Kamis, 12 September 2013

AKU HAMPIR GILA (11)

Di bagian ini akan aku jelaskan secara
khusus dan lebih detail tentang
keyakinan-keyakinan aneh dan tak wajar
yang aku rasakan. Keyakinan-keyakinan
aneh ini muncul karena kondisi
kejiwaanku saat itu memang sudah tak
normal karena gejala-gejala depresi sudah
merasuki jiwaku.
Keyakinan-keyakinan aneh itu kebanyakan
berhubungan dengan masalah-masalah
agama. Semua itu mungkin ada
hubungannya dengan materi pelajaran
agama (Islam) yang aku pelajari di
sekolah. Karena sekolahku adalah sekolah
swasta Islam, otomatis porsi mata
pelajaran agamanya lebih banyak dan
lebih mendalam dibanding sekolah umum.
Selain itu di sekolahku juga diterapkan—
walaupun tidak terlampau ketat—aturan,
norma dan etika pergaulan antara siswa
dengan siswa maupun antara siswa
dengan guru, yang mengacu pada syariat
Islam. Contoh misalnya: setiap siswi
diwajibkan memakai jilbab, semua siswa
dan siswi diwajibkan mengikuti sholat
Dzuhur berjamaah di mesjid sekolah.
Dalam etika pergaulan, setiap siswa
diwajibkan mengucapkan salam
keagamaan saat keluar masuk kelas atau
ruang guru, juga dianjurkan cium tangan
jika bertemu atau mengahadap guru.
Dengan penerapan syariat Islam, nuansa
religius sangat terasa di lingkungan
sekolahku.
Lalu, apa kaitanya suasana religius serta
materi pelajaran agama di sekolah dengan
munculnya keyakinan-keyakinan aneh dan
tak wajar yang aku rasakan? Sudah aku
jelaskan sebelum ini, aku kadang
menafsirkan segala sesuatu yang aku
lihat, aku dengar atau aku pelajari secara
berlebihan atau terlalu polos. Nah, seperti
itu pula saat aku menafsirkan materi-
materi pelajaran agama yang aku pelajari
di sekolah. Sementara itu, dasar
pengetahuan, pemahaman dan wawasan
agamaku masih sangat dangkal.
Selain itu, lingkup pergaulanku juga masih
sangat terbatas. Interaksi antara hal-hal
tersebut di atas, melahirkan sebuah
penafsiran dan pengamalan ajaran agama
yang sempit, dangkal, kaku dan cenderung
fanatik. Padahal penafsiran ajaran agama
yang sangat kompleks itu membutuhkan
pemahaman dan wawasan agama yang
luas dan mendalam.
Apa yang aku coba jelaskan di atas adalah
kemungkinan penyebab munculnya
keyakinan-keyakinan aneh dan tak wajar
yang berhubungan dengan masalah
agama. Namun, yang aku jelaskan tadi
adalah sebab-sebab logis dan rasional
yang bisa terjadi pada siapa saja. Dalam
kasusku sebab-sebab itu hanya
merupakan penyebab relatif, penyebab
sesungguhnya adalah gangguan kejiwaan
(depresi) yang aku derita. Karena
keyakinan-keyakinan itu belum pernah
aku rasakan sebelumnya dan baru muncul
setelah aku menderita depresi.
Jadi masalah-masalah agama hanya
merupakan obyek pemikirannya saja yang
bisa berubah-ubah sesuai situasi dan
kondisi yang terjadi di sekitarku. Agar
lebih jelas, di bawah ini akan aku ceritakan
beberapa contoh kasus keyakinan-
keyakinan irasional yang paling sering aku
rasakan, selama aku mengarungi alam
depresi yang menakutkan dan
mengerikan.
Kasus pertama adalah “Perasaan Berdosa
yang Berlebihan". Perasaan berdosa atas
suatu perbuatan yang telah dilakukan,
baik kepada Tuhan maupun kepada
sesama manusia. Perasaan berdosa yang
tak wajar ini belum pernah aku rasakan
sebelumnya.
Sepulang sekolah seperti biasa aku pergi
menggembala domba. Saat aku sedang
asyik membaca buku sambil menunggui
domba-dombaku merumput, tanpa aku
ketahui beberapa beberapa ekor domba
nyelonong ke arah kebun ubi dan
melahap daun-daun ubi muda yang hijau
menggoda. Saat aku tahu, segera aku
halau domba-dombaku menjauh dari
kebun ubi tersebut. Aku lihat bekasnya,
cukup banyak daun-daun ubi yang
dimakan sang domba nakal itu. Beberapa
saat setelah kejadian itu muncullah
keyakinan-keyakinan aneh itu. Aku
berpikir begini: "Gara-gara aku lengah,
domba-dombaku telah memakan dan
merusak kebun ubi milik orang lain. Aku
berdosa merusak milik orang lain."
Sambil menggembala aku terus
memikirkan kejadian itu. Perasaan
berdosa terus-menerus mengganggu dan
menghantui pikiranku. Karena perasaan
berdosa itu terus menghantui pikiranku,
aku putuskan akan menemui pemilik
kebun untuk meminta maaf. Pemikiran
yang tidak wajar dan berlebihan bukan?
Sore hari, sepulang menggembala aku
menemui si pemilik kebun ubi yang masih
tetangga dekat sekampung. Rumahnya
hanya terhalang beberapa rumah dari
rumahku. Dengan malu dan gugup, aku
ceritakan kejadiannya dan aku sampaikan
permintaan maaf atas kelalaianku.
Sang pemilik kebun ubi (seorang
perempuan tua) hanya tersenyum sambil
berkata setengah bercanda, "Makanya
kalau menggembala dombanya dijagain
ya, jangan teledor." Aku hanya
mengangguk malu, lalu pulang dengan
perasaan lega.
Begitulah ceritanya, bagaimana menurut
penilaian Anda?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar