Kamis, 20 Maret 2014

kyai nur 5

Setelah mbah Hamid ruhnya pergi, lantas ganti mbah Mangli masuk. ( ingat ini hanya cerita saja,jadi boleh percaya dan boleh tidak percaya )
siapa mbah mangli mungkin bisa baca ini.

Bagi orang Jawa Tengah, khususnya daerah Magelang dan sekitarnya, nama KH Hasan Asy'ari atau mbah Mangli hampir pasti langsung mengingatkan pada sosok kyai sederhana, penuh karomah.

Menurut almarhum Wali Allah gus miek, walau Mbah Mangli memiliki banyak usaha dan termasuk orang yang kaya-raya, namun Mbah Mangli adalah wali Allah yang hatinya selalu menangis kepada Allah, menangis melihat umat dan menangis karena rindu kepada Allah.

KH Hasan Asy'ari / Mbah Mangli adalah mursyid Tarekat Qadiriyyah wa Naqsyabandiyyah (TQN). Mbah Mangli adalah salah satu tokoh yang mendirikan Asrama Pendidikan Islam di Magelang yang santrinya berasal dari seluruh Indonesia.

Meski terkenal di mana-mana, beliau selalu hidup sederhana. Dia sering diundang ke sana ke mari untuk mengisi pengajian. Pada saat mengisi pengajian, di mana pun ia dan dalam kondisi apa pun, Mbah Mungli tidak pernah memakai alat pengeras suara, meskipun jamaahnya sangat banyak, hingga berbaris dengan jarak jauh. Namun, masyarakat tetap sangat menyukai isi pidatonya dan mendengar suara beliau.

Kadang panitia sengaja menyelipkan amplop uang kepada Mbah Mangli, namun ia dengan halus menolaknya, dan biasanya beliau mengatakan: "Jika separoh dari jamaah yang hadir tadi mau dan berkenan menjalankan apa yang saya sampaikan tadi, itu jauh lebih bernilai dari apapun, jadi mohon jangan dinilai dakwah saya ini dengan uang, kalau tuan mau antar saya pulang saya terima, kalau kesulitan ya gak papa saya bisa pulang sendiri "

Mbah Mangli dikaruniai karomah "melipat bumi" yakni bisa datang dan pergi ke berbagai tempat yang jauh dalam sekejap mata. Di sisi lain, ia dikenal sebagai seorang yang memiliki kemampuan psikokinesis tinggi. Misal, dia dapat mengetahui tamu yang akan datang beserta maksud dan tujuannya.

Seperti orang yang bermaksud untuk makan jeruk bersilaturrahim di rumah Mangli. Dia menyambut dengan memberikan jeruk. salah satu wejangannya adalah: "apik ning menungsa, durung mesthi apik ning Gusti"

Langgar Linggan

Bangunan itu sederhana saja. Ukurannya tidak terlalu besar, tetapi tampak demikian kokoh dan bersih terawat baik. Di sekelilingnya ada banyak pepohonan rindang, sehingga membuat suasana terasa sejuk dan nyaman.

Warga menyebutnya Langgar Linggan. Lokasinya dekat pemukiman penduduk Desa Mejing, Kecamatan Candimulyo, Kabupaten Magelang. Tepatnya di atas tanah wakaf dari KH Khadis, tokoh ulama terkemuka di Mejing, pada dekade 1960-1970. Pada tahun 1970-an, mus h ala ini menjadi saksi sejarah syiar agama Islam yang pernah dilakukan oleh KH Hasan Asy'ari , atau lebih beken dengan sebutan Mbah Mangli dari lereng Gunung Andong wilayah Desa Girirejo, Kecamatan Ngablak, Magelang.

Pengajian rutin yang diisi ceramah keagamaan oleh Mbah Mangli, kala itu senantiasa dilaksanakan pada hari Kamis Wage, kata Ahsin (80), warga Mejing yang kerapkali menjadi panitia penyelenggara pendidikan.

Acara selapanan itu dimulai dari obsesi KH Khadis, yang ingin mengajak Mbah Mangli untuk melakukan syiar Islam di Mejing. Untuk itu, dia mengutus Ahsis dan kawan-kawan sowan ke Mbah Mangli.

Pengganti Usaha Ahsin tak membuahkan hasil. Kendati sempat menginap di sana, namun Ahsin tidak bisa bertemu dengan ulama k h arismatik tersebut. Karenanya, KH Khadis terpaksa berangkat sendiri menjemput Mbah Mangli.

Langgar Linggan itu sendiri menjadi pengganti Masjid Jami Mejing, yang hanya sempat tiga kali digunakan sebagai pusat studi Mbah Mangli. Bukan apa-apa, transfer itu hanya dilandasi pertimbangan kenyamanan pengunjung. Masjid Jami posisinya persis di tepi jalan jurusan Magelang-Candimulyo.

Praktis selalu dilewati banyak kendaraan. Lalu lalang kendaraan itu tentu saja terasa mengganggu konsentrasi peserta pengajian. Menurut KH Kholil, Takmir Langgar Linggan, ketika Mbah Mangli wafat pada 1990, pengajian Kamis Wage di Mejing turut terhenti. Beberapa tahun belakangan, tradisi yang pernah mengakar di kalangan masyarakat itu mulai dirintis kembali oleh Gus Munir, menantu Mbah Mangli.

ketika mbah mangli menerima serangan dan ancaman dari orang yang memusuhi, Dengan arif, Mbah Mangli tidak melawan berbagai ancaman dan gangguan tersebut. Ia justru mendoakan mereka agar memeroleh kebahagiaan dan petunjuk dari Allah SWT. Keikhlasan, kesederhanaan dan ketokohan ini pula yang membawa Mbah Mangli dekat dengan mantan wapres Adam Malik dan tokoh-tokoh besar lainnya.

Suprihadi merupakan keturunan Haji Fadlan atau Puspowardoyo yakni tokoh Mangli yang membawa KH Hasan Asy'ari atau Mbah Mangli menetap di Dusun Mangli tahun 1956. Setelah mengasuh majelis taklim selama 3 tahun, Hasan Asy'ari kemudian menikah dengan Hj Ning Aliyah dari Sokaraja, Cilacap.

Pada 1959, Mbah Mangli mendirikan pondok pesantren salafiyah namun tidak memberikan nama resmi. Lambat laun pondok tersebut dikenal dengan nama Ponpes Mangli dan sosok Hasan Asy'ari dikenal masyarakat dengan nama Mbah Mangli. Nama ini diberikan masyarakat karena ia menyebarkan Islam dengan basis dari Desa Mangli, Desa Girirejo, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang.

Dusun Mangli terletak persis di lereng Gunung Andong. Dengan ketinggian 1.200 dpl, bisa jadi ponpes ini adalah yang tertinggi di Jawa Tengah. Dari teras masjid, para santri bisa melihat hamparan rumah-rumah di Kota Magelang dan Temanggung dengan jelas. Pemandangan lebih menarik terlihat pada malam hari di mana lautan lampu menghias malam.

Untuk ke lokasi ini, kita harus menempuh perjalanan sekitar 40 km dari ibu kota Kabupaten Magelang di Kota Mungkid.

Bangunan pondok yang berada di tengah-tengah desa berdiri di atas lereng-lereng bukit sehingga dari kejauhan terlihat seperti bangunan bertingkat. Meski terpencil ribuan masyarakat setiap Minggu mengaji ke pondok tersebut. Mereka tidak hanya berasal dari sekitar Magelang namun juga berbagai daerah lain. Uniknya, santri yang menetap tidak pernah lebih dari 41 orang.

Pesantren Biasa di Lereng Gunung

PONDOK Pesantren Mangli merupakan salah lembaga pendidikan yang unik dan menarik. Banyak ulama besar yang dicetak oleh ponpes ini. Sepak terjang pesantren tasawuf ini tidak terlepas dari sosok sang pendiri yang memiliki banyak cerita keajaiban.

Berdasar cerita yang beredar di masyarakat, KH Hasan Asy'ari atau lebih dikenal dengan nama Mbah Mangli bisa mengisi pengajian di beberapa tempat sekaligus dalam waktu bersamaan. Ia bisa mengisi pengajian di Mangli, namun pada saat bersamaan juga mengaji di Semarang, Wonosobo, Jakarta dan bahkan Sumatera.

Ia juga tidak membutuhkan pengeras suara (loud speaker) untuk berdakwah seperti halnya kebanyakan kiai lainnya. Padahal jamaah yang menghadiri setiap pengajian Mbah Mangli mencapai puluhan ribu orang.

Menurut sesepuh Dusun Mangli, Mbah Anwar (75) warga Mangli sangat menghormati sosok Mbah Mangli. Bahkan meski sudah meninggal sejak akhir tahun 2007, nama Mbah Mangli tetap harum. Setiap hari ratusan pelayat dari berbagai daerah memadati makam Mbah Mangli yang berada di dalam kompleks pondok.

Tokoh sekaliber Gus Dur selama hidup juga acap berziarah ke makam tersebut. Ini tak terlepas dari sosok kharismatik Mbah Mangli yang menyebarkan Islam di lereng pegunungan Merapi-Merbabu-Andong dan Telomoyo. Ia juga merupakan Mursyid Tariqat Qadiriyah Naqsyabandiyah (TQN).

Mbah Mangli-lah yang berhasil mengislamkan daerah yang dulu menjadi markas para begal dan perampok tersebut. Pada masa itu daerah tersebut dikuasai oleh kelompok begal kondang bernama Merapi Merbabu compleks (MMC).

"Tantangan beliau sangat berat. Para begal membabat lahan pertanian penduduk dan mencemari sumber mata air pondok. Warga Mangli sendiri belum shalat meski sudah Islam. Kebanyakan warga kami hanya Islam KTP, " ungkap Kepala Dusun Mangli Suprihadi.

cerita di atas ku ambil dari beberpa sumber dan saya sendiri tak pernah bertemu dengan mbah mangli, tapi terus terang jaman dulu mengagumi beliau, karena banyak cerita yang beredar kalau mbah mangli itu bisa tau isi hati orang ada orang dari desaku yang sowan sama mbah mangli, dia membawa pisang setundun, dan di serahkan ke mbah mangli, tapi pisang itu di suruh membawa pulang, karena pisang curian, tetanggaku heran padahal pisang itu kan bibitnya saja yang ngambil dari bibit pisang tetangga tanpa ijin, lakok mbah mangli bisa tau, saya yang ingin sowan ke beliau malah jadi takut hehehhe, karena saya merasa banyak sekali dosa.

'' Assalamualaikum wr. wb. hm kamu sudah besar nur... gagah... berwibawa... wah bangga aku, bangga aku sebagai pendidikmu..''
'' waalaikum salam mbah...bagaimana kabarnya mbah...?''
'' ya begini nur... aku alhamdulillah sehat, dan bagaimana kabarmu, sehat kan?''
'' Alhamdulillah atas doa mbah mangli dan atas rahmad Allah, saya sehat mbah..''
'' nur....! kalau lewat magelang, mampir ke tempatku...''
'' insaAllah mbah... ''
'' itu warisan dari kakekmu di ambil ''
'' itu warisan dari kakekmu syaikh subakir, ''
'' warisannya di mana mbah ?''
'' di atas gunung sana .... bentuknya tombak yang di kubur...''
'' apa tombaknya masih mbah ?''
'' masih , di kubur, jelas jasad tombak sudah hancur, tapi ruh tombak masih, kamu ambil saja, karena hanya kamu pewarisnya yang berhak...''
'' apa ini tombaknya mbah ?'' kataku setelah ku ambil tombaknya.
'' wah ladalah, benar itu tombaknya..., wah ilmumu sangat tinggi sekali, subhanallah, aku tak salah sejak kecil mendidikmu ''
'' apa saya sejak kecil, mbah mangli yang mendidik ?''
'' iya nur, mana ada yang kuat mendidikmu, orang tuamu juga tak akan sanggup mengatasi kenakalanmu, karena titisan syaidina ali dari kayangan itu, nakalnya minta ampun....''
'' terimakasih sekali kalau mbah mangli telah mendidikku, padahal saya dulu ingin sekali sowan ke mbah mangli, tapi ndak berani karena saya banyak dosa...''
'' wah anak muda berbuat salah itu biasa nur...aku dulu juga waktu muda seenakku sendiri. yang penting itu murid nurut sama guru, seperti sopirku si salim itu, dia dulu ikut dan taat padaku, sekarang dia bersamaku,.''
'' dia sudah meninggal mbah..''
'' iya... karena taat padaku dia bersamaku di sana, jadi pesanku pada muridmu ini, yang nurut pada gurumu, ndak usah heran, kalau ada yang aneh dan ndak masuk akal, memang nur ini aku dan para wali yang lain yang mendidiknya..''
'' saya malah tak tau kalau mbah mangli yang mendidikku sejak kecil.''
'' dulu aku yang mendidikmu, sekarang aku yang hadir di majlismu....''
'' berarti mbah mangli hadir di majlisku kalau ada dzikir bersama..''
'' iya kami semua hadir, ya kami malu nur , kami yang wali rendahan gak hadir sedang kanjeng syaikh dan kanjeng nabi saja hadir, kami malu kalau tidak hadir.''
( maaf ini hanya dialog saja yang ku tulis, soal kebenarannya juga saya tidak tau..)

'' nur... tombak itu boleh kamu tancapkan di mana saja, kalau kamu menghadapi jin yang fasik, mereka akan takluk semua...''
'' iya mbah, terimakasih atas petunjuknya.''
'' soal si habib itu... aku juga tau, sudah ku sepak kalau tidak melihatnya sebagai dzuriahnya rosululloh.''
'' tak papa mbah, mungkin ini cobaan saya.''
'' we ladalah, kamu yang muda kok ya malah yang arif, dia yang tua kok ya malah sontoloyo begitu.''
'' tak papa mbah... kalau saya ndak ada ujiannya malah ndak naik-naik kelas.''
'' pantesan kamu tingkatannya tinggi sekali... la memang kamu pantas menerima tingkatan itu..., sudah ku bilang ke habib itu untuk sowan padamu, la memang hatinya ketutupan nama besarnya.''
'' ya kalau saya gak punya nama besar mbah, jika di jelek-jelekkan juga gak papa, wong gak punya nama baik, jadi ndak merasa di burukkan, jadi saya tak di rugikan sama sekali.''
'' wes jan aku isin, isin... ku kira dia akan jadi baik, kok malah memusuhimu, kamu yang aku didik juga para wali didik... ingin ku tendang kalau ndak melihat kalau dia itu dzuriahnya rosulilloh..''
'' tak apa-apa mbah... biarkan saja, itu mungkin untuk agar saya naik kelas, berarti beliau membantu saya naik kelas hehehhe''
'' ck... ck... aku bangga.. bangga bangga denganmu nur... ''
'' wah saya masih tetap manusia biasa yang tak punya apa-apa..., awak wadag kluntungan gak ada isinya.''
'' tidak anakku, jangan merendah, kamu itu sudah penuh ilmu, kanjeng syaih saja sangat sayang padamu...''
'' tidak kok mbah, aku benar tak mengerti apa-apa..., mbah mangli kan bisa melihat hatiku...''
'' aku melihat dadamu penuh ilmu ngger, malah kamu sudah di talkin langsung oleh kanjeng syaikh, oleh syaikh naqsyabandi, oleh syaikh syattari...''
'' saya tetap manusia biasa mbah... dan saya ini tidak berpura-pura merendahkan diri..''
'' makanya para guru silsilah pada menyukaimu, itu yang dari palembang, syaikh sambas ingin menemuimu, sekali-kali di panggil ngger, banyak yang ingin memberikan ilmu, kamu terima ilmu dari mereka, agar agama ini bisa di hidupkan ...''
'' iya mbah...'' ' '' oh ya soal titisan kayangan dan anak kayangan itu sebenarnya bagaimana to mbah ?''
'' kamu itu anak turun dewi nawang wulang, berarti kamu itu turunan kayangan, dan kamu juga ketika ali, dari kayangan di buang ke dunia masuk ke perut ibumu, jadinya kamu ini... ya itu memang kalau di ceritakan ya aneh ngger, tapi itu kenyataannya, kamu juga turunan raja raja jawa, prabu Brawijaya, nanti kamu pergi saja ke kayangan suroloyo, prabu brawijaya bisa kamu panggil dari sana..., ''
'' kok kemana-mana darah yang mengalir kepada saya to mbah..?''
" yo memang kamu itu unik, aneh... ya kalau di ceritakan juga tak akan banyak orang percaya... karena itu hal yang sulit di terima akal, tapi kamu kan merasakan sendiri, apa kamu pernah belajar ilmu ini itu, nyatanya kamu punya banyak ilmu, yang tak habis-habis...''

aku hanya manggut-manggut, mendengar wejangan mbah mangli, yang pembawaan suaranya keras kecil cementing, dan lincah penuh semangat.. sampai beliau meminta diri

Tidak ada komentar:

Posting Komentar