Kamis, 12 September 2013

AKU HAMPIR GILA (15)

Saat itu, aku baru selesai melaksanakan
ujian akhir, dulu disebut Evaluasi Belajar
Tahap Akhir Nasional (EBTANAS). Aku
tinggal menunggu pengumuman kelulusan
dan tidak lama lagi aku akan memasuki
lingkungan sekolah baru, aku akan
melanjutkan ke SMA. Setelah kelulusan
sampai menjelang masuk SMA, kondisi
kejiwaanku bukannya membaik, tapi
sebaliknya semakin memburuk.
Setelah pengumuman kelulusan,
menjelang acara perpisahan dan kenaikan
kelas bagi siswa kelas 2 dan kelas 1, untuk
mengisi kekosongan waktu (saat itu
menjelang bulan Ramadhan) sekolah
menyelenggarakan kegiatan keagamaan
Pesantren Kilat (Sanlat). Pesertanya
gabungan siswa SMP dan SMA Islam yang
masih dikelola oleh yayasan yang sama.
Sanlat dimulai sejak hari pertama bulan
Ramadhan selama seminggu. Pesertanya
berjumlah sekitar 30 orang, putra 20
orang dan putri 10 orang. Pengajar dan
penceramahnya guru-guru SMP dan SMA
tersebut. Ada juga penceramah dari
sekolah lain. Selama seminggu kami
digembleng ilmu-ilmu keislaman.
Kegiatan belajarnya meliputi diskusi,
kajian Al-Qur`an dan Hadits serta materi-
materi keislaman lainnya. Metode dan
materi pelajarannya menarik sebenarnya,
kebanyakan berupa ceramah dan diskusi-
diskusi keagamaan.
Namun, justru di sinilah masalahnya
bagiku. Aku melihat dan menilai peserta
lain—terutama siswa SMA—begitu aktif
berdebat dalam forum-forum diskusi,
beradu argumentasi dengan peserta lain
dan stap pengajar. Mereka juga tampak
akrab dengan para pengajar. Sedangkan
aku, seperti biasa merasa rendah diri di
hadapan mereka semua, karena aku
merasa tidak pandai berdiskusi dan
berdebat apalagi baradu argumentasi. Di
ruang belajar aku lebih banyak berdiam
diri. Aku juga merasa kurang mampu
bergaul dengan staf pengajar maupun
dengan peserta lain. Semakin aku pikirkan
semakin aku merasa minder. Setiap hari
yang aku pikirkan bukannya materi-materi
pelajaran agama, aku malah lebih
memikirkan ketidakmampuanku
berkomunikasi dan berdebat di forum
diskusi.
Jadilah, hari-hari di Sanlat aku jalani
dengan perasaan minder dan tertekan.
Kepercayaan diriku benar-benar anjlok.
Betapa tidak, aku yang tadinya cukup
percaya diri dengan prestasi belajarku di
sekolah, melihat kemampuan peserta-
peserta lain, terutama siswa-siswa SMA di
forum Sanlat, aku merasa tidak memiliki
kelebihan apa-apa. Aku merasa menjadi
peserta Sanlat paling pasif. Aku benar-
benar merasa menjadi peserta yang paling
bodoh. Selesai mengikuti Sanlat selama
sepekan penuh, aku memperoleh
wawasan dan pemahaman-pemahaman
tentang ilmu-ilmu keagamaan. Namun
dibalik itu aku mendapati diriku yang
merasa tersisihkan dan kurang percaya
diri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar