Walaupun kondisi psikisku semakin
menurun, semester pertama di SMA aku
masih bisa mempertahankan tradisi
rangking atas di kelas, aku meraih
rangking 2 dari 45 siswa. Hari-hari
berikutnya kondisi kejiwaanku semakin
memburuk. Saat itu aku merasakan
sesuatu yang aneh, yang sama sekali tidak
aku mengerti. Ada semacam pergantian
suasana hati yang ekstrim antara suasana
hati yang normal dengan suasana hati
yang depresi (tertekan). Kondisi ini
berulang-ulang dan silih berganti dengan
interval waktu yang teratur. Seminggu aku
mengalami depresi, seminggu atau dua
minggu kemudian suasana hatiku kembali
normal.
Waktu itu aku sama sekali tidak tahu dan
tidak mengerti, apa yang terjadi dengan
diriku. Mengapa suasana hatiku berubah-
ubah seperti itu? Gangguan jiwa jenis apa
yang aku alami? Bagaimana cara
mengatasinya? Aku terus bertanya-tanya
dan berusaha mencari tahu apa
sebenarnya yang terjadi dengan diriku.
Selama bertahun-tahun aku berusaha
mengatasi gangguan jiwa yang aku sendiri
tidak tahu apa jenis dan namanya. Dan
selama bertahun-tahun itu pula aku terus
bertanya- tanya tanpa menemuan
jawaban yang memuaskan. Yang aku tahu
hanya bahwa aku menderita depresi.
Ironisnya, aku baru tahu jenis gangguan
jiwa yang selama ini aku derita justru
setelah aku sembuh, 12 tahun kemudian,
tepatnya akhir tahun 2001. Begini
ceritanya, pertengahan September 2001,
aku menerima kiriman beberapa
eksemplar majalah Sedarlah! (majalah non
komersial terbitan Watchtower Bible and
Tract Society of New York Inc., yang edisi
bahasa inggrisnya bernama Awake!). Tiap
bulan secara rutin aku mendapat kiriman
majalah mungil tersebut dari kantor
cabangnya di Malaysia.
Publikasi Sadarlah! edisi kedua bulan
September 2001, artikel utamanya
membahas tentang gangguan jiwa pada
remaja, dengan judul artikel Bantuan bagi
Remaja yang Depresi. Artikel
selengkapnya bisa anda lihat di sini. Salah
satu bagian artikel tersebut. Membahas
sedikit tentang gangguan bipolar atau
gangguan manic depressive. Itulah saat
pertama kali aku tahu nama gangguan jiwa
yang telah aku derita selama bertahun-
tahun. Ternyata namanya adalah
gangguan bipolar atau manic depressive.
Aku baru tahu lebih jelas dan lengkap
tentang gangguan bipolar ini 3 tahun
kemudian dari majalah yang sama,
Sadarlah! edisi Januari 2004. Mungkin
anda bertanya-tanya, mengetahui jenis
gangguan jiwa saja kok, sebegitu lamanya,
sampai 12 tahun? Seperti yang sudah saya
jelaskan sebelumnya bahwa saya tidak
pernah berhubungan (langsung) dengan
psikolog atau psikiater. Saya mencari dan
mengumpulkan informasi mengenai
penyakit yang saya derita, hanya dari
buku- buku psikologi dan dari artikel-
artikel di majalah dan surat kabar.
Gejala-gejala manic depressive ini mulai
aku rasakan dengan jelas saat aku duduk
di bangku kelas satu SMA. Awalnya siklus
depresi dan mania-nya belum terasa jelas,
baik waktu maupun intensitas
gangguannya, makin lama makin jelas
terasa episode perubahannya. Episode
depresinya berlangsung sekitar 7 hari.
Setelah itu, digantikan oleh pasangannya,
mania sekitar 14-20 hari. Kondisi ini
berlangsung dan berulang- ulang selama
sekitar 2 tahun.
Saat itu (karena ketidaktahuanku) aku
menganggap episode mania bukan sebagai
gangguan tapi sebagai kondisi normal,
karena aku merasa kondisi jiwaku seperti
normal. Aku bisa melakukan aktivitas
sehari-hariku seperti biasa, kadang
dengan semangat yang meluap-luap.
Dalam episode mania ini aku merasa lebih
berani dan percaya diri. Di sekolah aku
lebih berani berbicara. Di ruang kelas saat
kegiatan belajar-mengajar maupun dalam
forum-forum diskusi aku lebih banyak
bicara dan berani bertanya kepada guru.
Pendek kata, kondisiku seperti normal,
semuanya berjalan seperti biasa.
Aku merasa seperti tak pernah dan tak
sedang menderita gangguan jiwa. Setelah
lebih kurang 14- 20 hari berlalu, datanglah
kembali masa depresi. Ibarat siang
menjelang malam, terang berganti gelap.
Suasana siang yang terang penuh cahaya
segera berlalu, digantikan gelapnya malam
yang sepi, sunyi dan mencekam.
Semangat, gairah dan harapanku kembali
meredup, diselimuti bayangan kelam yang
menakutkan, muram dan mencemaskan.
Seperti itulah gambaran suasana hatiku
saat episode mania berakhir, digantikan
oleh episode depresi.
Berikut akan aku coba jelaskan gejala-
gejala yang aku rasakan saat episode
depresi datang, gejala fisik maupun psikis.
Gejala pisik : - Kulit kepala seperti kering -
Rambut terasa keras seperti dijambak -
Kepala terasa pening - Jantung berdebar-
debar - Tubuh terasa lelah, lemas dan
kurang gairah - Ngantuk seperti kurang
tidur
Gejala psikis : - Perasaan tidak enak -
Diliputi rasa gelisah, cemas, bingung - Jika
melihat atau bertemu seseorang (ayah,
ibu, atau saudara) ada rasa sedih tanpa
alasan yang jelas. - Kehilangan gairah dan
semangat hidup - Berpikir negatif tentang
masa lalu dan masa depan. - Sensitif dan
mudah tersinggung - Dihantui mimpi-
mimpi buruk saat tidur.
Jika episode depresi sudah datang, segala
hal tampak buruk, mencemaskan,
menyedihkan dan menakutkan. Hilanglah
segala keceriaan dan kegembiraan,
hilanglah harapan dan impian. Aku seperti
memasuki dunia lain, dunia yang berbeda
dari dunianya orang-orang yang normal.
Selama masa depresi aku merasakan
suasana hati yang pedih dan tersiksa. Tak
ada apa pun yang bisa aku lakukan
sepertinya untuk mengatasi situasi ini.
Yang bisa aku lakukan hanya menunggu
dan menunggu episode depresi ini
berakhir.
Menunggu datangnya mania. Kala mania
datang, keadaan berbalik 180 derajat.
Dunia tampak indah dan memesona.
Semua orang seperti tersenyum padaku.
Apa yang aku lihat, aku dengar dan aku
pikirkan terasa indah dan menyenangkan.
Suara alam bagai alunan musik yang
merdu, membangkitkan gairah dan
semangat. Segala macam gejolak
perasaan, seperti hilang begitu saja. Fase
mania ini biasanya berlangsung sekitar
2-3 minggu. Aku selalu cemas dan
khawatir saat hari-hari terakhir fase
mania, karena tak lama lagi aku akan
kembali memasuki suasana depresi yang
mengerikan.
Kamis, 12 September 2013
AKU HAMPIR GILA (17)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar