Jumat, 25 Oktober 2013

Rumah Tua ( hantu kepala )

Cerita ini sebagian saya alami ketika saya masih
duduk di bangku sekolah dasar, sebagian lagi
dituturkan oleh nenek dan Alm. kakek saya. Sejak
kecil saya tinggal bertiga bersama kakek dan
nenek saya dirumah kami yang terbilang tua.
Saya dengar dari nenek saya bahwa rumah yang
kami tempati dulu sekali adalah bekas rumah
seorang jogoboyo kemudian direnovasi oleh Alm.
kakek saya. Meskipun telah mengalami renovasi,
tetapi tetap saja tidak jauh beda dari rumah-
rumah jawa kuno lengkap dengan joglonya,
hanya sekarang lebih luas. Hingga sekarang,
rumah kami tersebut paling mudah dikenali
karena memang bangunannya paling kuno
diantara rumah penduduk yang lain.
Ketika mulai dari renovasi pertama yang
dilakukan pada sekitar tahun 60an, beberapa
orang telah acap kali mendapat sapaan dari
penunggu disini. Pernah suatu ketika rumah
tersebut baru dipasangi tiang penyangga baru,
seorang petugas ronda mendapati nenek saya
duduk sendirian ditengah ruangan(saat itu
tembok baru belum selesai dibangun). Ketika
hendak disapa, nenek saya hilang begitu saja.
Keesokan harinya petugas tersebut menanyakan
kepada nenek saya tentang kejadian semalam.
Nenek saya menjawab bahwa beliau tidak keluar
sejak magrib. Lalu siapa yang duduk disana?
Description:
Tepat di halaman sebelah timur dulu ada pohon
sawo besar dan berdaun rimbun. Banyak orang
yang telah disesatkan oleh penghuni dari pohon
tersebut, apalagi jika lewat tengah malam dengan
pikiran kosong. Pernah terjadi seseorang lari
tunggang-langgang karena melihat bayangan
hitam besar Yang awalnya berjalan lurus, namun
saat melewati pohon tersebut malah tanpa sadar
berbelok kehalaman rumah kami. Bahkan ada
yang sampai tertidur diatas pohon sawo entah
bagaimana bisa. Akhirnya, atas saran dari
seorang kyai, maka pohon sawo tersebut
ditebang. Setelah ditebang, kadang masih
terdengar suara orang menangis dari arah bekas
pohon sawo itu.
Selain itu, masih ada cerita lagi tentang glundung
pecek(sejenis makhluk halus yang hanya
kepalanya saja). Dulu, kakek saya gemar
menanam pohon kelapa di kebun belakang
rumah. Saat itu buah-buah kelapa sudah siap
panen. suatu malam, kebetulan saya sedang
tidur bersama kakek saya. Tiba-tiba kakek saya
terbangun, saya juga ikut membuka mata seraya
menanyakan pada kakek kenapa malam-malam
begini bangun. Kakek saya bilang ada pencuri.
Saya sontak ketakutan dan memeluk kakek saya.
Beliau bilang tidak perlu takut. Sejurus
kemudian kakek saya merapalkan sesuatu(kakek
saya aliran kejawen tulen), kemudian keluar(saya
tetap didalam was-was). Tidak berapa lama,
terdengar suara histeris dari arah belakang
rumah sambil berlari kedepan. Didepan, kakek
dan petugas ronda meringkus pencuri tersebut.
Setelah di interogasi, si maling mengakui
perbuatannya hendak mencuri buah kelapa dari
kebun. Namun naas, sebelum melancarkan
aksinya, dia seakan melihat banyak buah kelapa
berjatuhan, saat di amati ternyata banyak kepala
manusia menggelinding layaknya bola sepak
sambil nyengir membuatnya bergidik lari
ketakutan.
Sedang cerita yang satu ini saya msih ingat jelas
dikepala saya hingga sekarang. Malam itu kira-
kira jam 8-9 malam. Kami bertiga sedang asyik
nonton TV diruang tengah. tidak sengaja saya
yang kala itu sedang tidur-tiduran dilantai
melihat api dari kaca genteng berputar diatas
rumah kami. saya memberitahukan hal itu
kepada nenek, tapi beliau menyuruh saya diam
saja. Saya melanjutkan nonton TV. Tanpa diduga,
dapur yang terletak dibangunan ketiga sebelah
timur begitu saja dilalap api. Saya, kakek dan
nenek saya pontang-panting bergiliran
memadamkan api. Anehnya, sudah disiram
berember-ember air, apinya tidak mau padam.
Kakek saya ambil cara lain. Beliau menyuruh
saya untuk mengambil garam di senthong(ruang
penyimpan sembako) kemudian ditaburkan ke
arah api sambil mengucap sesuatu. Api itu
berangsur-angsur mengecil lalu padam. Tidak
ada bara dan asap, hanya hitam gosong bekas
dilalap api. Yang lebih aneh lagi, para tetangga
sama sekali tidak menyadari kalau rumah kami
baru saja mengalami kebakaran. Padahal jam
segitu masih banyak yang berlalu-lalang di jalan.
Sampai sekarang kesan suram dan angker masih
saya rasakan. Ruangan yang menurut saya paling
suram adalah dapur. Dipojok belakang dapur
seperti ada yang mengawasi dari sana. Begitu
juga didua sudut kebun belakang rumah kami.
Kuburan buyut tetangga disebelah timur dan
kuburan bayi yang mengalami keguguran di
sebelah barat. Bahkan siang hari sering
terdebgar suara bambu diketok-ketok atau suara
keratan bambu yang melengkung-lengkung tanpa
ada angin yang bertiup.
Sekian cerita dari pengalaman saya. Mungkin
cerita yang saya sajikan kurang seram, saya
mohon maaf. Kritik dan saran membangun saya
terima gar lebih baik kedepannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar