Mulailah babak baru dalam lembaran
hidupku. Babak baru bukan dalam artian
positif, tapi negatif. Aku sudah positif
menderita depresi, walaupun baru tahap
depresi ringan atau depresi terselubung—
namun saat itu aku sama sekali belum
menyadari. Aku merasakan terjadi
perubahan dalam diriku: pikiranku tidak
menentu, cemas, gelisah, takut dan sedih
tanpa alasan yang jelas. Perasaanku
sangat sensitif, kurang bersemangat dan
mudah lelah dalam melakukan segala
aktivitas, di sekolah maupun dirumah.
Selain itu, kemampuanku berkomunikasi
juga terganggu, aku jadi sulit berbicara,
bingung dan tidak tahu harus berbicara
apa. Biasanya aku suka bercanda dan
ngobrol apa saja dengan teman-teman di
sekolah maupun di rumah.
Namun, sejak itu aku jadi lebih suka
berdiam diri dan malas ngobrol apalagi
bercanda. Yang paling membebani
pikiranku adalah munculnya keyakinan-
keyakinan aneh dan tak wajar tentang
suatu masalah atau suatu obyek.
Sebelumnya belum pernah aku rasakan.
Keyakinan-keyakinan yang tidak rasional
itu begitu kuat hingga mengalahkan
keyakinan keyakinan rasionalku. Aku tahu
dan sadar, keyakinan-keyakinan itu tidak
wajar bahkan aneh, tapi aku tak kuasa
menolak dan melepaskan diri darinya.
Pikiran, perasaan dan keyakinan irasional
yang menyiksa itu, aku rasakan saat di
sekolah, di rumah dan di mana pun aku
berada. Pola pemikirannya sama, yang
berbeda hanya obyek pemikirannya saja.
Contoh misalnya, di rumah aku sering
merasa sedih dan kasihan melihat kedua
orang tuaku yang bekerja membanting
tulang di sawah dan untuk membiayai
sekolahku dan adikku. Perasaan sedih
yang tak wajar dan tak pernah aku rasakan
sebelumnya. Pendeknya sejak itu aku
berubah menjadi pribadi yang lebih
pendiam, suka menyendiri, sulit
berkomunikasi, sensitif dan emosional.
Aku sering bertanya pada diri sendiri: Apa
yang terjadi dengan diriku? Mengapa
pikiranku jadi seperti ini? Apa penyebab
semua ini? Dan bagaimana cara
mengatasinya? Pertanyaan-pertanyaan
yang membuatku bingung dan belum aku
temukan jawabannya. Ibarat benih-benih
rumput yang terbenam di antara rumpun-
rumpun padi. Saat pupuk ditaburkan,
bukan hanya padi yang tumbuh subur,
rumput pun ikut subur. Makin lama si
rumput pengganggu tumbuh makin besar
dan beranak-pinak, makin banyak pula
mengambil jatah makanan si rumpun padi.
Si rumpun padi yang tadinya tumbuh
subur dan sehat, kini terganggu dan
terhambat karena jatah makanannya
digerogoti si rumput. Rumput tumbuh
makin besar dan subur, sementara padi
yang tadinya tumbuh subur, kini kurus dan
merana.
Seperti itulah gambaran diriku, saat
depresi mulai menggerogoti pikiran dan
perasaanku. Gejala-gejala depresi sudah
menampakan wujudnya yang semakin
jelas. Namun, sampai sejauh itu aku sama
sekali belum tahu dan belum menyadari
bahwa apa yang aku rasakan adalah gejala
depresi. Aku masih menganggap semua
itu hanya gejolak pikiran yang wajar dan
normal saja. aku belum memahami apa
sebenarnya yang terjadi dengan diriku,
apa penyebabnya dan bagaimana cara
mengatasinya.
Aku juga belum menceritakan kepada
sipapun perihal derita batin yang aku
rasakan itu. Saat itu, walaupun kondisi
jiwaku tidak menentu, kegiatan belajarku
di sekolah maupun di rumah relatif belum
terlalu terganggu. Aku masih bisa belajar
dengan baik dan mampu
mempertahankan prestasi akademisku.
Bahkan pada semester keempat (naik ke
kelas 3) aku berhasil meraih prestasi
terbaik, menjadi bintang pelajar (juara 1
umum). Prestasi yang sebelumnya gagal
aku raih dan membuatku kecewa berat.
Prestasi akademis itulah yang mungkin
mampu mendongkrak kepercayaan diriku,
serta membendung tekanan pikiran-
pikiran negatifku sendiri akibat depresi
yang aku derita. Karena selain prestasi
belajar, aku tidak memiliki keahlian atau
keterampilan lain yang bisa dibanggakan.
Sebenarnya aku punya bakat yang jarang
dimiliki orang lain yaitu bakat
menggambar atau melukis. Namun, bakat
alam itu tidak aku tekuni dengan
sungguh-sungguh, aku biarkan saja
berkembang secara alami dan apa adanya.
Kamis, 12 September 2013
AKU HAMPIR GILA (8)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar