Selasa, 29 Oktober 2013

Aku Hampir Gila ( 7 )

Mari kita lanjutkan kisahnya. Mudah-
mudahan Anda sekalian tidak bosan
membacanya, karena tidak ada yang
istimewa dari kisah ini. Kisah biasa
dari orang biasa.
Tahun pertama di SMP, segalanya masih
berjalan dengan baik. Aku belajar beradaptasi
di lingkungan baru tersebut. Ternyata si
pendiam dan pemalu ini cukup mampu
menyesuaikan diri dengan baik. Dalam hal
belajar aku juga sangat bersemangat, bahkan
bisa dibilang menggebu-gebu. Aku bertekad
mengulangi sukses belajarku seperti di sekolah
dasar, syukur-syukur bisa meningkatkanya
lebih baik lagi.
Hasil usaha kerasku memang tidak
mengecewakan, semangat belajarku yang
menggebu-gebu berbuah manis, saat kenaikan
kelas (naik ke kelas 2) aku berhasil menjadi
ranking satu di kelas. Bukan hanya itu, aku
bahkan menjadi ranking tiga umum. Bukan
main bahagia dan bangganya aku saat itu.
Ayahku yang sebelumnya jarang memuji
prestasi belajarku, kali ini menyampaikan
pujian dan ungkapan kebahagiannya padaku.
Dari raut wajah dan sorot matanya aku tahu,
ayah bahagia sekaligus bangga padaku. Teman-
teman sekelasku pun mengucapkan selamat dan
pujian atas prestasiku. Hari itu sepertinya
hanya milikku, semua orang di sekolah seakan
tersenyum padaku. Hari penuh kebahagiaan
yang tak akan pernah aku lupakan.
Hasil baik tahun pertama prestasi belajarku di
SMP membuatku semakin bersemangat belajar.
Aku ingin meningkatkan prestasi belajarku
lebih baik lagi. Aku berambisi, akhir semester
tiga nanti aku harus bisa menjadi juara satu
umum. Itu artinya aku ingin menjadi yang
terbaik dari seluruh siswa di sekolah tersebut.
Aku begitu yakin bisa mencapainya. Di sekolah,
di luar jam belajar seperti sebelum masuk
kelas atau saat istirahat aku manfaatkan untuk
belajar. Begitu pula di rumah, jam belajar aku
tambah. Pendeknya, setiap waktu luang baik di
sekolah maupun di rumah aku gunakan untuk
belajar dan belajar. Sampai-sampai aku hampir
tak punya waktu lagi untuk bermain atau
bersantai. Aku melakukan semua itu dengan
penuh semangat dan keyakinan.
Lalu bagaimana hasilnya? Kali ini hasilnya
ternyata mengecewakan! Sama sekali tidak
sesuai dengan harapanku. Padahal sebelumnya
aku begitu yakin, dengan menambah jam
belajar aku bisa meningkatkan prestasi lebih
baik lagi. Walaupun masih menjadi yang terbaik
di kelas, tapi aku terlempar dari tiga besar
juara umum. Posisiku direbut oleh kakak
kelasku.
Kecewa sekali aku rasanya saat itu. Jerih payah
dan kerja kerasku belajar selama satu semester
tidak membuahkan hasil. Prestasiku bukannya
meningkat, malah sebaliknya menurun. Aku
pikir, apakah kemampuan otakku hanya sebatas
itu? Sehingga sekeras apa pun aku belajar
hasilnya mungkin tidak lebih dari itu. Ataukah
cara belajarku yang salah? Kecewa, marah,
malu dan putus asa berbaur menjadi satu,
membuatku merasa gagal. Kegagalan meraih
tujuan, membuahkan kekecewaan yang
mendalam, dan muara dari semua itu adalah
perasaan tertekan.
Padahal, seandainya waktu itu aku berpikir
jernih dan berlapang dada menerima
kenyataan, aku tidak perlu merasa terlalu
kecewa. Toh, aku sudah berusaha semampuku,
bahkan mengerahkan segenap kemampuan
untuk meraih tujuan. Kalau hasilnya ternyata
tidak seperti yang diharapkan, bukankah kita
sebagai manusia hanya bisa berusaha, Tuhanlah
yang menentukan hasilnya?
Sayang, aku tak mampu berpikir jernih waktu
itu, yang ada hanya perasaan kecewa karena
gagal. Dipicu oleh kekecewaan mendalam aku
sampai pada suatu kesimpulan, kekecewaan
mendalam karena kegagalan meraih tujuan
merupakan salah satu faktor pemicu gangguan
kejiwaan (depresi) yang aku alami. Depresi yang
menggerogoti pikiran, perasaan, sekaligus
tubuhku sampai bertahun-tahun kemudian.
Aku sebut salah satu, karena mungkin ada
faktor-faktor lain yang turut menjadi
penyebabnya. Tepat sekali apa yang ditulis Dr.
Surya, "Secara psikologis depresi terjadi karena
interaksi antara peristiwa yang terjadi tiba-tiba
dan menekan dengan beberapa ciri kepribadian
yang kurang memadai." Peristiwa tertekannya
adalah kegagalan mencapai tujuan, sedangkan
salah satu ciri kepribadianku yang kurang
memadai adalah rendahnya rasa percaya diri

Tidak ada komentar:

Posting Komentar