Kamis, 12 September 2013

AKU HAMPIR GILA (14)

Hari demi hari di sekolah, tak terasa
sudah tiga tahun aku jalani. Rasanya baru
kemarin aku memasuki gerbang sekolah
ini, masih mengenakan seragam putih
merah, diantar oleh ayahku untuk
mendaftar menjadi siswa baru. Beragam
peristiwa sudah aku alami, suka dan duka,
sedih dan gembira, tertawa dan
menangis. Seiring bergulirnya waktu,
masalah demi masalah datang dan pergi
silih berganti.
Lalu muncullah kecemasan, kekhawatiran,
kesedihan dan keyakinan-keyakinan aneh
yang tak jelas asal-usulnya, menggerogoti
pikiran dan perasaanku tanpa bisa aku
hentikan. Dengan segala macam kejadian
yang aku alami, disertai campur aduknya
gejolak pikiran, aku masih mampu
mengendalikan hidupku tetap berada di
jalurnya yang benar—setidaknya begitulah
menurut keyakinanku.
Buktinya aku masih bisa menunjukan
kemampuan terbaikku (prestasi akademis)
dan mempertahankannya sampai hari-hari
terakhir di sekolah itu. Saat pengumuman
kelulusan aku berhasil meraih NEM (Nilai
Ebtanas Murni) tertinggi dari seluruh
peserta ujian seangkatanku. Sebuah akhir
perjalanan yang cukup manis dan elegan.
Sebelumnya aku sempat khawatir, tak
akan sanggup mencapainya karena
berbagai gejolak pikiran dan perasaan
yang menderaku.
Tibalah saatnya perpisahan. Aku harus
meninggalkan sekolah tempatku dididik
dan digembleng dengan beragam ilmu
pengetahuan. Tempatku menuntut ilmu-
ilmu tentang hidup dan kehidupan.
Meninggalkan segala kenangan manis,
pahit dan getir yang tak mudah dilupakan,
bahkan mungkin tak akan pernah
terlupakan. Aku akan berpisah dengan
para guru, yang dengannya aku tak pernah
bisa akrab. Berpisah dengan teman-teman
sekolah dengan segala kenangan tingkah
polahnya yang kocak dan menghibur, yang
baik hati dan menyenangkan, atau yang
suka usil, jahil dan menjengkelkan.
Berpisah dengan teman-teman
perempuan, yang dengannya aku juga tak
bisa benar-benar akrab, meski sudah
sekelas selama tiga tahun. Aku akan
meninggalkan semuanya. Selanjutnya aku
akan menapaki jenjang pendidikan yang
lebih tinggi, SLTA (Sekolah Lanjutan
Tingkat Atas). Itu berarti aku akan
memasuki lingkungan pergaulan baru yang
lebih luas lagi, dengan problematika yang
lebih kompleks pula tentunya.
Rekan-rekan wikimu, akhir kisahku di
SMP, bukan akhir penderitaan batinku,
tapi baru merupakan awal kisah
perjalanan hidupku dengan beban dan
tantangan yang semakin berat. Gejolak
pikiran dan perasaanku makin dahsyat,
menekan dan membenamkan aku ke
dalam kubangan derita batin yang makin
dalam. Sekarang, mungkin Anda sekalian
sudah bisa memahami—paling tidak punya
gambaran — gejolak pikiran, perasaan dan
keyakinan-keyakinan aneh yang aku
rasakan. Ikuti terus lanjutan kisahnya,
kisah derita jiwaku yang sesungguhnya
baru akan dimulai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar