Kamis, 12 September 2013

AKU HAMPIR GILA (16)

Masuk SMA Penerimaan siswa baru di
SMA sudah dibuka. Aku bersama teman-
teman seangkatanku mulai mendaftarkan
diri ke masing-masing sekolah yang
dituju. SMA Negeri menjadi tujuan utama.
Aku memilih mendaftar ke SMA Negeri
Purwadadi karena lokasinya paling dekat
dari kampungku, sekitar 3 km.
Dengan NEM (Nilai Ebtanas Murni) yang
cukup tinggi, tanpa kesulitan aku diterima
menjadi siswa baru di SMAN Purwadadi.
Aku ditempatkan di kelas elite bersama
siswa lain yang rata-rata NEM-nya paling
tinggi. Maka mulailah babak baru episode
kehidupanku. Sekarang aku sudah menjadi
siswa SMA. Aku sudah memasuki usia
remaja menjelang dewasa, “masa paling
indah dalam kehidupan seseorang”.
Benarkah demikian? Mungkin benar bagi
orang lain! Tapi entahlah bagiku. Seperti
biasa sebelum kegiatan belajar-mengajar
secara resmi dimulai, terlebih dahulu
diadakan penataran P4 dan Orientasi
Pramuka (tradisi zaman ‘Orde Baru’)
sebagai masa pengenalan untuk siswa
baru. Aku paling enggan sebenarnya
mengikuti kegiatan-kegiatan seperti ini,
karena dalam kegiatan ini siswa-siswa
baru akan diuji fisik mental dan
intelektualnya oleh kakak-kakak kelas.
Kami dituntut untuk berani bicara, berani
bertindak (seringkali yang aneh-aneh) dan
tidak malu-malu. Hal terakhir ini yang jadi
masalah bagiku. Anda tahu kan aku ini
pendiam dan pemalu.
Namun, gairah hidupku yang menggelora
memasuki lngkungan baru yang penuh
harapan, mampu mengalahkan semua itu.
Perasaan rendah diri dan gejolak
perasaanku masih bisa aku kendalikan. Di
ruang kelas saat kakak-kakak kelasku
sedang memberi arahan aku selalu
berfikir, “Orang pemalu seperti aku tidak
akan bisa bicara di depan kelas seperti
itu.” Aku merasa tidak punya keberanian
untuk melakukan semua itu, aku hanya
bisa menghibur diri, “Biarlah aku pendiam,
pemalu, tak pandai bicara, dan tak pandai
bergaul, toh prestasi belajarku cukup
bagus. Aku akan membuktikan
kemampuanku pada mereka.” Kadang aku
suka iri pada siswa lain yang begitu piawai
bicara dan berdebat di ruang kelas.
Sedangkan aku lebih banyak berdiam diri.
Pada hari terakhir pelaksanaan penataran
P4, semua siswa berkumpul di lapangan
untuk melaksanakan upacara penutupan.
Tibalah saatnya panitia penataran P4
mengumumkan tiga orang siswa peraih
nilai tertinggi—sehari sebelumnya telah
diadakan tes tertulis materi-materi
penataran P4. Jantungku berdebar keras,
sepertinya semua siswa juga merasakan
hal yang sama, menunggu pengumuman
panitia. Ternyata namaku disebut sebagai
peraih nilai tertinggi ketiga, peraih nilai
tertinggi kedua dan pertama keduanya
siswi yang juga masih satu kelas
denganku. Begitulah awal pelaksanaan
kegiatan belajar mengajar di SMA, aku
sudah bisa menunjukan prestasi yang
cukup baik.
Segumpal Kekhawatiran
Di samping gairah belajar yang bergelora
sebenarnya aku memendam kekhawatiran
mengenai kondisi jiwaku yang tidak stabil,
bahkan aku merasa suasana hatiku saat
itu tidak lebih baik dari sebelumnya. Di
lingkungan pergaulan baru ini, tuntutan
akan kemampuan dan keluwesan bergaul
semakin tinggi. Inilah masa transisi yang
kritis, rentan dan penuh gejolak dalam
kehidupan seseorang. Aku khawatir tidak
mampu beradaptasi di lingkungan baru
ini, karena kepercayaan diriku yang
rendah dan kemampuan komunikasiku
yang kurang memadai.
Namun, dalam kegalauan aku selalu
berharap kondisi kejiwaanku akan
membaik, kepercayaan diriku akan pulih,
dan aku bisa menunjukan prestasi
belajarku yang bagus dan bisa
dibanggakan. Hari-hari pertama di SMA
segalanya masih berjalan normal. Seperti
biasa aku belajar menyesuaikan diri di
lingkungan baru tersebut. Lingkungan
baru yang penuh gairah, harapan sekaligus
penuh tantangan.
Aktivitas sehari-hariku di rumah dan di
sekolah sebenarnya tidak banyak
berubah. Bedanya, karena sekarang aku
masuk sekolah siang, pagi harinya aku
membantu orang tua bekerja di sawah
dan ladang serta mencari rumput untuk
domba-domba piaraanku. Di sekolah
seperti biasa aku lebih banyak menyendiri
dan berdiam diri. Datang ke sekolah aku
langsung menuju mushola yang letaknya
agak tersembunyi di bagian pojok
komplek sekolah. Sedangkan teman-
temanku yang lain lebih suka
bergerombol, ngobrol sambil bersenda
gurau di depan atau di dalam ruang kelas.
Aku sendiri lebih suka membaca buku
sambil menunggu bel tanda masuk
berbunyi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar