Ada beberapa mitos dan juga fakta yang perlu
menjadi catatanku dalam menjalankan
homeschooling.
Semua tulisan ini merupakan copy paste dari 2
link yang sudah kusebutkan sumbernya.
Gambar diambil dari sini
Tulisan ini diambil dari sini http://
www.bincangedukasi.com/mitos-mitos-seputar-
homeschooling.html
>> Siswa homeschooling tidak bersosialisasi.
Hmm, seandainya saya diberi Rp 10.000,-
setiap kali ada yang bertanya soal yang satu ini,
mungkin saya sudah menjadi jutawan sekarang.
Sosialisasi dalam homeschooling adalah
keberatan yang paling sering diajukan dan
selalu ditanyakan pertama kali, padahal ini
yang paling mudah dibantah. Mitos ini muncul
dari ketidaktahuan tentang kegiatan
homeschooling sebenarnya. Banyak orang
berasumsi bahwa dalam homeschooling anak
tidak keluar dari rumah dan hanya belajar
sendiri atau berdua orang tuanya mulai dari
pagi sampai sore. Kalau seperti itu ya pasti si
anak jadi kuper. Pada kenyataannya, siswa
homeschooling lebih sering mengadakan studi
lapangan kapan pun mereka mau. Saat
waktunya belajar sejarah, mereka pergi ke
museum dan berinteraksi dengan komunitas
pecinta sejarah. Ingin belajar bisnis? Sambil
makan di McDonald’s dan berbincang dengan
manajernya dan para karyawannya saja. Kalau
olahraga atau musik? Ikut klub donk… atau
urunan menyewa guru privat bersama para
homeschooler lain. Siswa sekolah formal
berinteraksi hanya dengan teman-teman yang
seusia dan dikumpulkan dalam satu kelas
seharian. Kalau siswa homeschooling? Dengan
banyak orang dari segala lapisan usia dan
pekerjaan! Banyak riset yang membuktikan
bahwa siswa homeschooling dapat
bersosialisasi sebaik, atau bahkan lebih baik,
dari para sebayanya di sekolah formal, dan
mereka menunjukkan lebih sedikit masalah
perilaku pula.
>> Siswa homeschooling tidak punya teman.
Mirip dengan mitos pertama, mitos yang satu
ini berasumsi bahwa rekan sebaya siswa
homeschooling yang bersekolah formal
memiliki banyak teman sedangkan mereka
tidak. Ok, coba kita jujur dulu dalam melihat
fakta. Yang bisa didapat seorang anak dari
“pertemanan” di lingkungan sekolah formal
sebenarnya lebih banyak berupa “peer
pressure”. Anak-anak ini saling memberi
tekanan agar mereka bisa menjadi sama antara
satu dengan yang lain. Silahkan baca blog post
yang berjudul “Akhir Masa Kanak-kanak” untuk
penjelasan mengenai pemanfaatan peer
pressure dalam sistem pendidian untuk
membentuk manusia-manusia seragam yang
mudah dikendalikan. Seseorang bertanya pada
orang tua homeschooler, “Anak-anakmu tidak
punya teman dan tidak bisa belajar dari anak-
anak sebayanya.” Orang tua homeschooler ini
pun menjawab, “Coba kamu pergi ke sekolah
formal saat siswanya beristirahat, perhatikan
mereka, dan tunjukkan padaku, sifat-sifat mana
dari mereka yang pantas ditiru anakku.” Benar
juga. Lalu orang tua ini ditanya lagi, “Tapi
anakmu tidak akan belajar berkompetisi seperti
kalau di sekolah formal.” Ia pun menjawab lagi,
“Anakku tidak berkompetisi dengan orang lain,
namun ia berkompetisi dengan target performa
yang ditetapkannya sendiri. Kalau dengan orang
lain, ia berkolaborasi.” Lagi-lagi jawaban tepat.
Sungguh tidak rugi siswa homeschooling
kehilangan “pertemanan” dalam lingkungan
sekolah formal bila pada kenyataannya ia bisa
berteman dengan teman-teman dari klub
olahraga, remaja masjid, paduan suara gereja,
kelas musik. Ia pun bisa berteman dengan
orang-orang dari segala lapisan usia dan
pekerjaan seperti staff museum, manajer
restoran, dan lainnya.
>> Homeschooling sangat mahal.
Jelas masalah uang adalah pertanyaan
berikutnya yang muncul setelah pertanyaan
pertama bisa dijawab dengan mudah.
Sebenarnya mungkin ini adalah pertanyaan
terpenting bagi banyak orang, hanya gengsi
saja kalau ditanyakan pertama. J Faktanya,
homeschooling bisa mahal dan bisa murah.
Banyak artis dan anak dari kalangan orang tua
berada yang bisa menyewa guru-guru privat
dan alat-alat pembelajaran yang mahal buat
belajar di rumah (walaupun ini sebenarnya
cuma memindah sekolah ke rumah, bukan
homeschooling murni). Namun ada juga para
orang tua yang membentuk komunitas
homeschooling bagi anak-anaknya dan berbagi
biaya. Malah di daerah Pasar Minggu ada
komunitas homeschooling buat anak orang
miskin. Masalah biaya sangat tergantung dari
bujet dan kreativitas orang tua serta
komunitas. Yang jelas, value for money dari
homeschooling seharusnya lebih tinggi
daripada mengeluarkan biaya untuk sekolah
formal.
>> Siswa homeschooling pemalu dan tidak
pernah keluar rumah.
Ok, ini sebenarnya sudah terjawab di mitos
pertama. Saya akan jelaskan lebih jauh. Soal
pemalu, jelas tergantung dari si anak. Di
sekolah formal pun ada anak pemalu.
Sedangkan masalah tidak pernah keluar rumah,
pada dasarnya ini salah. Bagi siswa
homeschooling seluruh dunia ini adalah ruang
kelas. Proses belajar bisa dilakukan di mana
pun dan kepada siapa pun. Tidak seperti rekan-
rekannya di sekolah formal yang “didatangi”
oleh guru, siswa homeschooling terbiasa
“keluar dan mencari jawaban”. Mereka akan
pergi ke museum, kebun binatang, restoran,
tetangga, bahkan ke mall dengan tujuan untuk
belajar. Mereka akan berinteraksi dengan
banyak kalangan dari berbagai usia dan
pekerjaan, dan mereka akan banyak bertanya
dan tidak menunggu diterangkan. Saya pernah
mendengar tentang anak homeschooling yang
masuk universitas negeri dan terheran-heran
dengan sikap teman-temannya yang sangat
jarang mengajukan pertanyaan di kelas
sedangkan ia sendiri sudah biasa bertanya.
Tunggu dulu, apa saya tidak salah tulis nih?
Apa benar ada anak homeschooling masuk
universitas negeri? Silahkan lanjutkan ke mitos
berikutnya.
>> Siswa homeschooling tidak bisa masuk
perguruan tinggi.
Mitos yang dulu bisa jadi benar. Salah satu
yang membuat homeschooling kurang
berkembang di Indonesia adalah dukungan
pemerintah. Tapi itu dahulu, saat ini
pemerintah sudah mulai gencar mendorong
perkembangan pendidikan alternatif. (Sekaligus
sebagai penegasan bahwa saya bukan oposisi
buta yang asal menganggap semua yang
dilakukan pemerintah itu buruk.) Masuk
perguruan tinggi bisa dilakukan oleh siswa
homeschooling yang telah mengikuti ujian
persamaan Paket C. Sudah banyak siswa
homeschooling yang masuk ke perguruan
tinggi. Di Inggris, rata-rata siswa komunitas
homeschooling yang melanjutkan ke perguruan
tinggi tiga kali lebih besar daripada siswa
sekolah formal. Bukan hanya masuk perguruan
tinggi, siswa homeschooling bahkan bisa masuk
ke sekolah dasar maupun sekolah menengah
formal di tingkat mana pun mereka mau.
Model ini dinamakan multiple entries and
multiple exits. Tentu ada prosedur-prosedur
yang harus dilewati. Siswa homeschooling juga
bisa bekerja sama dengan sekolah formal untuk
menjadi “siswa paruh waktu” di sekolah
tersebut. Misalnya, pada hari Senin sampai
Rabu ia homeschooling, dan pada hari Kamis
dan Jumat ia ikut bersekolah di sekolah formal
dekat rumahnya. Ya, ini semua sudah
dimungkinkan di Indonesia. Tinggal kembali
kepada orang tua untuk melihat semua opsi
yang ada dan memilih yang terbaik untuk
anaknya.
>> Orang tua homeschooler harus memiliki
sertifikat pengajar.
Banyak orang tua yang takut memilih
homeschooling bagi anaknya karena merasa
tidak bisa menjadi pengajar yang baik,
walaupun sebenarnya mereka telah mengajari
anaknya banyak hal setiap harinya saat
membesarkan mereka. Namun memang tidak
perlu kita menjadi pengajar yang ahli untuk
membantu pendidikan anak. Banyak opsi yang
bisa dipilih oleh orang tua yang merasa tidak
bisa mengajar, seperti memilih kurikulum yang
sudah disesuaikan dengan gaya belajar anak
dan gaya mengajar dan preferensi keterlibatan
orang tua. Anak-anak homeschooler juga bisa
dikumpulkan dalam suatu komunitas untuk
disewakan guru privat bersama untuk subjek
tertentu. Seringkali orang tua malah cukup
menjadi pendamping bagi anaknya, sedangkan
anaknya bisa mengajari dirinya sendiri dengan
berbagai sumber pembelajaran yang
bertebaran di internet, perpustakaan,
telekursus, dan lainnya. Orang tua juga bisa
mencari manual bagi orang tua homeschooler
dalam mendidik anak-anaknya.
>> Siswa homeschooling tidak mendapat
kegiatan ekstrakurikuler yang cukup.
Salah besar! Homeschooling adalah metode
pendidikan yang sangat efisien. Proses
pembelajaran yang dilakukan selama beberapa
jam pada homeschooling bisa lebih produktif
daripada waktu yang sama di sekolah formal.
Artinya, siswa homeschooling akan memiliki
lebih banyak waktu untuk menyalurkan hobi,
mengembangkan bakatnya dan melakukan hal-
hal lain yang mereka suka. Mereka bisa
mengikuti kegiatan musik dan olahraga dengan
mengikuti klub di mana mereka akan bermain
dengan kelompok yang lebih kecil. Di sekolah,
dengan kelompok yang besar, tiap siswa hanya
akan mendapat sedikit latihan olahraga dan
musik. Sebagian besar waktunya akan
digunakan untuk menunggu giliran.
>> Tidak ada laboratorium pengetahuan alam
di rumah siswa homeschooling.
Tapi beberapa komunitas homeschooling
punya. Orang tua juga bisa menyewa peralatan
percobaan ilmiah. Yang lebih baik lagi adalah
bila orang tua menggunakan kreativitas dalam
membantu anak melakukan percobaan ilmiah.
Kebanyakan percobaan ilmiah bisa dilakukan
dengan peralatan dan bahan-bahan sederhana
yang bisa didapat di rumah atau di pasar/
supermarket.
>> Saya hanya bisa mendampingi satu anak
belajar dalam satu waktu.
Mulai pelan-pelan saja. Seiring berjalannya
waktu kita akan semakin terbiasa mendampingi
anak yang lebih tua memulai proses belajarnya
terlebih dahulu, baru kemudian mendampingi
yang lebih muda saat yang lebih tua
melanjutkan sendiri. Bisa juga kakak diminta
mendampingi adiknya, atau salah satu anak
melakukan pekerjaan rumah tangga seperti
mencuci dan lainnya saat Ibu mendampingi
anaknya yang lain belajar. Oh ya, Bapak juga
harus aktif membantu. Bisa juga minta bantuan
nenek, tante, dan lainnya. Orang tua harus
menentukan dan mengawasi proses
homeschooling, tapi pelaksanaannya bisa
berbagi. Homeschooling itu memang kerja tim
dan butuh waktu untuk membentuk tim yang
solid dan saling mengerti.
>> Kedua orang tua harus bekerja.
Yakin? Harus atau mau? Coba cek dulu, untuk
uang dari second income itu dipakai? Untuk
jasa baby sitter untuk anak? Untuk baju kerja?
Untuk makan ke luar karena tidak ada yang
sempat menyiapkan makanan di rumah?
Bukankah ini pengeluaran yang bisa
dihilangkan saat salah satu tidak bekerja? Ada
juga kasus di mana single parent bisa sukses
melakukan homeschooling dengan cara
mengatur jadwal kerja secara kreatif atau
malah bekerja dari rumah (apalagi di era
dengan kemajuan teknologi seperti sekarang).
Bisa juga orang tua minta bantuan saudara
seperti nenek atau tante. Asal kurikulum dan
pengawasan tetap ada di orang tua. Coba
dipikir kembali.
>> Saya tidak bisa berlama-lama dekat dengan
anak saya.
Dulu kok mau ya bikinnya? He he. Tapi
sejujurnya, ini adalah masalah serius. Kalau
kita tidak bisa dekat dengan anak kita sendiri,
pasti ada yang salah dan harus diselesaikan.
Cari konseling kalau diperlukan.
>> Homeschooling ok sih, tapi saya kan tiap
hari juga ingin jalan ke mall sama teman-
teman arisan.
Sumpah, pertanyaan ini pernah saya dapat dari
seorang ibu-ibu di Jakarta. Tidak saya jawab
karena langsung hilang mood waktu dapat
pertanyaan ini. Ha ha.
Mitos-mitos homeschooling terbentuk karena
sudah begitu dalamnya kita dicuci otak bahwa
satu-satunya pendidikan bermutu yang
menjamin kesuksesan anak adalah sekolah
formal, serta kurangnya sosialisasi dari
pemerintah dan komunitas homeschooling itu
sendiri. Seiring bermunculannya sekolah-
sekolah alternatif, masyarakat mulai terbuka
dan bertanya-tanya tentang pendidikan yang
terbaik bagi anaknya. Pendidikan formal tidak
lagi dianggap dewa (salah mereka sendiri juga
sih), namun masih banyak yang harus
diperjuangkan bagi pendidikan alternatif yang
juga tidak sempurna. Intinya, dengan semakin
banyak pilihan metode pendidikan, pilih yang
terbaik bagi anak-anak kita.***
Ada juga sumber tulisan lain yang membahas
hal yang hampir sama, yaitu di : http://
homeeducationspirit.blogspot.com/2006_08_
01_archive.html
1. Homeschooler kurang bersosialisasi,
tidak realistis terhadap dunia
Bersosialisasi berarti berinteraksi dengan
individu individu lain tidak harus dengan
mereka yang sebaya saja. Homeschooler
berinteraksi dengan siapa saja, baik teman
sebaya, mereka yang lebih tua maupun yang
jauh lebih muda sekalipun. Mereka diajar untuk
bisa menempatkan diri di lingkungan manapun
dengan siapapun dan menjalin hubungan/
interaksi bukan karena diharuskan atau
dipaksakan tetapi karena kesadaran bahwa
hubungan antar manusia itu memiliki makna.
Apakah sekolah menjamin keberhasilan
sosialisasi anak? Jarang sekali ada sekolah yang
bisa menyediakan tempat dimana jiwa anak
anak bisa tumbuh dengan sehat (sebagai dasar
sosialisasi yang baik). Konflik yang tidak
diselesaikan dengan baik, kesedihan yang tidak
didengarkan, kelebihan dan kekurangan yang
tidak diperhatikan. Dan kalau boleh jujur,
berapa lama anak anak bisa berinteraksi
dengan teman sebayanya karena begitu masuk
kelas itu berarti ‘shut up’. We can hardly
communicate when we ‘shut up’. Belum lagi
sekolah sekolah yang mengeksklusifkan diri
sehingga kalangan tertentu saja yang bisa
masuk, misalnya yang mampu saja, yang miskin
saja atau yang beragama tertentu saja, Inikah
sosialisasi? Homeschooler tidak realistis
terhadap dunia? Di dunia nyata, kita hidup
berinteraksi dengan berbagai macam orang
dari berbagai macam usia dan latar belakang.
Apakah mungkin kita bersikap ‘aku hanya mau
berinteraksi dengan orang orang yang seusia
dengan aku dengan latar belakang yang sama’.
Who’s being unrealistic? Memang stress atau
konflik yang sering terjadi di sekolah tidak
selamanya jelek, hal hal negative kadang justru
bisa menjadi pelatihan diri yang baik. Tapi
melihat mejamurnya sekolah sekolah sebagi
profit center sekarang, apakah kita perlu
membayar puluhan bahkan ratusan juta supaya
anak kita mendapatkan konflik dan stress yang
sebenarnya bisa kita dapatkan secara gratis
dimana saja. Untuk sosialisasi?
2. Orang tua tidak bisa menjadi guru
Orang tua dianggap tidak bisa menjadi guru,
itu karena selama ini kita berpandangan keliru
mengenai guru. Bahwa guru itu tahu segalanya
dan tidak pernah salah, berdiri di depan murid
(anak) dan berceloteh. Murid dianggap pasif
sebagai penerima informasi. Dalam
homeschool, tugas orangtua yang terutama
adalah menanamkan sikap mental learning. You
don’t teach the kids calculus or the law of
gravity, you teach them how to teach
themselves. Guru adalah siapa saja yang
memberikan ilmunya. Sewaktu anak bertanya-
tanya bagaimana adonan semen untuk
bangunan dibuat dan dia mendapatkan
jawabannya dari seorang tukang bangunan,
maka tukang tersebut adalah guru. Ketika dia
berinteraksi dengan peneliti musik etnik di
pedalaman afrika dan dia memperoleh suatu
pengetahuan baru, maka peneliti itu adalah
guru. Dengan kemajuan teknologi seperti
sekarang, ahli apa yang tidak bisa kita temui di
internet, dari ahli pembuat permen sampai
astrobiology bisa kita jangkau dalam hitungan
detik. Mereka semua adalah guru guru yang
sangat ahli di bidang masing-masing, yang bisa
diajak bertukar pikiran dan berdebat sekalipun.
3. Orang tua harus tahu segalanya
Orangtua tidak harus tahu segalanya untuk bisa
melakukan homeschool. Belajar dari
keberhasilan para orang tua yang sejak
beberapa dekade lalu telah melakukan
homeschool, bahkan pasangan petanipun bisa
menghasilkan anak anak yang diterima di
universitas universitas papan atas di fakultas
kedokteran, hukum, dll. Apakah orangtua
orangtua ini duduk sepanjang hari di depan
anak-anaknya dan mengajari mereka ini dan
itu? Tidak! Mereka bekerja di ladang, memerah
susu dan mengurusi ternak yang lain.
Bagaimana itu bisa terjadi? Contoh orang tua
di atas tidak tahu segalanya tetapi mereka tahu
bagaimana menanamkan nilai dan sikap
mental.
4. Orang tua harus meluangkan waktu 8
jam sehari untuk homeschool seperti di
sekolah.
Anggapan yang sangat keliru, pertama karena
homeschooler dibiasakan untuk mandiri
sehingga dominasi orangtua dan pengkebirian
otoritas anak dalam pembelajaran sangat tidak
diharapkan. Kedua, kalaupun pada saat
tertentu atau pada tahapan usia tertentu
keterlibatan orangtua sangat didiperlukan,
waktunya tidak selama di sekolah. Kenapa?
Kebanyakan sekolah tidak efisien, topic yang
seharusnya bisa dikuasai dalam beberapa menit
harus dipelajari selama berjam jam, bukan
karena “in depth learning” tetapi karena terlalu
banyak noise, misalnya guru marah, murid
ribut, dan gangguan-gangguan lain. Project
yang sangat berguna bagi murid kadang tidak
bisa terlaksana karena sekolah terlalu
birokratis dan kaku. It’s simply a waste of
time.
5. Homeschooling tidak cukup belajar
karena tidak meluangkan waktu sebanyak
waktu belajar di sekolah.
Homeschooler bisa saja meluangkan cuma
beberapa menit misalnya untuk mengerjakan
beberapa lembar kerja matematika tetapi bisa
terlibat asyik dalam penelitian spesies kupu-
kupu selama berbulan bulan. Jumlah waktu
tidak menjadi tolok ukur pembelajaran apalagi
kalau jumlah waktu itu ditetapkan sebagai
bentuk pemaksaan.
6. Homeschooler tidak disiplin dan
seenaknya sendiri karena terbiasa bebas.
Semangat dari homeschooling adalah
melibatkan anak dalam proses pembelajaran
mereka dan menghormati talenta dan pilihan
mereka dengan catatan, mereka tahu bahwa
ada suatu tanggung jawab besar terhadap setiap
keputusan mereka. Mereka juga diharapkan
menyadari bahwa ada persyaratan tertentu
yang harus mereka penuhi untuk mencapai
suatu tujuan. Tentu saja homeschooler bebas
untuk menentukan apa yang dia ingin pelajari,
seberapa dalam dan kapan dan bagaimana dia
ingin belajar tetapi bukan berarti
homeschooler bebas dalam arti negatif dan
destruktif.
7. Homeschooler tidak bisa mendapatkan
ijasah
Di negara dengan populasi homeschooler
terbesar, Amerika Serikat, mitos ini tentunya
sangat mendekati kenyataan di era 70an.
Sekarang ijasah bukan menjadi masalah lagi
karena banyaknya inovasi di bidang pendidikan.
Homeschooler yang tinggal di dalam hutan
Kalimantan atau gurun Gobi sekalipun dapat
memperoleh diploma berakreditas
internasional. Di Indonesia, karena belum ada
peraturan khusus yang mengatur tentang
keberadaan homeschooler, sebagai warga
negara homeschooler berhak memperoleh
ujian persamaan yang diadakan oleh depdiknas
secara berkala.
8. Homeschooler tidak bisa masuk
universitas ternama
Apakah seorang homeschooler bisa masuk
sebuah universitas sangat tergantung pada
kemampuan masing masing homeschooler serta
kebutuhan mereka. (kenapa kebutuhan? Karena
apabila homeschooler memutuskan bahwa dia
ingin menjadi pemain sepak bola pro tentunya
dia tidak perlu mencurahkan waktunya untuk
memenuhi prasyarat penerimaan universitas)
Secara teknis, tidak ada kendala bagi
homeschooler untuk memasuki universitas.
Belum ada data pasti di Indonesia mengenai
jumlah homeschooler yang pernah atau sedang
belajar di universitas-univesitas dalam negeri
tetapi di Amerika Serikat, sebagai contoh,
homeschooler bisa ditemui di setiap Ivy League
Universities.
9. Homeschooler tidak mampu berkompetisi
Dalam homeschooling, kompetisi terberat yang
dihadapi seseorang adalah kompetisi melawan
diri sendiri. Kompetisi tidak dipandang sebagai
usaha menjatuhkan siapa saja tetapi lebih
kepada usaha melihat kekuatan dan kelemahan
diri sendiri dan orang lain sehingga dengan
bekal penerimaan ini anak sadar akan
pentingnya sinergi dengan orang lain.
Kompetisi bertaraf internasional sebagai ajang
menilai kemampuan juga bebas diikuti oleh
homeschooler, sebagai contoh kecil, National
Geographic Bee, Spelling Bee beberapa tahun
berturut turut dimenangkan oleh
homeschooler. Iya, anak-anak yang tidak
pernah “menginjakkan” kakinya di sekolah.
10. Tidak ada orang orang besar yang
homeschooler, sekolah adalah satu satunya
jalan
Pernah dengan nama nama: Albert Einstein,
Alexander Graham Bell, Pearl Buck, Agatha
Christie, Thomas Edison, C.S. Lewis, George
Bernard Shaw, Woodrow Wilson, Andrew
Wyeth, Galileo Galilei, Gen. George
Patton,Abigail Adams,James Madison,Franklin
Delano Roosevelt,Cyrus McCormick,Theodore
Roosevelt,Hans Christian Andersen,Daniel
Webster,Claude Monet,C.S. Lewis, John Stuart
Mill, John Quincy Adams,Ben Franklin, Douglas
MacArthur,James Monroe,Patrick Henry,
Andrew Carnegie,Brett Harte,Wolfgang
Mozart,Wilbur & Orville, Wright,Florence
Nightingale,Stonewall Jackson,George
Washington, Carver,Abraham Lincoln,Blaise
Pascal,Mark Twain,Charlie Chaplin,Charles
Dickens, Winston, Churchill,Leo Tolstoy,William
Penn, George Rogers, Clark,Phyllis
Wheatley,Pierre Curie,John, Wesley,Pierre
DuPont,Albert Schweitzer. Dari Indonesia: K. H.
Agus Salim. Persamaan dari mereka selain
mereka orang orang besar yang membuat
perubahan besar di dalam sejarah peradaban
manusia? Mereka homeschooler.
11. Homeschooler tidak bisa menikmati
inovasi dan kemajuan dunia pendidikan
Hampir tidak ada inovasi di dunia pendidikan
yang tidak bisa dinikmati oleh homeschooler.
Apabila di sebagian besar sekolah, sekolah
sekolah elit sekalipun, setiap inovasi
pendidikan harus melalui tahapan yang sangat
panjang untuk bisa dinikmati siswa, misalnya
pembentukan wacana dulu, rapat ini itu,
planning, dan kadang tidak terlaksana karena
terbentur berbagai masalah, homeschooler
dapat melakukan langsung tanpa birokrasi yang
berbelit belit. Ambil beberapa contoh,
homeschooler bisa membantu para ilmuwan
NASA untuk mempelajari batuan di mars atau
berinteraksi langsung dengan para astronot
bahkan terlibat dalam penamaan space station
yang sekarang tengah dibangun. Homeschooler
dapat menikmati digital library yang berisi
beribu ribu literature dari karya aristoteles
sampai mahabarata. Homeschooler yang tidak
memiliki alat alat laboratorium di rumah bisa
menggunakan virtual lab dengan alat dan
berbagai macam bahan kimia. Homeschooler
bisa menjelajah berbagai belahan dunia dari
puncak tertinggi everest sampai palung
terdalam mariana trench di lautan pasifik.
Contoh di atas Cuma sebagian kecil saja dari
kemungkinana yang tidak terbatas. Dan berapa
harga yang harus dibayar untuk itu semua?
Tidak lebih dari 10.000 rupiah.
12. Homeschooling mahal Standard mahal
atau murah sangat relatif
Yang terpenting adalah apakah materi yang kita
korbankan setara dengan kualitas yang kita
dapatkan. Kalau biaya homeschool
dibandingkan dengan SPP sekolah inpres, jelas
homeschool akan dianggap sebagai alternatif
pendidikan yang mahal. Tetapi misalnya dengan
biaya 20% dari sekolah elite di Jakarta kita bisa
mendapatkan kualitas pendidikan yang setara
dengan sekolah sekolah terbaik di Jepang,
Inggris, Amerika, Jerman, atau negara negara
maju lainnya, apakah pengorbanan itu masih
dianggap mahal? Pada prakteknya homeschool
akan menjadi mahal kalau kita sebagai orangtua
malas dan tidak kreatif
13. Homeschooling hanya bisa dilakukan
oleh masyarakat dari kalangan tertentu
saja
Berjuta juta keluarga yang melakukan
homeschooling di seluruh dunia memiliki
karakteristik demografi yang beragam. Ada
yang tinggal di perkotaan, di dalam hutan atau
di kutub sekalipun. Ada yang dari keluarga
menengah ke atas atau dari keluarga yang
secara financial masih prihatin. Ada keluarga
homeschooling yang hanya memiliki satu anak,
ada juga yang meng-homeschol 19 orang anak
anak mereka sekaligus. Ada yang orangtuanya
bekerja sebagai professional atau memiliki
usaha sendiri. Ada yang ibunya tinggal di
rumah atau memiliki karir. Ada yang
orantuanya memiliki gelar Phd tetapi ada juga
yang cuma lulusan SMA, dan lain lain. Keluarga
keluarga yang melakukan homeschooling
sangat beragam sehingga anggapan bahwa
homeschooler adalah masyarakat elite baru
sangat tidak benar.
14. Homeschooler tidak nasionalis
Homeschooling tidak menyebabkan seorang
individu menjadi nasionalis atau tidak.
Tumbuhnya nasionalisme sangat tergantung
dari apa dan bagaimana rasa nasionalisme
tersebut ditanamkan. Sudah menjadi kenyataan
dan hendaknya tidak disangkal atau ditutup
tutupi lagi bahwa sekolah sekolah kita (di
Indonesia) sudah sejak lama gagal
menumbuhkan rasa nasionalisme.
Homeschooler memiliki kesempatan yang tidak
terbatas untuk mempelajari berbagai aspek dari
negeri tercinta ini tanpa harus berpikir “nanti
kalau tidak hafal dapat nilai berapa ya?”.
Homeschooler diajar untuk memengerti dan
mencintai negeri ini bukan menghafal dan
terus mengumpat. Dan homeschooler bisa
lantang berbicara untuk menolak menghafal
misalnya bahwa Tembagapura di Irianjaya
adalah penghasil tembaga padahal
kenyataannya berton-ton emas juga di
tambang di sana.
Rabu, 02 Oktober 2013
Mitos dan Fakta seputar Homeschooling
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar