
pertanyaannya. Ingin menangis rasanya
mendengar pertanyaan seperti itu.
Tak salah pengamatan temanku itu, aku
memang sudah banyak berubah.
Semester 3 rangkingku anjlok ke urutan
34 dari 39 siswa. Prestasi terburuk yang
bahkan tak pernah aku bayangkan
sebelumnya. Itu berarti aku menjadi
siswa paling bodoh ke-6 di kelas. Dengan
nilai raport dan rangking sejelek itu aku
sampai khawatir jangan-jangan aku tidak
naik kelas.
Jika episode depresi datang, berada di
ruang kelas benar-benar merupakan
siksaan bagiku, aku tak mampu menyerap
dan mencerna materi-materi pelajaran
yang disampaikan para guru. Apalagi jika
diberi tugas mengerjakan soal, aku sama
sekali tidak bisa berpikir. Otakku seperti
beku, lidahku seperti kelu, dan tubuhku
seperti kaku.
Pernah suatu hari ada tes mata pelajaran
matematika, aku bingung karena sama
sekali tidak bisa mengerjakan soal yang
sebenarnya tidak terlalu sulit. Sampai
waktu habis, tak satu pun soal yang bisa
aku kerjakan. Sering aku menghadapi
situasi seperti itu. Jika sudah demikian
yang aku pikirkan hanya ingin jam belajar
segera berakhir dan aku bisa secepatnya
pulang. Aku suka sedih jika membuka
buku-buku catatanku yang acak-acakan
tak karuan.
Padahal waktu di SMP dulu, buku-buku
catatanku begitu rapi dan lengkap. Aku
baca, aku pelajari, dan aku pahami isinya
dengan baik, sehingga saat tes aku hampir
selalu mendapat nilai tertinggi. Sekarang
nilai-nilai tesku sangat jelek, sejelek buku-
buku catatanku. Saat jam istirahat tiba
aku lebih suka menyendiri bersembunyi di
belakang sekolah, aku tak ingin bertemu
dan berbicara dengan siapa pun.
Karena dengan suasana hati yang tak
menentu serta kekacauan emosi yang tak
terkendali, aku sering bingung harus
ngomong apa jika berhadapan dengan
teman atau siapa saja. Aku tak bisa
menata pikiranku sendiri, aku tak mampu
menyusun kata-kata dan merangkai
kalimat yang tepat untuk diucapkan.
Kalaupun dipaksakan yang terucap hanya
kalimat-kalimat pendek yang kadang tidak
relevan dengan tema obrolan.
Keadaan ini membuatku semakin ragu,
malu dan kurang berani bicara di depan
teman-temanku. Bahkan pada situasi
tertentu aku sering gagap bicara. Saat
berhadapan dengan seseorang terutama
teman, aku khawatir mereka akan
memandang aneh dengan sikapku, kata-
kata, nada biacara, raut muka serta gerak-
gerikku.
Perpustakaan sekolah adalah salah satu
‘tempat persembunyianku’. Di
perpustakaan aku punya alasan untuk
tidak berbicara dengan siapa pun. Kadang
jam istirahat aku habiskan di
perpustakaan, membaca buku-buku dan
majalah yang jumlahnya tidak seberapa
dan sudah tampak kumal. Dengan
membaca, selain menambah pengetahuan
dan memperluas wawasan, aku merasa
suasana hatiku sedikit tenang.
Aku baru merasa sedikit lega saat jam
belajar usai. Keluar dari sekolah, kalau
tidak naik angkutan umum biasanya aku
pulang jalan kaki bersama teman-teman
sekampungku. Dalam perjalan pulang,
saat teman-temanku ngobrol dan
bercanda, menceritakan pengalaman
belajar masing-masing hari itu, aku hanya
diam membisu, bingung harus ngomong
apa. Kadang tak sepatah kata pun terucap
dari bibirku sampai aku tiba di rumah.
Mungkin teman-temanku memandang
aneh sikap dan gerak-gerikku, tapi
mungkin juga mereka sama sekali tak
peduli dengan keadaanku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar