baru hari ketiga aq ditempatkan di desa terpencil
ini, kampung mayit, terisolasi dari keramaian
karena letaknya di lereng gunung. Tugas
pertamaku setelah lulus medical school, memang
aq ingin mengabdi di tempat2 terpencil.
Seharian hujan yg tak henti, sudah jadi gerimis
kecil sejak sore. Malam ini kulewatkan dgn
membaca novel dekat lampu minyak, krn listrik
desa yg memang sering mati lampu.
Ditengah sepi, ketukan lirih pintu depanku
terdengar menggelegar. Hmm.. siapa ya hujan2
begini.. Kulihat seorang gadis yg basah kuyup
tanpa payung, tapi terlihat tak peduli. “Masuk
dik..”
Tak terduga, tangannya menangkap lenganku
“Tolong Dok, tolong ibu..” suara lirihnya.. tapi yg
mengagetkanku adalah betapa dinginnya telapak
tangan si gadis ini, kasihan mungkin kelamaan di
hujan..
Buru2 kuambil payung & tas perlengkapan
dokterku, mengikuti si gadis yg udah duluan
berjalan tanpa menungguku. Wajahnya cantik,
mungkin sekitar 15thn, meski ada yg terasa
aneh, mungkin parasnya yg sama sekali tanpa
ekspresi, juga nada bicaranya yg lirih, lembut
dan hampir tanpa intonasi..
Kita berdua berjalan di kegelapan & kesunyian yg
mencekat, selain suara gerimis yg monoton.
Bahkan gardu ronda yg biasanya melantunkan
lagu dangdut yg kubenci, malam ini rasanya
pengen banget aq mendengarnya utk memecah
sunyi.
“Masih jauh, dik ?” tanyaku, dia hanya menjawab
dengan gelengan..
“Siapa namanya dik?”.. lagi2 tak ada jawaban..
mungkin dia kalut, ingin segera menolong
ibunya yg sakit.
akhirnya sampai juga kita dirumahnya. Dari
cahaya rembulan yg terseliput awan, jelas
kulihat rumah ini berdiri sendiri tanpa tetangga
kanan kiri. Ah semoga saja aq bisa mengatasinya,
tanpa bantuan orang lain, krn dari tadi nggak
lihat ada seorangpun di perjalanan.
Si gadis mendorong pintu depan yg berdecit,
kelihatannya rumah tua ini kurang terurus. Bau
di dalam rumah jg bau udara yg tidak segar. Tapi
aq yg paling takjub adalah barang yg nggak ada
di seluruh rumah: furniture.. nggak terlihat ada
kursi tamu, meja atau apapun. Hanya dipan
tempat tidur sederhana di tengah ruangan
persis. Lampu minyak yg terletak di lantai,
sesekali tertiup angin membuat bayang2 terliuk2
aneh & agak mengerikan.. Atau memang daya
khayalku mulai berpikir yg aneh2..
Tanpa bicara sepatahpun, si gadis setengah
menyeretku ke tempat tidur yg disitu tergeletak
ibunya yg sama sekali tak bergerak, bahkan
dadanya pun tak terlihat naik turunnya
pernafasan. Wajahnya yg putih pucat,
menatapku, matanya sesekali berkedip. Secara
refleks kurasakan temperatur di dahinya.
Terkesiap aku krn dinginnya temperatur beliau,
buru2 kukeluarkan stetoscope dari tas, tapi jg
tak kudengar detak nadi.. Ah masak sih
peralatanku rusak. Akan kusuntikkan cairan
nutrisi, krn aq khawatir badannya yg pucat spt
mayat ini pasti tak mendapatkan gizi yg cukup.
Setelah dgn susah payah kusiapkan dosis di sinar
lampu yg redup ini, kusuntik lengan kanannya.
Bersamaan dgn ini, terasa angin dingin menyapu
ruangan & mematikan lampu satu2nya yg
menerangi ruang. Panikku mulai merasuki akal
sehatku. Kutumpahkan tasku, krn aq tau ada
senter kecil disitu. di tengah kekalutan,
kuarahkan senter ke ranjang si ibu, tapi yg
kulihat hampir membuatku pingsan.
Jarum suntikku masih tertancap di gundukan
kuburan. Aku yg tadinya duduk di pinggiran
dipan si ibu, skrg posisiku hampir memeluk
kuburan. Dan aq tidak lagi berada di dalam
ruangan rumah, tapi di tengah areal kuburan
luas dan tak terurus, dgn suasana gerimis begini
terlihat semakin mengerikan. Ada tulisan di batu
nisan yg kelihatan sudah usang, tapi aq sudah
kehabisan keberanian.. Tanpa memasukkan
peralatanku kembali ke tas, hanya kuambil
senter & berlari ke arah acak, krn aku sendiri
tak yakin arah kemana utk kembali ke kampung.
Bbrp pemuda yg lagi ronda akhirnya mendengar
teriakan minta tolongku. Setelah bbrp orang
menenangkanku dengan teh manis & handuk
pengering hujan, pak RT mulai bercerita. Konon
ada seorang ibu yg waktu itu sakit keras. Si gadis
satu2nya harus menempuh jarak jauh utk
mencari pertolongan dokter krn letak desa yg
terpencil ini. Tapi si ibu menemui ajalnya tanpa
sempat mengucapkan kata perpisahan pada si
gadis tunggal. Kesedihan meliputi si gadis ini yg
akhirnya mengakhiri nyawanya dgn bunuh diri.
Sejak itu, tiap ada dokter baru yg bertugas di
desa, si gadis ini kerap mendatangi utk meminta
tolong.
Mungkin aneh, tapi di benakku, aq ingin juga utk
bertemu kembali dgn si hantu gadis & ibu ini.
Aq nggak akan bisa membantu apa2, tapi paling
tidak ingin kuyakinkan bahwa si ibu tak
tertolong, bukan salah si gadis. Tapi hari2
berikutnya si gadis tak kunjung menampakkan
dirinya..
Jumat, 25 Oktober 2013
( cerita misteri ) Tolong Ibuku
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar