Senin, 02 Desember 2013

Cerita Pesugihan Part II

Seminggu yang lalu saat saya sedang mudik ke Madiun, ayah saya yang saat itu sedang
mengemudi mulai membicarakan kenangan masa kecil beliau di kampung halamannya. Beliau
bercerita tentang kehidupannya saat masih kecil sampai beranjak remaja dan hijrah ke Malang,
kota dimana kami sekeluarga tinggal saat ini. Saat beliau menceritakan masa-masa SMA nya,
ayah saya teringat akan cerita yang pernah diceritakan kepada beliau dari guru agamanya saat SMA. Cerita ini saya tulis disini tanpa
menambah atau mengurangi apa yang ayah saya ceritakan kepada saya.Para pembaca boleh percaya atau tidak terhadap cerita ini tapi saya perlu menegaskan beberapa hal yang menjadikan cerita ini terpercaya keasliannya. Satu, saya mendengar cerita ini dari ayah sendiri yang beliau selalu jujur bila berkata dengan saya. Dua, ayah saya mendapat cerita ini dari guru agamanya sewaktu beliau SMA (mana ada guru agama yang membohongi muridnya sendiri).
Tiga, saya berani bersumpah cerita ini tidak saya rekayasa sendiri ataupun saya peroleh dari media massa manapun. Baiklah berikut ini
ceritanya:
Di tahun 50-60 an ada kakak beradik yang hidup
di salah satu desa di Madiun. Suatu hari sang kakak mengajak adiknya untuk mencari pesugihan, akan tetapi sang adik dengan tegas
menolaknya. Karena tidak dapat dukungan dari sang adik maka berangkatlah dia mencarinya.
Setelah berhasil mendapat pesugihan itu sang kakak hidup bergelimang harta, sedangkan sang
adik hidup seperti semula, dan sejak mengetahui kakaknya menggunakan pesugihan ia tidak
pernah lagi pergi ke rumah kakaknya, padahal mereka hidup di desa yang sama. Bertahun-tahun kemudian sang kakak jatuh sakit keras yang setiap hari bertambah parah. Sang adik sudah mengetahui kakaknya sakit mulai dari awal sampai saat parah, tetapi dia tidak pernah sekalipun menjenguk kakaknya. Yang
dilakukannya setiap hari selama kakaknya sakit menjalani kehidupannya sehari-hari dan
mengasah sebilah pedang. Sampai suatu hari saat sang kakak seperti sedang sakaratul maut, adiknya berlarian ke sana-sini di jalan desa dan di depan rumah kakaknya dengan mengayun- ayunkan pedang. Orang-orang di desa itu pun menganggap dia sudah gila. Akhirnya sang kakak meninggal dunia. Orang-orang desa yang bertahlil di rumah almarhum diminta sang adik untuk terus
bertahlil setiap malam selama 40 hari, ini tidak biasa dengan adat orang Jawa yang biasanya menggelar tahlil hanya 7 hari sesudah kematian seseorang. Namun di hari ke 40 ada yang aneh, yaitu sang kakak yang sudah meninggal dan dikubur selama 40 hari tergeletak di depan rumahnya dengan keadaan membiru seperti
mayat, tetapi masih hidup dengan kondisi yang lemah.Atas izin keluarga dan permintaan sang adik, kuburan yang seharusnya mengubur sang kakak pun dibongkar dan ternyata hanya berisi kain kafan dan batang pohon pisang. Setelah itu
warga yang terheran-heran pun mendapat penjelasan dari sang adik, bahwa saat ia berlarian kesana kemari dengan mengayun-
ayunkan pedang tempo hari, itu bukan tanpa maksud tetapi ia melihat segerombolan jin yang
membawa sosok kakaknya secara paksa, karena itu ia melawan jin itu dengan pedang. Dalam
peristiwa itu orang-orang desa hanya bisa melihatnya saja tanpa melihat gerombolan jin itu. Sedangkan sosok sang kakak sedang sakaratul maut yang dilihat para warga hanyalah tipu muslihat para jin.

1 komentar: