Selasa, 29 Oktober 2013

Aku Hampir Gila ( 6 )

Masuk SLTP
Aku memulai babak baru kehidupan
pribadiku. Sekarang aku sudah
mengenakan seragam putih biru, aku
bukan anak-anak lagi tapi sudah
beranjak remaja. Aku mulai
memasuki lingkungan pergaulan yang lebih
luas, Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP/
SMP).
Aku memilih masuk ke sekolah swasta (SMP
Islam) bukan ke sekolah negeri (SMP Negeri).
Semua itu atas keinginanku sendiri dan
dorongan orangtuaku. Ayahku berharap,
dengan masuk ke sekolah swasta Islam aku bisa
memperoleh dasar pendidikan agama yang
kuat. Aku masuk SMP Islam bersama dua orang
teman sekampung yang juga teman sekelas
waktu di SD.
Minggu pertama duduk di bangku SMP, aku
sudah membuktikan prestasi belajarku cukup
baik. Saat tes Penataran P4 (sekarang sudah
tidak ada lagi), aku mendapat nilai tertinggi
dari semua siswa kelas satu. Aku selalu ingat
saat-saat yang membahagiakan dan
membanggakan tersebut. Sejak saat itu aku
mulai manjadi perhatian siswa-siswa lain dan
para guru.
Bulan pertama di SMP, aku belajar
menyesuaikan diri dengan lingkungan baru
tersebut. Aku merasa sangat bergairah dan
bersemangat. Walaupun aku tergolong siswa
pendiam dan pemalu tapi ternyata aku cukup
mampu beradaftasi. Aku sudah mulai akrab
dengan beberapa orang teman sekelas terutama
teman pria. Untuk teman wanita aku baru
akrab dengan satu-dua orang saja, itupun
karena si wanita tergolong agresif. Jika dengan
teman-teman sekelas aku sudah mulai akrab,
lain halnya dengan guru, aku masih sangat
kikuk jika berhadapan dengan guru. Belum ada
seorang pun guru yang terbilang akrab
denganku.
Semester pertama kegiatan belajar mengajar
aku merasa sangat bersemangat dan
menikmatinya. Di sekolah aku tidak banyak
mambuang waktu untuk bermain dan dan
bersantai. Jam-jam belajar di kelas aku
manfaatkan sebaik mungkin untuk menyerap
setiap ilmu yang diajarkan para guru. Jika jam
istirahat tiba, saat teman-teman lain bersantai
dan bercanda diluar kelas atau di kantin, aku
lebih memilih membaca buku di halaman
belakang sekolah yang sepi dan tenang.
Rutinitas di Rumah dan di Sekolah
Bukan hanya di sekolah aku
fokuskan waktu untuk belajar, di
rumah pun aku manfaatkan waktu
sebaik mungkin untuk belajar.
Dalam hal mengatur waktu di
rumah, ayahku tergolong tegas dan ketat
padaku. Sepulang sekolah aku tidak
diperkenankan berleha-leha dirumah. Selesai
makan aku harus segera berangkat kerja.
Setelah menyiapkan perlengkapan dan bekal
secukupnya, aku ajak 'teman-
temanku' (beberapa ekor domba) berangkat ke
lokasi penggembalaan. Perlengkapan dan bekal
yang aku bawa antara lain: sepikul keranjang
rumput, sabit, seember cucian, buku, nasi atau
kue pengganjal perut dan tak ketinggalan
sebuah radio transistor mungil untuk
mendengarkan berita, musik dan hiburan
lainnya. Lumayan lengkap bukan?
Lokasi penggembalaan biasanya di kebun-
kebun kosong atau di pesawahan di sekitar
pinggiran kampung. Di lokasi tersebut biasanya
banyak terdapat rumput hijau makanan lezat
domba-dombaku. Sepanjang perjalanan menuju
lokasi penggembalaan domba-dombaku
berjalan beriringan membuntutiku menyusuri
jalan setapak yang berkelok-kelok dan naik
turun. sekitar setengah jam perjalanan aku
sampai di lokasi gembalaan. Di pinggir areal
persawahan yang bulir-bulir padinya sudah
mulai menguning. Mahari tampak sedikit
bergulir ke barat, teriknya terasa menyengat
kulit. Aku biarkan domba-domba lapar itu
menyantap rumput-rumput hijau sepuasnya.
Aku turun menuju sumur yang berada di
tengah sawah untuk mencuci seember pakaian
kotor yang aku bawa. Selesai mencuci dan
menjemur pakaian, aku mencari tempat yang
teduh dibawah pepohonan di pinggir sawah.
Di bawah pohon rambutan yang rindang dan
sejuk, semilir angin lembut persawahan terasa
menyegarkan tubuh. Beralaskan selembar daun
pisang aku duduk sambil mengawasi domba-
domba yang asyik merumput. Aku hidupkan
radio transistor, aku cari siaran berita, musik
dangdut atau dongeng sunda acara siaran
faforitku. Sambil mendengar alunan musik
dangdut yang mendayu-dayu, aku membuka
buku-buku pelajaran yang aku bawa. Aku baca
kembali materi pelajaran yang diajarkan tadi
pagi di sekolah.
Matahari makin condong ke barat, angin sawah
berembus agak kencang, terik matahari tak
terasa menyengat lagi. Domba-dombaku masih
merumput dengan lahap, malah semakin lahap
walaupun perutnya sudah tampak buncit.
Sesekali mereka menoleh ke arahku, seakan
khawatir ditinggal pulang bosnya.
Sekitar jam lima sore, semua pekerjaan sudah
beres. Cucian sudah kering, semua buku sudah
selesai aku baca dan keranjang rumput sudah
terisi penuh.
Hari sudah semakin sore, matahari sudah
tersembunyi di balik pepohonan di tebing
sebelah barat persawahan. Para petani yang
bekerja di sawah sebagian sudah beranjak
pulang. Sebagian lagi masih tampak
membersihkan badan dan pakaian yang penuh
lumpur di sumur kecil di tengah persawahan.
Aku pun beranjak pulang, teman-teman
dombaku berlarian mengikutiku. Mereka
tampak sudah kenyang dan puas, pulang
dengan perut buncit.
Sesampainya di rumah, setelah teman-temanku
berbaring santai di kandangnya, aku segera
mandi dan ganti pakaian. Aku sudah duduk di
ruang makan, siap menyantap masakan yang
sudah ibuku siapkan. Saat adzan maghrib
berkumandang, aku sudah duduk tenang di
dalam langgar. Langgar sederhana tempatku
belajar mengaji dan menimba ilmu-ilmu agama
itu hanya berupa bangunan panggung
berukuran sekitar 5 x 3 meter. Langgar itu
hanya hanya berdinding dan berlantai bilik
bambu yang sudah tampak lauk dan bolong
disana sini. Dengan penerangan lampu minyak
tanah, aku dan beberapa orang teman
mempelajari ilmu-ilmu agama dengan tekun
dan khidmat. Guru ngaji kami adalah juga guru
kami di SD. Sepulang dari mesjid, biasanya aku
langsung masuk kamar, untuk belajar. Aku baca
dan pelajari buku-buku pelajaran yang akan
dipelajari besok harinya. Diterangi lampu
cempor (lampu minyak tanah) aku belajar
dengan penuh semangat selama sekita 30
sampai 60 menit. Selesai belajar sekitar jam 9
malam, aku langsung tidur.
Saat terdengar sayup-sayup suara adzan subuh
berkumandang di langgar, aku bangun dan
langsung mandi. Setelah sholat subuh, sambil
menunggu datangnya pagi, aku baca kembali
buku-buku pelajaran yang aku baca semalam.
Sekitar jam 6.30, bersama teman-teman
sekampung aku berangkat ke sekolah
menumpang kendaraan umum. Jarak sekolah
dari kampung kami sekitar 6 km. Kami naik
kendaraan umum hanya sampai pasar, dari
pasar ke sekolah yang jaraknya sekitar 1 km
biasanya kami jalan kaki. Bisa juga sih naik
becak, tapi berarti tambah ongkos. Aku lebih
suka jalan kaki, jarang sekali naik becak,
alasanya ya itu tadi, ngirit ongkos.
Sesampainya di sekolah biasanya aku hanya
duduk santai sambil ngobrol di luar kelas atau
di mesjid sekolah. Jika masih ada waktu, sambil
menunggu bel tanda masuk berbunyi, aku buka
kembali buku pelajaran, aku baca sekilas
sekadar untuk mengingatnya. Saat bel
berbunyi, kami semua berhamburan masuk
kelas masing-masing untuk memulai kegiatan
belajar. Di ruang kelas aku lebih suka memilih
tempat duduk di barisan paling depan, agar
bisa dengan jelas mendengar dan menyimak
semua materi pelajaran yang disampaikan para
guru. Sedangkan sebagian teman-teman—
terutama teman pria—lebih suka memilih
tempat duduk di barisan belakang. Alasan
mereka, agar tidak terlalu menjadi fokus
perhatian guru, setengah menyembunyikan diri
dari pandangan guru. Karena biasanya siswa
yang duduk di barisan depan atau yang mudah
terlihat guru, paling sering ditunjuk untuk
menjawab pertanyaan atau mengerjakan tugas.
Namun, aku justru senang jika disuruh
menjawab pertanyaan atau mengerjakan tugas,
karena aku memang sudah mempersiapkan diri
untuk itu. Jika jam pelajaran usai, biasanya aku
langsung pulang, kecuali ada kegiatan
ekstrakulikuler.
Seperti itulah gambaran detail aktivitas sehari-
hariku di sekolah maupun di rumah. Biasa-
biasa saja bukan? Tidak ada yang istimewa.
Aktivitas yang normal dilakukan anak-anak
remaja seusiaku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar