Oleh : Maya Novarini
Banyak anak perempuan yang harus mengorbankan hak-
haknya demi mendapatkan pendidikan setinggi cita-
citanya. Malala Yousafzai, aktifis muda yang melalui
diplomasi media berjuang gigih mensosialisasikan
pentingnya pendidikan bagi perempuan. Ketika berumur
15 tahun dia ditembak dari jarak dekat di bagian kepala
dan leher oleh kelompok Taliban. Singkatnya, Malala pun
pulih dari masa kritis dan kembali melanjutkan
perjuangannya di luar negerinya.
Sayang sekali, di Indonesia sendiri. Ada gadis-gadis belia
yang harus berjuang mendapatkan pendidikan, walaupun
akhirnya sebagian menyerah ditelan tekanan hidup untuk
bekerja. Ada yang menjadi pembantu rumah tangga,
buruh, sampai PSK. Akhirnya mereka menepiskan mimpi-
mimpi mereka memperbaiki kesejahterannya dan keluarga
karena keterbatasan yang ada.
Yang paling disayangkan adalah, gadis-gadis yang cukup
mampu menembus akses pendidikan baik yang
konvensional ataupun online, informal atau formal. Akan
tetapi mereka memutuskan untuk tidak belajar lagi, ini
tidak semata2 berarti berhenti sekolah, tapi bisa juga
menutup kontak dengan media pengetahuan lain, buku,
koran, bahkan diskusi intelektual. Sebagian karena merasa
tidak tertarik, padahal ketertarikan mereka pun
dipengaruhi oleh lingkungan yang dipilihnya sendiri.
Seandainya ia memilih lingkungan berbeda, mungkin
mereka memiliki ketertarikan yang berbeda pula. Namun,
bagi sebagian wanita, mereka tidak lagi belajar karena
terlena kesibukan pasca menikah, alibinya menjadi ibu
dan istri yang baik. Padahal saya sering lihat wanita-
wanita cerdas yang menjadi ibu dan istri tapi juga tetap
mengasah ilmu baik dalam platform online ataupun
offline, untuk institusi atau pribadi.
Kadang heran juga melihat sebagian wanita lain tidak
belajar lagi karena sibuk menghabiskan waktu untuk
bergaul, nongkrong, dugem. Uang yang mereka miliki
digunakan untuk membeli baju, kosmetik, handphone
baru, laptop baru, cicilan mobil, sisanya membiayai life
style dugem sana sini.
Bukannya menjadi ibu, istri atau sosialita itu tidak baik.
Perspektifnya adalah, jangan sampai aktivitas-aktivitas
tersebut mengesampingkan pendidikan dalam tangga
prioritas, dari yang ada menjadi tidak ada, dari urutan 1
jadi 5, dari urutan 5 jadi urutan ke 100000000.
Ingatlah perempuan, hargailah kemanusiaan. Di luar sana,
teman-teman perempuan kita berjuang mempertaruhkan
nyawa demi pendidikan, sementara kita tidak
memanfaatkannya. Justru menjual pendidikan demi
kenyamanan hidup yang semu. Mereka mungkin tidak
merasakan dampaknya jauh dari pendidikan, karena
mereka berada di lingkaran sosial yang berisikan orang-
orang dengan interest yang sama. Jangan kaget, kalau
pergi dari comfort zone, mereka akan merasa dan
dipandang bodoh. Tidak bisa berbahasa inggris, tidak
berpengetahuan, dogmatis tapi tidak menjalankan ibadah
dan tidak berkepedulian sosial. Baju kalian bagus, rambut
kalian pun juga tertata baik, kulit kalian bersih terawat,
make up kalian menyempurnakan kecantikan fisik. Ya
segitu aja kualitasnya…. begitu diajak ngomong, krik..
krik.. krik… cuma ada jangkrik di dalam kepalanya.
Hampir sebagai besar perempuan akan memilih menjadi
ibu. Dan harusnya itu mengingatkan kita sebagai
perempuan untuk tidak berhenti belajar. Karena seorang
ibu yang terdidik akan siap membesarkan generasi cerdas
yang akan mencetak sejarah melalui kontribusi positifnya.
Walaupun saya tidak ingin menyarankan untuk kita
mendengarkan apa kata orang, tapi berhubung
perempuan adalah makhluk yang cenderung kompetitif
dan narsis, maka perspektif ini perlu juga dipegang.
Bahwa nilai kecantikan itu relatif. Sementara kecerdasan
itu mutlak dan objektif. Artinya, orang lain dapat menilai
Anda jelek, dan yang lain menilai Anda cantik. Tapi ketika
Anda dinilai cerdas, kemungkinan besar, semua orang
akan melihat karisma yang sama.
Minggu, 13 Oktober 2013
Cantik itu biasa, Cerdas Baru Luar Biasa
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar