Di pintu gerbang surga, dengan gayeng
Tuhan dan Rendra sedang bermain catur. Tak
jauh dari mereka, Mbah Surip bernyanyi-
nyanyi riang dengan sebuah gitar butut.
Hari ini, Tuhan memang sengaja datang ke
pintu surga bersama Rendra. Mereka mau
menemani Mbah Surip yang bersikeras tidak
mau masuk surga, setiap kali ditanya ,
jawabannya selalu sama. Mbah Surip merasa
bahwa di dalam dirinya sudah ada surga.
Tuhan senyum-senyum tiap kali Mbah Surip
bilang begitu, senyum maklum dan terpana,
karena Tuhan tahu betul bahwa surga tidak
juga membawa kebahagiaan kalau hati kita
tidak menjadi ‘surga’ itu sendiri. Surga
sebenarnya ada dalam hati yang penuh cinta
kasih dan menerima hidup apa adanya.
Selama ada keinginan duniawi yang
membebani, seperti mendapatkan 72
bidadari, istana mewah, atau kendaraan
perlente, surga tidak akan membantu apa-
apa dalam mencapai kebahagiaan abadi.
Mbah Surip masih tetap gimbal dan butut,
sebutut gitar yang selalu ditentengnya
kemana-mana. Rambutnya semakin bau,
karena di surga tidak ada shampoo khusus
buat kucing Agora yang sering dipakainya
dulu waktu di dunia.
‘Inem, tolong bikinin kopi hitam kental buat
Mbah Surip.’
Tuhan berteriak memerintah. Tiba-tiba dari
belakang pintu gerbang datang seorang
cewek berpakaian seronok dan bermake up
tebel.
Mata Rendra berkejap-kejap. Maklum, Rendra
sejak masa mudanya memang cukup
playboy. Tercatat dia pernah punya 3 istri,
walau akhirnya yang bertahan cuma satu.
‘Aduhai, surga ternyata punya tukang bikin
kopi bohay.’ pikir Rendra. Rendra
memandangi Inem dari ujung rambut sampai
ujung kaki, lumayan juga. Pikiran Rendra jadi
melayang-layang gak tentu arah.
Plaakkk……………
‘Aduh ndro, mata tuh dikontrol, ijo aja klo
udah lihat cewek.’
Ternyata Tuhan yang menampar pipi Rendra,
Rendra cuman cengar-cengir ditampar ama
Tuhan. Gedeg juga Rendra dibuyarkan
lamunan singkatnya bersama Inem.
‘Gue juga dong Tuhan, kopi kental juga, tapi
pake gula.’
Tuhan menyeringai…
‘Inem, sekalian deh , ini cecunguk minta kopi
juga, tapi kasih gula ya. Sama satu gelas Jack
Daniels on ice buatku’.
Inem mendengarkan penuh perhatian.
‘Iya Tuhan, pesanan segera datang’.
Tak lama kemudian pesanan pun datang.
Lagi-lagi jakun Rendra turun naik lihat
keseronokan si Inem pelayan surga ini.
Sementara Mbah Surip masih asyik bermain
gitar dengan lagu-lagu kesukaannya.
Tiba-tiba datang dengan tergopoh-gopoh,
dua orang berbaju koko dan berpeci. Mereka
langsung menghampiri Rendra dan Tuhan
yang lagi bermain catur.
‘Akhi, saya mau ketemu Tuhan’
‘Siapa kamu?’ Rendra menengok sebentar
dan memperhatikan pria itu.
‘Aku Ibrohim, dan ini majikan saya Noordin
Top’
Gantian Tuhan kali ini yang menengok ke
arah dua pria itu. Gusar juga dia mendengar
kata ‘majikan’ di surga.
‘Ooh, jadi pria bego ini majikanmu’. Tuhan
menjawab dengan muka sinis.
Dijawab sinis seperti itu, Noordin mendidih
darahnya.
‘Hai, kau pria tua bangka, jangan macam-
macam ya. Aku ini Noordin Top, sudah
terkenal ke penjuru dunia. Pejuang Islam
sejati, yang berani melawan bangsa kafir di
dunia.’
Tuhan mendelik, berani-beraninya ini
cecunguk mengata-ngatai dia. Tuhan
langsung berdiri.
‘He, cecunguk goblog. Gue ini Tuhan, yang
punya surga ini. Berani-beraninya kalian
ngomong kasar di sini. Penjaga, gebukin dua
cecunguk gak tau diri ini.’
Ibrohim dan Noordin yang tadinya lantang
jadi ketakutan, tidak mengira sama sekali
bahwa yang didepannya adalah Tuhan itu
sendiri. Begitu melihat penjaga membawa
pentungan segede bagong, mereka semakin
ketakutan dan terkencing-kencing di celana
gombrang mereka yang dilipat di atas mata
kaki.
Dengan sigap, dua penjaga memegang
Noordin dan Ibrohim dan digebukin dengan
penuh semangat. Terdengar teriakan ampun-
ampun, tapi semakin berteriak, penjaga
semakin semangat pula menggebuki Noordin
dan Ibrohim.
Setelah beberapa lama ajang penggebukan
berlangsung, Rendra menepuk-nepuk Tuhan.
‘Udahlah Tuhan penggebukannya, kasihan.
Lagian mereka juga gak tahu kalau lo
Tuhan.’
‘Iya juga sih. Penjaga, udah , udah.....jangan
digebuki lagi. Bawa kesini dua cecunguk itu. ‘
Begitu mendengar perintah Tuhan, serta
merta dua penjaga menghentikan aksi yang
nampaknya mereka nikmati itu. Diseretlah
Noordin dan Ibrohim ke dekat tempat Tuhan
dan Rendra main catur. Muka dan tubuh
keduanya memar-memar dan benjol-benjol.
Sambil meringis-ringis mereka mohon ampun
sama Tuhan.
‘Ampun wahai Allah Tuhan seru sekalian
alam, kami tidak tahu sama sekali bahwa
dirimu adalah Allah Azza Wajalla’
‘Iya kali ini kalian kuampuni, apa maksud
kalian kemari..?’
‘Maaf beribu maaf Rabbul Jalaal, kami datang
karena kami sudah menunaikan tugas
membela agamamu Islam. Kami sudah
membunuh berpuluh-puluh orang kafir yang
telah memusuhi Islam. Dengan rendah hati,
kami ingin dimasukkan surgamu ya Allah.’
Noordin dengan menghiba meminta kepada
Tuhan. Begitu selesai kalimatnya, Ibrohim
menimpali.
‘Iya Allah, aku sudah mengebom para kafir-
kafir itu. Aku pengen 72 bidadari perawan
seperti yang kau janjikan, plus istana yang
ada sungai susu dan madu di belakangnya.’
Tuhan nyengir, kemudian tertawa terbahak-
bahak. Rendra yang didepannya juga ikut
tertawa. Mbah Surip yang tadinya bernyanyi-
nyanyi juga ikut tertawa, bukan karena apa-
apa, tapi karena memang Mbah Surip suka
tertawa gak ada sebabnya.
‘Sini manusia goblog, dengerin baik-baik ya.
Kalian ini bukannya membela Islam, tapi
malah menjelekkan nama Islam.
Menegakkan kebenaran dengan senjata
adalah sejelek-jelek menegakkan kebenaran.
Dan kalian menegakkan kebenaran pakai
bom orang-orang tak berdosa, sebagian
besar korbannya juga saudara muslimmu
sendiri, belum yang kafir pun kafir dzimmi,
yang seharusnya kalian lindungi. Otak kalian
dikemanain, bego dipelihara, kambing tuh
dipelihara.’
Rendra dan Mbah Surip semakin terpingkal-
pingkal mendengar hardikan Tuhan. Noordin
dan Ibrohim semakin ketakutan. Bisa-bisa
digebukin lagi pikir mereka.
Rendra yang dari tadi diam menimpali.
‘Bangunlah bangsa Indonesia dengan
pembangunan, dengan dipenuhinya hak-hak
kaum terpinggirkan, disejahterakannya
semua warga negara, dan dihentikannya
praktek-praktek korupsi, kolusi, dan
nepotisme. Yang menyebabkan kita bodoh
dan miskin itu bukan hanya bangsa Barat
yang kalian anggap kafir itu, tapi sebagian
besar kesalahan tetap pada diri kita yang
tidak mau berusaha keras mencapai
kemajuan. Penjajahan yang lebih besar dan
lebih berbahaya adalah penjajahan oleh
saudara sebangsa sendiri.’
Kalau hardikan Tuhan, Noordin dan Ibrohim
gak berani menjawab dan menundukkan
muka dalam-dalam. Begitu Rendra yang ikut-
ikutan ceramah, mereka sontak menjawab.
‘Tujuan kami juga kesejahteraan dan
kejayaan Islam, dengan mendirikan khilafah
Islamiyah.’
Tuhan mendelik lagi, walaupun jawaban
Noordin sebenarnya untuk Rendra, tapi
Tuhan menyela.
‘Kalian ini bego ya, kalau lihat sejarah yang
bener dong. Tidak ada itu khilafah Islamiyah,
yang pernah ada dalam sejarah Islam
hanyalah para raja-raja cecunguk yang
berkuasa mengatasnamakan Islam. Begitu
Muhammad wafat, umat Islam kerjaannya
rebutan kuasa saja. 3 dari 4
khulafaurrasyidin mati terbunuh, cucu
Muhammad dipenggal kepalanya dan diseret-
seret seperti anjing, menantu Muhammad Ali
perang dengan istrinya Aisyah. Kalau kalian
mau yang kaya gitu, kenapa kalian dulu
tidak hidup saja di Afghanistan. ‘
‘Hayo, mari kita gendong, semua
menggendong. Wakil rakyat harus
menggendong rakyatnya, presiden harus
menggendong rakyatnya, semua harus
menggendong semua. Walaupun capek dan
berat, itulah tugas kita sebagai manusia.’
Mbah Surip yang semula diam, tiba-tiba
nyeletuk. Tuhan menengok Mbah Surip, lalu
tiba-tiba dapat ide.
‘Mbah Surip, aku minta tolong lah.
Gendonglah jiwa-jiwa yang malang, kacrut,
dan bego ini, ajari dia dengan cinta kasih.
Surga masih terlalu tinggi untuk jiwa kerdil
seperti ini.’
Mbah Surip mengerlingkan matanya dan
tertawa….
‘Haahahahahahahahaahaha......I Love U Full
Noordin dan Ibrohim’
……………….
Maka sejak hari itu, Mbah Surip membimbing
Noordin dan Ibrohim. Diajaknya mereka
hidup tirakat di depan pintu gerbang surga.
Diajari kesederhanaan dan cinta kasih yang
murni. Diajak mempunyai hati yang damai
dan belajar ilmu dengan kesungguhan.
Setelah beberapa bulan bersama Mbah Surip,
kelihatan kalau Ibrohim sudah mulai
berubah. Walaupun masih lugu dan agak
bego, dia sudah mulai mengerti arti cinta
kasih yang sejati. Berbeda dengan Noordin,
rupanya memang Noordin hatinya tetap
penuh kebencian, tidak hanya kepada
manusia, tetapi juga kepada Tuhan yang
telah jelas-jelas menolak dia masuk surga
yang dikiranya dulu telah menjadi hak
prerogatifnya.
Suatu hari yang cerah, Tuhan menengok
Mbah Surip bersama Rendra lagi sekalian
mau melihat perkembangan dua cecunguk
yang dididik Mbah Surip.
Begitu melihat Tuhan datang, Ibrohim
berjingkat. Mbah Surip masih bernyanyi
seperti biasa, sedangkan Noordin kelihatan
bersungut-sungut.
‘Mbah Surip, bagaimana perkembangan dua
cecunguk ini bersamamu.’
Mbah Surip tertawa ngakak…
‘Hahaha….hahaha….tanya saja sama mereka
sendiri’
Mata Tuhan terantuk di Ibrohim yang
cengar-cengir di depannya.
‘Bagaimana Ibrohim, kamu mau apa
sekarang..?’
‘Aku tidak mau apa-apa Tuhan, apapun
keputusanmu aku terima dengan senang
hati dan bahagia. Akupun rela kalau engkau
tempatkan hanya di pintu gerbang surga ini.’
Tuhan lalu beralih ke Noordin.
‘Noordin, kamu mau apa..?’
‘Tuhan, sudah jelas aku mau surga.
Perjuanganku sudah kurasa cukup di dunia,
sekarang waktunya menikmati kerja kerasku
itu. Kau sendiri apa gak liat, nyawa
kupertaruhkan demi membunuh orang-orang
kafir musuh Islam itu.’
‘Aku tidak bsa memberimu surga Noordin,
karena kamu tidak ikhlas berjuang. Lagipula
jihadmu adalah jihad eksternal tanpa
diimbangi jihad internal. Belum kalau
dihitung bahwa yang kamu lakukan tidak
termasuk jihad, itu hanya kebodohan absolut
yang diejawantahkan dalam tindakan
absurd.’
Mendengar Tuhan sama sekali tak
menghargai jerih payahnya, Noordin panas
juga.
‘Tuhan, lo emang gak tau diri ya. Udah
dibelain, malah nyalahin. Coba buka mata
lebar-lebar ya, lihat dalam arsip sejarahmu
seberapa besar pengorbananku.’
Mendengar ucapan ofensif dari Noordin,
Tuhan naik pitam. Langsung dia berdiri,
matanya merah menyala.
‘Bangsat kau Noordin, agama cinta yang
kuturunkan, agama kebencian yang kau
peluk. Penjaga, tak sudi lagi aku melihat
cecunguk tolol ini, turunkanlah dia ke dunia
lagi. Biar dia lakukan apapun yang dia mau,
sudah kusiapkan neraka paling bawah buat
dia kelak. ‘
Tuhan menendangi meja-meja sangking
marahnya, Inem yang tumben-tumbennya
melihat Tuhan marah jadi ikut ketakutan.
Pintu gerbang surga jadi penuh suara
keributan karena Tuhan ngamuk, suara
piring dan gelas pecah juga terdengar. Tuhan
benar-benar di luar control.
Melihat situasi tidak kondusif seperti itu,
Rendra menghampiri Mbah Surip.
‘Mbah, gendonglah Tuhan. Kasian Dia…
Rabu, 20 November 2013
Mbah Surip Menggendong Tuhan
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar