Kamis, 12 September 2013

AKU HAMPIR GILA (10)

Aku masih ingat, suatu pengalaman yang
menurutku sangat memalukan dan
membuatku trauma. Di bawah ini aku
ceritakan salah satu contoh pengalaman
memalukan yang pernah aku alami.
Suatu hari saat jam istirahat, wali kelas
memanggilku untuk menghadap ke ruang
kerjanya. Waktu itu aku sudah duduk di
bangku kelas 3 SMP. Aku bergegas
menemui bapak wali kelas yang ramah
dan sederhana itu. Ternyata beliau
memintaku untuk menyimpankan uang
tabungannya di bank BRI yang lokasi
kantornya tidak jauh dari sekolah.
Sepanjang perjalanan menuju kantor bank
BRI, aku terus berpikir, "Bagaimana
caranya ya, menyimpan uang tabungan di
bank BRI, karena aku belum pernah
sekalipun masuk ke kantor bank, apalagi
melakukan transaksi?"
Kantor BRI itu berada di dalam kompleks
kantor kecamatan yang jaraknya cuma
sekitar 200 meter dari sekolahku.
Sesampainya di kantor BRI, dengan
perasaan cemas serta jantung dag-dig-dug
aku segera masuk. Di dalam ruang kantor
yang tidak terlalu luas itu aku celingukan
bingung. Ruang kantor itu terbagi tiga
ruang dengan seorang pegawai di masing-
masing ruangannya. Beberapa orang
nasabah terlihat duduk-duduk di ruang
tunggu di bagian depan ruangan. Dua
orang nasabah (ibu-ibu paruh baya)
berdiri di depan ruangan berdinding kaca,
sepertinya sedang menyimpan atau
mengambil uang tabungan.
Aku masih berdiri bingung, dengan ragu-
ragu aku melangkah maju, berdiri
disamping si ibu yang berdiri tadi. Lalu
aku sodorkan uang berikut buku
tabungannya kepada petugas bank yang
tampak sedang sibuk itu. "Dik, kalau mau
nabung, ke ruang yang sebelah sana dulu,
baru nanti ambil buku tabungannya di
sini!" kata petugas bank itu sambil
tersenyum, seraya mengembalikan buku
tabungan itu padaku.
Aduh! Bukan main malunya aku saat itu!
Darahku terasa mengalir deras ke ubun-
ubun, jantungku berdebar kencang,
wajahku terasa panas. Semua mata
sepertinya menatap ke arahku dan kakiku
terasa seperti tidak menapak di lantai.
Mungkin orang-orang yang ada di ruangan
itu melihat wajahku yang memerah.
Setelah sesaat aku termangu, aku berikan
uang dan buku tabungan itu kepada
petugas bank di ruangan sebelahnya, lalu
aku duduk menunggu giliran dipanggil. Tak
lama kemudian proses pengisian buku
selesai. Setelah mengambil buku
tabungan aku bergegas keluar dari ruang
kantor tersebut, kembali ke sekolah masih
dengan perasaan malu.
Coba Anda perhatikan, peristiwa
memalukan tadi sebenarnya bisa dialami
oleh siapa saja, bahkan mungkin dialami
banyak orang. Akan tetapi aku
menganggap peristiwa wajar dan biasa itu
sebagai peristiwa yang sangat
memalukan. Mengapa demikian? Kadang
aku bereaksi berlebihan terhadap suatu
peristiwa atau kejadian yang membuatku
gugup, bingung atau malu. Selain itu, aku
juga sering merasa khawatir berlebihan
tentang apa yang akan terjadi atau apa
yang akan dikatakan orang lain jika aku
melakukan suatu perbuatan. Apalagi
perbuatan itu baru pertama kali aku
lakukan.
Peristiwa yang aku ceritakan tadi, hanya
salah satu di antara sekian banyak
peristiwa memalukan yang aku alami.
Pengalaman-pengalaman negatif itu
lambat laun tanpa aku sadari mengendap
menjadi semacam trauma. Aku selalu
cemas dan khawatir pengalaman
memalukan itu akan terjadi lagi. Semua
itu membuatku selalu berusaha
menghindari situasi-situasi yang aku
anggap akan membuatku gugup, bingung
atau malu, ketimbang mempersiapkan
dan melatih diri untuk menghadapinya.
Pertanyaannya, apa sebenarnya yang aku
khawatirkan? Apa yang aku cemaskan?
Khawatir dipermalukan? Khawatir diolok-
olok? Atau sebenarnya khawatir dan
cemas pada ketidakmampuanku sendiri?
Di luar kegiatan belajar, aku jarang ikut
acara kumpul-kumpul dengan teman-
teman, di lingkungan sekolah maupun di
luar sekolah. Aku juga sering menolak jika
diajak berkunjung ke rumah salah seorang
teman. Aku suka minder dan malu jika
bertamu ke rumah teman, karena aku
merasa kurang tahu tata-krama dan etika
bertamu. Maklum aku cuma anak
kampung yang dibesarkan dan dididik
dalam lingkungan keluarga yang tergolong
masih agak kolot dan kurang memahami
etika pergaulan kota (modern).
Begitu pula di rumah, aku jarang sekali
bahkan hampir tak ada waktu untuk
bermain dan begaul dengan teman-teman
sebayaku. Sepulang sekolah, aku langsung
pergi menggembala sambil mencari
rumput untuk makanan domba-dombaku.
Pulang sore hari menjelang maghrib.
Malam harinya aku belajar mengaji dan
belajar ilmu-ilmu agama di langgar.
Pulang mengaji langsung belajar, lalu
tidur. Hari minggu dan hari libur pun aku
tak bisa santai atau main karena harus
bekerja membantu orang tua. Jika
dikampungku ada acara hajatan atau
hiburan, aku jarang sekali nonton. Karena
itu teman-teman sekampungku menjuluki
aku "Si Ustadz" (sebutan untuk guru ngaji
atau tokoh agama).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar