Kamis, 24 Oktober 2013

Cerita Pesugihan

jika anda akan menuju pagaden-pamanukan-jalur pantura
subang, maka anda akan melewati jalan raya Otto
Iskandar Dinata (Otista/Lio) disana ada bangunan megah
yang telah di ubah menjadi Taman kanak-kanak, dimana
mahes sendiri yang hampir menjadi tumbal dari pemuja
setan yang dulu menempati rumah itu.
Hari itu pertengahan tahun 1999, mahes main di rumah
teman di seberang jalan raya. Saat berangkat tidak terjadi
apa-apa karena saat itu mahes menyebrang jalan yang
bukan di depan rumah sang pemuja setan itu. namun
ketika pulang mahes malah menyebrang jalan di depan
rumah itu. saat itu ada sebuah mobil angkot yang di
tinggal sopirnya untuk membeli rokok, mahes menyebrang
melewati belakang angkot itu. tiba-tiba angkot tanpa sopir
itu berjalan mundur menuju mahes dengan cepat,
padahal jalanan disana tidak menurun.
Mahes tesangkut di bagian belakang mobil itu dan terseret
hingga beberapa meter,tubuh mahes masuk hingga leher
ke bawah mobil yang sedang berjalan mundur. saat
terseret inilah mahes melihat bola putih melayang seperti
sedang menghadang bola hitam yang akan menuju mahes.
Semua orang disana panik melihat mahes terseret seperti
itu, dan entah bagaimana caranya mahes sudah di rumah
sakit. Pergelangan kaki kanan patah, tangan luka-luka.
Disamping mahes ada ibu yang sedang menangis.
Tapi bukan itu cerita yang sebenarnya……..
Setelah sebulan kejadian itu, luka-luka mahes sudah
sembuh. Hanya pergelangan kaki yang tak bisa di
luruskan (hingga sekarang jalan mahes jadi aneh, tapi
bukan pincang. Kaki kanannya kalo jalan ga bisa lurus,
pasti bengkok ke arah kanan).
Suatu malam, mahes merasa sesak, panas, dingin, takut.
Yang mahes lakukan hanya mengeluh kalo mahes merasa
takut. Sontak ibu kaget, langsung memeluk dan berdo’a.
Ternyata beliau melihat sosok tinggi besar sedang melihat
tajam ke arah mahes yang sedang terbaring. Hingga tak
terelakan sosok itu merasuki tubuh mahes.
Ibu berteriak meminta pertolongan para tetangga, di
rumahpun ribut. Ada tetangga yang mencari ayah mahes
yang saat itu sedang berdagang, ada tetangga yang ikut
berdo’a, adapula yang mengaji. Hingga ayah pulang,
beliau berusaha untuk mengeluarkan mahluk itu dari
tubuh mahes namun sia-sia. Selama 4 hari 3 malam
mahes di rasuki, selama itu pula tak henti-hentinya
lantunan ayat suci mengalun . hingga uwa dan sodara-
sodara dari ibu yang lain merasa kesal campur miris
karena selama itu mahes tidak makan tidak minum.
“aing cape-cape nyieun cilaka ieu budak, piraku aing teu
bisa mawa balik?. Aing moal kaluar saacan aing bisa mawa
balik ieu budak. Ieu budak kadaharan aing bulan ayeuna…
hahahahaha”
Jika di terjemahkan:
“aku sudah membuat celaka anak ini, masa aku tak bisa
membawanya pulang? Aku takkan keluar sebelum aku bisa
membawanya pulang. Anak ini adalah makanku untuk
bulan sekarang. Hahahahahaha……..”
Kata-kata itu terus diucapkannya.
“aku sudah tak tahan melihatnya, kasian mahes. Jika terus
seperti ini bisa-bisa besook ia meninggal” ayah sudah
terlalu khawatir dan putus asa
“ya sudah, ini satu-satunya ideku. Bawa semua al-qur’an
yang ada di masjid, lalu tutupi seluruh tubuhnya dengan
semua al-qur’an itu dari ujung kepala hingga ujung kaki
jangan sampai ada celah sedikitpun.” Uwa menjawab
kegelisahan ayah, meskipun beliau sendiri tak yakin.
Selang beberapa menit, semua al-qur’an itu sudah
menutupi tubuh mahes. Hasilnya mahluk itu meronta-
meronta dan keluar tak lama kemudian.
“bu… mahes lapar. Ada nasi gak?? Mahes juga haus.” Aku
berkata dengan polos. Rasanya lapar dan haus tak
tertahan, lemas, lelah.
“alhamdulillah……..” semua bersyukur.
Ibu menangis, memeluk dan berkata
“kamu pengen apa nak??? Akan ibu buatkan.”
“mahes pengen daging ayam sama semur jengkol.” Mahes
menjawab dengan polos. (sampe sekarang juga itu semur
jengkol masih suka.. hehehehehehe)
Semua tertawa dan berakhir bahagia.
—oOo—
pagi di pertengahan bulan febuari 2010.
“esa… ayo sarapan dulu sebelum berangkat.” Ibu
menyuruhku dengan lembut
“iya bu…” aku segera bergabung dengan ibu . sedangkan
ayah masih tertidur karena baru pulang berdagang saat
subuh tiba.
“kamu masih ingat nak?? Saat kamu hampir di tumbalkan
oleh buta ijo dulu. Yang gara-gara kamu nyebrang dekat
rumah besar di Lio itu?? kamu masih ingat kan siapa
pemilik segaligus pemuja setan itu??” ibu terus bertanya
membuka obrolan pagi itu sambil mengambilkan nasi dan
lauk-pauknya
“iia bu, esa ingat.. memang kenapa??” aku menjawabnya
sambil mengunyah.
“semalam ibu bermimpi bekerja sebagai pembantu di
rumah itu, saat itu ibu seperti menemukan sebuah album
foto berisikan orang-orang dengan wajah yang hancur
mengerikan. Di bawahnya ada tulisan dari tinta emas yang
ibu sendiri tidak mengerti , diakhir album itu ada foto
pemilik rumah itu dengan wajah yang mengerikan, tersirat
ekspresinya yang begitu memilukan” ibu menjelaskan
panjang lebar.
Aku hanya mengangguk dan menjawab
“mungkin sesuatu akan terjadi padanya”
Seminggu setelah mimpi itu, terdengar kabar jika pemilik
rumah sekaligus pemuja setan itu meninggal di kamarnya
sendiri. Ada bekas cekikan di lehernya. Hampir setahun
rumah itu di kosongkan, sedangkan istri dan anaknya
pindah. Harta yang begitu melimpah hilang,
perusahaannya bangkrut. Hingga anak dan istrinya
sekarang harus berdagang es di pinggir jalan untuk
memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar