Malaikat Jibril menyediakan tangga Mi'raj yang diambil dari surga. tangga Mi'raj itu di perbuat dari emas dan perak berlapis mutiara. Melalui tangga inilah dengan berkendaraan Buraq Nabi SAW, bersama Malaikat Jibril lalu naik ke langit pertama yaitu langit dunia.
Ketika Jibril as meminta agar dibukakan pintu, terdengar suara bertanya: Siapakah engkau? Dijawabnya: Jibril. Jibril as ditanya lagi: Siapakah bersamamu? Jibril as menjawab: Nabi Muhammad saw Jibril as ditanya lagi: Apakah Nabi Muhammad saw telah diutus? Jibril as menjawab: Ya, Dia telah diutus. Kemudian pintu langit pun terbuka, Nabi Muhammad saw bersama Jibril segera masuk ke langit pertama.
DI LANGIT PERTAMA
Di sini Nabi Muhammad saw bertemu dengan Nabi Adam as, bapak seluruh umat manusia. Ketika Nabi Muhammad saw bertemu dengan Nabi Adam as, Dia disambut serta Nabi Adam as, mendoakannya dengan doa kebaikan. Pertemuan Nabi Muhammad saw dengan Nabi Adam as, di langit pertama ini sebenarnya merupakan suatu i'tibar, ketika kita berniat akan memulai perkerjaan atau perjalanan, terlebih dahulu kita datang kepada orang tua, yakni ayah dan ibu untuk memohon do'a restu keduanya agar perkerjaan dan perjalanan itu memperoleh kesuksesan serta mendapat keselamatan. Kemudian perjalanan di lanjutkan, naiklah Nabi saw bersama Jibril kelangit kedua.
DI LANGIT KEDUA
Dengan iringan penghormatan serta sambutan yang baik dari penjaga langit kedua, masuklah Nabi Muhammad saw, bersama Jibril. Di langit yang kedua Nabi Muhammad saw bertemu dengan Nabi 'Isa as dan Nabi Yahya as Kedua orang Nabi ini kemudian memberikan do'a restunya untuk keselamatan Nabi Muhammad saw Kemudian naiklah Nabi Muhammad saw bersama Jibril ke langit yang ke tiga.
DI LANGIT KETIGA
Sebagaimana di langit pertama dan kedua, begitu juga sampai didepan langit ketiga. Setelah selesai terjawab semua pertanyaan, di bukalah pintunya di bergabung penghormatan oleh penjaga langit itu kepada Nabi Muhammad saw Di langit yang ketiga, Nabi Muhammad saw bertemu dengan Nabi Yusuf as, yaitu seorang hamba Allah yang memperoleh karunia kecantikan paras wajahnya. Pertemuan antara Nabi Muhammad saw, dengan Nabi Yusuf as, di langit yang ketiga ini tidak ubahnya seperti pertemuan dua saudara. Selanjutnya Nabi saw bersama Jibril naik ke langit yang ke empat.
DI LANGIT KEEMPAT
Di sini Nabi Muhammad saw bertemu dengan Nabi Idris as yang telah memperoleh karunia tempat yang tinggi dari Allah swt Pertemuan ini pun tak ubahnya seperti pertemuan dua orang saudara yang telah lama berpisah. Perjalananpun di lanjutkan, Nabi Muhammad saw bersama Jibril terus naik ke langit yang ke lima.
DI LANGIT KELIMA
Dengan iringan penghormatan serta sambutan yang baik dari penjaga langit kelima, masuklah Nabi Muhammad saw, bersama Jibril. Di langit yang kelima, Nabi Muhammad saw bertemu dengan Nabi Harun as dengan penuh penghormatan. Pertemuan inipun tidak ubah seperti pertemuan dua orang saudara, penuh mesra dan saling hormat. Selanjutnya Nabi saw bersama Jibril naik ke langit yang ke enam.
DI LANGIT KEENAM
Di langit ke enam ini Nabi saw bertemu dengan Nabi Musa as Disini Nabi Muhammad saw menyaksikan suatu keanehan, sebab tiba-tiba saja Musa menangis tersedu-sedu. Ketika di tanyakan kepada Beliau .. Beliaupun menjawab: Karena aku tidak mengira ada seorang Nabi yang di utus Allah sesudahku, ummatnya akan lebih banyak yang masuk surga dari ummatku. Kemudian perjalanan di lanjutkan ke langit ketujuh.
Hadis Rasulullah saw Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra: Rasulullah saw telah menceritakan tentang perjalanan Israknya. Beliau bersabda: Musa berkulit sawa matang dan tinggi seperti orang dari Kabilah Syanu'ah. Sementara Nabi Isa as pula berbadan gempal, tingginya sedang. Selain dari itu beliau juga menceritakan tentang Malik penjaga Neraka Jahanam dan Dajjal
DI LANGIT KE TUJUH
Di sini Nabi Muhammad saw bertemu dengan Nabi Ibrahim as, disaat itu Nabi Ibrahim sedang bersandar di Baitul Ma'mur. Nabi saw di sambut dengan baik, penuh penghormatan seperti menyambut anak sendiri. Ibrahim sempat memberikan nasihat kepada Nabi Muhammad SAW sebagai berikut: Wahai Muhammad, aku nasehatkan agar engkau menyuruh umatmu untuk memperbanyak tanaman surga. Nabi SAW bertanya: Apakah yang tuan maksud dengan tanaman surga itu?. Jawab Nabi Ibrahima as Tanaman surga adalah ucapan: LAA haula walaa quwwata ILLAA BILLAAHIL 'ALIYYIL' adziim atau ucapan SUBHAANALLAAHI WAL HAMDULILLAAHI walaa ILAAHA ILLALLAAHU HUWALLAAHU AKBAR.
Perlu di ketahui bahwasanya Baitul Ma'mur adalah masjid para Malaikat yang setiap harinya tidak kurang dari 70.000 malaikat masuk kedalamnya dan ketika telah keluar, tidaklah mereka mengulanginya lagi.
Tidak lama kemudian Jibril menyajikan tiga buah gelas, masing-masing berisi arak, air susu dan madu, sehingga Nabi saw memilihnya mana yang lebih disukainya. Beliaupun memilih air susu, lalu di minumnya. Berkatalah Jibril: Benarlah engkau ya Muhammad. Itulah lambang kesucian engkau. Demikian malaikat Jibril mengatakan.
Di Sidratil Muntaha
Di Sidratul Muntaha ini Nabi Muhammad saw menyaksikan keindahan panorama yang tak tertandingi dan tidak ada di tempat manapun apa lagi di dunia ini. Dalam satu kesempatan di Sidratul Mutaha, Nabi Muhammad saw sempat melihat, rupa Malaikat Jibril yang asli. Di sebut dalam satu hadis yang di riwayat Bukhari dan Muslim bahwasanya Jibril memiliki enam ratus sayap. Selanjutnya Nabi Muhammad saw di ajak oleh Malaikat Jibril menyaksikan keindahan bengawan Al-Kautsar, sampai ke depan pintu gerbang surga kemudian Dia masuk ke surga, di dalam surga Beliau menyaksikan hal-hal yang mengherankan, yang belum pernah Beliau saksikan sebelumnya, juga mendengar suara- suara yang belum pernah Ia mendengarnya, bahkan apa saja yang menjadi keinginan hati seketika ada. Kesemuanya itu disaksikan oleh Nabi saw di dalam surga, bahkan Ia sempat membaca tulisan yang terpampang di pintu surga sebagai berikut, yang artinya:
SEDEKAH memperoleh pahala SEPULUH KALI LIPAT DAN menghutangi MENDAPATKAN PAHALA DELAPAN BELAS KALI LIPAT.
Bertanyalah Nabi saw kepada Jibril: Mengapakah pahala orang yang memberi hutang lebih besar dari pada pahala orang bersedekah?. Jibril menjawab: Benar, sebab orang yang di beri sedekah terkadang masih memiliki persediaan hidup, sedangkan orang yang berutang sudah barang tentu dia sangat membutuhkan, yakni tidak memiliki persediaan, sedangkan ia tidak sudi berbuat meminta-minta. Untuk kesempurnaan pengetahuan Nabi saw, diajak melihat kondisi melihat neraka, di sisi Beliau meyaksikan bermacam-macam penyiksaan dan sebagainya. setelah menyaksikan kondisi surga dan neraka, kemudian Nabi saw melanjutkan perjalanan naik ke Sidratul Muntaha sendirian tampa ditemani oleh Malaikat Jibril, lantaran Jibril merasa berat untuk melangkah lebih tinggi lagi. Di Sidratul Muntaha Dia mendengar suara goresan pena penulis, yaitu kalam yang menulis hukum-hukum Allah di Lauhul-Mahfuzh.
Selanjutnya Nabi Muhammad saw diangkat naik setingkat lagi sampai ke 'Arasy disinilah Nabi saw menerima perintah shalat yang wajib di laksanakan oleh Nabi saw dan segenap ummatnya sebanyak lima puluh kali sehari semalam. Dan akhirnya hanya tinggal lima waktu sehari malam setelah dinasihati oleh Nabi Musa as dan diperkenankan oleh Allah.
Juga di 'Arasy, Nabi Muhammad saw, menerima beberapa khushushiyyah yang belum pernah diberikan kepada para Nabi terdahulu. Tentang beberapa khushushiyyah, yang disebut antara lain sebagi berikut:
Nabi saw diberi oleh Allah: Surah Al-Fatihah dan akhir Surah Al-Baqarah dari ayat AAMANAR Rasuulu sampai kepada firmanNya FAN SHURNAA 'ALAL-QAUMIL KAAFIRIINA.
Allah berfirman dalam surat Al-Fatihah.
Yang berarti: Dengan nama Allah, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan yang semesta alam. Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Yang Menguasai pemerintahan hari Pembalasan (hari Akhirat). Engkaulah saja (Ya Allah) Yang Kami sembah, dan kepada Engkaulah saja kami memohon pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus. Yaitu jalan orang-orang yang Engkau karuniakan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) orang-orang yang Engkau telah murkai, dan bukan pula (jalan) orang-orang yang sesat.
Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 285 & 286. Yang berarti: Rasulullah telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, dan juga orang-orang yang beriman; semuanya beriman kepada Allah, dan malaikat-malaikat, dan Kitab-Nya, dan Rasul-Nya. (Mereka berkata): "Kami tidak membedakan antara seorang dengan yang lain rasul". Mereka berkata lagi: Kami dengar dan kami taat (kami pohonkan) Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali ". Allah tidak membebani seseorang melainkan yang terdaya olehnya. Ia mendapat pahala kebaikan yang dikerjakannya, dan ia juga menanggung dosa kejahatan yang diusahakannya . (Mereka berdoa): "Ya Tuhan kami! Janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Wahai Tuhan kami! Janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana yang telah Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Wahai Tuhan kami! Janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami; oleh itu, tolonglah kami untuk mencapai kemenangan terhadap kaum-kaum yang kafir ".
Nabi saw menerima Ilmu tentang:
1. Islam
2. Hijrah
3. Jihad
4. Sedekah
5. Puasa Rammadhan
6. Amal Ma'ruf
7. Nahyi Mungkar
8. Solat
Nabi Muhammad saw memperoleh derajat yang tertinggi, yaitu Asma Allah di sebutkan bersamaan dengan nama Muhammad (LAA-ILAAHA ILLALLAAHU, MUHAMMADUR-rasuulullaah) di dalam azan, tasyahhud dan lain-lainnya.
Nabi Muhammad saw juga menerima gelar HABIBULLAH dan SAYYIDUL AWWALIINA WAL AKHIRIINA.
Setelah Nabi Muhammad saw melakukan tugas perjalanan Isra 'dan Mi'raj, dengan membawa perintah shalat lima waktu sehari semalam, maka Dia turun sampai ke Masjidil Haram di Mekah. Dia datang di Mekah sebelum subuh. Keesokan harinya Beliau menceritakan peristiwa Isra 'dan Mi'raj yang dialaminya semalam ke Abu Jahal dan segenap kaumnya. Kaum Quraisy sangat gembira mendengar cerita Nabi saw ini, karena membuat bukti yang jelas, akan kedustaan dan kepalsuan seruan Nabi Muhammad saw Cerita ini yang menurut mereka sangat berlebih-lebihan dan melampaui batas ini akan menjadi alasan yang dapat menjauhkan orang dari Nabi Muhammad saw . dan orang yang masih ragu-ragu akan segera meninggalkan Nabi saw dan tidak akan memikirkan lagi untuk mengikui dan menerima agamanya. Dugaan kaum Quraisy meleset, hal ini ternyata, utusan yang dikirim kaum Quraisy kepada Abu Bakar As-Shiddiq menyampaikan pertanyaan: Abu Bakar, dapatkah engkau mempercayai dan membenarkan Muhammad yang mengatakan ia baru saja pergi ke Yerusalem dan dari sana ia terus naik ke langgit yg ke tujuh, lalu pada malam itu juga ia kembali ke Mekah? Pertanyaan ini dijawab oleh Abu Bakar dengan tegas. Kalau memang Dia menyatakan demikian, benarlah ia dan pun percaya.
Utusan Quraisy mengulangi pertanyaan: Apakah engkau mengizinkan hai Abu Bakar?. Dengan tegas Abu Bakar menjawab: Aku mengizinkan dan aku yakin dan percaya. Dengan jawaban Abu bakar yang demikian mereka kecewa dan memfitnah Nabi Muhammad saw dan menuduhnya sebagai seorang pendusta, gila dan lain sebagainya. Dengan demikian kita dapat memgambil kesempulan, bahwa sejak dahulu sampai sekarang kaum muslimin telah yakin dan percaya serta beriman terhadap peristiwa Isra 'dan Mi'raj. Sebagai penutup marilah kita berdo'a semoga Allah swt selalu berkati, melindungi kita dan mudah-mudahan kita senantiasa di bawah naungan keridhaan Nya.
Hikmah Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW
Perintah sholat dalam perjalanan isra dan mi'raj Nabi Muhammad SAW, kemudian menjadi ibadah wajib bagi setiap umat Islam dan memiliki keistimewaan tersendiri dibandingkan ibadah-ibadah wajib lainnya. Sehingga, dalam konteks spiritual-imaniah maupun perspektif rasional-ilmiah, Isra 'Mi'raj merupakan kajian yang tak kunjung kering inspirasi dan hikmahnya bagi kehidupan umat beragama (Islam).
Perintah sholat dalam perjalanan isra dan mi'raj Nabi Muhammad SAW, kemudian menjadi ibadah wajib bagi setiap umat Islam dan memiliki keistimewaan tersendiri dibandingkan ibadah-ibadah wajib lainnya. Sehingga, dalam konteks spiritual-imaniah maupun perspektif rasional-ilmiah, Isra 'Mi'raj merupakan kajian yang tak kunjung kering inspirasi dan hikmahnya bagi kehidupan umat beragama (Islam).
Bersandar pada alasan inilah, Imam Al-Qusyairi yang lahir pada 376 Hijriyah, melalui buku yang berjudul asli 'Kitab al-Mikraj' ini, berupaya memberikan peta yang cukup komprehensif seputar kisah dan hikmah dari perjalanan agung Isra 'Mi'raj Nabi Muhammad SAW, beserta telaahnya. Dengan menggunakan sumber primer, berupa ayat-ayat Al-Quran dan hadist-hadits shahih, Imam al-Qusyairi dengan cukup gamblang menuturkan peristiwa fenomenal yang dialami Nabi itu dengan runtut.
Selain itu, buku ini juga mencoba mengajak pembaca untuk menyimak dengan begitu detail dan mendalam kisah sakral Rasulullah SAW, serta rahasia di balik peristiwa luar biasa ini, termasuk mengenai mengapa mikraj di malam hari? Mengapa harus menembus langit? Apakah Allah berada di atas? Mukjizatkah mikraj itu hingga tak bisa dialami orang lain? Ataukah ia semacam wisata ruhani Rasulullah yang patut kita teladani?
Bagaimana dengan mikraj para Nabi yang lain dan para wali? Bagaimana dengan mikraj kita sebagai muslim? Serta apa hikmahnya bagi kehidupan kita? Semua dibahas secara gamblang dalam buku ini.
Dalam pengertiannya, Isra 'Mi'raj merupakan perjalanan suci, dan bukan sekadar perjalanan "wisata" biasa bagi Rasul. Sehingga peristiwa ini menjadi perjalanan bersejarah yang akan menjadi titik balik dari kebangkitan dakwah Rasulullah SAW. John Renerd dalam buku "In the Footsteps of Muhammad: Understanding the Islamic Experience," seperti pernah dikutip Azyumardi Azra, mengatakan bahwa Isra Mi'raj adalah satu dari tiga perjalanan terpenting dalam sejarah hidup Rasulullah SAW, selain perjalanan hijrah dan Haji Wada. Isra Mi'raj, menurutnya, benar-benar merupakan perjalanan heroik dalam menempuh kesempurnaan dunia spiritual.
Jika perjalanan hijrah dari Mekah ke Madinah pada 662 M menjadi permulaan dari sejarah kaum Muslimin, atau perjalanan Haji Wada yang menandai penguasaan kaum Muslimin atas kota suci Mekah, maka Isra Mi'raj menjadi puncak perjalanan seorang hamba (al-abd) menuju sang pencipta ( al-Khalik). Isra Mi'raj adalah perjalanan menuju kesempurnaan ruhani (insan kamil). Sehingga, perjalanan ini menurut para sufi, adalah perjalanan meninggalkan bumi yang rendah menuju langit yang tinggi.
Inilah perjalanan yang sangat didambakan setiap praktisi tasawuf. Sedangkan menurut Dr Jalaluddin Rakhmat, salah satu momen penting dari peristiwa Isra Mi'raj yakni ketika Rasulullah SAW "berjumpa" dengan Allah SWT. Ketika itu, dengan penuh hormat Rasul berkata, "Attahiyatul mubaarakaatush shalawatuth thayyibatulillah"; "Segala kehormatan, kemuliaan, dan keagungan hanyalah milik Allah saja". Allah SWT pun berfirman, "Assalamu'alaika ayyuhan nabiyu warahmatullahi wabarakaatuh".
Mendengar percakapan ini, para malaikat serentak mengumandangkan dua kalimah syahadat. Maka, dari ungkapan bersejarah inilah kemudian bacaan ini diabadikan sebagai bagian dari bacaan shalat.
Selain itu, Seyyed Hossein Nasr dalam buku 'Muhammad Kekasih Allah' (1993) mengungkapkan bahwa pengalaman ruhani yang dialami Rasulullah SAW saat Mi'raj mencerminkan hakikat spiritual dari shalat yang di jalankan umat islam sehari-hari. Dalam artian bahwa shalat adalah mi'raj-nya orang-orang beriman. Sehingga jika kita tarik benang merahnya, ada beberapa urutan dalam perjalanan Rasulullah SAW ini.
Pertama, adanya penderitaan dalam perjuangan yang disikapi dengan kesabaran yang dalam. Kedua, kesabaran yang berbuah balasan dari Allah berupa perjalanan Isra Mi'raj dan perintah shalat. Dan ketiga, shalat menjadi senjata bagi Rasulullah SAW dan kaum Muslimin untuk bangkit dan merebut kemenangan. Ketiga hal diatas telah terangkum dengan sangat indah dalam salah satu ayat Al-Quran, yang berbunyi "Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk. (Yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya. "
Tidak ada komentar:
Posting Komentar