Kamis, 12 September 2013

AKU HAMPIR GILA (13)

Selama ini aku sudah merasa sunyi, sepi
dan cemas berada di alam pemikiran yang
tidak normal. Namun, dalam kesunyian
dan kecemasan yang mencekam itu,
masih ada tempat untuk mengadu,
mencurahkan isi hati dan memohon
pertolongan, Dialah Tuhan yang aku yakini
kehadiran-Nya. Saat berdoa di hadapan-
Nya, aku merasa ada tempat berpegang
dan berlindung. Kepada-Nya aku
menyerahkan dan menggantungkan
harapan, kondisi jiwaku akan membaik di
kemudian hari.
Namun, saat gejolak pikiranku tak
terkendali, bermacam keyakinan aneh
bertubi-tubi menghantam pikiranku tanpa
bisa aku hindari, munculah keyakinan aneh
yang sangat menakutkan. Keyakinan ini
aku rasakan sekitar 15 tahun yang lalu.
Keyakinanku kepada Tuhan seperti kabur
dan goyah. Muncul keraguan di benakku,
"Benarkah Tuhan itu ada?" Keyakinan yang
tak pernah aku rasakan sebelumnya. "Ya
Tuhan, mengapa keyakinan seperti ini
muncul dalam pikiranku? Mengapa aku
meragukan keberadaan-Mu?"
Sungguh, keyakinan tak waras yang sangat
menakutkan. Takut yang aku rasakan,
bukan rasa takut biasa seperti takut
terhadap sesuatu hal atau takut terhadap
suatu ancaman fisik. Rasa takut itu sulit
aku gambarkan hanya dengan kata-kata.
Rasa takut yang mendalam menyangkut
eksistensiku sebagai manusia beragama
yang mengakui dan meyakini keberadaan
Tuhan. Aku takut keyakinanku kepada
Tuhan itu terganggu atau bahkan hilang
sama sekali. Jika keyakinan yang sangat
berharga itu hilang, kepada siapa lagi aku
bisa berpegang, mengadu, mencurahkan
isi hati dan berdo'a. Aku seperti benda
tak berharga yang teronggok di ruang
hampa. Di sana tak ada apa pun atau
siapa pun, bahkan Tuhan pun tak ada.
Mengerikan sekali.
Aku sebenarnya tahu dan sadar,
keyakinan itu salah dan tak wajar, tapi jika
keyakinan itu muncul—kadang-kadang
hilang dengan sendirinya—aku tak kuasa
menolak dan melawannya. Keyakinan itu
begitu kuat mencengkeram pikiranku,
mengalahkan akal sehatku. Keyakinan itu
sering muncul saat aku sedang
menyendiri. Kadang muncul saat aku
sedang berdzikir atau berdoa, di mesjid
maupun di rumah. Biasanya, saat
berdzikir dan berdoa pikiran dan perasaan
terasa tenang dan tenteram. Seperti
seorang anak yang berada dalam dekapan
hangat dan penuh kasih sayang seorang
ibu. Tenang, tenteram dan aman.
Namun, setelah keyakinan tak waras itu
muncul, di mana pun aku berada, bahkan
saat aku sedang berdzikir dan berdo'a
sekalipun, kecemasan dan ketakutan
selalu menghantui pikiranku. Saat itu aku
sampai merasa takut berdzikir atau
berdo'a sendirian. "Ya, Tuhan, ke mana
lagi aku mencari tampat berpegang dan
berlindung. Ke mana lagi aku bisa
mengadu, mencurahkan isi hati dan
memohon, jika pikiranku sendiri
meragukan kehadiran-Mu."
Sekarang mungkin Anda bisa memahami
rasa takut luar biasa yang sering aku
rasakan—aku tak sanggup
menggambarkannya hanya dengan kata-
kata. Mungkin seandainya Tuhan tak
menyayangiku, keyakinan aneh itu sudah
membuatku 'GILA'. Atau mungkin Tuhan
sedang menguji kekuatan mental dan
imanku. Kalau memang semua itu sebuah
ujian, ujian yang teramat berat bagiku.
Aku hampir tak kuasa menerimanya.
Kadang aku berpikir, "Tuhan tidak adil,
memberiku ujian yang teramat berat,
melebihi batas kemampuanku." Tapi, aku
selalu berusaha menjaga prasangka baikku
pada-Nya. Aku anggap semua ujian berat
itu akan membuat mental dan imanku
semakin kuat dan kokoh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar