Selain contoh kasus perasaan berdosa
tadi, ada kasus lain yang agak berbeda
tapi masih berhubungan dengan masalah
agama. Obyek pemikiranya berbeda
namun polanya hampir sama.
Dalam ajaran Islam—juga dalam ajaran
agama lain—ada penjelasan tentang akan
datangnya akhir dunia atau hari kiamat,
saat alam semesta hancur atas
kehendakNya. Didalam Al-Qur'an (kitab
suci umat islam), tercantum mengenai
tanda-tanda akan datangnya hari kiamat.
Namun, tidak dijelaskan kapan (hari,
tanggal, bulan dan tahun) akhir dunia itu
akan terjadi. Aku sering mendengar dan
membaca tentang kiamat tersebut dari
kitab suci, ceramah para kiyai dan dari
buku-buku agama yang aku baca. Tapi
entah mengapa, tiba-tiba aku takut sekali,
jangan-jangan kiamat akan segera tiba.
Atau jangan-jangan akan terjadi besok
atau lusa. Keyakinan yang gila! Keyakinan
yang membuatku sangat takut ini terus-
menerus menghantui pikiranku.
Saat bangun pagi hari, aku sering cemas.
Aku lihat dari arah mana matahari terbit,
karena salah satu tanda akan datangnya
hari kiamat adalah matahari terbit dari
arah barat, bukan dari timur seperti
biasanya. Jika langit gelap terhalang
mendung yang hitam pekat, dihiasi kilatan
halilintar dan gelegarnya petir, aku juga
cemas dan takut, jangan-jangan hari
kiamat akan segera tiba. Coba Anda
bayangkan, jika Anda takut dunia ini akan
hancur, siapa yang bisa Anda mintai
tolong? Kecuali Tuhan, tidak ada bukan?
Tak ada tempat untuk lari, tak ada tempat
berlindung atau bersembunyi.
Rasa takut yang tak ada 'obatnya'. Seperti
itulah kira-kira rasa takut yang aku
rasakan. Takut pada keyakinan-
keyakinanku sendiri yang tak rasional.
Tapi apa yang aku takuti seperti nyata.
Anda bisa membayangkan rasa cemas dan
takut yang aku rasakan? Mengerikan
menurutku. Ada lagi keyakinan tak waras
yang akan aku jelaskan, masih soal agama.
Topik keyakinannya berbeda tapi polanya
masih sama.
Dalam ajaran Islam, anjing—termasuk juga
babi—merupakan binatang najis.
Dagingnya haram dimakan dan jilatannya
dianggap najis (kotoran yang harus
dibersihkan sesuai syariat islam). Jika
seorang muslim dijilat anjing, maka bekas
jilatanya harus dicuci tujuh kali dan air
yang pertama harus dicampur dengan
tanah sebagai media pembersih
(semacam sabun cuci), baru najisnya
dianggap bersih. Kalau tidak dicuci sesuai
syariat, maka ibadah orang tersebut tidak
syah karena badanya kotor oleh najis.
Sekarang yang menjadi obyek keyakinan
tak waras itu soal najis jilatan anjing.
Masalah sebenarnya bukan pada jilatan
anjingnya, tapi kekhawatiran yang
berlebihan terhadap najis itu. Agar lebih
jelas, silahkan simak kisahnya. “Jilatan
Anjing yang Menakutkan" Aku sering
merasa khawatir, sandal atau sepatu yang
aku simpan di depan rumah dijilat anjing
tanpa setahuku. Jika kebetulan aku
melihat ada anjing berkeliaran di halaman
rumah, aku selalu menganggap anjing itu
(pasti) telah menjilat sandal dan
sepatuku. Keyakinan tak waras itu begitu
kuat, seakan-akan anjing itu memang
betul telah menjilat sandalku. Pikiran
warasku menolak keyakinan itu, "Anjing
itu mungkin hanya lewat dan sama sekali
tak menyentuh sandalku." Terjadilah
tarik-menarik, adu argumentasi antara
keyakinan waras dan keyakinan tak waras.
Tapi akhirnya keyakinan tak waras yang
lebih kuat mengalahkan keyakinan waras.
Terpaksa aku harus mencuci sandal itu
dengan air dicampur tanah sebanyak
tujuh kali. Kejadian di atas mungkin masih
masuk akal, karena aku melihat sendiri
anjingnya berkeliaran di sekitar tempat
itu. Jadi, memang ada kemungkinan anjing
itu menjilat sandalku.
Banyak keyakinan yang lebih tidak masuk
akal yang pernah aku rasakan. Itulah
beberapa contoh keyakinan-keyakinan
aneh dan tak wajar, diantara bermacam-
macam keyakinan aneh yang aku rasakan.
keyakinan-keyakinan itu sangat menyiksa
pikiranku dan membebani serta
mengganggu aktivitas sehari-hariku di
sekolah, di rumah dan di mana pun aku
berada. Keyakinan-keyakinan itu seakan-
akan selalu mengawasi dan menguntitku
kemana pun aku pergi. Menekan dan
memaksaku mengikuti segala keinginanya.
Kadang aku merasa seperti dibelenggu,
dengan todongan pistol di kepala yang
siap deledakan jika aku tidak menuruti
keyakinanya. Gilanya lagi, aku tak kuasa
menolak atau melawan. Aku selalu
menuruti keyakinan-keyakinan tak waras
itu, walaupun aku tahu keyakinan itu
salah. Aku juga tak bisa lari atau
bersembunyi darinya. Semakin aku
pikirkan keyakinan-keyakinan itu semakin
membuatku cemas. Kadang aku merasa
seperti berada di dunia lain yang asing,
sepi dan sunyi. Di sana tak ada seorang
pun yang bisa memahami aku dan bisa
aku mintai tolong. Yang ada hanya rasa
cemas dan takut.
Diantara bermacam-macam keyakinan
aneh dan irasional yang berkecamuk
dalam pikiranku, ada satu keyakinan yang
paling menakutkan dan menyiksa
pikiranku, Keyakinan yang "meragukan
kehadiran Tuhan!" Soal keyakinan yang
satu ini akan aku bahas pada bagian
berikutnya dari kisah ini.
Kamis, 12 September 2013
AKU HAMPIR GILA (12)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar