Kamis, 24 Oktober 2013

Rumah Angker Diujung Desa

Saya anak laki2 dan anak pertama dari 2 bersaudara, saya
tinggal di jatim, disebuah pedesaan yang jauh dari kota.
Kanan, kiri, belakang kampung saya masih berupa
hantaran sawah yang luasnya puluhan hektar. Rumah saya
terletak dipinggir kampung selatan jalan, jalan ini lumayan
strategis karena jalan satu-satunya penghubung antar desa
dan kecamatan, suatu ketika abis magrib saya bermain
sepeda sendirian. Dari depan rumah berjalan kearah timur
hingga paling ujung kampung. Diujung kampung ini ada
rumah yang sudah lama kosong, temboknya banyak yang
retak sana sini, sebagian lantai teras ada yang jeblok/
amblas kebawah, sehingga jika dilihat dari depan, atap
teras miring kesamping. Halamanya banyak ditumbuhi
rumput ilalang dan semak belukar, tampak sekali kotor
tak terurus. Lum lagi ujung halaman yang berbatasan
dengan jalan tumbuhlah 4pohon waru dengan batang
agak besar dan doyong kebawah sehingga pohon waru ini
berkesan pendek. Dibelakang rumah itu masih terdapat
satu rumah, belakangnya lagi terdapat rumah tempat
penggilingan padi yang besarnya hampir setengah hektar,
yang didalamnya juga digunakan sebagai gudang untuk
menyimpan padi. Jika malam tiba lokasi sekitar terlihat
menyeramkan.
Namun keseraman itu ga berlaku bagi saya, ketika
melewati jalan depan rumah kosong itu saya ga merasa
takut (bukanya sombong lho). Setelah melewati rumah
diujung kampung itu, kini didepan saya jalan lurus untuk
menuju kampung sebelah, jalan ini sangat panjang,
hampir 2KM. Kanan kiri jalan hamparan sawah yang
luasnya berpuluh-puluh hektar. Nah setelah melewati
beberapa petak sawah saya balik lagi menuju rumah,
otomatis harus melewati depan rumah kosong tadi,
setelah berhasil melewati rumah kosong itu, lalu saya
melewati beberapa rumah tetangga setelah itu barulah
sampai rumah. Begitu sampai rumah saya keluar lagi
sepedaan menuju ujung kampung, setelah melewati
rumah kosong dan beberapa petak sawah saya putar
balikan sepeda lagi untuk pulang.
Kejadianya disini nih saat mau melintasi depan rumah
kosong, 10 meter dari jauh saya melihat penampakan
aneh dipohon waru. Karena waktu udah malam jadi ga
begitu jelas bentuknya, apalagi diujung kampung cuma
ada satu lampu penerangan yang ga begitu terang.
Akhirnya saya terus jalan mendekat. Setelah sekitar kurang
lebih 4meter, saya baru bisa melihat dengan jelas.
Ternyata teman-teman ada 4pocong dengan muka gosong
lagi asik nangkring dipohon waru. Ada yang tiduran
didahan, ada yang bersandar dipohon, ada yang duduk di
ranting sambil kakinya ongkang-ongkang, dan satunya lagi
mau menyeberang jalan sambil loncat-loncat.
Melihat keadaan itu saya sempat kaget, namun saya
berusaha untuk tenang sambil melihat ulah mereka.
Karena saya ga mau berurusan dengan pocong saya ga
langsung meneruskan jalan, namun saya berbalik arah
sambil membelokan sepeda kearah jalan menuju kampung
sebelah. Dalam hati, saya berpikir kali aja nanti kalo
kembali lewat depan pohon waru tadi tuh mahkluk dah
pergi. Dan benar saja ketika saya kembali lewat jalan itu
dah ga ada pocong. Namun kini ternyata yang muncul
sesosok kuntilanak yang lengkap dengan atributnya,
berdiri diantara semak-semak belukar dekat pohon waru
sambil menatap tajam kearah saya. Saya pun percepat
kayuh sepeda, tak peduli dengan kuntilanak tadi.
Syukurlah akhirnya saya selamat sampai dirumah, lalu
saya cerita dengan keluarga, namun apesnya saya malah
dimarahi ortu gara-gara keluyuran malam-malam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar