Kamis, 12 September 2013

AKU HAMPIR GILA (20)

Saat kenaikan kelas, dari kelas 2 ke kelas
3, Prestasi akademisku belum berubah,
masih bertahan di rangking 34 dari 40
siswa. Itu artinya aku naik kelas dengan
nilai pas-pasan. Masih untung aku bisa
naik kelas. Yang sering aku khawatirkan
adalah jika saat ujian semester (Evaluasi
Belajar Akhir Semester / EBAS) aku berada
dalam masa depresi. Karena saat depresi,
jangankan mengerjakan soal-soal ujian
yang rumit, berpikir pun aku seperti tak
bisa. Beruntung, hampir setiap waktu
ujian selalu bertepatan dengan episode
mania.
Kekhawatiranku yang lain adalah jika
waktu ujian kelulusan nanti aku berada
dalam episode depresi, karena jika itu
terjadi bukan tidak mungkin aku tidak
akan lulus. Memasuki kelas 3, kondisi
mentalku belum banyak berubah, siklus
depresi dan mania masih terus
berlangsung. Seperti lingkaran setan yang
entah di mana ujungnya.
Meski demikian aku tidak pasrah dan
berdiam diri, apa lagi putus asa, hanya
menunggu nasib baik dan keajaiban
datang. Aku tidak ingin membiarkan diriku
terus terpuruk semakin dalam. Aku
berusaha mencari informasi sebanyak
mungkin tentang gangguan jiwa yang aku
derita, baik dari buku-buku psikologi,
majalah maupun surat kabar. Aku
mencoba mempraktikkan beberapa
metode terapi yang aku pelajari.
Walaupun hasilnya tidak langsung terasa,
paling tidak aku punya harapan kondisi
jiwaku akan membaik di kemudian hari.
Aku juga mulai membuka diri dan
melibatkan diri dalam berbagai aktivitas di
lingkungan sekolah maupun di rumah.
Aktif dalam Kegiatan-kegiatan Olah Raga
di kampung, aku mulai berusaha
menyempatkan diri mengikuti kegiatan-
kegiatan olah raga, terutama olah raga
permainan bola voli setiap sore hari.
Olahraga ini sebenarnya sudah aku tekuni
sejak aku masih di SD, tapi karena postur
tubuhku yang kurang mendukung,
kemampuanku dalam olah raga permainan
ini kurang berkembang.
Ayah pun—yang sebelumnya jarang
memberiku waktu untuk bermain—
memberiku keleluasaan untuk ikut dalam
kegiatan-kegiatan olahraga di sekolah
maupun di kampung. Ayah tidak ngomel
lagi kalau aku pulang dari sawah atau
kebun agak siang, asal pekerjaanku sudah
beres. Ayah juga tidak melarangku jika
malam hari aku nonton acara-acara
hiburan di desaku bersama teman-
temanku. Bahkan ayah tidak ngomel kalau
sepulang dari mesjid aku tidak belajar dan
hanya nonton TV sampai larut malam.
Sepertinya ayah maklum dengan apa yang
aku lakukan, karena ayah sudah
mengetahui dan memahami gangguan
jiwa yang aku alami.
Olahraga yang Sangat Aku Sukai
Di sekolah aku juga lebih aktif mengikuti
kegiatan-kegiatan olahraga khususnya bola
voli dan renang. Kebetulan pada semester
lima ada materi pelajaran olahraga
tentang renang dan akan ada tes praktik
renang selain teori. Dua minggu sekali
secara bergiliran tiap kelas belajar renang
bersama di kolam renang kota kabupaten,
yang jaraknya dari sekolah sekitar 30 km.
Sejak itu aku jadi ketagihan renang.
Bersama beberapa orang teman,
seminggu sekali, sepulang sekolah aku
pergi ke kolam renang sekalian rekreasi.
Hobi baruku ini, selain menyenangkan
ternyata sangat bermanfaat untuk
kebugaran dan terutama perkembangan
tubuhku. Tinggi badanku yang tadinya
hanya sekitar 150 cm, setelah beberapa
bulan berlatih renang bertambah hampir
mencapai 160 cm. Postur tubuhku pun
kelihatan lebih berisi dan tidak kerempeng
lagi. Perkembangan fisik yang cukup baik
dan tergolong cepat ini membuatku lebih
percaya diri. Aku semakin termotivasi
untuk lebih aktif berolahraga.
Selain di sekolah, di kampung juga aku
semakin giat dan bersemangat mengikuti
latihan-latihan fisik maupun teknik
bersama rekan-rekan tim bola voli.
Senior-seniorku di tim selalu memberi
dukungan dan dorongan semangat, bahwa
dengan postur tubuhku yang cukup tinggi
aku bisa menjadi pemain andalan di tim.
Semakin lama aku semakin menyukai
olahraga permainan ini. Aku semakin
terpacu untuk berlatih dan terus berlatih
agar aku benar-benar bisa menjadi
pemain andalan yang disegani oleh lawan
maupun kawan. Aku berlatih keras baik
latihan fisik, teknik maupun mental.
Kerja kerasku mulai menampakan hasil,
kemampuan fisik, teknik dan mentalku
mengalami peningkatan yang cukup pesat.
Beberapa bulan kemudian aku sudah
masuk tim inti. Aku mulai sering ikut
dalam pertandingan-pertandingan
persahabatan dengan tim-tim bola voli
daerah lain. Aku bukan hanya menyukai
permainan ini, tapi bisa dibilang sudah
kecanduan. Tidak enak rasanya kalau
sehari saja tidak main. Kesukaan bermain
voli ini ternyata bukan hanya berpengaruh
positif terhadap kebugaran dan
pertumbuhan fisikku, tanpa aku sadari
juga berpengaruh terhadap kondisi
mentalku.
Sejak aku aktif mengikuti kegiatan
olahraga, aku merasakan perubahan dalam
diriku. Intensitas tekanan manic
depressive mengalami penurunan yang
signifikan, serta siklusnya mengalami
perlambatan secara bertahap. Perlahan
tapi pasti aku merasakan gairah dan
semangat hidupku tumbuh kembali.
Pikiran-pikiran negatif mulai berkurang
digantikan oleh pikiran-pikiran positif.
Kecemasan, kegelisahan dan keyakinan-
keyakinan aneh yang telah sekian lama
bercokol dalam pikiran sedikit demi
sedikit mulai berkurang.
Kondisi jiwaku yang mulai membaik
berimbas positif terhadap prestasi
belajarku di sekolah. Akhir semester 5
aku masuk ranking 20 besar. Prestasi yang
cukup menggembirakan ini semakin
menambah semangat belajarku, aku ingin
meraih kembali kisah sukses belajarku
seperti dulu sebelum sakit. Selain giat
belajar dan berolahraga, aku juga terus
mencari dan mempelajari artikel-artikel
kejiwaan dan kesehatan mental dari buku-
buku, surat kabar dan majalah. Lalu sebisa
mungkin mempraktikannya dalam
aktivitas sehari-hariku.
Aku juga berusaha untuk terus-menerus
menambah wawasan dan pengetahuan
tentang apa saja, memperluas ruang
lingkup pergaulan, serta membuka diri
terhadap saran, kritik dan nasehat dari
teman, sahabat dan orang tuaku sendiri.
Aku tak lagi memilih-milih teman atau
lingkungan pergaulan. Patokanku, yang
penting aku tidak melanggar hukum dan
nilai-nilai agama.
Kesenanganku membaca dan olahraga
menjadi semacam terapi fisik, psikis dan
sosial sekaligus. Pemulihan kondisi
mentalku mengalami kemajuan yang luar
biasa. Saat pelaksanaan ujian akhir—saat
yang paling aku tunggu-tunggu sekaligus
aku khawatirkan—suasana hatiku sedang
dalam keadaan stabil, hingga aku bisa
melaksanakan ujian dengan baik dan
lancar. Hasil ujianku juga lumayan baik,
aku berada pada ranking 17 dari 40 siswa.
Itulah hasil terbaik yang aku capai dengan
susah payah. Bisa lulus SMA dengan nilai
yang cukup baik saja aku sudah sangat
bersyukur.
Aku ibarat lolos dari lubang jarum,
mengingat kondisi kejiwaanku yang kacau-
balau tidak karuan selama ini. Andai saja
aku tidak mengalami gangguan jiwa berat,
mungkin prestasiku bisa lebih baik lagi,
bahkan bukan tidak mungkin aku bisa lulus
dengan nilai tertinggi. Namun
bagaimanapun hasilnya, itulah yang
terbaik yang bisa aku capai.
Inilah akhir derita batinku di SMA, masa
yang seharusnya dipenuhi keceriaan dan
kegembiraan yang bertabur indah dan
harumnya bunga-bunga masa remaja.
Masa yang disebut paling indah dalam
kehidupan seseorang. Namun masa yang
indah ini harus aku lalui dengan derita
psikis yang teramat pedih dan menyiksa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar