Kata Pengantar
Puji syukur kepada Allah swt., atas segalah rahmat dan nikmat yang diberikan
kepada saya, sehingga saya bisa menyelesaikan pembuatan makalah pendidikan
Ahlisunnah Wal Jama’ah ini dengan
semaksimal mungkin.
Makalah ini mengambil tema “Nasionalisme” dengan judul “Kepentingan Politik
Penyebab Disintegrasi Bangsa”. Insya Allah makalah ini bisa menyadarkan anda
para pembaca bahwa betapa pentingnya rasa Toleransi dengan memahami dan
mengamalkan Nilai-nilai Pancasila sejak dini, karena makalah ini berisi
fakta-fakta terpenting tentang ancaman disintegrasi bangsa kita, bangsa yang
dulu menjadi kebanggaan para pendahulu kita dan para bapak pendiri Negara yaitu
Bangsa Indonesia. Makalah ini juga berisi tentang cara-cara sederhana tentang
bagaiman agar nilai-nilai Pancasila ini bisa hidup di masyarakat Indonesia
sehingga Pancasila tidak hanya terkristalisasi sebagai ideologi Negara, namun
juga sebagai norma yang sangat penting dalam dalam memperkokoh persatuan dan
mencegah ancaman disintegrasi umat kita.
Saya berharap para pembaca segera tersadar hatinya, terbangun matanya, dan
tergerak raganya untuk mencegah ancaman disintegrasi ini.
Semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi saya dan pembaca sekalian. Dan tak lupa
ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu hingga
terselesaikannya makalah ini.
Kritik serta saran yang membangun selalu saya harapkan demi kesempurnaan
makalah ini. Terima kasih.
Jepara,
10 September 2012
Bab I
PENDAHULUAN
latar Belakang
Indonesia sebagai negara kesatuan
pada dasarnya dapat mengandung potensi kerawanan akibat keanekaragaman suku
bangsa, bahasa, agama, ras dan etnis golongan. Hal tersebut merupakan faktor
yang berpengaruh terhadap potensi timbulnya konflik sosial. Dengan
semakin marak dan meluasnya konflik akhir-akhir ini, merupakan suatu pertanda
menurunnya rasa Toleransi di dalam masyarakat.
Kondisi seperti ini dapat terlihat dengan meningkatnya konflik yang bernuansa
SARA, serta munculya gerakan-gerakan yang ingin memisahkan diri dari NKRI
akibat dari ketidak puasan dan perbedaan kepentingan, apabila kondisi ini
tidak segera ditangani dengan baik akhirnya akan berdampak pada disintegrasi
bangsa.
Seperti halnya GAM (Gerakan Aceh Merdeka), yang kini hampir sudah tidak
terngiang lagi di telinga kita. Dulu kelompok ini benar-benar membuat repot
bangsa Indonesia, seandainya GAM berhasil berdisintegrasi dari Indonesia maka
tidak ada lagi lagu “Dari Sabang Sampai Merauke”, lagu pemersatu bangsa kita.
Namun rakyat dan bangsa ini tidak rela jika Aceh lepas dari pangkuan bunda
pertiwi, maka dengan segala upaya dilakukan bangsa ini untuk menghentikan
gerakan ini, baik secara militer maupun diplomatik.
Kemudian apakah peristiwa itu akan terulang lagi untuk yang kesekian kalinya di
Negara kita? Bukankah kita sudah cukup kehilangan ditinggal oleh
saudara-saudara kita di Timor Timur.
Dan apakah konflik di Irian juga tidak akan terselesaikan? Gerakan Papua
Merdeka yang diam-diam menyusun strategi untuk berdisintegrasi dari Indonesia
kita biarkan begitu saja? Dimanakah rasa nasionalisme kita? Dimana rasa
persatuan dan kesatuan kita? Lalu apakah konflik-konflik kecil antar suku,
agama, dan kelompok kita biarkan saja? Ada apa dengan bangsa ini?
Masalah disintegrasi bangsa merupakan masalah yang sangat mengkhawatirkan kelangsungan
hidup bangsa ini. Dimanakah nilai-nilai Pancasila yang dulu dicita-citakan oleh
bapak pendiri bangsa? Sudahkah nilai-nilai Pancasila luntur dari bangsa ini?
Untuk itu inilah PR bagi bangsa ini, bukan hanya pemerintah, bukan hanya TNI
dan POLRI tetapi juga kita seluruh warga Indonesia. Perlunya ditegakkan kembali
nilai-nilai Pancasila tidak bisa ditunda-tunda lagi, bangsa ini sudah krisis
dalam segala aspek kehidupan khususnya krisis moral. Nilai-nilai Pancasila
harus dihidupkan kembali dalam setiap aspek kehidupan, bukan hanya
terkristalisasi sebagi ideologi Negara.
Permasalahan disintegrasi ini sangat kompleks sebagai akibat akumulasi
permasalahan Ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya dan keamanan yang saling
tumpang tindih, apabila tidak cepat dilakukan tindakan-tindakan bijaksana untuk
menanggulangi sampai pada akar permasalahannya maka akan menjadi problem yang
berkepanjangan.
Untuk itulah, makalah ini disusun dalam rangka menyadarkan kembali akan
pentingnya Toleransi dalam beragama.
. Tujuan
Makalah
ini disusun dengan tujuan sebagai berikut ini:
1. Memahami apa arti dari disintegrasi
2. Peran politik penyebab disintegrasi
umat
Bab 2
ISI
Disintegrasi umat
Disintegrasi secara harfiah dipahami sebagai perpecahan suatu umat menjadi bagian-bagian
yang saling terpisah. Bila dicermati adanya gerakan
pemisahan diri sebenarnya sering tidak berangkat dari idealisme untuk berdiri
sendiri akibat dari ketidak puasan yang mendasar dari perlakuan pemerintah
terhadap wilayah atau kelompok minoritas seperti masalah otonomi daerah,
keadilan sosial, keseimbangan pembangunan, pemerataan dan hal-hal yang sejenis.
Kekhawatiran tentang perpecahan (disintegrasi) umat di tanah
air dewasa ini yang dapat digambarkan sebagai penuh konflik dan pertikaian,
gelombang reformasi yang tengah berjalan menimbulkan berbagai kecenderungan dan
realitas baru. Segala hal yang terkait dengan Orde Baru termasuk format
politik dan paradigmanya dihujat dan dibongkar. Bermunculan pula aliansi
ideologi dan politik yang ditandai dengan menjamurnya partai-partai politik
baru. Seiring dengan itu lahir sejumlah tuntutan daerah-daerah diluar Jawa agar
mendapatkan otonomi yang lebih luas atau merdeka yang dengan sendirinya makin
menambah problem, manakala diwarnai terjadinya konflik dan benturan antar etnik
dengan segala permasalahannya.
Selain itu disintegrasi bangsa juga
dipengaruhi oleh perkembangan politik dewasa ini. Dalam kehidupan politik
sangat terasa adanya pengaruh dari statemen politik para elit maupun pimpinan
nasional, yang sering mempengaruhi sendi-sendi kehidupan bangsa, sebagai akibat
masih kentalnya bentuk-bentuk primodialisme sempit dari kelompok, golongan,
kedaerahan bahkan agama. Hal ini menunjukkan bahwa para elit politik
secara sadar maupun tidak sadar telah memprovokasi masyarakat.
Keterbatasan tingkat intelektual sebagian besar masyarakat Indonesia sangat
mudah terpengaruh oleh ucapan-ucapan para elitnya sehingga dengan mudah terpicu
untuk bertindak yang menjurus kearah terjadinya kerusuhan maupun konflik antar
kelompok atau golongan. Berbagai masalah politik yang masih harus dipecahkan
bersama oleh bangsa Indonesia saat ini seperti diberlakukannya Otonomi daerah,
sistem multi partai, pemisahan TNI dengan Polri serta penghapusan dwi fungsi
BRI, sampai saat ini masih menjadi permasalahan yang belum dapat diselesaikan
secara tuntas karena berbagai masalah pokok inilah yang paling rawan dengan konflik
sosial berkepanjangan yang akhirnya dapat menyebabkan timbulnya disintegrasi
bangsa.
Peran
politik terhadap disintegrasi umat
Sejarah dan
Politik
Hampir semua sejarah bangsa-bangsa yang ditulis di muka bumi ini
menceritakan tentang raja-raja atau pemimpin yang berkuasa.
Bila kita
menyalin nama buku-buku sejarah yang ditulis oleh bangsa lain, maka ceritanya
akan menjadi panjang. Tetapi pada umumnya buku-buku tersebut memuatkan
kisah-kisah mengenai raja-raja dan kebijaksanaan politik yang mereka ambil.
Maka tidaklah menghairankan sekiranya ada yang berkata: Sejarah adalah catatan
tentang politik masa lalu, sedangkan politik masa kini akan menjadi sejarah di
masa depan. Dan para pemimpin negara, reka bentuk politik yang menentukan corak
perjalanan pemerintahan disebut orang dengan pelaku sejarah.
Masyarakat
kita telah terbiasa menggunakan istilah sejarah islam untuk menyebut
cerita-cerita tentang kerajaan-kerajaan yang dibangunkan oleh masyarakat Islam
di masa lalu, dan kerajaan yang dibangunkan oleh umat Islam itu disebut kerajaan
islam. Sebenarnya penggunaan kedua-dua istilah tersebut adalah kurang tepat
. Ini adalah kerana : Islam merupakan agama yang diwahyukan oleh Allah swt.
kepada Rasulullah saw. yang telah sempurna sejak Rasul wafat, sedangkan
kerajaan-kerajaan tersebut merupakan hasil daripada usaha manusia yang memiliki
banyak kekurangan. Islam merupakan kebenaran yang mutlak, sedangkan
kerajaan-kerajaan yang dibangunkan oleh umat Islam itu tidak selalunya benar.
Islam dijamin oleh Allah swt. sehingga Hari Kiamat, sedangkan kerajaan-kerajaan
tersebut tegak dan runtuh silih berganti.
Perpecahan Umat Islam
Jika sejarah
adalah cerita tentang politik di masa lalu sebagaimana yang telah dijelaskan di
atas sekiranya kalau pandangan tersebut kita terima maka sejarah umat Islam
adalah sejarah perpecahan. Mungkin terasa agak keterlaluan jika dikatakan
sedemikian. Tetapi, masalah politik merupakan sumber perpecahan umat Islam yang
terbesar.Dan perselisihan terbesar di antara umat adalah perselisihan mengenai
imamah (kepemimpinan), kerana tidak pernah pedang dihunus dalam Islam dengan
alasan agama sebagaimana (sesering) dihunus karena imamah pada setiap zaman.
Masalah
imamah adalah masalah politik, masalah menentukan siapa yang akan memimpin
umat. Walaupun sebenarnya perselisihan mengenai imamah itu sudah bermula sejak
Rasulullah s.a.w. wafat, terutama antara golongan Muhajirin dan golongan
Anshar, tetapi dapat diselesaikan dengan damai, iaitu dengan mengangkat
Abu Bakar menjadi khalifah. Sejak terbunuhnya Usman bin Affan sehingga ke hari
ini umat Islam tidak lagi memiliki pemimpin yang diakui oleh semua pihak.
Setiap kelompok mempunyai pemimpinnya tersendiri dan tidak mengakui pemimpin
dari kelompok lain. Terbunuhnya Usman itu sendiri sebenarnya disebabkan oleh
masalah politik juga. Kelompok pemberontak yang tidak senang dengan para
gabenor yang diangkat oleh Usman dan kebijaksanaannya menuntut agar khalifah
ketiga itu meletakkan jawatan, tetapi Usman enggan melakukannya. Keengganan Usman
melakukan tuntutan kelompok tersebut membuat mereka marah dan akhirnya Usman
terbunuh di rumah ketika sedang membaca Al-Qur`an.
Kematian
Usman menjadi titik tolak bagi perpecahan umat Islam. (Kemudian mereka (para
shahabat) berselisih setelah terbunuhnya (Usman) dalam masalah orang-orang yang
telah membunuhnya dan orang-orang yang membiarkannya terbunuh, perselisihan
yang kekal (berbekas) sampai hari (zaman)kita ini).
Perang
saudara pun mulai bersemangat. Perang pertama yang terjadi adalah perang
unta perang jamal tahun 36H. Antara kelompok yang dipimpin oleh Aisyah
r.a, isteri Rasul saw, yang menuntut bela atas kematian Usman, dengan
kelompok Ali bin Abi Talib yang diangkat menjadi khalifah sesudah Usman.
Kelompok pemberontak setelah membunuh Usman bergabung dengan Ali, itulah
sebabnya kelompok Aisyah dan kelompok Muawiyah bin Abi Sufyan menuntut agar Ali
menegakkan hukum terhadap mereka. Tetapi Ali tidak dapat melaksanakan tuntutan
itu. Hal ini menyebabkan krisis politik yang berpanjangan.
Masalah
politik merupakan punca yang disebut dengan bencana besar di kalangan umat
Islam. Umat Islam berpecah kepada tiga kelompok:
Pertama: kelompok
Ali, kedua: kelompok Muawiyah, dan ketiga: kelompok
moderat/neutral yang tidak memihak kepada salah satu dari dua kelompok
tersebut. Dua kelompok pertama memiliki pengikut yang banyak, sedangkan
kelompok moderat kerana tidak ikut campur dalam masalah politik maka jumlahnya
tidak diketahui, tetapi kelompok ini merupakan majoriti umat, di antara para sahabat
yang bergabung di dalam kelompok moderat ini adalah: Abdullah bin Umar Saad bin
Malik, Saad bin Abi Waqqas, Muhammad bin Maslamah, Usamah bin Zaid, dan
lain-lain.
Pertentangan
antara kelompok Muawiyah dan Ali semakin meruncing dan membawa kepada terjadinya
perang Siffin. Setelah kelompok Muawiyah hampir kalah, mereka mengajak
untuk bertahkim (arbitrate) bagi menyelesaikan konflik yang terjadi.
Perundingan dilaksanakan di Daumatul Jandal pada bulan Ramadhan tahun 37
H. Kelompok Muawiyah diwakili oleh Amru bin Ash dan kelompok Ali diwakili oleh
Abu Musa Al-Asy'ari. Kedua-duanya bertindak sebagai hakim dari kelompok
masing-masing . Perundingan antara kedua belah pihak tidak berjalan dengan
jujur. Amru membuat tipuan terhadap Abu Musa dengan mengatakan bahawa konflik
yang terjadi adalah disebabkan oleh dua orang, iaitu Ali dan Muawiyah, maka
untuk menciptakan perdamaian kedua orang itu harus dipecat dan kemudian
diserahkan kepada umat Islam untuk memilih khalifah baru. Tipuan itu berhasil.
Amru memberikan kesempatan pertama kepada Abu Musa untuk naik mimbar, Abu Musa
mengumumkan pemecatan Ali. Sesudah itu Amru naik mimbar pula, ia menerima
pemecatan Ali dan kerana Ali sudah dipecat khalifah tinggal seorang sahaja
lagi, iaitu Muawiyahia menetapkan Muawiyah sebagai khalifah umat Islam
seluruhnya. Tentu saja kelompok Ali tidak puas hati.
Perundingan
tersebut bukan saja tidak menyelesaikan konflik, tetapi malah menimbulkan
kelompok baru. Kelompok Ali terpecah menjadi dua; Pertama, yang tetap setia
kepadanya (syiah). Kedua, yang memberontak, keluar dari kelompok Ali dan
berbalik menjadi musuhnya, karena tidak puas dengan keputusan Ali untuk
mengikuti perundingan diatas (Khawarij). Kelompok ini pada mulanya memaksa Ali
untuk ikut bertahkim, tetapi setelah Ali menerima tahkim mereka menolaknya,
Mereka memakai semboyan (Tidak ada hukum keputusan) melainkan bagi Allah semata.
Kini
kelompok yang bertikai dalam masalah politik menjadi tiga; kelompok Muawiyah,
kelompok Ali dan kelompok Khawarij. Kelompok terakhir ini mengkafirkan kelompok
Pertama dan Kedua, mereka menghalalkan darah orang Islam yang tidak sependapat
dengan mereka. Mereka memerangi kelompok Pertama dan Kedua, mereka mengirim
utusan rahsia untuk membunuh Ali, Muawiyah dan Amru bin Ash. Muawiyah dan Amru
selamat dari pembunuhan, sedangkan Ali terbunuh di tangan Abdul Rahman bin
Muljam pada tahun 40 H.
Kematian Ali
membuat pengikutnya kesedihan. Hasan, Putra Ali pertama, diangkat menjadi
khalifah menggantikan ayahnya. Hasan melihat bahwa pertentangan politik ini
hanya akan merugikan umat Islam secara keseluruhan. Oleh karena itu dia
mengadakan perdamaian dengan Muawiyah, untuk menjaga agar darah kaum Muslimin
tidak tertumpah lebih banyak lagi. Hasan meletakkan jawatan pada tahun 41 H dan
menyerahkan kekuasaan kepada Muawiyah. Hasan meminta agar Muawiyah menyerahkan
urusan khilafah kepada kaum Muslimin bila ia meninggal nanti. Hasan juga
meminta agar kelompok Muawiyah berhenti menghina Ali di dalam
khutbah-khutbahnya. Gerakan perdamaian ini disokong oleh masyarakat
Islam, sehingga tahun itu disebut sebagai Tahun Persatuan. Tetapi perjanjian
tersebut tidak ditepati kemudiannya. Hasan meninggal di Madinah kerana terkena
racun pada tahun 50 H. Kelompok Syiah menabalkan Husein, putra Ali kedua,
menjadi khalifah.
Sebelum
Muawiyah meninggal (tahun 60 H) ia menabalkan putranya Yazid sebagai putra
Mahkota untuk menggantikannya. Hal itu membuatkan bukan saja kelompok Syiah
marah tetapi juga seluruh kaum Muslimin; kerana jelas melanggar perjanjian
damai yang telah dipersetujui dengan Hasan tempo hari. Namun begitu, kaum
Muslimin tidak dapat berbuat apa-apa, kerana Muawiyah memerintah dengan kuku
besi. Di zaman Yazid permusuhan kelompok Umawi terhadap Syiah semakin
menjadi-jadi. Kelompok Syiah diperangi habis-habisan. Husein terbunuh di
Karbala dalam pertempuran yang tidak seimbang. Kepalanya dipenggal dan dibawa
ke hadapan Yazid sebagai persembahan. Bani Umayah tampil menjadi kekuatan yang
tidak dapat ditandingi.
Ahlus-Sunnah Wal-Jamaah
Penguasa
demi penguasa di kalangan Bani Umayah terus berganti, tetapi pertentangan di
antara kedua kelompok tadi tidak juga reda. Ali dan pengikutnya terus dihina di
setiap mimbar. Kelompok Syiah membalas dan menghina Kelompok Bani Umayah.
Sementara itu kelompok Khawarij tetap melaksanakan kegiatan mereka. Di masa
pemerintahan Abdul Malik bin Marwan usaha untuk membina persatuan di buat
semula. Abdul Malik walaupun menghadapi berbagai pemberontakan, dia berusaha
mempersatukan umat Islam yang sudah berpecah belah kepada berbagai kelompok dan
puak, khususnya setelah Abdullah bin Zubeir terbunuh pada tahun 73 H. Dia
menggunakan slogan Nahnu Jama'ah Wahidah Tahta Rayah Dinillah (kita
semua adalah satu jamaah dibawah naungan bendera agama Allah). Abdul Malik juga
mengadakan konsep tarbi', iaitu dengan menyebut nama empat khalifah:Abu
Bakar, Umar, Usman dan Ali di dalam khutbah-khutbah. Konsep ini merupakan
kaedah untuk mempersatukan umat Islam juga. Sebelum ini kelompok Umawi hanya
mengakui Abu Bakar, Umar, Usman dan Muawiyah, tetapi mereka tidak mengakui Ali.
Manakala Kelompok Khawarij hanya mengakui Abu Bakar, Umar; sedangkan kelompok
Syiah hanya mengakui Ali saja dengan alasan masing-masing. Setiap kelompok
menghina kelompok lain di mimbar-mimbar dan mendoakan keselamatan bagi pemimpin
mereka. Kelompok Umawi merelakan nama Muawiyah tidak disebut dalam tarbi itu,
sebagai pengorbanan dari mereka demi persatuan umat.
Untuk
memperkuatkan usaha persatuan tersebut, maka seluruh umat Islam diseru agar
menjadikan Rasul s.a.w sebagai satu rujukan yang unggul. Kerana Rasul
s.a.w sudah wafat, maka sunnah beliaulah yang mesti dijadikan sebagai rujukan.
Abdul Malik mendapat sokongan dari masyarakat Islam. Di antara tokoh
kelompok Moderat yang masih hidup dan menyokong Abdul Malik adalah Ibnu Umar.
Umat Islam yang menyokong persatuan ini disebut Ahlu Al-Jama'ah Wa al-Sunnah,
kemudian ada proses pembalikan sering dibaca oleh sebahagian kaum muslimin
sehingga menjadi Ahlus-Sunnah Wal-Jamaah.
Jadi, baik
konsep tarbi' yang sampai hari ini sering dibaca oleh sebahagian kaum
muslimin --demikian juga dengan mendo'akan pemimpin yang berkuasa-- pada
khutbah-khutbah Jumaat, mahupun istilah Ahlus Sunnah Wal Jamaah,
sebenarnya lahir dari proses sejarah yang bertujuan untuk mempersatukan umat
yang sudah berpecah belah. Oleh kerana itu, sering kita terjumpa bahawa
kelompok Ahlus Sunnah Wal Jamaah sentiasa berusaha untuk
mempertemukan aliran pemikiran berbagai kelompok yang saling bertentangan.
Tetapi usaha
untuk mempersatukan umat itu tidaklah berhasil sebagaimana yang diharapkan,
persaingan antara kelompok tetap juga berjalan. Kelompok Syiah, misalnya, tetap
tidak dapat bergabung dalam persatuan itu; sebab menurut keyakinan mereka hak
untuk memegang jawatan khalifah hanyalah untuk Ali dan keturunannya. Kerana
jamaah tadi merupakan inisiatif dari kelompok Umawi yang sememangnya adalah
musuh politik mereka, itulah sebabnya kelompok Syiah sampai hari ini
tetap tidak bersimpati kepada kaum Muslimin dari golongan Ahlussunnah
Wal-Jamaah. Mereka menganggap Ahlussunnah Wal-Jamaah hanyalah penyokong dan
merupakan tali barut dari kelompok Umawi. Tanpaknya dendam kelompok syi'ah
terhadap kelompok umawi tidak kesampaian, kerana mereka sudah punah ditelan
zaman; jadi golongan Ahlus-Sunnah Wal-jama'ahlah yang menerima padahnya.
Belajar dari Sejarah
Masalah
politik telah menyebabkan umat Islam berpecah-belah dalam berbagai
kelompok dan puak-puak. Perpecahan politik juga terpengaruh kepada perselisihan
di dalam bidang Akidah, Syariah, dan tidak ketinggalan juga kepada perkembangan
Hadith, Tafsir, Tasawuf, dan sebagainya. Sejauh mana pengaruhnya terhadap
bidang-bidang tersebut akan kita bahas pada kesempatan lain. Tetapi sebelum
menutup tulisan ini, saya ingin menegaskan bahwa perpecahan politik umat Islam
di Malaysia ini, sehingga sebahagian menghina yang lain di mimbar-mimbar bahkan
ada yang mengkafirkan sesama Muslim, sebenarnya hanyalah proses pengulangan sejarah
yang tidak perlu dilakukan.
Umat Islam
di negara ini perlu menyedari bahwa pertengkaran itu hina. Perbezaan organisasi
politik dan keagamaan hendaklah tidak dijadikan untuk saling menghina dan
memusuhi, tetapi dimanfaatkan sebagai sarana untuk berlumba-lumba bagi membuat
kebajikan demi kemajuan umat dan negara. Apa yang akan dilihat oleh Allah swt
bukanlah organisasi yang kita miliki, tetapi adalah aktiviti (amal) yang kita
lakukan. Rasul bersabda: Sebaik-baik
manusia adalah orang yang memberi manfaat bagi orang lain. Tentangan yang
akan dihadapi di masa hadapan sangatlah berat. Kerana itu persatuan dan
kerjasama (amal jamai) perlu diwujudkan. Persatuan yang dimaksudkan
tidak bererti membubarkan organisasi-organisasi yang sudah ada, tetapi mesti
ada perancangan bersama yang akan dilakukan oleh semua pihak dan setiap
kelompok berusaha mewujudkannya untuk kemajuan umat. Oleh kerana itu perlu ada
dialog (musyawarah) antara golongan untuk membicarakan agenda bersama tadi.
Kerana pertikaian politik di kalangan
umat Islam negara ini sudah meruncing, maka harus ada kelompok Moderat yang
mempunyai inisiatif untuk mengadakan dialog tersebut. Kelompok Moderat ini hendaknya dipelopori oleh para
pemuda dari berbagai organisasi. Ini adalah disebabkan masa depan bangsa berada
di tangan para pemuda hari ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar