Rabu, 25 September 2013

Membedakan MLM asli dg MLM palsu

1. Kalau anda mendapat tawaran peluang
MLM, perhatikan sistemnya.
Menurut situsweb mlmlaw.com, anda
harus tanya kepada orang yang
menawarkan bisnis ini, “APAKAH TANPA
MEREKRUT DOWNLINE SAYA BISA
MENDAPAT UNTUNG DI BISNIS INI ?”.
Jika jawabnya adalah TIDAK, maka MLM
itu pasti asal-asalan, penipuan, dan
piramid
murni.
2. Periksa sistemnya, apakah di MLM itu
dimungkinkan DOWNLINE BISA
MELAMPAUI UPLINE DALAM BONUS DAN
JENJANG ?.
Ciri MLM sejati adalah “Bisa mendapat
untung tanpa merekrut downline”
dan “Ada mekanisme dimana Downline
bisa melampaui Upline dalam bonus
dan jenjang”. Sekarang, point ke tiga
adalah :
3. Dalam MLM sejati, bonus didapat dari
TRANSAKSI PRODUK di dalam
group, bukan dari uang PENDAFTARAN
ANGGOTA BARU.
Kita akan lihat beberapa karakter
perusahaan MLM yang asal-asalan.
Biasanya mereka hanya punya satu atau
dua jenis produk saja, atau
bahkan tidak ada produknya sama sekali.
Dan agar terjadi perputaran
uang yang sangat besar (untuk meraup
profit dengan cepat), maka harga
produk dimarkup habis-habisan sehingga
terjadilah BV (bonus value)
yang tinggi. Dengan BV yang tinggi ini,
jelas mereka bisa menjanjikan
bonus hingga Milyaran rupiah (di atas
kertas).
Kita baca di koran-koran, banyak orang
mendadak menjadi gila dengan
menjual tanah atau perhiasan untuk ikut
MLM model ini. Akhirnya
uangnya ditukar dengan produk yang
seharusnya bernilai rendah. Produk
ini tidak laku dijual di pasaran bebas
karena memang tidak ada
nilainya.
Karena itu jangan cepat terpukau dengan
rayuan : ” TIDAK PERLU MENJUAL
!, TIDAK PERLU TRAINING, TIDAK PERLU
INI..ITU”. Justru di balik
informasi itu ada perangkap yang bisa
membuat amblas uang kita.
Point nomor 3 ini bisa dikembangkan lagi.
Karena produk cuma satu,
biasanya MLM yang asal-asalan akan
menganjurkan anggotanya untuk
melakukan re-entry (pendaftaran ulang).
Mereka pasti akan mengimingi
uang, bukannya produk yang bermutu.
Anggota diminta mendaftar ulang
hanya dengan tujuan mendapat bonus
tinggi, dan bukan membeli barang
(re-order).
Di sebuah MLM, ada kata-kata yang
pernah saya dengar, “Di MLM kami
tidak ada Upline atau Downline yang
abadi. Dan kami tidak mengharuskan
tutup poin seperti MLM lain”. Kalau ada
sistem MLM yang mengijinkan
re-entry (membeli kavling/keanggotaan
lebih dari satu), mereka pasti
sedang melindungi produknya yang mahal
tapi tidak bermutu. Dan kalau
ada statement ‘tidak perlu tutup poin’
pasti ditutupi dengan markup
harga yang sangat tinggi.
Statement “tidak ada upline yang abadi”
itu bagi saya sangat aneh dan
kontradiktif. Kelihatannya mereka
menanamkan suatu rasa ‘iri’ terhadap
upline yang tampak memeras uang
downline. Pikir saya, kalau mereka
tidak setuju dengan organisasi upline-
downline, mengapa pula mereka
terjun di perusahaan MLM ?. Berarti di
sistem mereka, masih ada hal
yang belum beres.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar