Setiap Anak Terlahir Jenius,
Lingkungan Keluarga Merusak Kejeniusan Mereka.
Judul Buku : Membangkitkan Kejeniusan Di Dalam
Ruang Kelas
Judul Asli : Awakening Genius in The Classroom
Penulis : Thomas Amstrong (Alih Bahasa MRL
Nugroho MA)
Penerbit : INTERAKSA, BATAM
Tahun Terbit : 2004
Pada umumnya kata jenius dipakai untuk menyeb
kelompok orang yang mencapai skore 130 ke atas
dalam tes kecerdasan (tes IQ). Menurut Thomas
Amstrong arti jenius tersebut tidak tepat lagi
digunakan. Kini sudah banyak diyakini orang bah
IQ bukanlah penentu utama keberhasilan seseora
Pengaruh kecerdasan emosional (EQ), kecerdasan
spiritual (SQ) dan kecerdasan mengatasi hambata
(AQ) kini dipercayai lebih penting dalam
menentukan keberhasilan seseorang.
Di bagian awal buku ini Thomas Amstrong meneli
kata jenius berasal dari bahasa Yunani dan bahas
Latin yang berarti memperanakkan, dilahirkan at
dijadikan. Kata ini juga diartikan meriah,
memeriahkan, riang gembira dan membantu
pertumbuhan. Dalam pandangan pendidikan kata
jenius berarti “melahirkan kegembiraan dalam
belajar”. Bagi Thomas Amstrong kejeniusan anak
akan muncul bila ia mengalami kegembiraan dala
belajar, mengalami kegembiraan dengan kemajua
dan pertumbuhan yang mereka alami. Inilah arti
jenius menurut pandangan Thomas Amstrong yan
dikatakannya lebih mendekati teori-teori
kecerdasan yang berkembang pada masa sekaran
Ciri-ciri Jenius
Berdasarkan arti jenius diatas Thomas Amstrong
mengenalkan 12 ciri-ciri dasar kejeniusan
seseorang. Seseorang dikatakan jenius bila
memiliki : rasa ingin tahu yang besar, jenaka,
imajinatif, kreatif, rasa takjub, bijaksana, penuh
daya cipta, penuh vitalitas, peka, flexibel, humor
dan gembira.
Dalam masyarakat hanya terdapat dua kelompok
manusia yang cenderung memiliki sebagian besar
ciri-ciri di atas. Kelompok yang pertama adalah
orang-orang sukses dalam berbagai bidang
kehidupan. Mereka antara lain para ilmuwan
terkemuka, negarawan, budayawan ternama dan
para pemimpin dunia usaha. Kelompok yang ked
adalah anak-anak. Sebagian besar ciri-ciri dasar
jenius di atas terdapat dalam diri anak-anak. Ana
anak pada usia pra sekolah dan anak-anak TK
adalah pribadi yang penuh vitalitas, tidak mau
diam, gembira, suka bermain, penuh rasa ingin
tahu, penuh rasa takjub, kreatif mau mencoba
segala sesuatu dan jenaka.
Pengaruh Keluarga
Ada 4 pengaruh negatif keluarga yang dapat
merusak kejeniusan anak. Pertama; kelainan emo
Terjadi bila orang tua memiliki watak
temperamental, mudah marah, meledak-ledak, ti
mampu menguasai emosinya. Dalam keluarga
seperti ini seluruh vitalitas seorang anak akan
hancur karena hardikan, bentakan, hinaan dan ca
maki yang terjadi secara beruntun. Rasa ingin ta
dihukum atau diacuhkan dan kegembiraan dihim
oleh selimut tebal kemurungan. Bila hidup dalam
lingkungan ini anak tidak akan mempunyai
kesempatan untuk mengeksplorasi, melakukan
kesalahan, menemukan berbagai gagasan dan
melakukan banyak hal lain yang biasa dilakukan
orang jenius. Dalam keluarga dimana kegelisahan
melayang-layang di atas rumah laksana awan gela
yang menggayut, anak-anak akan kehilangan sifat
jenaka mereka (hlm 66).
Kedua; kemiskinan. Keluarga miskin kurang mam
memberikan lingkungan pembelajaran yang
merangsang tumbuhnya kejeniusan anak. Kehadir
orang tua yang tidak berpendidikan dan
berwawasan luas dalam keluaraga miskin
mengakibatkan anak-anak dalam keluarga tersebu
tidak menerima berbagai rangsangan intelektual
secara verbal. Selain itu perawatan kehamilan ya
buruk dan kekurangan gizi pada masa kanak-kana
dapat merusak otak anak pada awal kehidupan
mereka, sehingga membatasi potensi mereka unt
mengembangkan kejeniusannya. Namun harus
diingat kemiskinan bukan kesalahan mereka sendi
kemiskinan sering terjadi karena adanya
ketidakadilan politik dan ekonomi.
Ketiga; gaya hidup instan. Terjadi dalam keluarga
yang secara financial mapan, orang tua super sib
tidak ada cukup waktu bagi anak-anak mereka.
Kalaupun mereka mempunyai waktu akhirnya
mereka memfokuskan diri pada kehidupan
pembelajaran anak dan seringkali para orang tua ini
berpikir untuk mendapatkan jalan pintas. Mereka
seringkali menekan anak-anak mereka untuk
mempelajari berbagai hal sebelum anak siap. Ana
TK sudah diikutkan les membaca, bahasa Inggris,
matematika dan lain-lain. Pun ketika mereka di S
makin banyak lagi berbagai les dijalani oleh anak
sehingga mereka kehilangan waktu untuk bermain
bergembira. Meski dari luar mereka nampak sepe
anak berprestasi tinggi, seluruh kejenakaan, rasa
ingin tahu, kegembiraan, kreatifitasnya sudah
dihancurkan (hlm 69)
.
Keempat; ideologi yang kaku. Beberapa keluarga
membesarkan anak-anak dalam suatu lingkungan
ketakutan dan kebencian terhadap mereka yang
tidak memiliki sistem kepercayaan yang sama. Ya
menjadi permasalahan bukan merupakan inti dari
sistem kepercayaan tersebut tetapi bagaimana an
anak diajar untuk takut terhadap cara berpikir ya
berbeda dengan kepercayaan mereka dan untuk
membenci orang-orang yang berbeda dengan car
berpikir mereka. Dalam iklim seperti ini rasa ingi
tahu anak untuk mengenali cara lain untuk
mendapatkan pengetahuan dan prilaku menjadi
terhenti, kepekaan mereka terhadap perbedaan
menjadi tumpul dan sifat fleksibel mereka hilang
(70).
Pengaruh Sekolah
Menurut penulis buku ini sekolah juga punya and
dalam merusak kejeniusan anak. Misalnya
pembelajaran yang kaku, buku pelajaran yang
kering, banyaknya latihan soal, tes dan ujian tela
membuat anak-anak kehilangan rasa gembira, ras
takjub, rasa ingin tahu, keinginan mengeksplorasi
dan sifat jenaka. Di bagian akhir buku ini penulis
memberikan langkah-langkah bagaimana keluarga
dan sekolah merancang pengasuhan dan
pembelajaran yang dapat mengembangkan bakat
kejeniusan anak yang secara alami telah mereka
miliki sejak lahir. Buku yang ditulis dengan bahas
yang sederhana ini penting dibaca oleh para oran
tua dan pendidik. (Erjhe S)
Senin, 09 September 2013
Membangkitkan kejeniusan anak didalam kelas
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar