Senin, 09 September 2013

KUtUKAN ItU BERNAMA INDONESIA

Paijo sejak kecil telah bercita-cita menjadi
seorang guru. Ketika bermain dengan
kawan-kawannya pun dia senang bermain
guru dan murid. Setelah lulus SMA Paijo pun
menempuh pendidikan di Sekolah Pendidikan
Guru. 3 tahun lamanya Paijo belajar di sana.
Setelah lulus Paijo luntang-lantung selama 1
tahun melamar jadi guru kemana-mana, tapi
walhasil dia tidak diterima.
Setelah hampir putus asa, tiba-tiba
datanglah surat, yang isinya bahwa Paijo
diterima jadi guru Bantu, tapi tidak di kota
seperti yang Paijo inginkan, tapi di luar
pulau. Akhirnya cita-cita Paijo pun
kesampaian, walaupun di luar dugaannya
sebenarnya. Yang lebih di luar dugaan lagi
Paijo tidak hanya ditempatkan di luar pulau,
tetapi juga di daerah pedalaman yang jauh
dari mana-mana. Untuk ke kota terdekat
saja butuh waktu sehari semalam naik
kendaraan bermotor karena jalan besar
belum ada, jadi harus melewati jalan-jalan
tanah yang becek dan susah dilalui.
Di desa daerah pedalaman itu, tinggal tak
kurang dari 3000 orang, dan mereka
mempunyai satu sekolah dasar. Paijo
terheran-heran pada awalnya, karena guru
untuk 6 kelas itu cuma ada dua orang, jadi
setiap orang memegang tiga kelas. Paijo pun
dengan senang hati menerimanya. Memang
gajinya tak seberapa, bahkan boleh dibilang
sangat minim, hanya cukup untuk makan.
Tapi Paijo gembira bukan main atas
pekerjaan barunya itu. Dia tinggal di rumah
kepala desa selama tugasnya di desa
pedalaman itu. Begitu sampai keesokan
harinya Paijo langsung diminta mengajar,
karena memang SD itu sangat kekurangan
guru. Karena hanya ada 2 guru di 6 kelas,
Paijo yang baru di situ, akhirnya di beri
tugas mengajar kelas 1 dan 2.
‘Anak-anak, Indonesia, negeri yang kamu
banggakan ini adalah negeri kutukan Tuhan.
Dengan hasil alam yang berlimpah, dengan
minyak bumi yang tak habis2nya, dengan
laut dan hasil laut yang berlimpah, itu
semua bukan surga anak-anak. Justru kita
telah dikirimi kutukan oleh Tuhan. Dengan
semua kekayaan itu kita menjadi bodoh,
centang perenang, dan kurang ajar terhadap
alam itu sendiri.’
Anak-anak kelas 1 pun menjadi heboh,
mereka kebingungan atas guru-guru
mereka. Oleh guru mereka sebelumnya
mereka diajarkan bahwa Indonesia kaya
raya, gemah ripah loh jinawi, toto tentrem
kerto raharjo. Surga yang dipenuhi oleh
berbagai macam keindahan, orangnya ramah
dan penuh budi pertolongan. Masyarakatnya
tentram dan sejahtera. Tapi Paijo
membalikkan semua itu menjadi gemah
brebah ra migunani, ora tentrem rebutan
bondho. (Kaya tapi gak berguna, tidak
tentram rebutan harta). Anak-anak di kelas
2 malah lebih heboh lagi, karena tentunya
mereka telah diajar oleh guru sebelumnya
lebih lama lagi.
‘Dan kau ingat anak-anak, pepatah apa yang
paling terkenal dari Ki Hajar Dewantara..?’
Anak-anak itu serentak menjawab.
‘Ing Ngarso sung tulodo, Ing madyo mangun
karso, tut wuri handayani’
‘Kalian telah ditipu anak-anakku yang Pak
Guru cintai, tidak ada pepatah seperti itu
terjadi di Indonesia sekarang ini. Yang ada
adalah Ing Ngarso numpuk bondho, Ing
Madya mumpung kuoso, Tut Wuri Nyurigani.
(Didepan menumpuk harta, di tengah
mumpung berkuasa, di belakang curiga
sepanjang masa).’
Anak-anak itu bertepuk tangan, Paijo pun
semakin bersemangat.
‘ Negeri ini gudangnya penipu, gudangnya
tikus2 pengerat yang memakan bangkai
saudaranya sendiri. Ini negerimu anakku,
Bapak harus jujur pada kalian semua
sekarang, supaya kalian tahu betapa
rusaknya negerimu ini. Sehingga kalian tidak
berpangku tangan seakan menerima warisan
harta kekayaan yang berlimpah, tetapi
warisan kalian adalah negeri yang akan
bangkrut kebanyakan hutang, negeri yang
penuh masyarakat kelaparan, negeri yang
rawan bencana tetapi penduduknya malah
sering menciptakan bencana tambahan. Ya,
mau tidak mau, itulah warisan yang akan
kalian terima dari kami para orang tua.’
Anak-anak kelas 1 dan 2 SD itu menjadi
semakin bingung, tetapi mereka suka sekali
dengan cara mengajar Paijo. Sabar dan
penuh pengertian. Anak-anak dibiarkan
sendiri mengekspresikan keinginan mereka
dalam belajar. Bahkan Paijo sendiri tidak
terlalu sering mengajar anak-anak di dalam
kelas, Paijo sering mengajak mereka
berjalan-jalan di hutan yang memang tak
jauh dari lokasi SD itu.
Di hutan sepanjang mereka berjalan, mereka
bernyanyi mars lagu-lagu kebangsaan yang
diplesetkan. Salah satunya :
‘Garuda Pancasila
kamilah pengkhianatmu
pengkhianat proklamasi
selalu mengorbankanmu
Pancasila dasar negara
Rakyatnya lapar menderita
Bangunlah bangsaku
Ayo maju maju ayo maju maju ayo maju
majuuuu……..’
Lama kelamaan sampai pulalah kabar berita
tentang Paijo itu di telinga para orang tua
yang ada di kampung itu. Anak-anak itu
dengan riang biasanya menceritakan
perjalanan mereka ke hutan sambil belajar.
Dan tentu sekali dua kali mereka
menceritakan bahwa negeri Indonesia
adalah negeri kutukan Tuhan. Para orang
tua yang mendengar seperti spontan kaget
bukan main. Banyak di antara mereka yang
mendatangi sekolah untuk minta
penjelasan. Tetapi oleh Paijo dijelaskan baik-
baik walaupun mereka tetap tidak puas.
Mereka tidak terbiasa dengan cara mengajar
Paijo, bahkan mereka merasa tidak suka. Di
rumah, anak-anak mereka menjadi sering
bertanya tentang banyak hal. Dulu orang
tua-2 itu dengan gampangnya menyuruh
diam, tapi akhir2 ini mereka tidak mau diam
dan bertanya terus. Ditambah dengan
beberapa kalimat yang anak-anak itu
dapatkan dari Paijo. ‘Pertanyaan anak kecil
adalah keingintahuan yang harus dijawab’
begitu mereka menirukan Paijo.
2 rekan Paijo guru di SD itu juga tidak
senang dengan Paijo, karena murid-murid
kelas 3 sampai 6 pun mulai ikut-ikutan ingin
diajar seperti murid-murid di kelas 1 dan 2.
Dan sifat Paijo yang demokratis dan tak
pernah marah dengan anak-anak itu
membuat mereka semakin jengkel, karena
mereka sudah terbiasa menjadi dewa di
kelas. Apapun yang dikatakan bapak ibu
guru adalah benar, sabda pandita ratu. Tidak
ada yang bisa dan mampu membantahnya.
Mereka sudah sering menyindir Paijo untuk
berhenti dengan caranya mengajar yang
menurut mereka aneh itu. Tapi Paijo tak
bergeming. Diam-diam 2 guru itu
mengirimkan surat ke Dinas Pendidikan yang
menugaskan Paijo untuk mengajar di
kampung itu.
Tak lama kemudian Paijo dikeluarkan dari
profesinya sebagai guru Bantu , bukan
hanya dikeluarkan tetapi juga disertai
ancaman untuk tidak lagi mengajar dalam
bentuk apapun. Paijo dengan sangat berat
hati meninggalkan pekerjaan yang amat
dicintainya itu, tapi terlebih lagi Paijo
kasihan melihat anak-anak tunas bangsa
yang dicekoki oleh kebohongan-kebohongan
tiap harinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar